
Senyap.....hening....ruang keluarga terasa dingin, setelah Ghina bertutur kata.
Opa Thalib yang melihat sikap Ghina, begitu luar biasa terenyak dengar tutur kata gadis itu, tidak salah pilihan Opa Thalib memilih Ghina jadi menantu keluarga Thalib, namun sayang hanya sebentar. Andaikan Edward mencintai Ghina, mungkin perceraian tidak akan pernah terjadi.
Oma Ratna dan Mama Sarah semakin terisak mendengar jawaban Ghina.
“Tolong maafkan kami nak........,” isak Oma Ratna dan Mama Sarah sambil memeluk Ghina.
“Sudah Oma, Mama tidak perlu menangis, yang berlalu sudahlah berlalu,” ucap Ghina, mencoba menenangi Oma Ratna dan Mama Sarah.
“Nak jangan coba tegar sendiri, jika ingin menangis.......menangislah, pasti kamu berat melaluinya,” ucap mama Sarah, iba melihat putrinya selalu saja terlihat tegar di hadapannya.
“Ghina sudah menangis mah, jangan khawatir. Ghina tidak berusaha tegar, tapi berusaha melewatinya,” gadis itu mengulum senyum indahnya meyakinkan mamanya sendiri. Semuanya sudah dia lewati, dan pikirnya tidak perlu di tangisi kembali.
Ria dengan salah satu pelayan mengantarnya minuman beserta beberapa macam kue.
“Makasih mbak Ria,” ucap Ghina.
“Sama Non Ghina, silahkan di nikmati Tuan, Nyonya.”
“Baiklah, sekalian semuanya ada di sini. Ghina mau menyampaikan sesuatu.”
“Sesuatu apa nak?” tanya Papa Zakaria.
“Ghina dapat undangan khusus dan beasiswa penuh di Universitas U Jogja, jadi dalam waktu dekat Ghina harus segera berangkat ke Jogjakarta.”
“Maaf kalau Ghina baru sampaikan sekarang ke mama dan papa.”
“Masya Allah, anak papa sungguh luar biasa,” Papa Zakaria menghampiri dan memeluk putrinya, begitu juga mama Sarah. Tangis pilu dan tangis bahagia bercampur aduk.
“Selamat ya Ghina,” ucap Opa Thalib dan Oma Ratna, bergantian memeluk Ghina.
“Kapan rencana Ghina akan berangkat ke Jogjakarta, biar Opa mengurus keperluan kamu di sana.”
“Setelah luka di punggung Ghina sudah sehat, mungkin dalam minggu-minggu ini. Tapi Opa, Ghina tidak mau merepotkan Opa jika mengurusi keperluan Ghina di sana. Ghina ingin hidup mandiri, tidak ingin berhutang budi dengan keluarga Opa, yang lalu sudah cukup banyak Opa membantu keluarga kami.”
“Opa dan Oma tidak ingin ada penolakan dari Ghina, biar kami membantu Ghina, jangan kamu merasa jadi hutang budi. Ini justru untuk menembus rasa bersalah kami kepada kamu. Biarkan kami mendukungmu nak, walau kamu nanti bukan menantu kami, Ghina tetap anak kami,” ucap Opa Thalib serius.
__ADS_1
“Malah Opa ingin menguliahkan kamu di luar negeri, kalau kamu mau.”
“Tidak Opa, Ghina sudah bersyukur mendapatkan beasiswa ini atas kemampuan Ghina sendiri. Dan jika Opa tetap memaksa ingin membantu Ghina, baiklah Ghina terima.”
“Alhamdulillah, terima kasih nak,” ucap Opa Thalib dan Oma Ratna.
Opa Thalib berharap kelak Ghina bisa memegang salah satu perusahaannya. Dan sepertinya Opa akan membantu Ghina untuk menuju ke arah tersebut.
“Zaka, Sarah hari ini kalian menginaplah di sini menemani Ghina. Biarkan Ghina sementara tinggal di sini, biar aman. Saya khawatir Edward akan mengganggu kalian,” ujar Opa Thalib.
“Iya Om, kami akan menginap di sini, tapi saya akan jemput Rio dari sekolahnya dulu. Baru kembali ke sini.”
“Zaka, biar sopir yang mengantar kamu,” ucap Opa Thalib.
“Baik Om Thalib.”
🌹🌹
“Ghina sekarang kamu istirahat di kamar ini. Kamu sudah tahukan ini kamar suami kamu....,” ujar Oma Ratna.
