Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Hati yang memanas


__ADS_3

Kedua tangan Dokter Irfan sudah memakai sarung tangan agar luka yang akan di periksa tidak terkontaminasi dengan kuman. Dengan hati hati di bukan perban tersebut, Edward menyaksikannya tanpa melepaskan genggaman tangannya dengan Ghina, justru terasa kuat genggamannya..


“Pak Edward bisa lihat jahitannya masih bagus,” ujar Dokter Irfan menunjukkan deretan 7 jahitan terpampang di punggung Ghina.


Tak bisa di elakkan, hati Edward tidak nyaman melihatnya.”Jahitannya akan meninggalkan bekas atau bisa pudar?” tanya Edward.


“Butuh waktu lama bekas jahitan ini pudar, kecuali mengikuti perawatan dari dokter kulit,” saran Dokter Irfan.


“Segera hubungi Dokter kulit kita, sekalian di proses....agar punggungnya tidak meninggalkan bekas,” pinta Edward.


“Baik Pak Edward.” Dokter Irfan melanjutkan mengobati punggung Ghina, dengan menyiramkan air khusus lalu mengeringkan, kemudian diberikan obat luka, baru di tutup kembali dengan perban baru.


“Sudah selesai Ghina, bisa kembali duduk atau tidur menyamping.”


Tangan Edward reflek membantu Ghina yang ingin duduk. Lalu Ghina menepis tangan Edward.


“Sekarang masih terasa sesak napas?” tanya Dokter Irfan, sambil mengecek tekanan tabung oksigen.


“Sudah tidak terlalu Pak Dokter.”


“Syukurlah ada kemajuan, tapi nanti tetap saya resepkan obat asma yang harus di minum.”


“Terima kasih Pak Dokter.”


“Suster tolong bawa ke sini paper bag yang tadi di bawa,” pinta Dokter Irfan kepada perawat yang menemaninya.


“Ini buat kamu, semoga suka......dan cepat sembuh,” Dokter Irfan menyodorkan paper bag tersebut.


Wajah Edward pias melihat keakraban Ghina dan Dokter Irfan di hadapannya.


“Apa ini Pak Dokter?....saya jadi tersanjung loh.....atas perhatiannya. Pak Dokter baik banget,” puji Ghina menerima paper bagnya.


Telinga Edward mulai memanas mendengar kata pujian Ghina untuk Dokter Irfan.


“Semoga Ghina suka, oh iya boleh saya minta nomor ponsel Ghina. Biar nanti kalau kamu ada apa apa bisa segera kasih kabar dan saya cepat ke sini,” Dokter Irfan menyodorkan ponselnya.


Dengan senang hati Ghina memasukkan nomor ponselnya di handphone Dokter Irfan.......lalu misscall ke ponselnya, tanpa memikirkan apa pun.


Rahang Edward mulai mengeras, tatapan rasa tidak sukanya terlihat jelas.


“Terima kasih banyak Ghina, semoga cepat sembuh. Dan jangan lupa di minum obatnya biar lekas sehat,” ujar Dokter Irfan penuh perhatian setelah menerima kembali ponselnya.

__ADS_1


“Sama sama Pak Dokter,” Ghina membalasnya dengan senyum manisnya.


“Saya permisi Pak Edward,” pamit Dokter Irfan.


“Mmmm.......,” deheman Edward terdengar keras.


Selepas Dokter Irfan dan suster keluar dari kamarnya, Ghina membuka paper bag. Mata berbinar binar melihat kotak kue yang berisi cake red velvet kesukaannya.


“Ini maksud kamu minta bercerai dengan saya, karena ingin mencari pria lain!” tegur Edward terdengar lantang.


Ghina mendongakkan wajahnya “bukan urusan Om Edward!”


“Lantas apa maksud kamu memberikan nomor ponselmu, bersikap lembut dan tersenyum manis dengan Dokter Irfan!” geram Edward, melihat tanggapan Ghina begitu tenang.


“Ciiih........jangan bilang Om Edward sedang cemburu dengan saya.”


“Saya tidak cemburu, jika kamu memang ingin cari pria yang lain. Saya bisa mencarikan buatmu, malah bisa lebih dari Dokter tersebut.” hati Edward mulai memanas.


“Sungguh lucu ada suami yang akan mencarikan pria lain buat istrinya. Eeeh......bukan suami sih tapi saudara,” ejek Ghina dengan nada sinisnya.


“Ria ambil ponsel Ghina, cepat......sekarang juga!” titah Edward dengan suaranya sedikit berat. Edward tahu keberadaan ponsel Ghina berada di tangan Ria, setelah mendengar deringan ponsel Ghina.


“Buat apa meminta handphone saya?” lirikan mata Ghina memberi kode ke Ria.


“Non—.” posisi sulit buat Ria.


