Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Bantuin Istri


__ADS_3

Kodrat seorang wanita yang sudah menikah, walau bagian inti masih sakit. Tapi masih menyiapkan sarapan, walau sempat Edward  melarangnya, karena tak tega  melihat istrinya yang masih meringis kesakitan.


Ria sudah selesai masak untuk sarapan, tapi Ghina menambahkan beberapa menu pelengkap. Ada chicken teriyaki dan bakwan jagung, menjadi pelengkap nasi goreng yang telah di masak oleh Ria.


“Honey, aku kan sudah bilang tidak usaha masak. Biar makan yang ada saja,” ujar Edward sambil memeluk Ghina dari belakang.


“Gak pa-pa Om, ini masak yang simpel aja kok. Semoga hubby suka ya.”


“Pasti aku suka masakkan kamu, honey,” di kecupnya tengkuk Ghina dengan mesranya. Untuknya Ria tidak berada di dapur, hingga Ghina tidak memarahi kelakuan suaminya.


“Om...........udah ah geli, ini lagi goreng bakwan jagung nanti bisa hangus,” ujar Ghina, ketika tengkuk wanita selalu di sesap oleh Edward.


“Honey, kalau lagi masak bikin nafsu begini,” jawab Edward dengan suara seraknya.


“Mmm.........mulai dah messumnya,” celetuk Ghina. Masih merangkul mesra, Edward menemani istrinya sampai selesai masak. Dan pria itu mau membantu Ghina menyajikan sarapan pagi di meja makan. Pekerjaan yang belum pernah di kerjakan oleh seorang Presdir, karena sudah terbiasa pelayan yang mengerjakan, pria itu tinggal duduk manis, dan nanti akan ada pelayan yang melayaninya.


Tapi kali ini berbeda, pria itu rela menemani istrinya di dapur, mau disuruh oleh istri cantiknya tanpa menggerutu. Sesekali juga pria itu mencuri ciuman di bibir istri cantiknya. Suasana pengantin baru yang sedang mesra-mesranya, padahal bukan pengantin baru.


“Mbak Ria, makan bareng sini. Sama-sama sarapan,” panggil Ghina melihat Ria lagi bebenah di ruang tamu.


“Iya Nyonya,” Ria bergegas ke ruang makan.


Sudah kebiasaan Ghina tidak membedakan Ria walau hanya asisten rumah tangga. Duduk bersama-sama, satu meja makan. Edward tidak mempermasalahkan kebiasaan Ghina.


Ghina dengan telaten menyiapkan makanan di piring untuk Edward.


“Selamat makan hubby,” Ghina meletakkan piring yang sudah terisi, di hadapan Edward.


“Makasih, cantik,” Edward langsung menyantap makanannya.


“Sama-sama hubby.”


“Honey, masakan kamu enak loh,” puji Edward, bukan hanya sekedar pujian semata, nyata pria itu menambah lauk yang di masak oleh istrinya.


“Masa sih enak masakkanku, perasaan biasa saja,” jawab Ghina sambil mengunyah makanannya.


“Benar honey, masakkan kamu enak. Beruntungnya aku punya istri kayak kamu,” ujar jujur Edward.


“Makasih Om, udah bikin aku melayang pagi ini. Sampai takut terjatuh,” Ghina terkekeh kecil.


“Mau aku bikin melayang seperti semalam gak?” bisik Edward dengan sedikit menggoda.

__ADS_1


“HUBBY........” Ghina langsung mencubit paha suaminya.


Ria hanya bisa mesam mesem lihat kemesraan Tuan dan Nyonyanya, buru-buru wanita itu menghabiskan sarapan paginya. Agar bisa lekas meninggalkan Tuan dan Nyonyanya.


“Mbak Ria, nanti saya mau ke rumah sakit. Nanti tolong belanja di supermarket, beliin beberapa kilo daging sapi yang khusus buat steak, sama bumbunya. Buat makan malam biar saya yang masak ya mbak,” Titah Ghina.


“Baik Nyonya,”


“Honey, uang bulanan dariku kurang gak? Kalau kurang bilang aja nanti aku tambahin lagi?” tanya Edward.


“Dua ratus lima puluh juta itu besar loh hubby tiap bulannya, kok main kirim uang sebanyak itu. Aku hanya pakai sedikit. Tuh sisanya ada beberapa milyar di tabungan.”


“Itu masih kecil honey, uang yang aku kirim. Kamu pakai aja buat keperluan kamu, mungkin honey mau beli tas, sepatu, atau baju yang bermerk. Nanti aku transfer lagi.”


