Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Mencintai suamiku


__ADS_3

Pipi Ghina merah merona ketika Edward mengecup bibirnya di depan umum. Mau marah tapi suami sendiri yang cium, mau kesal tapi suka dengan perilaku Edward ketika menunjukkan kemesraannya.


“Hubby, aku kan malu kalau sering di cium sama hubby di depan umum.....,” wajah Ghina tersipu malu-malu.


“Pipi honey, udah kayak pipi boneka.........merah merona,” colek pipi istrinya, gemas.


“Udah hubby, pipi aku jadi tambah merah ini, kalau di colek terus.” Edward terkekeh kecil. “Tambah gemes.....aku, honey.” Ghina langsung menutup pipinya dengan kedua tangannya agar tidak dicolek kembali.


Mereka berdua seperti orang baru pacaran jika di mata orang lain, padahal mereka berdua pasangan suami istri. Tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada sosok pria tampan yang berjalan menuju Edward dan Ghina duduk.


“Halo, Ghina....” sapa pria itu.


Ghina dan Edward langsung menoleh ke arah suara tersebut. Edward yang melihat, wajah bahagianya langsung berubah. Tatapannya mulai menajam.


“OH......kamu lagi!” jawab Edward sinis.


“YA......saya datang lagi. Apa kabar Ghina, hari ini kamu sudah terapi?” Tanya Rafael memberikan perhatian kepada wanita itu.


“Wow.....ternyata kamu masih punya muka untuk berhadapan dengan saya!!!”


Ghina menatap wajah Edward seketika. Mengkhawatirkan emosi Edward, takut meledak-ledak di depan umum. Rafael dengan gaya santainya turut duduk di bangku kosong dekat Ghina.


Jangan di tanya lagi wajah Edward seperti apa, kedua netra Edward sudah berapi-api. Sepertinya Rafael memang sengaja duduk di bangku kosong dekat Ghina.


“Hubby, kayaknya kita sudah lama di coffe shop. Takutnya nama hubby sudah di panggil sama dokter,” Ghina berusaha agar Edward dan Rafael tidak membuat kegaduhan di coffe shop.


“Ghina, kamu sengaja menghindari saya ya?” Tanya Rafael.


Wanita itu langsung menoleh ke samping dan menatap Rafael, “bukan menghindar Mas Rafael, kami berdua di sini karena menunggu dokter, ayo hubby kita ke kembali ke dalam,” ajak Ghina.


Ghina yang baru saja berdiri, lengannya langsung ditarik oleh Rafael, untuk kembali duduk di bangku.


“Kurang aja kamu, Rafael.........berani menyentuh istri saya di depan mata!!” Tegur Edward, pria itu lantas beranjak dari duduknya.


Ghina yang terkesiap karena lengan di tarik oleh Rafael, kecewa sekali. “Mas Rafael, mas kenapa berubah?.......jangan jadi pria yang buruk dan jahat. Tolong hargai saya! Saya ini seorang istri, dan di sini ada suami saya. Sudah berulang kali saya tidak bisa membalas perasaan Mas Rafael, dan saya sangat menghargai perasaan Mas Rafael, menghargai sebagai teman.  Rasa suka dan cinta tidak bisa di paksa Mas Rafael. Hentikanlah obsesi untuk memiliki saya, jangan buang waktu mas Rafael mengejarku,” Ghina menerima genggaman tangan Edward.


“Tapi saya sangat mencintaimu, Ghina,” kembali Rafael menyatakan cintanya di depan Edward.


Wanita itu mengulum tipis dan menatap wajah melas Rafael,”Maafkan saya Mas Rafael, saya tidak membalas rasa cintamu. Semoga suatu saat ada wanita yang akan mencintaimu. Karena saya mencintai suamiku,” Ghina menoleh ke arah suaminya dan tersenyum hangat, Edward membalas senyum hangat istrinya, dengan kecupan pipi. “I love you, my wife,” bisik Edward. Emosi pria itu teredam dengan pernyataan cinta dari istrinya.


Mencintai seseorang tapi tidak terbalaskan, bagaikan merindukan bulan yang tak dapat di peluk. Cinta bertepuk sebelah tangan, kadang sangat menyakitkan hati sendiri. Cinta itu tidak salah, tapi yang salah adalah waktu dan orang yang di tuju belumlah tepat.

__ADS_1


Dulu wanita itu beranggapan jika cintanya bertepuk sebelah tangan, akan tetapi seiringnya waktu berjalan, ternyata bukan cintanya yang bertepuk sebelah tangan tapi waktu yang belum membuka tabir rasa yang membelenggu hatinya. Tapi waktulah juga yang menyatukan dengan kekasih hatinya yang selama ini tersimpan di relung hatinya paling dalam.


