Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Bicara dari hati ke hati


__ADS_3

Acara akad nikah ulang sudah selesai, beberapa tamu sudah pulang. Ke dua orang tua Edward dan Ghina sudah kembali ke hotel A, tempat mereka menginap.


Tinggal Ria dan Ferdi serta karyawan hotel yang merapikan prasmanan di dalam ruang rawat.


“Mbak Ria, minta tolong dong......panggilkan perawat, saya mau ganti baju,” pinta Ghina.


“Sebentar ya Nyonya, mbak panggilkan dulu ya,” jawab Ria.


“Gak udah di panggilkan Ria, biar saya yang ganti baju nyonya,” sahut Edward.


“Om.....biar perawat aja yang bantu, Om kan tahu punggung aku cedera, dan lihat ini tanganku masih di infus,” tunjuk Ghina ke tangannya.


“Honey gak percaya sama aku,” tanya Edward.


“Bukan tidak percaya, tapi lebih percaya pada perawat yang memang sudah ahli dalam bidangnya,” balas Ghina.


Wajah Edward terlihat kecewa “Ria, panggilkan perawat...,” pinta Edward.


“Baik Tuan,” Ria kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti untuk memanggil suster.


Edward melepaskan jas warna hitamnya, dan menggulung lengan panjang kemejanya ke atas. Lalu duduk di tepi ranjang, dekat istrinya.


Pria itu menatap lekat wajah cantik istrinya, “Om, kenapa natapnya begitu?” tanya Ghina heran melihat Edward menatapnya tanpa berpaling.


“Aku ingin menatapmu lebih lama, menatap wajah istriku ini,” jawab Edward, tangan kanannya mulai mengelus pipi mulus istrinya.


“Tuan, Nyonya sudah ada perawatnya,” tiba-tiba Ria datang dengan dua orang perawat.


“Om.....minggir dulu ya, aku mau ganti baju dulu,” pinta Ghina dengan lembutnya.


“Ya......”jawab malas Edward, malas beranjak dari duduknya, tapi terpaksa harus beringsut.


Edward memilih duduk di sofa, Ria mulai menutup kain tirai yang ada di sekeliling ranjang.


Dua orang perawat mulai menggantikan dress yang dikenakan oleh Ghina, dengan baju piyama.


SHREK.......


Suara tirai sudah kembali terbuka, para perawat sudah kembali ke ruangannya.

__ADS_1


“Ferdi, nanti antar Ria pulang ke rumah. Kalian sudah boleh pulang sekarang. Terima kasih atas bantuannya malam ini,” ucap Edward.


“Baik Tuan, kalau begitu kami pamit pulang,” jawab Ferdi.


“Nyonya, mbak pulang dulu ya,” pamit Ria.


“Makasih ya mbak Ria, Pak Ferdi,”ucap Ghina.


“Sama-sama Nyonya,” jawab serempak Ria dan Ferdi.


Kini tinggal Edward dan Ghina di dalam ruang rawat yang masih tercium wangi, wangi bunga melati dan bunga sedap malam.


Edward mengambil baju ganti dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Ghina masih duduk di atas ranjang, belum berbaring karena butuh orang untuk membantunya berbaring di atas ranjang.


Sepuluh menit Edward membersihkan tubuhnya dan sudah mengganti bajunya. Pria itu terlihat semakin segar dan tentunya menawan.


“Honey, sudah mau tidur?”


“Iya Om, mata udah ngantuk....apalagi habis minum obat.”


Tanpa bertanya lagi, kedua tangan Ghina di taruhnya di kedua bahu Edward. Dengan hati-hati, pria itu membantu membaringkan tubuh Ghina, dan sedikit memiringkan posisinya.”Enakkan posisi miring  atau terlentang?” tanya Edward untuk memastikan posisi yang nyaman buat istrinya.


Pria itu ikut merebahkan dirinya, dan sedikit menarik pinggul Ghina agar sedikit miring. Kini mereka berdua saling berhadapan.


Kedua wajah mereka begitu dekat, Edward kembali menatap wanita yang berada di dekatnya, tatapan hangat.


“Honey, terima kasih sudah mau menerimaku kembali,” ucap Edward.


“Om Edward, masih ingatkah...... dulu Om menikahiku karena ingin menikahi mbak Kiren."


“Aku ingat honey, betapa kejamnya aku memperalat kamu karena ingin menikahi Kiren.” Sesaat Edward memejamkan matanya, kembali mengingat kisah lama mereka berdua.


