
“Akhirnya ini terjadi juga ya Mah, Edward benar benar gelap mata menikahi Kiren, padahal papa sudah menjodohkan Edward dengan Ghina..... gadis yang baik.”
“Cinta tidak bisa di paksakan Pah, nyatanya Edward tetap menikahi Kiren, kita berdua telah bersalah telah menghadirkan Ghina antara mereka berdua. Sekarang bisa saja Ghina sedang terluka Pah, walau tanpa mengadu. Mama bisa mendengarnya dari nada suaranya tadi."
“Padahal papa pikir Edward tertarik dengan Ghina, karena papa lihat setiap ada pertemuan keluarga, tatapan Edward begitu berbeda terhadap Ghina, makanya papa menjodohkan mereka berdua. Lagi pula ini memperkuat garis keturunan keluarga besar kita.”
“Mungkin papa salah tangkap aja dengan tatapan Edward ke Ghina, mungkin hanya tatapan biasa. Jadi papa sudah salah prediksi.”
“Iya mungkin begitu, baiklah kita tunggu sisa waktu 2 minggu. Lalu kita jemput Ghina dari mansion Edward.”
“Kenapa tidak hari ini aja Pah, tidak harus menunggu lagi!” seru Oma Ratna.
“Papa ingin memberikan sisa waktu ke Edward untuk melihat dan mengenal Ghina secara dekat, walau mungkin tidak pernah di anggapnya. Dan berharap Edward berpaling dari Kiren. Paling tidak papa tidak terlalu menyesal menikahkan Edward dengan Ghina. Walau akhirnya jodoh mereka berdua hanya sesaat, semoga ada sesuatu hal yang akan selalu di ingat Edward ketika nanti berpisah dengan Ghina.”
Oma Ratna hanya bisa manggut manggut saja. Suaminya benar benar tidak bisa di ajak kompromi.
🌹🌹
2 jam berlalu, rumah sakit.....
“Non Ghina, tidak kasih kabar ke orang tuanya kalau sedang di rawat?”
“Tidak mbak, saya tidak mau kasih kabar ke mama dan papa saya, tidak mau membuat mereka khawatir.” Ghina tersenyum tipis.
“Non ada baiknya mbak sarani mending pergi diam diam dari mansion, mbak takut nanti Non di siksa lagi sama Tuan Edward. Nanti mbak akan bantu Non untuk kabur.”
“Saya tidak akan kabur mbak Ria, tapi saya akan pergi meninggalkan mansion selamanya dengan cara saya sendiri. Jika saya kabur maka permasalahan saya tidak akan selesai. Malah akan semakin di cari-cari seperti dulu.”
“Betul juga sih Non, tapi apa kuat Non menghadapi Tuan Edward?”
“Nyatanya saya masih hidup kan mbak, walau terluka.”
“Semoga Allah senantiasa selalu melindungi Non Ghina.”
“Aamiin...”
Ceklek
Bunyi kenop pintu terbuka, Ria menengok ke arah pintu.
Masuklah Edward bersama Ferdi.
“Siapa yang datang mbak?” karena hanya Ria yang posisi duduknya bisa melihat siapa yang masuk ke kamar.
__ADS_1
“Tuan Besar dan Pak Ferdi, non.”
“Ck......dia lagi!” decak Ghina.
Edward menghampiri ranjang Ghina, Ria yang tidak merasa enak hati menyingkir dari tuan besarnya dan Ghina.
Netra Edward menangkap koper kecil yang berada di samping ranjang Ghina. Di geretnya koper tersebut.
“Om......mau di apaiin koper saya?” mau mencegahnya tapi tidak bisa. Apalagi punggungnya belum bisa bergerak bebas.
Diangkatnya koper tersebut, lalu dibantingnya sekuat tenaga koper Ghina.
BRAK....!!
“Siapa yang mengantar koper ini!” Kamu mau kabur lagi.......Ghina!” kobaran amarah mulai terlihat di kedua matanya.
“Saya tidak akan kabur, tapi akan saya pergi!” tantang Ghina.
“Kamu tidak bisa pergi dari saya, sampai kapan pun!” geram Edward, di raihnya dagu Ghina agar wajahnya menatap wajahnya.
Sorotan tajam mata Ghina beradu dalam dengan tatapan Edward, tatapan yang membuat hati Edward bergetar seketika, larut masuk ke dalamnya.
“Cih.....siapa bilang saya tidak bisa pergi! Suatu saat saya akan pergi!” tegas Ghina.
Dagu Ghina semakin terasa sakit karena cengkeraman Edward semakin kuat.
“Huft.......!” di lepasnya cengkeramannya.
