Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Sarapan Pagi


__ADS_3

Keesokan hari.


Mansion Utama


Ruang makan di mansion utama terlihat sangat ramai, Keluarga Thalib dan Keluarga Zakaria berkumpul bersama-sama menikmati sarapan yang sudah di sajikan oleh para pelayan.


“Ghina, rencana hari ini apa?” tanya Opa Thalib.


“Pagi ini ada jadwal ke rumah sakit buat cek jahitan yang di punggung Opa.”


“Di rumah sakit tempat kemarin kamu di rawat?”


“Iya Opa.”


“Kalau begitu kita semua temani kamu ke rumah sakit,” ucap Opa Thalib.


Opa Thalib sedikit khawatir, rumah sakit yang akan didatangi Ghina, adalah milik Edward. Dan pastinya Edward akan datang ke sana, jika tahu hari ini jadwal kontrol Ghina.


Walau rasanya juga tidak mungkin kalau Edward mencari Ghina, lagi pula Edward tidak mencintai Ghina. Namun Opa sedikit curiga setelah mengingat video ketika Edward mencium Ghina saat terlelap.


Apakah Edward jatuh cinta dengan Ghina, atau hanya melampiaskan nafsunya saja, maka mencium Ghina, ini yang menjadi tanda tanya Opa Thalib, namun praduga Edward telah jatuh cinta dengan Ghina langsung disangkal oleh Opa Thalib.


“Ghina bisa sama mbak Ria aja perginya, Opa,” tolak secara halus.


“Jangan menolak kami Ghina, selama kamu di rumah sakit, kita semua tidak ada buat kamu saat itu. Selama ini kamu melewati sendiri, jadi izin kami merawatmu nak, jangan membuat kami seperti tidak ada dayanya buatmu” ujar Oma Ratna.


“Baiklah, jika tidak merepotkan opa, oma, mama dan papa,” pasrah gadis itu kalau semua keluarga ingin mengantarnya ke rumah sakit


.


“Tidak ada yang merepotkan untukmu nak, ayo makan yang banyak. Dan jangan lupa makan telur rebusnya, sudah mama siapkan.”


“Makasih mam.”


“Zaka, besok saya minta berkas-berkas Ghina, untuk pengurusan perceraiannya dengan Edward,” titah Opa Thalib sambil menyantap sarapannya.


“Baik Om, nanti akan segera saya siapkan data berkasnya punya Ghina.”


Mereka melanjutkan sarapan paginya. Setelah selesai mereka bersiap untuk berangkat ke rumah sakit menemani Ghina kontrol.

__ADS_1


Hari ini Ghina terlihat cantik, ternyata Oma Ratna sudah menyediakan beberapa baju untuknya di kamar Edward. Masih dengan style kesukaan dia, celana jeans, kali ini di padu dengan kemeja tunik warna putih. Wajah putihnya dipoles dengan pelembab lalu bedak tabur, terakhir bibirnya diolesi liptint. Rambut panjangnya sengaja di urai karena ada perban di kepalanya.


 Akan tetapi sayang gadis ini tidak menemukan sepatu snickersnya, justru adanya sepatu high heels yang terlihat mewah dan cantik juga. Terpaksa gadis itu kenakan, dari pada pergi pakai sendal jepit.


“Cantiknya menantuku.....” gumam Oma Ratna sambil tersenyum, melihat Ghina memakai pakaian, sepatu yang telah dia siapkan.


Nak Edward, pernahkah kamu terpesona dengan istrimu ini. Apakah hatimu memang benar-benar tertutup dengan kecantikan dan rasa cintamu dengan Kiren, wanita yang kau pilih.


Mamamu saja terpesona dengan Ghina, kagum dengan dirinya. Tapi sungguh disayangkan kau telah melukai Ghina dan pasti membekas dihatinya. Jangan pernah kau sesali Edward........batin Oma Ratna.


🌹🌹


Mansion Edward.


Pak Jaka sibuk mengurusi tuannya yang sudah terbangun dari pagi, dan tumben-tumbennya Edward minta sarapan yang sama seperti kemaren pagi.


Pak Jaka bergegas memberitahu Chef untuk memasak menu yang kemarin Ghina buat.


Edward yang berada di kamar mandi menatap dirinya yang sudah babak belur di cermin yang baru saja di ganti, akibat di hantam Edward. Sesekali disentuhnya luka dan bagian memar pada wajahnya.......sungguh sakit rasanya.


