Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Nonton di bioskop


__ADS_3

Ria dan Ferdi masih memilih film yang akan mereka tonton.


“Pak Ferdi, sebaiknya kita pilih filmnya jangan samaan dengan Tuan dan Nyonya, gak enak kalau satu theater,” pinta Ria.


“Iya saya juga paham, gak mungkin pilih film yang sama. Nanti mengganggu kesenangan Tuan besar.”


“Ya sudah pilih film horor aja Pak Ferdi, kayaknya film itu lagi booming,” tunjuk Ria pada list yang berjalan di layar, belakang kasir penjual tiket, kemudian memberikan uang yang tadi kasih oleh Edward.


“Kamu yakin mau nonton film horor  gak takut?” tanya Ferdi atas pilihan Ria.


“Gak takut kok paling cuma terkejut aja, biasanya film horor hanya bikin kaget saja. Atau jangan-jangan Pak Ferdi takut nonton film horor ya?”


“Siapa bilang saya takut nonton film horor, lihat kuntilanak aja pernah.”


“AAAH....beneran Pak Ferdi lihat kuntilanak beneran........horor banget,” bulu kuduk Ria langsung merinding.


“Pernah dulu waktu masih tinggal di kampung. Di dekat rumah saya banyak pohon nangka, pohon manggis. Hampir tiap malam dengar ketawanya si kuntilanak, kadang kalau gak sengaja keluar rumah malam-malam, suka lihat si kuntilanak lagi berdiri di batang pohon nangka,” cerita Ferdi dengan mimik seriusnya.


“Stop pak Ferdi ceritanya, jadi merinding nih.”


“Katanya berani nonton film horor, ini baru di ceritaiin langsung merinding. Jadi fixnya mau nonton apa?”


Ria kembali bersikap biasanya aja,”Kalau yang pak Ferdi cerita kisah nyata, kalau di film kan hantunya bohongan. Jadi tetap nonton  film horor aja. Ini uang buat beli tiketnya,” Ria kembali menyodorkan uangnya.


“Beli tiketnya pakai uang saya aja, uang itu kamu belikan aja minuman dingin sama popcorn buat kita berdua,” pinta Ferdi.


“Oke siap Pak Ferdi, saya beli popcornnya dulu. Pak Ferdi yang beli tiketnya.”


“Iya...”


Ferdi antri buat beli tiket, sedangkan Ria antri untuk beli makanan dan minuman.


Ria adalah wanita yang sederhana, berbekal ijasah SMU datang ke ibukota untuk mencari pekerjaan, tapi apa daya dengan berbekal ijasah SMU wanita itu belum juga di terima bekerja di beberapa tempat.


Akhirnya wanita itu memutuskan untuk masuk di yayasan yang biasa menyalurkan asisten rumah tangga dan baby sister.


Di yayasan tersebut, Ria di bekalkan keterampilan bekerja di seputar rumah tangga. Walau lumrahnya seorang wanita pasti hal yang biasa, tapi dengan pelatihan tersebut, ada standar kebersihan dan belajar lebih.


Baru sebulan tinggal di yayasan, keberuntungan datang ke Ria, ketika kepala pelayan keluarga Thalib mencari pelayan baru, dan terpilihlah Ria.


Dengan senang hati Ria menerima bekerja di mansion Thalib, apalagi setelah mengetahui gaji pelayan di mansion Thalib tidak jauh dari gaji pegawai kantoran. Akhirnya Ria menikmati bekerja menjadi pelayan, sudah tidak ke pikiran lagi untuk melamar bekerja di perusahaan atau di pabrik.


Apalagi semenjak mengikuti Ghina, gaji Ria bertambah, plus dapat gaji tambahan karena ikut mengurus toko kue Gina’s. Sungguh beruntungnya Ria dalam rezekinya, tapi Ria belum beruntung untung masalah jodoh. Mungkin karena sehari-harinya sibuk dengan pekerjaannya, jadi Ria tidak memikirnya masalah jodoh. Enjoy dengan diri sendirinya.

__ADS_1


Sore ini Ria sepertinya senang diminta nyonya nya ikutan nonton, sungguh nyonya nya dari dulu sangat perhatian. Selalu mengingat keberadaan dirinya, walau hanya seorang asisten rumah tangga, dan satu lagi Ghina selalu memperhatikan penampilan Ria, Ria diajarkan untuk merawat diri dan berpenampilan menarik. Dan Ria menerimanya dengan baik.


