
TOKO KUE GINA’S
“Jadi dulu Edward suka menyiksa Ghina?” tanya Rafael sambil membelalak kedua matanya. Setelah mendengar semua cerita masa lalu Ghina.
“Iya betul, ada buktinya kok.....dan ada saksinya. Salah satunya Mbak Ria yang tahu semua kejadian yang menimpa Ghina,” ujar Rika sambil menyesap coffe latte nya.
“Kenapa kamu tidak cerita dari dulu! Kalau tahu dari dulu saya akan membantu proses perceraian Ghina secara resmi,” gerutu Rafael.
“Ya buat apa saya cerita, karena itu urusan Ghina. Dan sekarang Mas Rafael bertanya karena kenal dengan Om Edward, ya terpaksa saya cerita apa adanya.” Bukan terpaksa tapi di paksa oleh Rafael untuk menceritakan masa lalu Ghina yang tidak pernah di dengarnya selama mengenal wanita itu.
“Sekarang Ghina sudah kembali dengan Edward. Dan akan saya pastikan merebut Ghina kembali, dari laki-laki breng-sek!!’ terlihat pria tampan itu terobsesi dengan Ghina.
Rika yang mendengar pernyataan dari mulut Rafael, terlihat kecewa. Pria yang selama ini diam-diam dia sukai malah menyukai sahabatnya sendiri. Dan memang Rika sudah tahu dari awal jika Rafael sudah suka dengan Ghina dari awal bertemu di cafe.
“Memangnya wanita hanya Ghina aja Mas Rafael! Masih banyak kok wanita yang lebih cantik dan lebih baik dari Ghina,” celetuk Rika.
“Betul memang di luar sana banyak wanita yang lebih baik dari Ghina. Tapi hanya Ghina yang bisa membuat saya jatuh cinta berulang kali. Dan hanya Ghina wanita yang tidak pernah menggodaku, wanita apa adanya,” Rafael mengulum senyum tipis, mengingat kenangan saat mengenal Ghina.
Rika wajahnya terlihat masam, ketika Rafael memuji sahabat karibnya.
🌹🌹
Rumah Ghina
Tatapan Edward sudah tak bisa di gambarkan semua perasaan tercampur, ada emosi, amarah cemburu dan cinta membaur menjadi satu.
Sedangkan Ghina hanya bisa meremas kedua bahu Edward, setelah menerima lu-matan dari bibir Edward.
Tak kuasa lagi pria itu menatap wajah cantik istrinya. Kembali pria itu menempelkan dan melabuhkan bibirnya, menyapa bibir istrinya dengan penuh kehangatan, lu-matan yang lembut, menyesapnya penuh gairah.
Salah satu tangan Edward mulai turun ke leher jenjang Ghina, menyentuhnya seakan sedang membuainya.
Rasa mengelitik tiba-tiba muncul di wanita itu, seakan sentuhan Edward membangunkan sisi kewanitaannya yang belum pernah di rasakannya. Edward melepaskan pagutannya, kemudian pria itu turun ke arah leher putih mulus Ghina........dikecupnya, dilu-matnya dengan lembut kemudian menyesapnya hingga meninggalkan jejak kepemilikannya.
__ADS_1
“Iisss.......OM.......geli...,” desis Ghina yang tak tertahankan. Edward menarik wajahnya dari leher Ghina.
“Cepat sembuh ya .......!” ucap Edward, yang kembali harus menahan hasratnya. Pria itu kemudian mengendong istrinya dengan hati-hati ke atas ranjang.
“Posisi tidurnya mau seperti apa?” tanya Edward ketika merebahkan tubuh Ghina. “Miring aja Om, kalau terlentang masih kurang nyaman.” Edward memiringkan tubuh Ghina.
“Semoga punggungnya cepat sembuh ya, setelah itu kita pergi honeymoon.”
“Honeymoon?”
“Iya honey, waktunya kita honeymoon, maukan?”
“Kalau jalan-jalan sih mau......” sungguh lucu buat Ghina, wanita itu tidak ke pikiran untuk honeymoon. Dan sekarang suaminya sendiri yang mengatakannya.
“Kamu mau honeymoon kemana? Ke Paris, Australia atau mau ke Korea?” Edward memberikan pilihan tempat untuk mereka honeymoon nanti.
“Mmm.........aku gak mau yang jauh-jauh dulu Om, boleh gak kita ke Bali saja, aku lebih suka menikmati pantai.”
