Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Mandi


__ADS_3

Menjelang pagi


Dengan tubuh polos berselimutkan bed cover, pasangan suami istri masih tertidur pulas dengan saling memeluk. Setelah semalaman mereka merengguk indahnya cinta, dengan melepaskan hormon endorfin membuat perasaan mereka rileks dan tentunya happy.


“Eeuggh........,” lenguh Ghina dengan tubuhnya yang menggeliat dalam dekapan Edward.


Kedua kelopak mata Edward mulai bergerak setelah merasakan tubuh istrinya bergerak dalam, kemudian mengerjapkan kedua matanya.


Pria tampan itu tersenyum hangat melihat istri cantiknya masih tertidur dengan kepalanya bersandar di dada berototnya.


Kecupan lembut diberikan oleh pria itu di pucuk kepala Ghina. “By.......,” suara serak Ghina memanggil suaminya.


“Ya......cantik,” jawab Edward dengan suara khas seraknya ketika bangun tidur. Wanita itu langsung mendongakkan kepalanya, menatap pria yang sudah mereguk kesuciannya semalam.


Edward kembali melummat bibir istrinya, tidak perduli akan iler yang masih menempel di bibir istrinya atau bibir pria itu sendiri.


“Mmmmm..........” Ghina melepas pagutan dari suaminya. “Om Edward........jorok masih bau iler...,” ujar Ghina.


“Enggak pa-pa ilernya juga bekas kita semalam berdua. Melihat kamu baru bangun tidur sudah cantik, membuat aku ingin sarapan pagi,” jawab Edward, dengan tatapan messumnya.


“Hubby lapar, mau sarapan. Aku siapin dulu ya,” ujar Ghina, mengangkat tubuhnya sendiri, agar bisa duduk, sambil menutupi tubuh polosnya dengan selimut.


“Aku mau sarapan kamu, honey...,” dengan suara sedikit menggoda.


“HUBBY..........!” mata Ghina langsung melotot.


“Semalam hubby udah dua kali, masih belum cukup. Punyaku udah perih rasanya Om......,” rengek Ghina.


“Aduh maaf honey, sakit ya.......,” bagaimana tidak sakit, ini pertama kali buat Ghina di tambah saat ronde kedua si Jon sangat kuat tak terkendalikan, hingga wanita itu bergelinjang hebat.


Ghina menganggukkan kepalanya. “Nanti aku ke apotik buat beli salep buat rumah si Jon. Maaf ya honey, gara-gara aku , kamu jadi kesakitan.....habis kamu nikmat sekali,” ujar Edward dengan mesranya, kemudian pria itu memeluk tubuh polos istrinya.

__ADS_1


“Kita mandi yuk, setelah itu sarapan pagi,” pinta Edward.


“Iya Om.......” Ghina mulai berdiri dari ranjangnya.


“Ya Allah.....astaga By......sakit By.....OM .....sakit kalau di bawa jalan,” ringis Ghina kesakitan, baru mau melangkah, bagian intinya terasa sakit sekali.


Edward yang melihat Ghina kesakitan, langsung menyibak selimutnya dan membopong tubuh istrinya ke kamar mandi.


“Maafkan aku ya, aku tidak menyangka akan sesakit itu,” pilu hati Edward melihat istrinya berderai air mata. Di usapnya air mata itu, dengan jarinya, kemudian mengecup kedua pipi istrinya, ketika mereka berdua sudah berada di kamar mandi.


Melihat tubuh sexy istrinya tanpa memakai apa pun, pria itu sudah mulai berhasrat lagi. Akan tetapi ditahannya, setelah melihat istrinya masih merintih kesakitan di bagian intinya.


Edward langsung menyalakan shower dan mengatur suhu airnya menjadi hangat. Di basuhnya tubuh molek istrinya, wajah Ghina mulai merah merona menerima sentuh lembut dari suaminya. Pagi  ini perdana buat Edward dan Ghina mandi bersama. Di bawah rintikan air hangat yang keluar dari shower, Edward kembali mengecup istrinya, dan beralih ke bibir sexy istrinya.


Hangatnya air yang menyentuh langsung ke kulit, membuat tubuh polos mereka ikut saling tersentuh. Sabun mandi yang sudah membaur ditubuh kedua polos mereka, membuat semakin licin sentuhan mereka berdua.