“Hubby, aku gak suka koleksi tas, sepatu, atau baju bermerk. Itu mubazir, lebih baik uangnya di sumbangkan atau di sedekah buat panti asuhan.  Coba hubby bayangkan dengan beli tas seharga dua puluh lima juta, itu bisa memberi makan buat orang sebanyak seratus orang untuk beberapa bulan, dan itu lebih bermanfaat. Ketimbang beli tas mahal, tapi jarang di pakai. Hanya jadi buat pajangan saja nantinya."


Edward menaruh sendok dan garpu di atas piring yang sudah kosong. Kemudian meraih salah satu tangan Ghina.


“Aku pikir kamu sama dengan  wanita lain yang suka akan kemewahan, suka barang-,barang yang bermerk. Ternyata pikiran kamu berbeda.” Dikecupnya punggung tangan istrinya.


“Harta yang kita miliki hanyalah titipan Om, sebaiknya kita manfaatkan untuk bekal kita nanti dia akhirat, walau kita juga boleh menikmatinya. Jika aku butuh sesuatu, pasti aku akan membelinya. Jadi aku lebih suka beli barang jika memang aku membutuhkan bukan karena nafsu karena ingin memilikinya tapi tidak di gunakan.”


Menyimak tutur kata Ghina, membuat Edward tampak terpukau, memang  tak salah jodoh pilihan Opa Thalib. Wanita pendamping sang Presdir.


“Sudah ah Om, dari tadi memuji terus......lama-lama nanti aku ge-er  dan terbang nih hidung.”


“Kalau kamu terbang, aku ikut ya,” goda Edward dengan pemahaman yang berbeda.


“Dasar otak hubby......isinya itu terus.” Edward hanya bisa tertawa mendengarnya, dan dirinya mengakui otaknya agak messum setelah malam pertamanya dengan Ghina.


“Ya sudah honey lanjutin makannya dulu, aku ke apotik dulu. Mau beli salep buat kamu, biar aku bisa makan kamu lagi,” goda Edward lagi.


“HUBBY........!”


Orang yang di sebut sudah meninggalkan ruang makan, mengambil kunci mobil dan meluncur ke apotik terdekat.


“Senangnya lihat Nyonya bahagia, semoga selalu bahagia ya,” ujar Ria.


“Amin........mbak Ria.”


“Akhirnya dari segala kepedihan berakhir dengan kebahagiaan. Mbak ikut berbahagia lihatnya.”

__ADS_1


“Iya mbak, tinggal mbak Ria nih cari jodohnya. Jangan lama-lama sendiri.”


“Mbak udah tua, udah males cari jodoh. Tapi kalau ada yang mau yang mbak gak nolak sih.”


“Semoga jodohnya segera datang ya mbak Ria.”


“Amin.....”


“Yo wiss mbak mau rapi-rapi dulu, habis itu belanja,” Ria bergegas merapikan bekas makan sarapan pagi. Ghina turut membantunya.


Tak lama kemudian, Edward sudah kembali dari apotik, dan mencari keberadaan istrinya sampai ke dapur.


CUP


Pria tampan itu kembali mengecup tengkuk istrinya yang sedang mencuci piring. Membuat tubuh wanita itu terjingkat kaget, ketika tengkuknya di kecup.


“Ya Allah......hubby, bikin kaget aja, untung piring gak pecah.”


“Kalau pecah tinggal beli lagi, honey,” tangan Edward ikut membasuh piring kotor yang ada di tempat cuci piring.


“Iih......so sweet banget sih suamiku bantuiin cuci piring.”



Pria tampan itu benar-benar sudah luluh dengan kehadiran Ghina, mau melakukan, apa yang tak pernah dilakukan olehnya. Seperti sekarang mau membantu pekerjaan rumah.


Edward  memiringkan kepalanya, dan langsung mengecup bibir Ghina. Wanita itu menerima kecupan hangat dari suaminya,kemudian di keluarkannya tangan dari air sabun, lalu mengalungkannya ke leher Edward.


Begitu pun juga Edward mengeluarkan tangannya dari air cucian sabun, kalu merangkul erat pinggang istrinya, tanpa melepas pagutannya. Melummat lembut benda kenyal itu, dan sedikit memberikan  gigitan kecil di lipan bagian bawah. Make a kiss in the kitchen.


**bersambung


Sambil nunggu kelanjutannya, jangan lupa mampir ke Pinjam Rahim Istri Ketiga. Terima kasih sebelumnya Kakak Reader, jangan lupa tinggalin jejaknya ya.


Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹😘😘**



 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2