“Om bolehkah aku menanyakan sesuatu?”


“Tanyakanlah, honey.......aku akan menjawabnya.”


“Kapan Om Edward menyadari mencintaiku?”


“Saat kamu di jemput papa, aku hancur......aku baru menyadari jika aku telah jatuh cinta padamu sejak lama” ungkap jujur Edward.

__ADS_1


“Tapi bukankah saat itu Om Edward sangat mencintai mbak Kiren?”


Edward menarik napas dalam-dalam, “saat aku pertama kali datang dengan keluarga untuk melamarmu, hatiku sudah berdebar-debar melihatmu, tapi selalu ku tepis dengan kehadiran Kiren. Tapi hatiku selalu ingin mencarimu saat kamu tidak ingin menemuiku, aku datang ke rumahmu walau kamu acuhkan. Di saat itu pun hatiku senang walau hanya melihat wajahmu sekilas.”


“Seiring waktu kamu terus mengacuhkan aku, dan melawanku.....membuat hatiku kesal dan emosi. Kamu tidak pernah mencoba meluluhkan hatiku.....tapi malah menjauhkan aku. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, hingga lambat laun rasa cintaku dengan Kiren terasa hambar. Di pikiranku hanya terisi kamu walau ada Kiren di sampingku. Tapi jahatnya aku, tidak cepat menyadari rasa untukmu itu.” Ujar sesal Edward.


“Aku tidak tahu masalah yang terjadi antara Om Edward dan mbak Kiren, kenapa bisa berpisahnya. Tapi aku berharap besar untuk pernikahan kali ini bukan karena gagal dengan mbak Kiren, akhirnya Om Edward kembali denganku.”


“Tidak honey, bukan karena kegagalan pernikahanku dengan Kiren, aku mengejarmu dan memintamu kembali. Tapi semuanya karena memang aku mencintaimu  aku tidak mau lagi membohongi perasaanku. Lepas dari masalah yang terjadi antara aku dengan Kiren, aku memang berniat menceraikannya waktu itu, dan hanya ingin menjadikan kamu istriku satu-satunya.”


Ghina menatap mata Edward dalam-dalam ketika pria itu berkata, menjawab pertanyaan yang dia ajukan.


“Apakah honey meragukan pernikahan kita?” tanya Edward, yang merasa hati Ghina masih meragukan keseriusan dirinya.


“Jujur Om, masih ada sedikit keraguan, dan bukankah itu wajar, setelah apa yang kita lalui berdua selama ini.”


“Ya aku paham akan hal itu, aku akan mencoba menghapus keraguan itu di hatimu,” ujar Edward.


Tangan pria itu merapikan anak rambut yang menutupi kening Ghina, lalu mengecup hangat kening istrinya dalam waktu lama.


Dalam pikiran mereka berdua melayang waktu saat kejadian di mansion Opa Thalib, pertemuan terakhir mereka. Bertemu untuk berpisah.


“Jangan pernah berpikir untuk berpisah lagi, istriku,” pinta Edward dengan lembutnya. Pria itu meraih dagu Ghina.


“Jangan buatku meragu,” jawab lembut Ghina.


“Aku akan membuat hatimu untukku seorang,” balas Edward. Pria itu mendekatkan wajahnya, bibirnya mulai mengecup ujung hidung mancung istrinya, lalu turun ke bawah. Menyapa bibir sensual Ghina, bibir pria itu mulai membasahi bibir istrinya, melu-matnya penuh gairah.


Tangan besar pria itu mulai merangkul pinggul Ghina, dan merapatkan tubuhnya ke tubuh wanita itu, penuh kehati-hatian, agar cedera punggung istrinya tidak bertambah parah.


Bibir pria itu mulai menjelajahi rongga mulut istrinya yang sudah terbuka, rasa hangat dan manis tercampur dengan hasrat yang datang. Salah satu tangan Ghina mulai merangkul leher suaminya, yang masih melu-mat lembut bibir wanita itu.


Sesekali mereka saling bergantian menghisap lidah pasangannya, menyesapnya tanpa ada rasa ingin berhenti. Pria itu membuat istrinya terbuai dengan perlakuan lembutnya, sedangkan sang pria merasakan candu yang memabukkan, walau hanya lu-matan lembut dari istrinya.


“Aku menginginkanmu, istriku,” ucap Edward sesaat melepaskan pagutannya, dengan napas yang terengah-engah.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2