
Brandon teman Edward saja langsung terpesona dengan Ghina, terutama sorot mata tajam Ghina, seakan akan sedang berbicara. Melihat sekilas tatapan mata Ghina, seperti terhipnotis untuk tidak berpaling dari Ghina.
Baru pria itu tinggalkan sebentar di mansionnya, siang ini sudah melihat gadis yang dianggap saudara, sudah berubah penampilan menjadi wanita yang anggun.
Edward mengepalkan kedua tangannya, di rasa emosinya ingin membuncah. Akan tetapi dia harus menahan agar tidak meledak, di tempat orang.
“Bagaimana Bro,.....cantikkan model pilihan gue? Untung loe udah nikah sama Kiren, jadi gue ada saingan untuk pendekatan dengan dia.” Brandon mengulum senyum menatap kagum kepada model pilihannya.
“Mmmm.......!” gumam Edward, kembali lagi mendengar pria lain yang ingin dekat dengan istrinya, eh salah deh saudaranya maksudnya.
Baru tadi pagi, Dokter Irfan menyatakan rasa suka terhadap Ghina. Siang ini temannya sendiri tertarik dengan Ghina. Lalu dia sendiri ?? Bingung, bimbang......entahlah.
Satu jam kurang, Ghina menyelesaikan job dadakan ini. Dan masih belum menyadari jika Edward memperhatikannya. Kalau saja tidak ada temannya Brandon, mungkin Ghina sudah kembali di gerek oleh Edward. Kali ini pria itu menahannya, walau tidak bisa di pungkiri rahangnya sudah mengeras, matanya sudah mulai berkobar api.
“Ghina sebelum ganti pakaian, Tante mau kenalin dengan klien Tante,” pinta Tante Feby ketika menghampirinya.
“Oh.....Iya tante,” Ghina ikut Tante Feby untuk menghampiri seseorang.
“Pak Brandon kenalkan ini Ghina,” ucap Tante Feby.
“Brandon....” diulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Ghina...” diterimanya uluran tangan tersebut, dengan senyum ketar ketir setelah melihat pria yang sama tampannya sedang berdiri di samping Brandon. Paham akan sorot mata pria itu, begitu menghujam hatinya.
Ooh my god.........gawat darurat....kenapa harus ketemu di sini sama Om Edward!!!
“Ghina, ternyata aslinya lebih cantik ya, walau di foto tetap terlihat cantik. Terima kasih sudah mau menjadi model produk saya,” ucap Brandon, dengan penuh pujian. Tapi sayangnya Ghina bukan wanita yang gila akan pujian.
“Sama sama Pak Brandon, tapi mohon maaf sebelumnya saya pamit ganti baju terlebih dahulu,” Ghina mencari cara agar menjauh dari tatapan tajam Edward.
“Baik Ghina.......silahkan.” Pria yang tidak kalah tampan dari Edward tersenyum manis dengan Ghina. Dan itu tertangkap oleh netra Edward.
Sialan........berani sekali Ghina membalas senyum Brandon...! Batin Edward terasa panas. Ada rasa yang mendorong Edward, untuk mengikuti langkah Ghina.
Kedua tangan Ghina mengangkat gaun bagian belakangnya, dengan langkah cepat, dia bergegas ke ruang ganti. Selama di butik, gadis itu tidak bertemu dengan Kak Dela dan mbak Lisa karena ada pemotretan di luar studio.
“Mbak Ike, tolong cepat ya bukaiin gaunnya, tapi hati hati bagian punggung saya ya.”
__ADS_1
“Iya Ghina cantik, ini saya sudah hati-hati sekali.”
Lepas dari gaun, Ghina buru buru memakai baju semulanya. Tanpa membersihkan makeup-nya terlebih dahulu.
“Mbak Ike, saya buru buru harus pergi. Tidak bisa bertemu dengan Tante Feby, nanti tolong pamitkan saya ya.” Ghina lebih baik menghindar Edward, tidak pantas rasanya jika nanti mereka beradu mulut di butik Tante Feby.
“Oke Ghina, makasih ya untuk hari ini.....nanti saya sampaikan ke Bu Feby.”
Dengan membawa tas kecil dan paper bagnya, dia jalan mengendap-endap, berharap dia tidak kepergok Edward lagi. Nasib beruntung datang ke dirinya, tidak ada sosok Edward, dengan cepatnya Ghina keluar dan turun menggunakan escalator menuju lantai bawah, lanjut ke coffe shop tempat Pak Jaka menunggu dirinya.
