
Papa Zakaria dan Mama Sarah saling bertatapan, melihat Edward berlutut di depan mereka, pria tampan seorang pemimpin perusahaan sekarang bertekuk lutut di hadapan orang tua Ghina, mertua pria itu.
“Begitu banyak kesalahan yang telah saya perbuat terhadap Ghina, mohon maafkan saya, berikan saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Bang Zaka, Kak Sara,” suara Edward mulai terdengar parau.
“Percuma Edward....!” jawab sarkas Papa Zakaria.
Edward mendongakkan wajahnya, menatap wajah Papa Zakaria.
“Bang Zaka, saya mohon.....untuk sekali ini... mohon berikan saya kesempatan!” mohon Edward.
“Ghina telah pergi dari mansion utama. Bang Zaka dan Kak Sarah pasti tahu ke mana Ghina pergi, saya mohon Bang Zaka, di mana Ghina berada.......izinkan saya menemuinya, menjemputnya kembali,” mohon Edward kesekian kali dengan nada melasnya, tidak ada daya lagi buat dirinya selain membujuk kedua orang tua Ghina.
Hati kecil pria itu yakin jika kedua orang tua Ghina, tahu keberadaannya, tidak mungkin......tidak tahu.
“Ghina telah melupakanmu, dan alangkah baiknya kalian tidak bertemu lagi untuk selamanya. Jika kami tahu keberadaan Ghina, saya tidak akan memberitahui kamu.” Jawab Papa Zakaria.
Edward masih dalam berlututnya, mencoba menghapus air matanya, begitu perih hatinya, jawaban dari Papa Zakaria menusuk hatinya begitu dalam.
“Bangunlah Edward, tidak pantas rasanya kamu berlutut di hadapan kami, yang tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu seorang Presdir. Masalah memaafkan, itu masalahmu dengan Ghina.......hanya dia yang patut memaafkan karena dia yang tersakiti. Sekarang jalani kehidupan kalian masing-masing, berhentilah mencari keberadaan anak kami,” sambung mama Sarah.
“Saya mencintai Ghina, Bang Zaka.....Kak Sarah....” ucap lirihnya.
“Saya merindukan Ghina.......izinkan saya bertemu dengannya.......!” ungkap Edward dengan berderai air mata.
Mama Sarah terhenyak melihat pria yang sedang berlutut di hadapannya mengeluarkan air mata, mengungkapkan isi hatinya. Ngilu rasanya, benarkah menantunya mencintai anaknya, setelah memberi luka untuk anaknya.
“Edward......,” Papa Zakaria menyentuh bahu Edward.
“Bangunlah......semuanya sudah berlalu. Lupakan Ghina untuk selamanya,” ujar Papa Zakaria.
Pria itu akhirnya bangkit dari berlututnya.
“Kalian berdua akan kembali seperti saudara, bukan lagi suami istri. Sebelum rasa cintamu semakin dalam, sebaiknya dikubur mulai sekarang. Anak abang berhak untuk bahagia, dan ke bahagianya itu bukan bersamamu. Mungkin dengan pria yang lain. Jadi mulai sekarang ikhlaskan semuanya, lagi pula kamu juga ada istri yang lain, jangan lagi mencari Ghina. Anak abang hanya wanita biasa yang tidak patut di kejar, tidak seperti istrimu yang lain wanita yang istimewa,” ucap Papa Zakaria.
“Bang Zaka......saya mohon,” jawab Edward sambil mengatup kedua tangannya.
“Pulanglah......!” pinta Papa Zakaria sambil menepuk halus bahu Edward yang gagah.
__ADS_1
Tanpa menunggu kepergian Edward dari depan rumahnya, Papa Zakaria segera menutup pintu rumahnya dan mengunci pintunya. Sedangkan Edward masih berdiri mematung menatap pintu yang sudah terkunci.
Diraupnya wajah pria itu dengan kasar, menengadahkan wajahnya ke atas langit yang terlihat cerah, tapi tidak secerah hati pria itu.
Ghina........di mana kamu......
Pria itu dengan langkah tergontai, meninggalkan rumah Ghina, kemudian masuk ke dalam mobilnya.
“Sekarang kita akan ke mana Tuan?” tanya Pak Sopir, ketika Edward sudah masuk ke dalam mobil.
“Kita ke hotel saya,” jawab Edward pelan.
“Baik Tuan."
