Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Aku takut


__ADS_3

Pria yang biasanya arogant dengan istri yang pernah tidak di anggapnya, sekarang lagi sibuk di dapur yang ada di rumah Ghina. Ternyata pria itu bisa memegang pisau dapur untuk mengupas dan memotong beberapa buah yang di beli Ferdi.


“Tuan biar saya saja yang menyiapkan buahnya,” ujar Ria, melihat Tuannya sibuk di dapur dengan memotong berbagai buah.


“Tidak usah biar saya saja, saya ingin menyiapkan buat istri saya,” jawab Edward dengan mengulum senyum tipisnya, entahlah kalau sebut kata istri, membuat hati pria itu terasa hangat.


“Baik Tuan, oh iya Tuan.......makan siangnya sudah saya siapkan di meja makan. Mungkin Tuan mau makan sekarang,” ucap Ria.


“Nanti biar saya bawa ke atas sekalian. Saya makan di kamar,” jawab Edward.


Buah potong sudah tersaji di piring, lalu beberapa roti isi. Semuanya oleh pria itu di tata di atas nampan, sekalian piring yang berisi nasi dan lauk buat dirinya sendiri.


Ria dan Ferdi hanya bisa melirik sesaat ketika Edward lewat dan menuju ke lantai atas.


“Pak Ferdi, Tuan Besar lagi kesambet setan apa ya. Saya agak geli lihatnya, biasa lihat Tuan dingin dan arogant ke non Ghina........tiba-tiba jadi perhatian dan lembut. Sampai kata kakak readers bilangnya Tuan Edward alay, lebay loh?” tanya Ria terheran.


“Setiap orang pasti bisa berubah Ria, andaikan kamu tahu perjuangan Tuan. Memang Tuan berbuat salah sama Nyonya, tapi Tuan sudah menyesalinya. Mungkin kamu tidak tahu, saya masih teringat jelas sebelum Tuan sudah tidak sadarkan diri saat kejadian penusukan, Tuan titip pesan untuk Nyonya......Tuan sangat mencintai dan merindukan Nyonya,” jawab Ferdi.


“Betulkah??” Ria masih belum percaya.


“Iya empat tahun yang lalu, Tuan berpesan seperti itu. Dan sekarang mungkin Tuan menunjukkan rasa yang ada di hatinya ke Nyonya,” ujar Ferdi.


“OOH.......pasti akan susah meluluhkan Nyonya....,” balas Ria.


“Semoga aja Nyonya hatinya bisa melembut sedikit Ria, sudah tiga tahun Tuan menahan dirinya mengikuti perintah Tuan Thalib untuk tidak pulang ke Indonesia. Dan kamu tahu Ria, saat saya sempat ke kantor Tuan di Australia, begitu banyak wanita yang mencari perhatian sampai hampir menjebak agar bisa bersama Tuan. Tapi Tuan menjaga dirinya sendiri dan tidak tergoda dengan wanita lain, Tuan selalu bilang sudah punya istri.”


“Kalau Tuan tidak cinta dengan Nyonya, buat apa Tuan mencari dan mendekatinya kembali, seperti sekarang.” Sambung Ferdi.


“Oh....saya baru tahu,” jawab Ria.


“Makanya saya kasih tahu, biar kamu juga tahu,” ujar Ferdi.


🌹🌹


“Ghina, ini sudah aku potongin buahnya. Di makan dulu.......biar terisi lagi perutnya, kalau masih kurang, aku bawakan roti isi,” pinta Edward, sambil memberikan piring yang berisi buah.


Ghina meraih piring buah tersebut dari tangan Edward dan langsung makan buah potongnya. Tidak bisa di pungkiri wanita itu harus mengisi kembali perutnya.


Tanpa banyak bicara wanita itu makan buah dengan tenang. Edward mengambil piring yang sudah di isi nasi beserta lauk di atas nakas, kemudian duduk kembali di tepi ranjang, agar bisa selalu dekat dengan Ghina.


“Kamu mau makan nasi?” tawar Edward, sambil melirik Ghina.


“Tidak, makasih.....,” tolak Ghina.


Pria tampan itu langsung menyantap makan siangnya yang agak telat, dengan lahapnya. Entah karena lapar atau masakannya enak.


Ghina tidak mengganggu ketika pria itu sedang menyantap makan siangnya, Cuma agak aneh saja buat apa pria itu makan di sisi ranjang. Padahal bisa saja pria itu  makan di ruang makan, atau duduk di sofa yang ada di kamar ini.


“Sudah makan buahnya,” tanya Edward, melihat Ghina sudah tidak melanjutkan makan buahnya.


“Sudah.....” jawab singkat Ghina. Edward mengambil piring buah dari tangan Ghina.

__ADS_1


“Sebentar lagi dokter akan tiba,” ujar Edward sambil menegak minumnya, setelah menghabiskan makan siangnya.


“Ya........” Ghina kembali merebahkan tubuhnya, dan menyelimuti dirinya sendiri.


Edward hanya bisa memandang Ghina yang terlihat dingin, dan kembali tidak banyak bicara.


TOK.......TOK.......TOK


“Ya.....,” sahut Edward.


