Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Perkara rujak


__ADS_3

Semenjak Ghina hamil, wanita itu tiap pagi harus stand by di samping suaminya, setiap bangun tidur Edward mengalami morning sick, menjelang jam delapan pagi baru pria itu reda dengan rasa mual dan muntahnya.


Seperti biasa wanita itu akan memijat lembut tengkuk suaminya, dan mengolesi perut suaminya dengan minyak angin.


“Hubby mau sarapan pakai apa? Biar aku masakkin.”


“Sayang boleh masakkin ikan nila goreng sama sambal terasi,” pinta Edward.


“Boleh nanti aku masakkin. Sekarang hubby mandi dulu, ganti baju.....ya,” ujar Ghina lembut.


“Iya sayang, tadi boleh daddy cium dede dulu?”


“Boleh tapi ngak boleh minta lebih ya....”


“Iya sayang,”


Edward langsung mengecup perut Ghina yang mulai sedikit menonjol. “Anak-anak daddy sehat-sehat ya di perut mommy.”


“Iya daddy,” sahut Ghina.


Puas suaminya mengecup perut istrinya, baru Ghina menuju ke dapur untuk masak sarapan buat suaminya. Hampir setiap pagi wanita itu mengusahakan masak sendiri untuk suaminya, sebelum mereka berdua berangkat ke kantor. Walaupun di mansion sudah ada chef yang mengurusi dapur mereka.


Selama tiga puluh menit rampung menyelesaikan masakkannya, siap di hidangkan di meja makan. Dan Edward juga sudah rapi dengan setelan kerjanya.


“Hubby udah ganteng, udah wangi.....” goda Ghina, wanita itu langsung mengecup pipi suaminya, entah kenapa semenjak wanita itu hamil setiap suaminya sudah rapi rasanya pengen cium pipi suami gantengnya, mungkin bawaan bayi.


“Sayang, yang di bibir belum?’ujar Edward.


“Tadi malam kan sudah hubby, bibirku aja ini masih berasa kebas. Hubby kalau udah cium.....ganas banget.”


“Habis sayang, sangat menggoda.”


“Udah ah......jangan bahas lagi. Ini udah aku siapin makannya sesuai permintaan hubby,” Ghina menyiapkan sarapan buat suaminya.


“Makasih sayang, kamu juga ikut makan........bumil harus makan yang banyak.”


“Iya hubby......ini aku udah ambil nasinya.”

__ADS_1


Edward selalu lahap kalau makan masakan istrinya, selalu nambah makannya. Dan hal itu selalu di sukai oleh Ghina, suaminya bisa menghargai masakan buatannya.


“Makasih ya sayang, masakan kamu selalu enak......lama-lama perutku bisa gendut nih,” senyum hangat mengular di bibir Edward.


“Gak pa-pa hubby perutnya gendut, biar barengan sama perut aku,” tunjuk Ghina ke perutnya sendiri lalu ke perut suaminya.


“Ha....ha....ha....,” mereka tertawa bersama sambil membayangkannya.


Pria yang dulu terlihat arogan dan dingin, sekarang semakin lama sering tersenyum dan tertawa jika bersama istrinya. Akan tetapi kembali dingin jika berhadapan dengan wanita lain.


🌹🌹


Perusahaan Thalib


Pasangan suami istri ini sangat di hormati oleh para karyawan, dan banyak yang kagum dengan pesona istri presdirnya.


Tapi bagi beberapa karyawan yang pernah di undang ke acara pernikahan Edward dengan Kiren, merasa kalau istri Presdir yang baru ini seorang perebut suami orang. Akan tetapi hembusan isu tersebut langsung kandas dengan pernyataan Edward ketika di acara perkenalan Ghina kepada para karyawannya, bahwasanya Ghina adalah istri pertamanya, sekaligus pemilik perusahaan grup Thalib.


Sungguh mencengangkan buat para karyawan yang telah membuat gosip yang tidak-tidak tentang Ghina.


Secara struktural posisi Ghina sebagai wakil CEO, membantu beban pekerjaan CEO. Tapi berhubung kondisi Ghina sedang hamil, Edward tidak ingin istrinya terlalu lelah bekerja.


“Tuan gak salah, masih pagi minta rujak. Nanti kalau nyonya tahu, aaya di marahin Tuan, takut Tuan sakit perut lagi kayak kemaren.......mules-mules.”


