
Pak Bowo masih tertunduk lemas dalam duduknya setelah membaca lembar kertas hasil test DNA Edward dan Wisnu.
“Bagaimana Pak Bowo, anda akan mengelak hasil tes DNA ini. Dan akan bilang ini hasil rekayasa juga!” ujar Edward dengan suara tegasnya.
“Berarti anak anda telah hamil sebelum menikah dengan saya, pantas saja Kiren menagih terus untuk cepat menikahinya,” ujar Edward kesal dan menyesal menjadi satu.
Pak Bowo kali ini kalah telak, kesalahan semuanya sejak awal sudah tertuju kepada anaknya semata wayang, di tambah lagi dengan hasil test DNA nya yang semakin memperkuat perbuatan buruk anaknya sendiri.
Edward dari kejauhan memberi tanda ke Ferdi. Ferdi paham akan kode itu. Dan langsung mengambil sesuatu di laci meja kerja Edward. Lantas memberikan selembar kecil kertas beserta bolpoint ke Edward.
Edward menuliskan dan tanda tangan di atas lembar kecil tersebut.
“Ini saya berikan buat keperluan Wisnu, tolong di pergunakan sebaik-baiknya. Saya harap ini untuk terakhir kalinya kita bertemu Pak Bowo, dan jangan sesekali mengganggu rumah tangga saya dengan istri saya Ghina. Sekali anda coba, taruhannya adalah nyawa anda sendiri,” ancam Edward, sambil menaruh selembar cek di hadapan Pak Bowo.
CEK senilai Rp. 300.000.000, cukup membuat mata Pak Bowo kembali cerah.
“Dasar orang maruk, lihat cek langsung cerah wajahnya,” celetuk Oma Ratna.
Ya begitulah Pak Bowo yang haus akan materi sama dengan istrinya Bu Sari. Tanpa banyak bicara Pak Bowo mengambil lembar cek tersebut.
“Saya minta besok pagi, Anda sudah tidak berada di hotel saya lagi!!” pinta Edward.
“Ya, saya usahakan besok pagi kami akan cek out dari hotel ini,” jawab Pak Bowo, langsung beranjak dari duduknya. Tanpa ucapan terima kasih, maaf dan permisi........Pak Bowo pergi begitu saja.
“Ck.......dasar orang gak punya etika. Kayak begitu........terima uang langsung pergi begitu saja,” kesal Oma Ratna.
“Sudahlah mah, sudah berlalu........untungnya bukan besan kita,” sambung Opa Thalib sambil memandang ke arah Edward.
“Please Pah, jangan mengungkit masa lalu Edward. Ada hati yang harus saya jaga Pah.” Edward menatap sendu ke arah Ghina.
“Makanya dari dulu kamu tuh turutin pilihan Papa, jodoh yang papa pilih itu adalah yang terbaik buat kamu, papa sudah berpikir panjang. Memilih wanita yang luar biasa bukan sembarang wanita, kamunya aja yang sering menolak dan bersikekeh maunya dengan Kiren. Penyesalan itu memang selalu datang belakangan,” tegur Opa Thalib.
“Iya Pah, Edward menyesal telah menyia-yiakan jodoh dari papa. Tapi untuk kali ini saya akan berjuang untuk meluluhkan hatinya. Mohon papa dan mama mendukung Edward,” pinta Edward dari lubuk hatinya.
Ghina hanya menyimak pembicaraan antara anak dan orang tuanya, apalagi yang di bicarakan tentang dirinya.
“Ya buruan luluhinya, keburu di ambil pria lain,” celetuk Oma Ratna.
“Jangan bilang begitu dong mah, Ghina masih istri Edward kok, masa bisa di ambil sama pria yang lain,” jawab Edward tidak rela.
“Ya bisalah, lagi pula banyak laki-laki yang suka sama Ghina, memangnya mama gak tahu. Siapa tuh namanya kalau gak salah Rafael."
Edward kembali melirik ke arah Ghina. Dengar kata nama Rafael hatinya mulai panas.
__ADS_1
“Jadi kapan kalian mau akad nikah ulang?” Tanya Opa.
“Nanti Pah, tunggu Ghina sudah yakin dulu....,” jawab lemas Edward.
“Jangan lama-lama....Papa kasih waktu satu bulan untuk kepastian masalah rumah tangga kalian berdua, antara mau rujuk kembali atau pisah,” terpaksa Opa Thalib memberi tenggat waktu, biar tidak terlalu lama, dan Ghina pun biar cepat merespon Edward.
“Baik, Opa,” jawab Ghina.
“Baik Pah,” sambung Edward.
“Sekarang sudah mau tengah malam, sebaiknya kita istirahat. Edward ingat kalau tidur seranjang, Ghina jangan di apa-apain.......!” celetuk Opa Thalib bangkit dari duduknya mengikuti Oma Ratna yang akan kembali ke kamar.
“Ya sedikit doang si Pah, paling peluk sama cium doang, “ jawab Edward.
BUG
Ghina memukul lengan kekar Edward.
“Honey, kok tanganku di pukul,” ujar manja Edward.
“Kalau ngomong tuh pakai rem, Om.......ini pakai bilang peluk, cium......malu Om sama orang tua,” kesal Ghina.
“Tapi bolehkan aku peluk sama cium kamu dulu, sebelum kita akad nikah lagi?” tanya Edward.
“Kemarin panggil sayang, terus ganti baby....sekarang panggil honey. Awas loh Om Edward nanti Kakak Readers bingung bacanya, sebenarnya Om Edward tuh mau panggil apa!”
gerutu Ghina sambil beringsut dari duduknya.
“Aku juga bingung mau panggil kamu apa. Pengennya panggil sayang.....tapi kamunya ingat sama-----,”
“Gak usah di lanjutin Om, aku pulang dulu ya.....,” sahut pamit Ghina yang udah keluar dari ruang kerja Edward.
“Ghina.......tunggu....kok suaminya di tinggal sendiri,” balas Edward langsung berlari keluar mengejar Ghina.
Edward meraih tangan Ghina yang sudah jalan duluan.”Kita menginap di sini, sudah larut malam,” ucap Edward sambil menarik tangan Ghina untuk mengikuti pria itu.
“Tuh mulai deh maksa.....” celetuk Ghina.
“Iya maksa, memangnya kenapa.....,” jawab Edward dengan sedikit menatap tajam ke wajah Ghina.
Wajah Ghina langsung masam lihatnya.
Ghina terpaksa mengikuti Edward ke kamar hotel yang sudah di siapkan oleh staf hotel mereka.
__ADS_1
Setibanya di kamar suite president.......
“Ingat Om Edward tidurnya di sofa, aku di ranjang,” pinta Ghina.
“Gak bisa......enggak ada lagi istilah pisah ranjang. Honey tidur di ranjang, berarti aku tidur di ranjang juga. Honey tidur di sofa maka aku tidur di sofa. