
Dipejamnya kedua matanya sesaat, merasakan bokongnya yang terasa sakit, hingga hatinya pun terasa ngilu. Untung punggungnya tidak ikutan terjatuh berbaring di lantai. Di rasa dadanya mulai tenang, dan masih terdengar tawa ejekan Bu Sari di telinganya. Ghina bangkit dari jatuh duduknya.
“Jika dengan mengejek saya, anda terasa senang. Maka jangan salah jika saya membalas anda!” lawan Ghina. Gadis ini tidak akan diam saja jika ada yang menindasnya tanpa alasan yang jelas.
“Apa maksud kamu, kamu hanya pelayan di sini......hanya PEMBANTU, jangan banyak tingkah. Kamu bukan nyonya mansion ini!” tantang Bu Sari sambil jari telunjuknya, unjuk unjuk ke wajah gadis itu.
Andaikan Bu Sari tahu siapa gadis yang di hadapinya, mungkin jiwa nya langsung meronta ronta, jika posisi anaknya hanyalah istri kedua. Atau malah terkena serangan jantung.
“Seorang pelayan juga punya harga diri dan martabat yang harus di jaga. Pelayan atau pembantu adalah pekerjaan yang halal, ketimbang mengemis kepada saudara, anak atau orang tua, bahkan ke orang lain!” lawan Ghina.
Ghina mengikis jaraknya dengan Bu Sari, melangkah maju tapi pasti, dengan senyum smirknya menatap wajah wanita paruh baya dengan dandanan sok sosialitanya. Kalau menurut mata Ghina justru terlihat norak bukan elegan.
Langkah maju kaki Ghina, membuat Bu Sari semakin berjalan mundur ke belakang, tanpa dia menoleh.
BYUR.....
Langkah mundur Bu Sari membuat dirinya menyemplung ke dalam kolam renang. Tanpa Ghina mendorong, Bu Sari sudah ada di sana.
“Selamat berenang!” seru Ghina sambil menaikkan kedua bahunya.
Bu Sari yang terkejut, ke gelagapan berada di dalam kolam renang, seakan akan minta tolong. Padahal kedalaman kolam renangnya hanya 1,7 M.
“GHINA.......APA YANG KAMU LAKUKAN SAMA IBU SAYA!” hardik Kiren.
PLAK!!
Tangan Kiren mendarat di salah satu pipi Gina. Sesaat Ghina terkejut menerima tamparan dari Kiren.
“Apa maksud mbak Kiren dengan menampar saya?” tegur Ghina wajahnya mulai memerah setelah terkena tamparan.
“Aku melihat kamu, mendorong ibu saya!” tuduh Kiren tanpa bukti.
“Jangan asal menuduh saya tanpa bukti, mbak Kiren. Itu sama saja memfitnah saya!” sungguh geram, baru saja menghadapi ibunya, sekarang di tambah anaknya.
__ADS_1
Para pelayan yang melihat kejadian ini, mereka saling colek mencolek untuk membantu Bu Sari. Mereka malas membantunya, karena Bu Sari suka meremehkan mereka, bagaikan nyonya masion lagaknya.
“Apa apa ini!” Edward baru tiba di mansion sudah mendengar keributan dekat area kolam renang.
“Sayang, tolong Ibu aku.........tadi di dorong pelayan ini sampai jatuh ke kolam renang!” dengan suara yang dibuat manja.
Sebelum Bu Sari di tolong Edward, beberapa pelayan sudah membantu Bu Sari keluar dari kolam renang.
“Benar nak Edward, entah salah apa Ibu tiba tiba di dorong sama pelayan ini ke kolam renang. Untung ibu masih selamat!” ucap Bu Sari dengan wajah memelasnya dan tubuh yang sudah basah kuyub.
PLAK!!
PLAK!!
Tangan besar Edward sudah mendarat di kedua pipi Ghina, sebelum sempat Ghina menghadangnya.
Dengan tatapan nanar gadis itu menatap mata Edward yang terlihat memerah menahan emosi.
Setitik buliran bening hadir di ujung mata cantiknya Ghina, namun masih bisa ditahannya agar tidak semakin deras jatuhnya.
Luka di punggung belumlah kering, sekarang kedua pipinya sudah terluka. Sampai di sudut bibirnya keluar darah.
Kedua tangan Edward terkepal dengan sekuat-kuatnya, hatinya memanas karena hujatan Ghina. Gadis di hadapannya tidak pernah gentar melawannya, dan sekarang di depan ibu mertuanya sendiri gadis itu melawannya.