“Udah gak pa-pa, saya udah ke pengen banget. Mumpung Nyonya lagi meeting.......udah buruan beliin,” pinta Edward, pria itu sudah membayangkan buah mangga yang masih muda di cocol sama sambal yang pedas.....duh sungguh nikmat.


“Baik Tuan,” terpaksa menerima perintah dari tuan besarnya.


“Ah.....siap-siap bakal di marahin sama nyonya deh, hampir tiap hari makan rujak di kantor.....nanti setelahnya perut mules-mules.........tinggal nyonya deh mulutnya merepet terus, gak bisa di rem,” gerutu Ferdi sendiri, tapi tetap aja di beli rujaknya.


🌹🌹


“Hu....ah.....hu....,” Edward mengelap keringatnya yang mulai banjir di keningnya, sedangkan mulutnya masih sibuk mencocol mangga muda dan buah lainnya ke sambal rujaknya, merasa kepedesan.


“Ferdi, ayo cobaiin enak loh rujaknya.” tawar Edward, pria itu benar benar menikmati rujak di jam sepuluh pagi.


“Makasih Tuan, ngilu saya melihat Tuan makan buah yang asem rasanya.”

__ADS_1


“Yang asem itu enak, perut saya jadi berkurang rasa mualnya.”


“Yang hamil siapa, yang ngidam siapa,” celoteh Ferdi. “Padahal dulu Tuan hampir gak pernah makan rujak, paling buah biasa aja.”


“Bawaan si kembar Ferdi, nanti kamu juga ngerasaiin kalau istri kamu lagi hamil. Percaya deh, sekarang saja saya sedang merasakan, tapi luar biasa saya senang menjalankannya. Mengurangi beban istri yang lagi hamil,” wajah Edward terlihat berseri-seri kalau sudah bicarakan tentang bumilnya.


“Hubby......,” sapa Ghina yang baru saja masuk ke ruang kerja suaminya.


“Astaga hubby.....masih pagi makan rujak lagi,” kedua netra Ghina mulai melotot, dan salah satu tangannya mulai tolak pinggang.


“Oohh........siap-siap nyonya merepet.” ujar pelan Ferdi.


“Sayang......,” wajah Edward mulai memelas, ketahuan lagi makan rujak, padahal sudah di larang sama Ghina.


“Hubby, ini gak bisa di bilangin sama istrinya ya, udah aku bilang jangan makan rujak lagi, ini pasti sambelnya pedas. Baru kemaren sembuh sakit perutnya. Sekarang udah makan lagi, hubby ini gak sayang sama aku ya, kalau hubby sakit.....aku tuh sedih....hubby kok tega banget........hiks.....hiks...,” Ghina mulai terisak. Moodnya ibu hamil suka cepat berubah, bisa tiba-tiba jadi cengeng. Inilah yang sekarang sering di alami oleh Ghina.


Edward beringsut dari duduknya, hati suami mana yang tega lihat istrinya mulai menangis “sayang, maafkan aku ya......jangan menangis dong,” Edward langsung memeluk bumilnya.


“Gimana gak nangis, hubby gak mau dengarin aku. Hubby gak sayang sama aku lagi ya.”


“Sangat sayang dan cinta mati sama bumilku ini. Tapi aku kepengen makan rujak sayang........entah kenapa ada dorongan pengen makan rujak. Kayaknya kalau sehari gak makan rujak, kayak ada yang kurang.”


“Tapi setiap hubby makan rujak, pasti langsung sakit perut, sampai hubby mukanya pucat. Memangnya aku gak khawatir melihat hubby kayak begitu,” gerutu Ghina.


“Nyonya, Tuan kalau minta beliin rujak mintanya sambelnya yang pedas level sepuluh,” sambung Ferdi.


“Tuhkan....tuhkan level sepuluh,” geram Ghina, di cubitnya perut berotot suaminya.


“Ampun  sayang....ampun...sakit sayang,” ringis Edward menerima cubitan gemas dari istrinya.


“Besok-besok pesan rujak sambelnya level seratus ya hubby, gak ada kapok-kapoknya ini.....udah dibilangin sama istrinya. Masih aja ngeyel,” tangannya masih mencubit badan suaminya.


Ferdi hanya bisa menahan tertawa, melihat seorang Presdir sudah terjatuh dengan istrinya sendiri. Sosok yang berwibawa dan berkharisma, tetap akan bertekuk lutut kepada seorang wanita yaitu istri yang sangat di cintai selain ibu yang melahirkannya.


Nikmatnya seorang suami, merasakan moment hamil simpatik, berbagi rasa.


 

__ADS_1


 


__ADS_2