“Ria.......sudah di pesan minuman sama popcornnya?” tanya Ferdi yang baru saja menghampirinya setelah selesai beli tiket.


“Lagi di siapkan Pak Ferdi,”


“Oke.” Mereka berdua menunggu pesanan, kemudian masuk ke dalam theater.


Buat Ria ini pengalaman pertama menonton dengan seorang pria, walau pria itu sudah dikenal lama oleh Ria sebagai asisten pribadi Tuan Besarnya.


Ferdi sengaja memilih bangku posisi tengah-tengah biar layarnya terlihat jelas. Kebetulan studio juga lumayan ramai yang nonton, jadi Ria tidak terlalu canggung. Sedangkan Ferdi seperti biasa wajahnya datar, tidak ada ekspresi apa-apa, pria itu hanya duduk nyaman kemudian menyesap minumannya.


🌹🌹


Ghina dengan pasangan halalnya sudah masuk ke dalam theater, dan mencari nomor bangku sesuai yang tertera dalam tiket yang di pegang  Edward.


“Hubby.......kok pilih duduknya di pojokan sih,” gerutu Ghina.


“Aku gak suka kalau di samping kamu ada pria lain yang duduk.”


“Ah hubby bisa aja, aku juga gak mau kalau ada wanita yang duduk di samping hubby.”


“Tenang dong honey,” Edward menunjukkan enam tiket yang dibelinya.


“Iya , biar tidak ada yang mengganggu kita lagi berduaan , kita kan mau pacaran di bioskop. Tadinya aku malah mau beli tiket satu studio, tapi kayaknya gak seru kalau nonton hanya berdua saja.”


“Bukannya gak seru Om, tapi mubazir, kecuali tiketnya Om bagikan ke orang lain. Jadi lebih seru buat orang yang terima tiket nonton gratis.”


Edward dan Ghina duduk di bangku sesuai tiket yang di beli “Honey, duduknya di pojok ya, aku di sebelahnya,” pinta Edward.


“Iya hubby...,” menurut Ghina, enak kok duduk di pojokkan bersandar ke tembok, walau sekarang sudah ada dada dan bahu tempat wanita itu bersandar.


“Permisi...Pak, Bu mau antar pesanannya,” ujar salah satu karyawan bioskop.


“Terima kasih ya mas,” jawab ramah Ghina, sambil menerima minuman dan makanan yang di pesannya.


“Sama-sama Bu, selamat menikmati.”


“Hubby, ini minuman punya hubby,” Ghina menyodorkan gelas minuman cappucino ke Edward.


“Makasih Honey.”


“Hubby, mau nachos gak?” Ghina membuka tutup tempat makannya.

__ADS_1


“Mau honey,” Ghina langsung menuapi nachos ke mulut Edward.


“Honey sebenarnya mau nonton, atau mau makan sambil nonton?”


“Dua-duanya hubby, ngemil sambil nonton lebih seru,” jawab Ghina sambil nyengir kuda.


“Bisa aja alasan istriku ini, honey pernah gak nonton bareng cowok lain?”


“Belum pernah, paling kalau mau nonton ajak Rika atau mbak Ria. Atau sama mama dan papa kalau kebetulan mereka ke Jogja. Kalau hubby pasti lebih sering nonton berdua dengan mbak Kiren dong?” tanya balik Ghina.


“Belum pernah nonton sama Kiren, paling kalau ke mall hanya makan dan belanja.”


“OOOH di kiraiin sering nonton berduaan."


“Honey cemburu ya?”


“Gak cemburu kok Om, hanya pengen tahu aja selama hubby pacaran dengan mbak Kiren. Bolehkan?”


“Boleh kok honey, tapi jangan membuat sikap kamu dingin ya. Takutnya kamu cemburu, jadinya berubah.......istriku,” pinta Edward dengan lembutnya.


“Cemburu tanda aku sayang sama hubby,” bisik Ghina.


“Honey, jangan menggodaku di sini, kamu tahukan kita di pojokkan berdua. Dan lampu sudah mati.”


“Hemmm.......coba goda aku, Om,” tantang Ghina. Tanpa melihat Ghina masih mengunyah nachos. Edward langsung meraih dagu Ghina, dan melabuhkan kecupan hangat di bibir istrinya yang berasa nachos.


Ghina & Om Edward



Pak Ferdi & Ria



 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2