“Ferdi bilang ke Denis untuk memperketat penjagaan di rumah sakit ini, jangan sampai bocah ini kabur dari sini!”
Bocah!!! Dia istri pertamamu Tuan Besar.......batin Ferdi.
Ghina begitu geram mendengar perintah Edward “sebegitu takutkah Om Edward....saya kabur. Atau takut saya membocorkan perilaku Om ke Oma Opa. Tanpa di beritahu, mereka pasti sudah tahu. Lagi pula buat apa menahan dan mengurung saya, tidak ada gunanya. Lagi pula saya bukan wanita yang menguntungkan, tidak memiliki kekayaan yang lebih dari Om, tidak berwajah cantik dan bertubuh sexy seperti istri Om..... mbak Kiren. Jadi hentikanlah lelucon ini Om Edward .....!”
“Sebaiknya tutup mulut kamu Ghina, tidak usah menceramahi saya. Saya hanya ingin memberi pelajaran ke kamu!” gertak Edward.
“Cih.....pelajaran....kalau Om mau kasih Ghina pelajaran, kenapa tidak daftarkan saya ke universitas biar bisa belajar lebih baik lagi, dan jadi lebih memahami Om Edward apa yang di inginkan!” lawan Ghina.
“Tutup mulutmu Ghina, apa perlu saya lakban mulut kamu, biar berhenti berbicara!”
“OH......... silahkan kalau Om mau menutup mulut saya, paling nanti para perawat atau dokter yang melihat mulut saya ditutup pakai lakban, akan melapor ke pihak berwajib karena ada perilaku yang kurang menyenangkan,” jawabnya lagi.
Edward kembali mendekati Ghina “jika kamu masih belum diam juga, jangan salahkan saya menyumpal mulutmu dengan mulut saya sekarang juga!” ancam Edward.
__ADS_1
DEG
Mulut Ghina langsung kaku, matanya membelalak dengar ancaman Edward.
“Good girl.” Edward tersenyum smirk, melihat Ghina terdiam seketika.
Edward menjauh dari ranjang Ghina, lalu duduk di sofa dengan Ferdi yang telah menyiapkan laptop untuk memulai mengecek pekerjaannya.
Tangan Ghina meremas selimut yang dipakainya, kedua matanya menyipit melihat Edward yang sedang duduk di sofa, yang jaraknya tidak jauh dari ranjang.
Edward juga merasa dirinya ditatap oleh Lina, namun di abaikannya.
“Permisi.....Dokter mau cek pasien,” ujar perawat yang berada di samping Dokter Irfan.
“Silahkan Pak Dokter,” Ria yang tidak jauh dari pintu kamar mempersilahkan Dokter Irfan yang baru masuk.
Edward yang mulai sibuk dengan pekerjaannya langsung berhenti, dia segera beranjak dan mengikuti langkah Dokter tampan tersebut menuju ranjang Ghina.
“Ghina, sore ini saya mau cek hasil operasinya sekalian mau menggantikan perbannya. Kamu bisa duduk atau mau tengkurep?” tanya Dokter Irfan.
“Lebih enaknya bagaimana Pak Dokter?”
“Senyaman kamu aja.”
“Baiklah kalau begitu, saya tengkurep saja biar Pak Dokter leluasa memeriksanya,” jawab Ghina, reflek Dokter Irfan memegang kedua tangan Ghina yang ingin merubah posisinya dari duduk menjadi tengkurep.
Edward menepis tangan Dokter Irfan “biar saya saja yang bantu, dokter bisa menyiapkan peralatannya,” ujar Edward.
“Iish...,” desis Ghina tak rela kedua tangannya di pegang Edward.
Dokter Irfan hanya bisa mengalah, dan mempersiapkan peralatannya.
Sekarang posisi Ghina sudah tengkurap, tangan Dokter Irfan mulai membuka beberapa tali kaitan bajunya, lalu membuka lebar baju berwarna hijau tersebut.
GLEK
Kedua pria tampan ini menelan salivanya dengan kasar, melihat dengan jelas dari punggung atas sampai pinggang bawah begitu putih mulus, seakan memanggil untuk di sentuh. Namun sayang luka sudah dibuat oleh Edward di punggung Ghina, yang akan meninggalkan bekas untuk selamanya.
.
.
Terima Kasih banyak buat Kakak Readers yang cantik dan ganteng, yang sudah setia membaca novel recehan ini dari awal sampai bab ini. Insha Allah akan up date tiap hari sampai tamat, kalau otaknya lagi encer akan up beberapa bab dalam sehari.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, apalagi kalau di tinggalin komen rasanya senang sekali 😊. Stay tune ya Kakak Readers.
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