Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Saling memaafkan


__ADS_3

Sesaat mereka terdiam sejenak, saling mengunci tatapan.


“Dan ada betulnya ucapan Mas Rafael, kalau mbak Kiren wanita yang baik, pasti aku tetap di ceraikan empat tahun yang lalu......jadi percuma Om bilang cinta padaku,” tukas Ghina.


Edward meraup wajahnya dengan kasar, dan menghembuskan napasnya dengan kasar di udara.


“Itu yang kurasakan sekarang Om!” ucap lirih Ghina.


Baru semalam pria itu mereguk kebahagiaan bisa kembali menikah dengan istri pertamanya, hari ini sudah di tempa masalah.


Edward menangkup wajah Ghina “Tolong, jangan berpikiran negatif padaku. Aku tidak seperti yang Rafael bicarakan. Aku akan berusaha untuk mendapat kepercayaanmu, sekuat tenaga aku.” Pria itu berusaha meyakinkan hati wanita itu.


“Tapi betulkan yang di katakan Mas Rafael, jika Mbak Kiren wanita yang baik, Om tetap menceraikan aku saat itukan!”


Tersudutlah Edward dengan pernyataan Ghina, pria itu terdiam.....mati kutu tak bisa memungkiri pernyataan tersebut.


“Jadi betulkan!!” ujar Ghina sekali lagi. Dugaan itu begitu saja terlintas walau sempat wanita itu tidak mempermasalahkannya, tapi ketika ada orang yang mengungkitnya, timbul kembali hal tersebut. Salahkah untuk bertanya?


Edward memapah Ghina agar bisa duduk di sofa, dan kini Edward duduk di hadapannya, mereka berdua saling beradu pandang.


“Kita baru saja menikah semalam. Betul kata kamu, kita belum saling mengenal lama. Aku mengakui kesalahan masa laluku, menikahimu karena untuk menikahi Kiren. Tapi pernyataan jika Kiren wanita baik, aku tetap akan mence----,”


“Cukup Om, jangan di jawab....” hatinya menolak untuk mendengar jawaban dari Edward, belum siap rasanya.


Edward sadar jika wanita yang kembali resmi secara agama menjadi istrinya, sedang mengalami trauma yang masih membekas di hatinya. Masih mengalami krisis kepercayaan kepada dirinya yang terutama.


“Maafkan aku jika masih ingat akan masa lalu kita.....Om, sebenarnya aku ingin melupakannya.  Tapi terkadang suka terbesit seperti saat ini. Apakah salah jika aku masih belum yakin denganmu Om?” mata Ghina mulai berkaca-kaca.


“Please honey........jangan menangis. Aku yang salah, aku menyadarinya jika itu semua tidak mudah buat kamu, honey. Dan semuanya memang berawal dari aku. Tapi aku tidak bisa jika kamu diam dan mengacuhkan aku seperti tadi, lebih baik kamu marah padaku, bicarakan apa isi hatimu!!” tangan Edward mulai menghapus buliran bening yang baru saja jatuh di pipi wanita itu.


“Aku takut patah hati lagi Om Edward dan aku sudah lelah untuk memulihkan hati sendiri .......,” derai air mata sudah di kedua netra Ghina , wanita itu bukan tipe cengeng. Tapi entah kenapa hatinya terasa sakit begitu dalam kali ini, seperti wadah yang sudah terisi penuh air, hingga meluap keluar sendiri dari wadah tersebut.


“Maafkan aku,” Edward mencondongkan dirinya, dan langsung memeluk istrinya dengan hati-hati agar punggung istrinya tidak sakit.


“Bukan aku tidak percaya denganmu Om, tapi aku takut percaya pada hatiku sendiri......sakit jika terluka kembali.....,” ucap Ghina dalam pelukan Edward.

__ADS_1


“Berbagilah rasa sakitmu itu, biar aku lebih paham akan dirimu. Begitu juga aku akan berbagi untukmu, karena kamu adalah belahan jiwaku,” ujar Edward, pria itu mengecup pucuk rambut Ghina berulang kali. Sejatinya Edward, dia tidak mau berlarut lama setiap ada masalah, apalagi dengan istrinya sendiri.


Pria itu mengurai pelukannya, dan menangkup wajah Ghina dengan tangannya, di usapnya air mata di pipi wanita cantik itu dengan jarinya.


“Aku dulu memang seorang suami yang buruk, sekarang aku tidak menjanjikan apa pun padamu. Aku hanya akan membuktikan jika ucapan Rafael itu salah. Aku tidak ingin mempermainkan pernikahan kita, aku ingin ini pernikahan satu-satunya sampai akhir hayat hidupku, dan hanya Ghina Farahditya istriku satu-satunya.”


