Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Kedatangan Opa Thalib dan Oma Ratna


__ADS_3

Edward sengaja memperlambat langkahnya, ingin berlama-lama menatap Ghina dari kejauhan.


“Hemmm.....”deheman Edward sedikit keras, ketika sudah berada di hadapannya.


Ghina mendongakkan wajahnya, menatap sosok seorang yang sudah berdiri di hadapannya.


“Semalam kamu pergi ke mana?” tanya Edward terkesan dingin.


“Pergi.......pergi kemana? Saya tidak ke mana-mana?” Ghina merasa aneh dengan pertanyaan yang dilontarkan Edward.


“Lalu kenapa di cari semalam tidak ada di sini?”


“Hah...... tidak ada! Tuan mencari saya semalam. Bukannya saya di tinggalkan Tuan di kamar tamu. Buat apa dicari, saya ada di sini kok!” seru Ghina.


“Haruskah ada alasan untuk mencari kamu! Dan kalau semalam kamu ada di mansion, kenapa tidak tidur di kamar seperti biasa?”


Ghina beranjak dari duduknya “saya tidur di kamar!” gadis itu rasanya udah malas menanggapi Edward.


“Kamar mana? Kamar kamu di dalam sana!” tunjuk Edward ke arah bangunan mewah.


Edward mengikis jaraknya dengan Ghina, semakin mendekatinya. Tubuhnya ingin sekali merengkuh tubuh Ghina, dan menyentuh bibirnya yang terlihat menggoda.


Akan tetapi Ghina bergerak mundur, agar tidak terlalu dekat dengan Edward, sebisa mungkin menghindar jauh.


“Kenapa menghindar Ghina!” tegur Edward, pria itu tersinggung ketika gadis itu menghindarinya.


“Tidak pantas rasanya Tuan besar, mendekati seorang pelayan,” balas Ghina.


“Ghina........kamu sakit hati kah karena kejadian kemarin. Karena saya telah menamparmu. Lantas kamu sekarang menghindar dari saya.......begitu! Sedangkan kemarin siang kamu tanpa se izin saya, keluar dari mansion, lalu ikut pemotretan juga tanpa persetujuan saya, maksudnya apa!!” cecar Edward, sungguh hati dia geram selalu tidak dianggap suami sama Ghina. Bukannya hal itu sama dengan Edward, tidak pernah menganggap Ghina sebagai istri!


“Bilang sama saya, semalam kamu tidur di mana. Semalaman saya mencari kamu di luar sana, saya menunggu kamu di kamar kamu di dalam sana!” Edward sudah terlihat tidak sabar.


Ghina bersedekap, di angkatnya sedikit kepalanya agar bisa melihat ke arah Edward yang postur tubuhnya lebih tinggi dari pada gadis itu.


“Tuan Besar, sudah selesai bicaranya......hm!”


“Tuan.....Tuan....Tuan, siapa yang menyuruhmu memanggil saya tuan!” sarkas Edward.


“Bukannya Tuan sendiri yang memperkenalkan saya ke ibu mertua Tuan, kalau saya seorang pelayan. Lantas salah saya memanggil anda Tuan,” balas sinis Ghina.


“Cukup Ghina, jangan membangkitkan emosi saya. Cukup jawab pertanyaan saya tadi!” tegas Edwars terdengar tak ingin dibantah lagi.


“Tidak perlu saya jawab. PERCUMA!!” sahut Ghina.


“Sampai kapan kamu terus melawan saya?” bentak Edward.


“Sampai kita berpisah!” tegas Ghina. Malas meladeni Edward yang terlihat emosi dan tidak ada ujungnya, dia memutuskan masuk ke dalam paviliun.

__ADS_1


“Aaahhhh...” pekik Ghina


Salah satu tangan  Ghina sudah di tarik Edward, ketika dia berbalik badan. Seketika juga pinggangnya di rangkul erat oleh Edward, tubuhnya telah di peluk Edward, hingga menempel dengan tubuh Edward.


“LEPASKAN SAYA......TUAN!” tubuh Ghina meronta-ronta dalam dekapan Edward.


“Saya tidak akan pernah melepaskan kamu, sampai kamu berhenti melawan saya, dan menjawab semua pertanyaan saya!” bentak Edward.


Tidak jauh dari keberadaan Edward dan Ghina, terlihat Bu Sari dan Kiren mendekati mereka, tanpa sepengetahuan Edward dan Ghina. Hati Bu Sari dan Kiren memanas melihat adegan mereka  berpelukan di depan paviliun.


“EDWARD APA YANG KAMU LAKUKAN!” teriak Bu Sari dari kejauhan, lalu langkahnya terburu-buru untuk mendekati mereka berdua.


“DASAR PELAYAN BRENG-SEK, BENAR DUGAAN SAYA. KAMU MENGGODA MENANTU SAYA YAAA!” teriak memaki Bu Sari.


Edward yang sedang memeluk Ghina, terkesiap melihat kehadiran ibu mertuanya.


Bu Sari yang mulai memanas, menarik lengan Ghina dari pelukan Edward.


“INI TIDAK BISA DIBIARKAN!” Bu Sari seperti kerasukan setan mengerek Ghina dengan sekuat tenaga, berjalan menuju pintu keluar mansion.


