
Ghina menyesap secangkir hot coklat yang telah dibuat oleh Edward, sambil mencoba menenangkan pikirannya.
Ceklek.....
Edward terlihat segar setelah keluar dari kamar mandi, kali ini pria tampan itu hanya menggunakan celana pendek, tanpa menggunakan baju. Wangi maskulin pria itu menguar di dalam kamar tidur.
Ah ternoda lagi mataku......lihat yang beginian.........batin Ghina.
Edward menghampiri Ghina yang masih duduk di sofa, kemudian meraih cangkir yang masih di pegang oleh Ghina. Lalu turut menyesapnya.
“Om.......memangnya gak bisa bikin sendiri?” tanya ketus Ghina.
“Bisa bikin sendiri, tapi lebih nikmat minum secangkir dengan istri......,” goda Edward, dengan sengaja mencondong badannya ke arah Ghina.
“Cih bisa-bisanya aja bilang nikmat........Om Edward pakai baju dong, gak enak lihatnya” pinta Ghina.
“Honey, harus biasa lihat tubuh suaminya sendiri, aku biasa kalau tidur memang seperti ini....hanya pakai celana pendek tanpa baju. Sekarang kita tidur, ini udah terlalu larut malam,” ujar Edward, meletakkan cangkirnya, dan meraih tangan Ghina.
“Gak usah pakai gandengan tangan kali Om, udah kayak ke mana aja,” ketus Ghina, menepis tangan Edward.
“Ya sudah silahkan jalan duluan istriku yang cantik.....,” ujar Edward.
“IIIh geli Om.......dengarnya,” sahut Ghina, wanita itu langsung menuju ranjang, dan naik ke atas ranjang.
Di atas ranjang Ghina menaruh dua bantal guling di tengah-tengah ranjang. “Honey, ini maksudnya apa kenapa jadi ada bantal di tengah tengah begini?” tanya Edward.
“Om Edward tadi kan bilang tidak mau tidur di sofa, jadi ini batas buat kita berdua. Aku tidur di sebelah kanan, Om Edward tidur di sebelah kiri. Om jangan sampai lewat batas ini,” tunjuk Ghina.
Edward langsung mengambil bantal guling tersebut dan membuatnya ke sembarang lantai, Ghina hanya bisa melongo melihat Edward membuangnya.
“OM.......!!”
“Kamu selalu saja ingin membuat jarak, aku ini suami kamu Ghina.......mau tidur saja pakai dibatasi. Aku tidak suka kamu begini,” ucap Edward langsung menarik tubuh Ghina, lalu menyelimuti tubuh mereka berdua.
“OM.....,” pekik Ghina yang sudah di dekap dirinya oleh pria itu.
“Diam.....tidur.......atau aku makan kamu malam ini!”seru Edward semakin mengeratkan dekapannya.
Ghina mendengus kesal “kebiasaan sukanya memaksa dan mengancam!”
“Honey, kalau tidak di paksa dan di ancam......pasti tidak akan bisa diam, selalu saja menantang!” tegur Edward.
__ADS_1
“Om Edwardlah yang memulai terlebih dahulu, kalau dari awal Om Edward orangnya tidak arogant, aku tidak akan melawan dan menantang terus,” cerocos Ghina.
“Astaga Ghina.......kita ini udah di atas ranjang, mau tidur. Kenapa kamu jadi ajak ribut.”
“Siapa yang ajak ribut, Om Edward duluan yang ajak ribut,” balas Ghina.
Edward meraih tengkuk Ghina dan sedikit menundukkan kepalanya....
“Mmpphht.......” Edward membungkam bibir Ghina dengan bibirnya. Kedua mata wanita itu melotot, sedangkan kedua tangan wanita itu sudah di tahan oleh tangan besar pria itu.
Edward menyesap lipatan bawah bergantian dengan lipatan atas penuh kelembutan. Bibir Ghina masih tertutup rapat, dan menahan rasa gejolak yang diberikan oleh Edward.
Dengan sengaja Edward menggigit bibir bawah wanita itu, hingga Ghina mengeram kesakitan dan akhirnya membuka mulutnya. Lidah Edward langsung menerobos masuk ke dalam rongga mulut, menyesap seluruh yang ada di dalam rongga mulut istrinya, sungguh terasa manis di lidah pria itu.
“Akkhh......,” suara rintihan merdu keluar begitu saja dari mulut Edward.