“Ya, Oma......Ghina tahu ini kamar Om Edward,” tersenyum tipis.
“Oma bolehkah Ghina menanyakan sesuatu?”
“Ghina mau tanya apa?”
“Kenapa di ruang utama di terpajang foto wedding Ghina dan Oma Edward.”
Oma Ratna mengulum senyum “Biarkan kami memajang foto kalian berdua, walau kalian nanti sudah berpisah. Itu bukti kalian pernah menikah, dan kamu adalah menantu dari anak pertama Oma dan Opa.”
“Jujur kami bahagia memilih kamu jadi menantu Oma dan Opa, walau usia kamu masih muda. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Ingat Ghina, kamu tetap bagian dari keluarga Thalib.”
Terbesit Oma ingin bicara dari hati ke hati dengan Ghina lebih panjang, ada rasa ingin tahu perasaan Ghina terhadap putranya Edward. Tapi rasanya tidak pantas saat ini bertanya, setelah kejadian hari ini di mansion Edward.
“Baiklah Oma tinggal dulu sebentar, kamu istirahat. Jika perlu sesuatu hubungi lewat line telepone.”
“Baik Oma...terima kasih banyak.”
__ADS_1
Oma Ratna meninggalkan kamar Edward, Ghina untuk ke dua kalinya, akan tidur di kamar calon mantan suaminya. Entah mengapa Oma Ratna menyuruh tidur di kamar Edward, padahal masih banyak kamar tamu yang tersedia. Kamar yang bernuansa putih kombinasi abu muda, terlihat rapi dan bersih, walau tidak di tempati.
Kaki Ghina rasanya ingin berkeliling di kamar mewah milik Edward ini, menelisik semua sudut. Gadis itu mulai menjelajahinya, ke dua netranya menangkap beberapa pajangan figura foto Edward dengan Kiren terlihat begitu serasi. “Semoga kalian berbahagia selalu,” gumam Ghina.
Selanjutnya ke meja berikutnya, ada beberapa foto keluarga yang diambil saat acara keluarga.
Tampaklah dirinya ketika usia lima belas tahun, berfoto bersama dengan keluarga Thalib, dia duduk di samping Edward. “Saya kok enggak ingat ya pernah ikutan foto bareng.” Gadis itu hanya bisa tersenyum melihat kenangan dalam sebuah foto.
Pertama kali mereka berdua bertemu di acara ulang tahun Opa Thalib secara langsung di mansion utama, saat Ghina usia lima belas tahu. Dan Edward yang pertama kali memperkenalkan dirinya sebagai anak dari Opa Thalib, Ghina hanya bisa membalas jabatan tangannya dengan senyum malu-malu.
Semuanya hanya tinggal kenangan, di simpan di tempat tersendiri untuk selamanya.
Sekarang gadis itu berdiri di depan foto Edward yang terpajang di dinding tembok.
Selamat tinggal calon mantan suamiku, semoga kamu selalu ingat diriku sampai akhir hayatmu. Saya istri yang tak dianggap olehmu Om Edward!
Sementara di mansion Edward, terbaring lemah seorang pria yang badannya sudah babak belur di kamar tamu bekas Ghina. Merintih kesakitan, bukan sakit di badan yang di rasanya, tapi sakit di hatinya.
Setelah Dokter mengobati luka di tubuh Edward, terpaksa Edward di berikan suntikan obat penenang, agar bisa sedikit tenang keadaannya.
“Ghina jangan pergi, tolong jangan pergi......” racau Edward dalam kondisi mata tertutup.
“Kembalilah Ghina.........Ghina...,” ujung ekor mata Edward, terjatuh buliran buliran bening.
Ingatan Edward saat Ghina masuk ke ruang ballroom dengan baju pengantinnya begitu anggun dan cantik, begitu bergegasnya Edward menghampiri Ghina dan menyambutnya dengan hati yang berdebar-debar.
Sesungguhnya di malam pengganti mereka, Edward ingin memiliki Ghina seutuhnya.......tapi ternyata Allah tak mengizinkan Edward memiliki gadis itu seutuhnya.
Linangan air mata semakin deras si pipi Edward, wajah Ghina selalu terlihat jelas dalam bunga tidur pria itu.
Ferdi dan Pak Jaka setia tetap menemani di kamar, menjaga Tuan Besarnya, sampai pagi menjelang.
.
.
bersambung
__ADS_1