
Derrt.......Derrt
Papa Calling
Sejenak Edward memicingkan kedua matanya setelah melihat panggilan teleponnya.
“Assalamualaikum Pah."
“Walaikumsalam, Edward hari ini kamu tidak ke perusahaan?”
“Ada apa memangnya Pah, saya lagi di kantor rumah sakit B...Pah?”
“Papa lagi berkunjung ke perusahaan, kata sekretarismu Santi, kamu belum masuk kerja. Atau kamu lagi honeymoon sama Ghina.”
“Saya belum sempat Pah ajak Ghina honeymoon, lagi pula banyak pekerjaan yang sudah lama tertunda di rumah sakit.”
“Bagaimana kabar menantu papa, Ghina baik-baik sajakan?”
“Baik Pah, sekarang dia ada di rumah.”
“Mama mu minta di tengok sama menantunya, kapan kamu bisa ajak Ghina ke mansion utama?”
“Nanti Edward atur waktu dulu Pah, tapi tidak dalam waktu dekat ini.”
“Oh iya, kata mama mu....Ghina ponselnya tidak bisa di hubungi. Kenapa Edward?”
“Oh itu Pah, kemarin handphone Ghina gak sengaja sama dia ke cemplung di kolam renang. Tapi saya sudah belikan yang baru, mungkin belum di aktifkan.”
“Baiklah, nanti kamu urus ponsel Ghina. Mama sudah kangen sama menantu cantiknya.”
“Baik Pah.”
Opa Thalib tampak berwajah kesal, mendengar perkataan bohong Edward melalui sambungan teleponnya. Semuanya tidak sesuai dengan laporan kenyataannya tentang Ghina.
Bersabarlah Ghina, Opa dan Oma pasti akan menjemputmu. Dan pastinya suamimu akan mendapat pelajarannya!
Opa Thalib kembali melihat galeri foto dan videonya yang berada di ponselnya, mengamati dengan rasa geramnya.
🌹🌹
Dokter Irfan siang hari visit ke kamar Ghina, Ria memberi kabar ke Edward, lalu Edward meneleponnya. Dan meminta untuk tidak memutuskan teleponnya, karena dia ingin mendengar percakapan mereka.
“Masya allah, benarkah ini buat saya. Ini cantik banget bunganya Pak Dokter,” Ghina menerima buket bunga mawar putih yang terbungkus dengan cantiknya.
__ADS_1
“Semoga suka ya bunganya, saya bingung waktu mau pesannya. Karena tidak tahu bunga kesukaan kamu.”
“Bunga apapun saya suka Pak Dokter, apalagi ini pertama kali ada yang kasih buket bunga, seperti mimpi aja,” cerianya wajah Lina menerima perhatian kecil dari orang lain.
“Biar semangat cepat sehat, hati yang bahagia bisa mempercepat pemulihan kamu. Nah sekarang saya mau mengecek punggung kamu dulu,” ucap Dokter Irfan.
“Oke Pak Dokter," diletakkannya bunga mawar putih di sampingnya.
Dokter Irfan segera menjalankan tugasnya, memeriksa, membersihkan dan menggantikan perban di punggung Ghina.
“Ghina, semalam saya coba hubungi kamu, kenapa tidak bisa ya?” tanya Dokter Irfan.
“Handphone saya tidak sengaja kemarin terjatuh, jadi mati tidak bisa menyala lagi,” ujar bohong Ghina.
“Sungguh sayang sekali, berarti saya tidak bisa menghubungi kamu...” terdengar kecewa dari nada suarany.
“Iya Pak Dokter, sampai saya punya handphone lagi. Pak Dokter kira kira kapan saya bisa keluar dari rumah sakit?”
“Kalau besok hasil observasi dan lukanya membaik, mungkin sorenya sudah bisa pulang.”
“Alhamdulillah, semoga besok saya bisa keluar dari rumah sakit.”
“Nanti kalau sudah keluar dari rumah sakit, usahakan dalam sehari makan 4 butir telur rebus, karena mempercepat proses sembuh luka jahitannya.”
“Baiklah kalau begitu saya kembali bertugas lagi, selamat istirahat gadis cantik,” puji Dokter Irfan.
“Terima kasih Pak Dokter ganteng," balas Ghina.
Edward yang mendengarnya dari sambungan teleponnya langsung meradang. Dia memutuskan panggilan teleponnya.
Tidak menunggu waktu lama....