Ghina menatap wajah tampan suaminya, mencoba meyakinkan hatinya diri sendiri.


“Terbukalah hatimu padaku, jika ada yang menganjal langsung tanyakan padaku. Jangan lagi honey mengacuhkan dan mendiamkan aku lagi, aku tidak suka,” pinta Edward dengan lembutnya.


“Dan jangan berpikir kamu ingin menjadi janda!! Tunggu sampai nyawaku sudah tidak ada di badanku lagi. Baru jadi janda!!” ancam Edward.


“Aku sudah jadi janda Om selama tiga tahun,” jawab Ghina sambil mengulum senyum tipis di wajah sembabnya.


“Siapa bilang aku menjandakan kamu, kamu aja yang merasa jadi janda. Tiap bulan aku masih memberikan kamu nafkah, semuanya ada bukti transfernya. Mau aku kirim buktinya.”


“Ya kan aku tahunya uangnya dari Opa bukan dari Om. Yaa jadi berasa sudah jadi jandalah, apalagi sudah tanda tangan surat perceraian.......janda tapi perawan,” Ghina mulai tertawa kecil.


“Dan aku tidak pernah menanda tangani surat perceraian itu, jadi semalam aku menikah dengan janda tapi masih gadis ya,” Edward mulai menggoda Ghina, yang sudah terlihat mencair hatinya.


“Maafkan aku juga ya Om,” jawab Ghina pelan.


Edward mengapit dagu Ghina, kemudian melabuhkan kecupan hangat di bibir istrinya.


“Ehmmm.........permisi Tuan, Nyonya,” suara Ferdi terdengar.


Edward menarik wajahnya, yang baru saja mengecup bibir Ghina. Ghina yang melihat, siapa yang datang kembali malu.


“Ada dokter, Tuan....Nyonya,” sambung Ria.


Sang dokter hanya bisa menebar senyum tipisnya.


🌹🌹


Menjelang malam

__ADS_1


Rumah Ghina.....


Mobil mewah Edward sudah terparkir di garasi rumah Ghina. Ferdi dan Ria sibuk bawa barang dari dalam mobil. Sedangkan Edward dengan penuh perhatiannya memapah istrinya untuk masuk ke dalam rumah. Akhirnya Ghina bisa bernapas lega sudah di izinkan pulang ke rumah, walau untuk beberapa hari ke depan masih harus bolak-balik ke rumah sakit untuk terapi otot punggungnya.


“Kita makan malam dulu ya, baru nanti kita ke atas,” ujar Edward mengantar Ghina duduk di ruang keluarga.


“Iya Om.....,”


“Ria, makanan yang tadi di beli langsung di siapin di meja ya,” pinta Edward.


“Iya Tuan,” Ria langsung membuka bungkusan makanan yang sempat di beli di jalan menuju rumah atas permintaan Ghina. Wanita itu pengen makan nasi uduk pakai pecel ayam, lele, tempe, tahu plus sambel.


“Tuan, Nyonya.....makanannya sudah siap di meja makan....” ujar Ria .


“Ayuk honey.....,” ajak Edward.


“Mbak Ria, Pak Ferdi.....kita makan sama-sama. Makanannya tadi beli banyak,” ajak Ghina.


“Iya Nyonya,” jawab Ferdi dan Ria, ikut bergabung duduk di hadapan meja makan.


“Honey, mau makan pakai apa....?” Edward mulai menyiapkan makan untuk istrinya.


“Mau pakai ayam yang bagian dada ya Om, terus pakai tempe sama tahu, terus sambelnya yang banyak,” pinta Ghina, semangat melihat makanan di atas meja. Edward begitu telaten menyiapkan makan malam buat istrinya.


“Ini pesanan nyonya Edward,” ujar Edward, menaruh piring yang sudah terlihat penuh. Setelahnya baru Edward mengambil makan buat dirinya sendiri.


“Makasih Om....”


Suasana makam malam kali ini terlihat hangat, Edward sesekali membahas masalah pekerjaan. Sedangkan Ghina dan Ria membahas masalah toko kue, karena pekerjaan sampingan Ria selain jadi ART, Ria membantu toko kue Gina’s sebagai pelayan toko, dan jadwal kerjanya diatur sendiri oleh Ria. Dan lumayan menambah gaji Ria, dan menambah pundi-pundi tabungannya.


bersambung....


Kakak Reader yang cantik dan ganteng terma kasih atas dukungannya. Yang masih punya vote, boleh dong di lempari ke Ghina dan Edward. Terima kasih sebelumnya.


Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2