
Setelah mendengar keluh kesah dari sang istri, Edward langsung mengambil tindakan dan lebih mawas diri untuk dirinya sendiri. Ghina bukan tipe wanita yang selalu menjaga suaminya dari para wanita, tetap wanita itu memberikan kebebasan buat suaminya, apalagi Edward seorang presdir sekaligus pebisnis.
Akan tetapi jika ada yang sedikit aneh, pasti Ghina akan cepat menegur suaminya.
Keterbukaan itu yang mereka lakukan, walau pun mereka berdua satu kantor, tapi sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun di sela kesibukan mereka berdua, tetap menyempatkan untuk berkomunikasi.
Selly yang kebetulan baru masa percobaan kerja selama tiga bulan, tidak di perpanjang masa kontraknya sesuai dengan kesepakatan kontrak kerja. Mantan sekretaris itu terlihat kesal karena tidak di perpanjang masa kontrak kerjanya, plus kecewa dirinya belum sempat menjerat Edward agar jatuh ke pelukannya.
Ferdi sebagai asisten pribadi Edward, di minta mencarikan sekretaris pria, tidak menginginkan karyawan wanita menjadi sekretarisnya.
TOK
TOK
“Sayang......,” sapa Edward yang baru saja masuk ke ruang kerja istrinya.
“Ya hubby...,” wanita yang di panggil langsung mengangkat wajahnya.
“Masih sibukkah?” Tanya Edward kemudian mengecup bibir sexy istrinya sekilas.
“Lagi siapkan data untuk rapat pemegang saham, hubby” wanita yang baru di kecup suaminya, mengelus lembut rahang suaminya.
“Ada apa, siang hari hubby mampir ke sini?” tanya Ghina dengan tatapan hangatnya.
“Sayang, hari ini kita makan di luar yuk. Aku pengen makan di pinggir pantai,” pinta Edward.
“Mmm........hubby ngidam lagi ya?” Selidik Ghina, mendengar permintaan suaminya yang tiba-tiba di utarakan.
“Tadi aku lihat brosur ada gambar orang makan di pinggir pantai, bikin ngiler........sayang.”
“Itu namanya ngidam hubby.....”
“Mau ya, kita makan di pinggir pantai,” mohon Edward.
__ADS_1
“Mau.....demi hubby, dari pada anak kita ngeces nantinya, kalau keinginan daddynya tidak di turuti.”
“Ya sudah sekarang matikan laptopnya, kita berangkat,” pinta Edward yang terlihat tak sabaran.
“Sabar dong hubby, aku save dulu dokumennya."
Calon daddy si kembar terlihat sabar menunggu istrinya merapikan pekerjaannya, setelah rapi di raihnya tangan istrinya. Seperti biasa jari jemari mereka berdua selalu bertautan jika berjalan. Hal yang sangat di sukai oleh Edward dan Ghina, bukan bermaksud menunjukkan kemesraan dan kepemilikan mereka berdua, tapi bentuk perhatian buat mereka berdua, sentuhan kecil namun hangat di hati masing-masing.
“Hubby tumben kita gak pakai sopir?” tanya Ghina ketika melihat suaminya sudah masuk ke dalam kursi kemudi.
“Ingin merasakan pacaran lagi sama bumilku, jadi cukup kita berdua saja,” jawab Edward, dengan mengular senyum hangat, kemudian mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut.
“Mmmm........jadi temanya kita pacaran lagi ya, hubby,” Ghina tampak gemas dengan suaminya.
“Yap kita ngedate dulu ya sayang.”
“Oke.....lets go hubby,” teriak Ghina dengan suara riangnya. Edward mulai mengemudikan mobilnya dan meluncur ke pantai. Sejujurnya wanita itu senang mau di ajak ke pantai oleh suaminya, karena dirinya juga sudah lama merindu melihat pantai.
Sepanjang perjalanan menuju pantai Ghina dan Edward berbagi cerita, dengan obrolan ringan dan sudah tentu sambil mengemil. Edward selalu menyiapkan cemilan di dalam mobilnya, karena si bumil suka mengemil. Seperti sekarang mulut bumil lagi mengunyah roti rasa keju, dan sesekali wanita itu menyuapi suaminya yang lagi pegang kemudi.