Bayangan saat Ghina tergeletak di gudang dengan luka di punggung, tiba-tiba muncul......hati Edward kembali berdenyut, nyeri. Menyesali telah melukai gadis yang sudah pergi.


Beberapa lama kemudian Pak Jaka masuk kembali dengan mendorong troly yang berisi makanan. Edward sudah terlihat rapi dengan setelan celana bahan dan kemeja putihnya.


Pak Jaka mulai menata sarapan tuannya di meja, terlihat hidangan yang sama seperti kemarin Ghina masak, ada ikan nila goreng, cah kangkung, tempe mendoan dan samba terasi.


Edward mulai menyantap sarapannya ya. Kunyahan pertama dan sudah masuk ke tenggorokan pria itu mengerutkan dahinya. Diletakkannya sendok dan garpu di atas piring yang masih penuh.


“Siapa yang masak ini, Pak Jaka?” tanya Edward.


“Yang masak chef, Tuan.”


“Kenapa rasanya beda dengan masakan yang kemarin!”


Pak Jaka agak bingung antara memberitahu kebenarannya, atau tutup mulut.


“Kalau yang masak chef yang sama, pasti rasanya sama. Ini kenapa berbeda, tidak seenak masakan kemarin!” Edward suasana hatinya benar benar sedang sensitif, masalah masakan saja masih bisa dirasa perbedaannya.


“Maaf Tuan, sebenarnya sarapan kemarin pagi, itu masakan non Ghina. Dan yang sekarang ini masakan chef di sini,” terpaksa Pak Jaka berkata jujur.

__ADS_1


“Jadi yang masak Ghina!"


Pak Jaka menganggukkan kepalanya.


“Ghina.......,” lirihnya, Edward menyugarkan rambutnya.


“Eerggghhh.....,” pekik Edward


PRANG.....!!


Digesernya semua piring yang berada di atas meja dengan lengan tangannya, hingga semua piring yang berisi lauk pauk jatuh ke lantai. Lalu meraup wajahnya dan menyugar rambutnya, sungguh hatinya bergetar jika makanan yang di inginkan yang kemarin pria itu bilang enak adalah masakan Ghina, dan sekarang gadis itu sudah tidak ada di mansionnya.


“Ganti sarapan dengan roti bakar,” titah Edward, kecewa tidak mendapatkan masakannya yang diinginkannya.


“Baik Tuan,” jawab Pak Jaka, bergegas keluar, menyiapkan sarapan pengganti dan memanggil salah satu pelayan untuk merapikan pecahan piring di kamar tamu.


Entah sudah berapa banyak pecah belah dan benda kaca menjadi korban kekerasan Edward  dan dengan cepatnya Pak Jaka menggantinya dengan barang baru.


“Selamat Pagi Tuan,” sapa Ferdi yang baru kembali ke kamar tamu, setelah sempat istirahat di kamarnya.


“YA.....,” jawab dingin Edward.


“Tadi pihak rumah sakit Tuan, konfirmasi mengingatkan kembali, kalau pagi ini jadwalnya Ghina untuk kontrol jahitan. Bagaimana Tuan, haruskah saya konfirmasi ke mansion utama?” tanya Faisal.


Edward tersenyum tipis “kamu kasih kabar ke mansion utama, dan siapkan sopir, serta beberapa ajudan hari ini saya akan ke rumah sakit A, dan jangan beritahu ke papa, jika saya akan ke sana hari ini.”


Wah ada rencana apa nih Tuan Besar, apa ingin ketemu Ghina......atau kembali menculiknya??


Mendapat kabar jika hari ini Ghina akan ke rumah sakit miliknya, segala ide bermunculan di otaknya, membuat dirinya bergairah kembali.


Edward terlihat semangat, setelah menyelesaikan sarapan paginya, pria itu segera masuk ke mobil mewahnya di dampingi Ferdi. Dan tak lupa Edward memakai masker dan kaca mata hitamnya untuk menutupi luka dan memar di wajahnya.


Ghina, tunggu kedatangan saya. Kamu akan saya pastikan kembali ke mansion saya! Dan takkan pernah pergi kembali dari sisi saya!!


.


.


next......apa yang terjadi di rumah sakit

__ADS_1



__ADS_2