Jatuh cinta dengan orang yang sama, rasa itu berulang kali di rasakan oleh Edward. Pria itu memang sudah bukan anak muda lagi, usianya sudah memasuki 37 tahun. Tapi mendengar kata “saya mencintai suamiku” hati Edward berbunga-bunga, bagaikan seorang kekasih menerima jawaban dari pujaan hatinya atas pernyataan cintanya.


“I love you more, my wife,” bisik Edward kembali ketika mereka berdua masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang praktek dokter.


Ghina bisa melihat perubahan wajah Edward terlihat ceria, semakin tampan melihatnya, ternyata dengan mengucapkan tiga kata bisa merubah mood seseorang.


Rafael yang masih terduduk di coffe shop hanya bisa termenung seorang diri. Menelaah kata-kata Ghina terutama pernyataan cinta untuk Edward. Sepertinya dengan sikap Rafael yang terlalu terobsesi dengan Ghina, perlahan-lahan pertemanan mereka berdua akan merenggang. Tidak akan seakrab seperti dulu lagi.


🌹🌹


“Bagaimana hasil test darah saya dokter?” Tanya Edward dengan rasa penasarannya.


Dokter memberikan amplop dari bagian lab ke Edward. Pria itu buru-buru membuka amplop tersebut.


“Hasil test darahnya bagus Pak Edward, negatif HIV,” ucap sang dokter. Dan itu tertulis di lembar kertas hasil lab.


“Alhamdulillah..,” jawab serempak Edward dan Ghina.


“Terima kasih banyak Dokter,” ucap Edward, permintaan istrinya sudah dilakukan semuanya dan hasilnya baik tidak ada masalah kesehatan. Dan Ghina bisa bernapas lega. Sekarang urusan rumah sakit sudah selesai.


“Aku berjanji akan menjaga diriku untuk dirimu seorang, istriku yang sangat ku cintai,” jawab lembut Edward di dalam mobil.


Tidak bisa dipungkiri mereka baru akan melangkah membuka lembaran baru rumah tangganya, suatu ketika selama perjalanan rumah tangga bisa saja akan menemukan sosok pelakor dan pembinor.


Tergoda untuk berselingkuh bukan karena kekurangan pasangan hidup saja akan tetapi tidak bisa menekan nafsu yang bergejolak di diri maaing-masing. Menikah itu bagian dari  ibadah yang paling lama, dan  di mana kita bisa saling mendukung dalam menjalankan ibadah itu sampai akhir hayat.


“Honey, sekarang kita mau kemana? Mau mampir ke suatu tempat atau mau langsung pulang aja?”


“By, boleh mampir ke toko kue aku dulu gak. Sudah lama aku tidak kontrol tokoku,” pinta Ghina.


“Boleh, tapi kamu jangan terlalu capek di toko ya. Biar punggung honey cepat sembuh.”


“Iya, hanya kontrol aja kok,”


“Honey........boleh minta gak?” rayu Edward.


“Minta apa...?” tanya Ghina.


“Cium.....,” jawab Edward pelan.

__ADS_1


PUK


Kembali lagi Ghina menepuk lengan kekar Edward.”kok di pukul sih,” ujar manja Edward.


“Lagian hubby sekarang kebiasaan minta cium di depan orang. Ini di mobil hubby, ada sopir. Nanti aja kalau di rumah,” jawab Ghina.


“Beneran di rumah ya, jangan bohong ya. Awas kalau bohong,” ancam Edward yang terkesan  lembut.


“Gak bohong, hubby,” bujuk Ghina sambil menatap wajah tampan suaminya. Mereka pun saling bertatapan.


Tatapan matamu sangat indah sayangku, sama seperti dulu  waktu aku menatap matamu pertama kali. Matamu seakan menghipnotis diriku, untuk selalu dekat denganmu, akan tetapi aku telat menyadarinya. Sekarang tatapanmu hanya milikku seorang. Aku mencintaimu istriku, Ghina Farahditya.


Dulu tatapan matamu begitu tajam saat menatapku, sekarang Om Edward selalu menatapku penuh dengan cinta dan perhatian. Aku mencintaimu suamiku, Edward Thalib.


 


bersambung


Hai Kakak Readers yang cantik dan ganteng, hari ini mau adakan Give Away lagi yaitu pulsa 25K untuk dua orang pemenang. Caranya tinggalkan komentar buat Edward dan Ghina di bab Mencintai Suamiku, dan jangan lupa ketik mau di akhir komentar. Komentar "Lanjut" tidak bisa ikutan undian ya. Berlaku 1x 24 jam yang ingin ikutan GA.


Pengumuman yang beruntung akan di umumkan esok hari.


Dan jangan lupa ditunggu kehadiran Kakak Reader di novel Pinjam Rahim - Istri Ketiga...ada kisah Alya dan Erick


Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹



Kenalan yuk sama Alya dan Erick di Novel Pinjam Rahim Istri Ketiga


Alya Zabrina Sadekh



 


 


Erick Triyudha Pratama


__ADS_1


__ADS_2