“Kamu suka ya....?” Tanya Edward, sambil membantu melepaskan seat bel yang di pakai Ghina.
“Suka By.........sangat suka,” jawab Ghina dengan riangnya. Padahal yang ke pengen ke pantai suaminya, tapi yang semangat justru si bumil.
“Kita turun sayang,” ajak Edward, sambil membuka pintu mobilnya.
“Iya By.” Edward buru-buru keluar mobil, lalu membukakan pintu mobil istrinya, lalu membantu si bumil keluar dari mobil.
Deru ombak pantai mulai terdengar, hembusan angin pantai mulai menyentuh kulit. Aroma asin pun menyeruak hingga terbawa oleh hembusan angin.
“Sayang jalannya pelan-pelan saja,” pinta Edward dan mengeratkan genggaman tangannya, mengingat mereka berjalan di atas pasir putih bukan jalanan yang beraspal.
“Iya hubby.....ini udah pelan-pelan jalannya.”
__ADS_1
Edward mengajak Ghina ke tempat yang sudah di siapkan sebelumnya, dari kejauhan Ghina sudah melihat tempat di pinggir pantai. Rupanya sang suami menuntun dirinya ke tempat yang dari jauh sudah dilihatnya.
“Kita makan di sini ya, sayang,” tunjuk Edward ke tempat yang sudah di siapkan.
“Hubby......,” kedua netra Ghina mulai berbinar-binar melihat tempat yang di tunjuk oleh suaminya.
Tempat makan ala piknik tapi terkesan romantis.
“Kenapa sayang kok diam saja, gak suka tempatnya?” harap-harap cemas Edward.
Ghina langsung memeluk suaminya, “suka sekali hubby, sangat suka...........hiks...hiks....,” terharu sampai ingin menangis.
Edward menangkup wajah Istrinya dengan kedua tangannya, ”jangan menangis dong sayang, aku bikin ini untuk kamu......sayang,” dengan suara lembutnya Edward berkata.
“Aku terharu hubby, kamu mengajakku ke sini. Pikirku kita akan makan di salah satu restoran di pinggir pantai, akan tetapi kamu mengajakku ke tempat yang indah dan cantik ini........dluar ekspetasiku.”
“Ini untuk bumil cantikku, kita menikmati pacaran hari ini,” Edward mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, dan melabuhkan bibirnya ke bibir istrinya dengan lembut. Hati mereka berdua terasa hangat sejenak.
Tidak ada hal yang paling bahagia buat Edward selain bisa melihat senyuman bahagia dari wajah istrinya, pria itu ingin selalu membahagiakan istrinya menggantikan air mata istrinya di masa lalu. Di tambah pria itu juga berusaha membuat Ghina nyaman selama masa kehamilannya tanpa ada rasa berat dan menjadi beban dalam hamilnya.
Makan romantis di pinggir pantai salah satu kejutan untuk bumilnya, sengaja di siapkan dari pagi hari dengan mengkoordinir para karyawan hotel milik Edward yang letaknya tidak jauh dari pantai mereka berada. Ternyata berhasil membuat hati bumil membuncah bahagia.
Kini mereka berdua sudah duduk di hamparan pasir putih dengan beralaskan karpet dan bantal, sajian makanan pun mulai berdatangan, di bawa oleh para karyawan.
“Hubby, terima kasih dengan kejutan indah ini......dulu aku hanya berkhayal.....ternyata hubby mewujudkan mimpiku ini.”
“Ini juga mimpiku sayang, aku ingin membawa kekasih hatiku ke sini dan wanita itu adalah kamu. Mengukir kenangan indah, yang akan kita ulang terus sampai kita menua,” jawab Edward dengan tatapan penuh cinta dan sayang.
“Ternyata hubby, suami yang romantis juga ya....” membalas tatapan suaminya penuh cinta.
“Hanya romantis dengan mu sayang.” Edward mengecup sekilas hidung mancung istrinya.
__ADS_1
Edward dan Ghina saling bersitatap dan tersenyum hangat. Bersama dengan orang di cintai bisa membuat hati bahagia.