BRAK
Suara pintu kamar yang terdengar dipaksa bukanya.
Ghina yang kembali memegang buket bunga dari Dokter Irfan, tampak sedang mencium wanginya, sampai tidak tahu siapa yang masuk ke kamarnya.
“Eeeetsss........!” bunga yang berada di tangannya tiba-tiba raib di ambil pria yang berbaju jas abu abu.
“Eeeh......mau di bawa kemana bunga saya!” teriak Ghina pada pria tersebut. Sungguh sayang tangannya masih di infus, tidak bisa mengejar pria tersebut. Ribet bawa tiang infus, kecuali dia menarik jarum infusnya lagi.
“Denis....buang jauh jauh bunga ini!” titah Edward yang telah keluar dari kamar Ghina.
Denis terlihat terkejut menerima bunga dari Tuannya yang sempat di lihatnya waktu Dokter masuk ke kamar Ghina.
__ADS_1
Dengan langkah gagahnya Edward kembali ke ruang kerjanya, masih memasang wajah kesalnya.
🌹🌹
Perusahaan Thalib
“Wow pengantin baru sudah masuk aja nih. Kayaknya happy banget nih wajahnya setelah menikah dengan CEO kita,” goda Anis teman kerja Kiren.
“Iya dong, harus happy dong. Secara gue kan sudah jadi Nyonya CEO Thalib Group."
“Loe kok udah masuk kerja aja, katanya mau honeymoon ke Paris. Gue kan nungguin oleh oleh dari loe. Apalagi gue udah bantuin loe. Gimana malam pertama loe aman gak?”
“Anis.....gue berterima kasih banyak. Loe memang teman gue yang terbaik dan memberikan solusi yang terbaik. Untung loe waktu itu ngajak buat operasi selaput dara, jadi suami gue gak tau kalau gue udah gak perawan lagi. Dan dia kayaknya menikmati banget saat berhubungan intim ama gue."
“Jadi loe berhutang banyaklah ama gue, udah nyelamatin malam pertama loe. Jangan lupa bayarannya loe sekarang udah jadi nyonya CEO, pasti uang loe milyaranlah!”
“Tenang aja nanti gue transfer ke rekening loe, yang penting loe jaga rahasia ini.”
“Aman gue keep secret, yang penting transferannya seharga tas hermes keluaran baru yee ”
“Astaga matre amat loe....!”
“Wajarlah demi rahasia nyonya CEO,” Anis mengerlingkan matanya.
“Eh.......terus loe main sama Pak Edward tiap hari dong..?” kepo Anis.
“Gak tiap hari, baru sekali itu pun pas malam pengantin,” jawab Kiren.
“What.......dengan tubuh loe yang sexy terlihat bak gitar spanyol, loe baru sekali ngelakuinnya. Wow ada yang salah tuh. Jangan jangan goyangan loe udah gak hot lagi, udah kebanyakan goyang ama mantan pacar loe tuh yang di Bandung!” celetuk Anis, yang mulutnya agak pedas.
“Bisa aja loe....Anis, ya udah kasih tahu dong ke gue, loe kan sering cerita....... jago di ranjang tuh ama suami loe. Bagi dong rahasianya. Biar laki gue selalu nempel ama gue, minta terus."
“Ada rahasianya, tapi duitnya dulu.......ini barang harganya mahal banget. Produk luar negeri, di jamin Pak Edward minta terus ama loe. Kalau loe mau, besok gue bawain."
“Masalah duit gue gak masalah, berapa harganya hari ini gue bayar, kalau perlu hari ini gue izinkan loe ambil barang di rumah."
“25 juta, kalau setuju.......gue balik dulu buat ambil barangnya.”
“Oke deal, gue transfer sekarang juga. Dan gue tunggu di ruangan gue segera mungkin.”
“Oke, gue cabut sebentar ya,” Anis meluncur pulang ke rumah. Gak sia sia punya teman istri CEO, dengan harga asli barang 10 juta, dia dapat untung 15 juta.
Sungguh malang sekali nasibmu Edward, istri yang kau anggap berlian ternyata hanya seonggok batu hitam yang di poles. Sedangkan istri berlian yang papa pilih kau anggap bagai batu kerikil yang bisa dan sering kau tendang!
Opa Thalib tersenyum kecut mendengarkan pembicaraan kedua karyawan Thalib Group, dengan tidak sengaja.
__ADS_1