Edward merangkul pinggang istrinya di bawah rintikan air hangat, sedangkan Ghina merangkul leher suaminya dengan erat, serta menikmati sentuhan hangat dan manis dari bibir suaminya.



“By......si Jon jangan masuk dulu ya, masih sakit,” pinta Ghina saat mereka berdua melepas pagutannya. Wanita itu merasakan jika si Jon sudah siap menghujam dirinya.


“Iya cantikku, Jon gak masuk dulu.....tunggu aku beli obatnya dulu biar tidak sakit lagi ya.”


“Udah ya Om mandinya, kakiku udah pegal dari tadi berdiri,” pinta Ghina.


“Sebentar kita bilas dulu badannya, masih ada sabunnya,” jawab Edward. Pria itu bergegas membilas tubuh mereka berdua. Mandi pagi yang syahdu buat mereka berdua, walau tidak mereguk nikmat. Cukup tubuh mereka saling bersentuhan, dan saling berbagi saliva, membelit lidah di bawah rintikan air.


Edward sudah menutup tubuhnya dengan handuk, begitu juga Ghina sudah mengenakan bathrope. Pria itu langsung mengangkat tubuh Ghina ke kamar.


“Honey hari ini ada jadwal terapi lagi ya?” tanya Edward.

__ADS_1


“Iya Om.....jadwalnya nanti siang.”


“Untung tidak pagi ini,” jawab Edward, pria itu langsung mengambil dress untuk istrinya dan baju untuk dirinya sendiri.


“Memangnya kenapa By,” tanya Ghina.


“Aku masih ingin memelukmu, cantikku,” ujar gemes Edward.


 “Mau aku pakaikan baju gak?” tanya Edward sambil memberikan dress dan pakaian dalam Ghina.


“Pakai sendiri aja Om. Om nya balik badan dong aku mau pakai baju nih,” pinta Ghina.


“Kenapa mesti malu, baru tadi aku lihat semuanya di kamar mandi, lalu semalam sudah aku jelajahi tubuhmu...,” ujar Edward, pria itu lantas membuka handuknya yang menutupi si jon lalu memakai bajunya di depan Ghina. Dengan senyum messumnya.


Aah sumpah wanita itu harus kuat mental melihat tubuh atletis suaminya, apalagi wanita itu sudah merasakan keperkasaan suaminya, yang membuat dirinya melayang.


Terpaksa Ghina membuka bathropenya, dan mengenakan bra dan cd di depan suaminya kemudian menutupi tubuh indahnya dengan dress rumahan pilihan Edward.


Kalau tidak ingat bagian inti istrinya tidak sakit, pria itu ingin kembali kejadian semalam, sungguh indah dan memabukkan.


Edward kembali mengangkat Ghina dan mendudukkan istrinya ke sofa. Lalu kembali ke ranjang untuk membuka spreai ranjang yang sudah ternoda. Wajah Edward terlihat tersenyum ketika melihat noda darah di seprai, bisa di pastikan darah  itu dari bagian inti istrinya.


Setelah membuka seprai dan meletakkan di keranjang tempat kain kotor, Edward menghampiri istrinya yang duduk di sofa. “Thanks my love, untuk semuanya,” ungkapan rasa terima kasih yang begitu tulus, setelah sebelumnya pria itu pernah di bohongi oleh istri ke duanya.


“Terima kasih untuk apa OM?”


“Terima kasih atas dirimu, menjadikan aku yang pertama untuk dirimu, dan maafkan aku, jika kamu bukanlah yang pertama untukku. Tapi kamu tetaplah yang pertama dan yang terakhir  bagiku,” kedua netra Edward mulai berbinar-binar.


Tangan Ghina mengusap pipi Edward dengan lembutnya “Om tahu, aku menjaga diriku untuk suamiku. Dan ternyata suamiku tetaplah dirimu, jadi lupakan tentang hal intim dengan mbak Kiren. Cukup selalu mengingat tentangku seorang, yang telah menjadi istrimu seutuhnya.”


Edward tersenyum bahagia “tanpa di minta, selama ini aku selalu teringat akan dirimu cantik, apalagi saat pertama kali kita menyatu dengan sempurna. Aku takkan pernah melupakanmu, kamu canduku.”

__ADS_1


 


bersambung


__ADS_2