Akan tetapi di saat yang bersaman, Edward terkesima dengan gadis muda yang ada di hadapannya, wajah cantik Ghina tiba-tiba berubah menjadi sosok yang berbeda, terlihat dewasa dan menantang dirinya.
“Sebelum Tuan besar melayangkan tangan Anda untuk memberi tamparan buat saya. Seharusnya Tuan mencari kebenarannya, tidak seperti istri dan mertua Tuan yang asal menuduh.” Ghina berusaha tegar berkata, menguatkan dirinya sendiri.
“ITU......ITU......DAN ITU, SAKSI DAN BUKTI DARI KEJADIAN SEMUANYA!” ditunjuknya dengan tangannya beberapa titik cctv yang berada di sekitar kolam renang.
Bu Sari dan Kiren mulai deg deg deg an, setelah Ghina menunjukkan beberapa CCTV, sungguh cerobohnya mereka berdua.
Tangan Edward seketika kaku, telah bertindak gegabah, dan terlalu mendaratkan tamparan yang keras di kedua pipi Ghina, hingga masih terlihat bekas tapak tangannya. Tetesan darah pun keluar dari sudut bibir yang pernah dia kecup mesra, ingin rasanya mengusap darah itu dengan jarinya. Tapi itu tak akan mungkin terjadi, egonya lebih tinggi.
__ADS_1
“Nak Edward, jangan di perpanjang masalah ini. Ibu sudah memaafkan pelayan ini. Lebih baik kamu pecat saja pelayan ini, kamu tidak tahu kalau pelayan ini habis pergi dengan wajah bersolek agar terlihat lebih cantik lagi, mungkin saja dia habis bertemu OM...OM pelanggannya di luar!” tuding Bu Sari di hadapan Edward.
Tangan Ghina meremas ujung kaos yang di pakainya, sungguh pedas tudingan Bu Sari.
“Anda kembali menuduh saya!! Jangan-jangan anak anda sendirilah yang kelakuannya seperti JA--LANG!” balik tuduh Ghina.
Edward yang mendengar tuduhan Ibu mertuanya atas Ghina mulai geram, karena Edward tahu ke mana gadis itu pergi, dan habis ngapain. Pria itu tahu, Ghina bukan wanita nakal. Justru dia buru buru kembali ke mansion, untuk memberi teguran ke Ghina karena pergi dari mansion tanpa izin darinya. Tapi justru jadi beda cerita sekarang, bukan sebuah teguran lagi yang di dapat Ghina, tapi tangannya sudah mendarat ke pipi Ghina.
“Dengar.......Nak Edward, mulut pelayan ini menuduh istri kamu ja---lang!” seru Bu Sari.
“GHINA, MASUK KAMAR.........SEKARANG!” perintah Edward dengan suara kerasnya. Namun sayang Ghina tampak tak bergeming, dia masih berdiri menatapnya.
“Buat apa saya masuk ke kamar, sedangkan mertua Tuan sudah meminta untuk memecat saya! Ayo........tunggu apalagi Tuan Besar, pecat saya! Dan saya akan segera keluar dari mansion ini. Lagi pula saya wanita ja---lang kata mertua Tuan. Buat apa juga saya ada di mansion Tuan!” tekan Ghina.
Bu Sari dan Kiren masih menunggu keputusan Edward.
“Kiren, bawa ibu kamu sekarang ke kamarnya. Kamu gak lihat baju ibu sudah basah kuyup, nanti bisa sakit,” pinta Edward.
“Jangan mengalihkan pembicaraan nak Edward, apa susahnya tinggal bilang pecat. Dan nanti bisa mencari penggantinya!” rupa-rupanya Bu Sari tidak sabar, agar Edward menyegerakan keinginannya.
“Sayang......turuti saja keinginan Ibu, biar masalahnya cepat selesai ” sambung Kiren, padahal dirinya juga takut jika Edward sudah emosi.
Kepala Edward mulai pusing dengan tuntutan Ibu mertua dan istrinya sendiri. Padahal Kiren tahu persis siapa Ghina, istri pertama sekaligus masih saudara Edward. Posisi Ghina lebih kuat ketimbang dirinya sendiri.
Edward meraih tangan Ghina, lalu di tariknya menuju kamar tamu yang biasa di tempati Ghina.
Bu Sari terlihat kecewa dengan tingkah laku menantunya. Dan ingin mengikuti Edward, akan tetapi langsung di hadang Ferdi dan Pak Jaka.
“Tolong jangan ikut campur urusan Tuan Besar!” tegur Ferdi kepada Bu Sari dan Kiren.
.
.
__ADS_1
bersambung