“CEPAT RIA, ATAU KAMU MEMANG INGIN DI PULANGKAN KE KAMPUNGMU!” Edward mulai menyodorkan salah satu tangannya.


Ghina menggelengkan kepalanya ke Ria, memohon untuk tidak menuruti perintah Edward.


Ria masih belum merespons permintaan Edward


“Ferdi geledah tas Ria!” titah Edward.


Buru buru Ferdi mengambil tas tangan Ria, lalu di keluarin 2 ponsel yang ada di dalam tas nya, Ria dan Ghina terlihat pasrah.


Kedua ponsel di berikan ke Edward, melihat salah satu ponsel di layarnya ada gambar Ghina, maka itu yang dipilih Edward.


Tanpa ragu-ragu Edward melangkah menuju jendela kamar, di buka nya jendela tersebut. Lalu di lemparkannya ponsel Ghina keluar dari lantai 5 tempat kamar Ghina berada.


Mulut Ghina menganga ponselnya telah di lempar keluar. “KURANG AJAR.......LAKI LAKI KEJAM......DASAR BINATANG......AN*ING....MONYET LOE!” makian terlontar dari mulut Ghina, geram sudah hatinya dengan perilaku buruk yang selalu di terimanya dari Edward.

__ADS_1


Belum jangka waktu lama Edward sudah merusak kopernya, sekarang handphonenya di lempar keluar. Dan sudah terbayang oleh Ghina bagaimana hancurnya handphone tersebut, hasil jerih payahnya menerima pesanan kue di kumpulkan agar bisa membeli handphone.


Di cabutnya selang oksigen dari hidungnya, di cabutnya jarum infusannya dengan murkanya, dengan sisa tenaga dan rasa nyeri di punggungnya, dia turun dari ranjangnya.


“Non......non.....!” Ria terkejut.


Tanpa alas kaki dia melangkah keluar pintu, rasa sabarnya menghadapi Om Edward mulai menipis.......otaknya mengantarkan dia untuk segera pergi.


“GHINA......!” teriak Edward, segera berlari mengejar Ghina yang akan membuka pintu.


“Akkhh....” Edward menggapai tangan Ghina.


“Sudah habis kesabaran saya....Om. Tak henti hentinya Om menyayat hatiku. Lepaskan tangan Om sekarang, atau saya teriak biar orang datang kesini!” Ghina menghunuskan tatapan tajamnya.


“Kita bicara baik-baik Ghina, lihat tangan kamu berdarah, kamu juga belum sembuh....,” Edward sedikit berkata lembut, dia tidak ingin membuat bencana di rumah sakitnya sendiri gara gara pertengkarannya dengan seorang wanita.


“Aakkhh.....,” Edward langsung mengangkat tubuh Ghina, dan merebahkannya ke ranjang.


“Ria panggil dokter jaga segera, bukan Dokter Irfan,” titah Edward.


“Ferdi belikan handphone keluaran terbaru beserta nomor baru untuk Ghina.”


“Baik Tuan,” jawab serempak Ria dan Ferdi. Lantas mereka berdua meninggalkan Ghina dan Edward berdua.


Edward yang sudah duduk di tepi ranjang menatap lekat wajah Ghina. Sedangkan Ghina memalingkan wajahnya.


“Saya akan menggantikan ponsel kamu yang tadi saya buang, dan jangan sekali-sekali kamu bersikap akrab dengan Dokter Irfan!’ ujar Edward.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Ghina.


Saya akan mengikuti permainanmu Om Edward, setelahnya saya akan pergi jauh!


Tak lama kemudian dokter jaga datang, dan memasang kembali jarum infusan yang sempat di cabut paksa oleh Ghina.


Ria kembali menemani Ghina, Edward yang melihat Ghina mendiamkan dirinya begitu lama, memilih ke ruang kerjanya yang ada di rumah sakitnya.


“Non Ghina, kalau keadaan begini lebih baik. Kita pergi saja, mbak gak tega lihat Non Ghina di kasari oleh Tuan Besar.”


Ghina menatap jendela kamarnya, melihat awan terang yang berjalan pelan namun pasti berubah menjadi senja, menuju kegelapan.


“Rasa sabarku memang mulai menipis, tapi untuk mengakhirinya.....butuh perjuangan untuk menghadapinya. Sekarang ajudan Om Edward pasti sudah berjaga di depan pintukan?”

__ADS_1


“Iya Non, ajudan Tuan Besar ada 2 orang di depan pintu.”


“Yang saya butuhkan sekarang, orang yang selalu berada di samping saya saat ini. Semoga mbak Ria mau menemani saya sampai waktunya tiba,” begitu yakinnya Ghina untuk melaluinya, tidak tersirat sebagai wanita lemah di mata Ria.


__ADS_2