Mobil mewah Edward meninggalkan rumah Ghina, melaju menuju Hotel milik Edward. Sepanjang perjalanan Edward banyak melamun, tatapannya hampa, seperti tidak ada gairah dalam hidupnya.
“Anak abang berhak untuk bahagia, dan ke bahagianya itu bukan bersamamu. Mungkin dengan pria yang lain.”
Mengingat perkataan Papa Zakaria, semakin pikiran pria itu kacau luluh lantah, membayangkan Ghina bersanding dengan pria lain bukan dengannya.
“HAH...........!” Edward menghela napas panjang, mencoba merilekskan pikirannya yang sudah ke mana-mana.
Satu jam perjalanan dari rumah Ghina sampai ke hotel berbintang tujuh milik Edward, mobilnya sudah berada di depan lobby hotel.
Para staff hotel siap menyambut kedatangan Presdirnya, dengan langkah gagahnya Edward dan wajah dinginnya keluar dari mobilnya menuju ruang kerja di lantai dua, di dampingi direktur operasional.
Selama menuju ruang kerjanya, sepintas Edward melihat figura besar terpampang foto Ghina yang di jadikan model hotel miliknya. Membuat langkah kakinya berhenti sejenak. Memandang wajah Ghina yang begitu anggun, cantik dengan busana kebayanya.
Sorot mata Ghina dalam foto itu terasa seperti sedang menatap wajah tampan pria itu. Edward memejamkan matanya, merasakan jika gadis yang di cari ada di hadapannya sekarang.
Istriku...........aku mencintaimu
“Pak Hendri, cetak foto model ini. Lalu pajang di ruang kerja saya,” perintah Edward.
“Baik Pak Presdir,” jawab Hendri.
Edward melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
Sesampainya di ruang kerjanya, pria itu mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya.
“Pak Edward, ini saya bawakan laporan hotel bulan ini,” ujar Hendri dengan memberikan dokumen yang di antar oleh sekretaris Hendri.
“Letakkan saja di meja, nanti akan saya periksa, dan Pak Hendri bisa kembali ke ruangan. Satu lagi siapkan kamar suite president buat saya.” jawab Edward dengan datarnya.
“Baik Pak Edward, kalau begitu saya undur diri.” Hendri undur diri kembali ke ruangan.
Dalam kesendirian Edward berada diruang kerjanya di salah satu hotel miliknya. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursinya, memejamkan matanya sejenak dan meresapi semua perkataan Papa Zakaria, sepertinya benar-benar membuat hatinya gundah yang tak berujung.
🌹🌹
Yogyakarta
Ghina dan Ria sekembalinya dari pasar, sekarang sedang merapikan barang belanjaannya di dapur, mereka berdua saling bahu membahu, berbagi tugas. Berhubung waktu belanjanya kelamaan di pasar, karena baru pertama kali ke sana jadi Ghina dan Ria hampir mengeliling pasar tanpa sadar. Jadi Ria tidak keburu masak buat makan siang, akhirnya Ghina langsung beli nasi campur untuk makan siang mereka berdua.
“Ternyata enak juga ya nasi campurnya ya mbak, padahal tadi sempat ragu-ragu waktu belinya, udah gitu murah lagi cuma 7.000 udah pakai sayur gudeg sama telor. Coba kalau di Jakarta, nasi rames pakai telur dadar 10.000,” ujar Ghina.
“Jakarta sama Yogya ya bedalah non, jangan di samakan. UMRnya aja beda,” jawab Ria masih mengunyah nasi campur.
“Wah pinter mbak Ria, kalau masalah UMR cepat tahu,” Ghina mengacungkan jempolnya.
DEG
Seketika hati Ghina terasa aneh, hingga membuat gadis itu berhenti mengunyah makan siangnya.
“Kenapa Non, kok tiba-tiba berhenti makannya?” tanya Ria, melihat Ghina yang tadi lahap makannya, tiba-tiba berhenti.
“Gak tahu mbak, kok tiba-tiba kok berasa sedih aja,” jawab Ghina, sambil mengelus dadanya, dan menenguk segelas air putih.
.
.
🌹🌹
Coba up bab baru lagi, kalau sampai tidak terbit.......aaah diriku melambaikan tangan, entah ada apa dengan Noveltoon ini dan kemaren up bab baru tapi belum terbit juga....Mohon maaf Kakak Readers.....😔😔
__ADS_1