“Bu, mau di bawa ke mana Ghina?” tanya Edward, akan tetapi tubuhnya sudah di hadang Kiren.


“Kak Edward, cukup Kak........ini sudah keterlaluan. Beraninya kamu berpelukan dengan Ghina. Dan ini masih di mansion, serta masih ada aku......istri kamu Kak!” pekik Kiren.


Edward yang tubuhnya tinggi besar, bisa keluar dari halauan Kiren. Pria itu buru buru mengejar Ghina yang sudah di gerek Bu Sari. Tidak memperdulikan perkataan Kiren. Sedangkan Kiren mengejar suaminya yang mengacuhkannya.


Bu Sari memberikan tatapan tajamnya saat para pelayan ingin membantu Ghina, lepas dari cengkraman Bu Sari.


“ANDA MEMANG WANITA BE-JAT, BRENG-SEK!!” teriak Ghina.


“DIAM KAMU.......DASAR WANITA MURAHAN!” Bu Sari makin kencang menarik lengan Ghina.


“HENTIKAN BU SARI, ANDA SUDAH BENAR BENAR KETERLALUAN!!!” teriak Edward emosi tinggi, ketika mereka semua sudah berada di ruang utama.


Salah satu tangan Ghina sudah di pegang oleh Edward, dan salah satu tangannya masih di pegang Bu Sari. Akhirnya Edward dan Bu Sari saling tarik menarik gadis itu.


“SAKIT......HENTIKAN!!” teriak Ghina, kedua bahunya rasanya luar biasa sakit. Edward melepaskan tangannya, melihat Edward melepas pegangan tangannya, Bu Sari langsung menarik tubuh Ghina dengan sekuat tenaga, dan mendorong Ghina sekuat tenaganya.


BUGH


“AAAKKH......” Tubuh Ghina terjatuh, dan kepalanya membentur ujung meja kaca.


“KELUAR KAMU, WANITA JA--LANG DARI MANSION ANAK SAYA KIREN. DASAR PELAYAN MURAHAN!” teriak maki Bu Sari kesetanan.


Kehadiran Opa Thalib dan Oma Ratna yang tidak jauh dari mereka, sepertinya tidak terlihat oleh mereka.


“SIAPA YANG ANDA SEBUT WANITA JA--LANG!” teriak OPA THALIB, dengan murkanya yang tak terkira lagi.

__ADS_1


BUGH !!!


BUGH !!!


Bogeman Opa Thalib mendarat di wajah Edward “DASAR LAKI LAKI BRENG-SEK!”


“Papa.....!” kedua bola mata Edward terkejut, melihat kedatangan Papa dan Mama nya.


“DASAR WANITA KURANG AJAR!!!” pekik Oma Ratna, di raihnya rambut Bu Sari, di jambaknya sekuat tenaga Oma, hingga Bu Sari jatuh tersungkur. Kiren segera menghampiri ibunya yang sudah jatuh tersungkur di lantai.


Setelahnya, Oma Ratna langsung mendekati Ghina yang sudah jatuh tersungkur di lantai.


“Sayang.......bangun nak,” ujar Oma Ratna.


“Oma.......” sahut Ghina, tubuhnya langsung di peluk Oma Ratna, isak tangis Oma Ratna terdengar sudah. Di depan matanya sendiri melihat menantunya di siksa.


Wajah Kiren terlihat ketakutan, dia mendekati ibunya, dan membantunya untuk berdiri.


“SIAPA WANITA INI, YANG BERANI MENGATAI MENANTU SAYA WANITA JA--LANG!” Opa Thalib menunjuk ke arah Bu Sari, kepada Edward.


“Siapa bapak ini, Kiren?” bisik Bu Sari.


“SAYA PAPA NYA EDWARD!!” jawab tegas  Opa Thalib, sebelum Kiren menjawab, sungguh telinga Opa masih tajam mendengar bisikan Bu Sari.


Bu Sari mulai ketar ketir, ternyata yang berdiri di hadapannya adalah besannya. Dan Bu Sari heran kenapa dia dijambak oleh wanita yang datangnya berbarengan dengan papanya Edward, padahal belum saling kenal.


Edward sepertinya belum bangun dari rasa keterkejutannya. Kedatangan orangtuanya tanpa di duga, dalam situasi yang tidak tepat.


“Maaf Pak, perkenalkan saya Ibu dari Kiren, menantu Bapak......istri nak Edward,” Bu Sari mencoba untuk ramah memperkenalkan dirinya.


Akan tetapi Opa Thalib mengabaikan perkenalan itu. Justru menghampiri Ghina.


“Ghina, Opa datang nak......, bangun nak!” pinta Opa Thalib dengan lembut.


Darah segar sudah mengucur di kening Ghina, setelah dirinya terbentur ujung meja kaca.


“DASAR SUAMI BRENG-SEK, KAMU BIARKAN ISTRI KAMU DI SIKSA ORANG LAIN. KAMU MEMANG IBLIS BERWUJUD MANUSIA!” Opa Thalib kembali naik pitam.


BUGH.....!!


BUGH.....!!


BUGH.....!!


next........ayo ada apa lagi 😁


Ghina Farahditya, istri yang tak dianggap oleh Om Edward.

__ADS_1



__ADS_2