Edward melepaskan pagutannya setelah hampir sepuluh menit pria itu menyesap bibir sensual Ghina, tanpa balasan dari wanita itu.
“I love you, my wife....,” ucap Edward, jemarinya mengusap bibir Ghina yang tambah sexy karena sesapan pria itu.
Wajah Ghina terlihat masam menatap pria yang baru saja melabuhkan bibirnya ke bibir wanita itu. Tak lama kemudian Ghina membalikkan posisi tubuhnya jadi membelakangi Edward.
“Jangan marah istriku....,” bisik Edward dari belakang wanita, tangan besarnya mulai merangkul tubuh sexy Ghina dari belakang, tubuh pria itu merapat ke tubuh Ghina. Hingga mereka berdua merasakan sentuhan dan gesekan dari kedua tubuh mereka.
Bulu halus Ghina mulai merinding, merasakan hembusan hangat dari napas Edward yang berada di belakangnya, serta hangatnya dari tubuh Edward yang tanpa memakai baju, terasa di bagian punggung Ghina. Ditambah lagi elusan tangan besar Edward di perut Ghina.
“Tidur........sudah malam.....istriku yang cantik,” bisik Edward pas di daun telinga Ghina, pria itu tahu jika Ghina masih belum memejamkan matanya.
“Mmm.......” gumam Ghina, mulai memejamkan kedua matanya. Kalau Edward jangan di tanya lagi, pria itu sedang mencoba mengalihkan hasrat juniornya yang masih tegang tak menentu, di tambah lagi juniornya sekarang menempel di bagian belakang tubuh wanita itu.
Sabar Jon........belum saatnya....nanti bisa dimarahi kamu sama istriku yang cantik ini...
Edward sedikit mengintip Ghina, memastikan sudah tidur atau belum. Melihat Ghina sudah memejamkan matanya, Edward kembali mencium pipi Ghina dengan lembutnya, dan menyusul Ghina ke alam mimpi.
Bisa bisanya Om Edward cium lagi
Ternyata wanita itu belum lah terlelap tidurnya, hingga dia masih merasakan kecupan hangat dari pria yang memeluknya dari belakang.
🌹🌹
Pagi menjelang.....
__ADS_1
Jam delapan pagi.....
Edward terlihat sudah rapi dengan setelan kerja, kalau saja tadi pagi Ferdi tidak telepon mengingatkan dirinya harus berkunjung ke hotel miliknya yang lain, rasanya ingin memeluk istrinya yang masih tertidur pulas.
“Honey........,” panggil lembut Edward, sambil mengecup kedua pipi Ghina.
“Honey, my baby.......bangun.....”
“Eeugh......,” lenguhan Ghina, wanita itu mulai menggeliat di atas ranjang, dengan merentangkan kedua tangannya.
Kedua kelopak mata Ghina mulai mengerjap-ngerjap.”OM.......” dengan suara serak ciri khas bangun tidurnya yang terdengar sexy.
“Honey, pagi ini aku ada kunjungan ke hotel IG. Sarapan udah aku siapi di meja makan. Jangan lupa di makan, dan minum vitamin dari dokter kemarin ya,” pinta Edward.
“Kalau mau kerja, jangan terlalu di porsir.........ingat belum terlalu sehat. Kalau mau pergi telepon aku dulu. Atau tunggu aku, biar nanti aku yang antar,” lanjut Edward.
“Banyak amat Om pesannya, aku udah kayak anak kecil aja,” balas Ghina.
“Bukan kayak anak kecil, honey itu istriku, tanggung jawabku.......aku tidak mau terjadi hal yang buruk sama kamu. Karena aku sayang sama kamu, honey....,” Edward mulai mendekatkan ke wajah Ghina, akan tetapi tangan Ghina mulai menghadang wajah pria itu.
“Gak usah pakai cium....cium segala,” ujar Ghina.
“Sedikit aja honey, biar tambah semangat kerjanya,” rengek Edward.
“No......no.......no......tidak boleh. Udah sana Om berangkat, nanti keburu siang,” ujar Ghina.
“Nanti malam ya honey, kayak semalam,” goda Edward.
“Astaga Om masih aja di bahas.......cepat berangkat sana.”
“Berangkat dulu ya istriku, love you,” ujar Edward sambil memberikan kecupan jauh, kemudian meninggalkan kamar.
“Ohh Om Edward salah minum apa, kenapa jadi aneh begitu. Bikin merinding aja,” gumam Ghina sendiri.
bersambung
__ADS_1