“Pak Jaka....” panggil Ghina.
“Sudah selesai Non...?” Pak Jaka sempat pangling dan tidak mengenali saat melihat wajah Ghina yang bermakeup .
“Sudah Pak, sekarang kita pulang.”
“Baik Non.”
Rupanya Edward masih menemani Brandon di ruang kerja Tante Feby, untuk melihat hasil pemotretan Ghina serta menyelesaikan pembayaran honor Ghina. Sejujurnya Edward sudah tidak tahan, duduk lama lama di ruang kerja pemilik butik. Pria itu ingin segera menangkap basah Ghina, yang masih saja berani keluar dari mansion tanpa seizinnya. Pria itu merasa Ghina tidak menghargai dirinya sebagai suami. Hay bambang bukan suami, tapi S A U D A R A.
Dia milikkku.........hanya milikku!! batin Edward
“Iya Pak Brandon....dia memang sangat cantik dengan kepribadian yang baik, makanya Ghina jadi model utama butik ini,” ujar Tante Feby.
“Kenapa tidak bergabung dengan agency model, Ghina bisa terkenal?” tanya Brandon.
“Profesi Model buat Ghina hanya selingan saja, dia tidak mau menjadi model terkenal dan tidak terobsesi. Dia hanya mau terima job lewat saya saja.”
“Kalau begitu saya minta tolong nanti Bu Feby atur waktu Ghina, saya ingin mengajaknya makan malam. Sebagai tanda terima kasih saya.”
Netra Tante Feby bergerak ke arah Edward yang berada di samping Brandon.
“Bisakan Bu Feby?”
Ini tidak bisa dibiarkan.....geram batin Edward.
“OOOH.......iya Pak Brandon nanti saya coba hubungi Ghina nya terlebih dahulu.” Tante Feby gelagapan jawabnya.
__ADS_1
“Baiklah Bu Feby, saya pamit dulu. Terima kasih atas kerja samanya.”
“Sama-sama Pak Brandon.”
Keluar dari ruang kerja Tante Feby, netra Edward menelisik ke ruang ganti yang terlihat pintunya terbuka. Ternyata tidak ada Ghina di dalamnya. Tersirat rasa kecewa..kemana perginya tuh bocah ?
45 menit Pak Jaka mengendarai motornya, dengan kecepatan sedang, tadinya Ghina minta ngebut tapi di abaikan Pak Jaka dengan pertimbangan Ghina baru saja keluar dari rumah sakit. Menghindari musibah lebih baik, daripada celaka.
“Pak Jaka, terima kasih sudah antar dan menunggu Ghina ya.”
“Sama sama Non.”
“Kalau begitu saya langsung ke paviliun ya Pak Jaka.”
“Iya Non Ghina.....”
Dengan langkah riang, Ghina menuju paviliun lewat halaman samping mansion.
“Dari mana saja kamu, bukannya kerja malah kelayapan. Pakai bersolek lagi, jangan-jangan kamu habis ketemu OM.....OM.....di luar sana, langganan kamu ya!” Bu Sari sedang duduk di bangku dekat kolam renang, dengan sengajanya dia menghampiri Ghina saat melihat kedatangannya.
Kayaknya hati Bu Sari iri melihat pelayan secantik Ghina, melebih kecantikan anaknya Kiren, apalagi masih muda. Dari awal bertemu, Bu Sari tidak suka dengan kehadiran gadis itu. Seakan gadis itu hama dalam mansion menantunya yang kelak akan menjadi mansion anaknya seutuhnya.
“Anda kalau punya mulut itu di jaga ya omongannya, jangan asal menuduh. Tunjukkan buktinya jika perkataan anda benar!” seru Ghina.
“EEH.....EEH....EEH...kamu pelayan di sini, berani melawan saya ya! Saya ini mertua yang punya mansion ini ya!” tegur ketus Bu Sari.
“Saya tidak perduli!” Ghina melewati Bu Sari dengan santainya.
“AAAAKKKH......!” jerit kesakitan Ghina, rambut panjangnya di tarik dengan kuat oleh Bu Sari ke belakang, hingga bokong Ghina terjatuh duduk di lantai.
“HA.....HA.....HA......jangan berani berani melawan saya, dasar pembantu!” tertawa kencang Bu Sari.
.
.
bersambung
__ADS_1