“Boleh, nanti kita menginap di villaku yang ada di Bali dekat hotelku juga di sana. Bagaimana mau seperti itu?”
Edward mulai mengelus pipi istrinya, dan yang pastinya merapatkan dirinya dengan Ghina, kemudian menyelimuti tubuh mereka berdua. Lalu mencium kening wanita itu.
“Aku akan berusaha untuk tidak emosian lagi, aku harap kamu bisa bersabar ya, honey.”
“Tergantung Om, karena sabar juga ada batasnya. Tapi aku menghargai jika Om mau berusaha.”
“Honey, juga berusaha akan mencintaiku kan, membalas cintaku. Tidak seperti ke Rafael?” Edward belum pernah mendengar Ghina menyatakan rasanya terhadap dirinya.
Ghina sedikit terkejut dengan pertanyaan Edward.
“Kok diam aja, honey?” tanya Edward, diraihnya dagu Ghina agak pria itu bisa menatap wajah istrinya.
Ghina membalas tatapan penuh damba yang terpancar di kedua netra Edward. Salah satu tangan wanita itu merangkul leher pria tampan tapi arogant itu.
__ADS_1
“Waktu aku berumur lima belas tahun aku pernah jatuh hati dengan OM OM, tapi sayangnya OM OM nya sudah punya pacar yang cantik. Jadi aku hanya bisa menyukainya dalam hatiku saja. Aku selalu menikmati kemesraan OM OM itu dengan kekasihnya setiap bertemu, dan lama-lama aku coba membuang rasa suka terhadap OM OM itu, dan patah hati deh,” cerita Ghina.
“Jadi honey pernah suka dengan laki laki lain?”
“Ya pernah jatuh hati untuk pertama kalinya dan patah hati untuk pertama kalinya.”
“Berarti itu cinta pertama kali honey ya, sayang sekali OM OM itu berati mengabaikanmu?”
“Iya OM OM itu mengabaikanku dan tidak menganggap kehadiranku.”
“Boleh aku tahu siapa pria yang pertama kali kamu suka saat itu, dan aku ingin tahu. Biar nanti saat ketemu dengan pria yang pernah kamu sukai, aku berusaha untuk tidak cemburu.”
Ghina meremas rambut belakang Edward, dan sedikit pahanya menyentuh si Jon. “Yakin pengen tahu prianya siapa, terus kalau sudah tahu mau apa?” tanya Ghina, sambil menggigit bibir bawahnya, seakan menggoda pria tampan itu.
“Hanya sekedar ingin tahu aja, ternyata ada pria lain yang mengacuhkan wanita secantik istriku ini. Tapi tidak mengapa, karena akhirnya aku yang bisa menikahimu, bukan OM OM itu.”
“Bukankah Om Edward juga sama dulu juga mengacuhkan dan tidak menganggapku,” celetuk Ghina.
“Iya juga......itu sudah masa lalu, honey. Ayo cepat katakan siapa cinta pertamamu itu, pria yang mengacuhkanmu?” Edward terlihat tidak sabaran, namun kesal ternyata Ghina pernah jatuh cinta dengan pria lain.
Ghina diam sejenak, dan memberanikan dirinya menatap wajah pria yang lehernya telah dirangkulnya dengan salah satu tangannya.
“Namanya Edward Thalib,” jawab Ghina.
DEG
Jantung Edward berdegup cepat, namanya di sebut oleh istrinya sendiri. Kemudian kedua netra pria itu mulai berbinar-binar, senyum tipis mengular di bibirnya.
“OM OM itu.....aku,” Edward memastikannya lagi, agar tidak salah mengira dan salah mendengar.
“Ya OM OM....itu namanya Edward Thalib.”
Edward meraih tengkuk Ghina, lalu bibirnya kembali menyapa bibir Ghina, membasahi bibir wanita itu yang sempat kering......melu-matnya penuh gairah, lidahnya mulai menyelusup ke rongga mulut wanita itu....merasakan rasa manis dan hangatnya, saling berbelit lidah dan bergantian saling menghisapnya.
__ADS_1
Hati pria itu membuncah bahagia setelah namanya di sebut sebagai pria yang pertama kali di sukai istrinya. Andaikan dari dulu pria itu tahu, jika rasa sukanya sudah terbalaskan saat pertama kali melihat dan mengenal wanita yang bernama Ghina Farahditya.