“Permisi Tuan, Dokternya sudah datang......,” ucap Ferdi, yang sudah membuka pintu kamar.


“Suruh masuk, dan segera cek istri saya,” pinta Edward sambil beranjak dari duduknya di tepi ranjang.


“Silahkan masuk Dokter,” pinta Ferdi. Sang dokter yang kemarin sudah datang memeriksa Ghina di hotel, sekarang datang kembali di tempat yang berbeda.


“Keluhan istrinya apa Pak sekarang?" tanya dokter, sambil mengeluarkan stetoskop dari tasnya.


“Tadi pagi badannya tiba-tiba panas tinggi, lalu baru saja sempat muntah muntah,” jawab Edward.


“Saya cek dulu istrinya ya Pak,” pinta Dokter, Edward langsung minggir agar dokter leluasa memeriksa Ghina. Sedangkan Ghina sudah pasrah di periksa dokter.


“Karena panasnya belum satu hari, jadi saya kasih obat penurun panas, serta obat mual dan obat lambung. Jika besok panasnya belum turun juga, saya akan ambil darah untuk cek lab, agar bisa terdeteksi penyebab panasnya,” ujar Dokter.


“Harus di rawat ke rumah sakit gak Dokter, soalnya istri saya tidak mau di bawa ke rumah sakit?” tanya Edward yang penuh rasa khawatir tingkat dewa.


“Untuk sementara bisa di rawat di rumah saja, Bapak cukup perhatikan asupan makannya, minum air yang cukup sebanyak dua liter, serta istirahat yang maksimal dan berkualitas. Biar imun tubuhnya bisa melawan virus yang ada di dalam tubuh, karena panas tubuh yang muncul itu karena sedang memerangi virus yang ada di dalam tubuhnya.” Penjelasan Dokter.


“Ini beberapa obat yang sudah saya siapkan, nanti di minum sesuai dengan aturan yang sudah saya tulis,” ujar Dokter, dengan memberikan beberapa obat yang sudah di siapkan dari dalam tas dokter.


Edward segera menerima obat tersebut, dan membaca kemasannya, “terima kasih Dokter,” ujar Edward.


“Jika Istri bapak besok masih belum turun panasnya, segera kabari saya,” pinta Dokter.


“Baik Dokter  segera akan saya kabari jika belum ada perubahan.”


“Semoga cepat sembuh ya Bu, suaminya cemas sekali sepertinya melihat ibu sakit,” ujar Dokter, sambil tersenyum tipis.


Wajar suaminya cemas lihat istrinya sakit. Istrinya cantik sekali.......batin sang Dokter.


“Makasih Pak Dokter,” jawab Ghina.


Ferdi mengantarkan Dokter sampai luar rumah.


Edward mengambil obat yang diberikan dokter dan gelas minum, kemudian kembali duduk di tepi ranjang. “Diminum dulu obatnya,” ujar Edward dengan mengulurkan gelas dan beberapa obat.


Ghina langsung mengambilnya, dan meminum obat tersebut.


“Om, sebaiknya kembali ke hotel. Pasti banyak pekerjaan penting yang tertunda di hotel,” pinta Ghina setelah minum obat.


“Kamu yang lebih penting dari pada pekerjaan. Sudah lebih baik kamu istirahat, jika tidak mau di rawat di rumah sakit,” ujar Edward.

__ADS_1


“Jangan terlalu baik padaku, Om Edward....” ujar Ghina pelan.


Edward kembali menatap ke arah Ghina, “maksudnya.....?” tanya heran Edward.


“Ya.....jangan terlalu baik padaku, aku semakin takut melihat Om seperti ini...,” jujur Ghina.


“HAH.......,” Edward menghela napas panjang, kemudian menyugar rambutnya.


“Aku takut dengan sikap baik Om Edward yang tiba-tiba muncul, aku takut dengan perhatian Om Edward. Aku takut ketika Om Edward panggil aku sayang atau baby, semuanya datang tiba-tiba,” kedua netra Ghina mulai berkaca-kaca.


Sedangkan Edward dengan tatapan sendunya, menatap dan mendengar ucapan Ghina.


Salahkah aku yang tiba-tiba berubah menjadi lebih baik Ghina, hanya untukmu seorang, wanita yang kucintai.


**


Selamat Pagi Kakak Readers yang Ganteng dan Cantik, di hari jumat ini saya mau bagi Give Away untuk 2 orang Kakak Readers yang telah setia membaca kisah Ghina dan Om Edward. Yaitu pulsa sebesar 25K.


Caranya berikan komentar yang baik dari Kakak Rearders di kolom komentar khusus bab Aku Takut, kalau yang komentarnya hanya next atau lanjut tidak di perhitungkan untuk ikutan undian.


Dan jangan lupa di akhir komentar, ketik mau pulsa....biar bisa ikut di undi, Ini berlaku 1x24 jam. Pengumuman pemenang undian Give Away Pulsa 25K di esok harinya.


Yuuk tinggalin jejaknya ya Kakak Readers, dan jangan lupa mampir dan ramaikan Novel Pinjam Rahim Istri Ketiga, kisah Alya dan Erick.


Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2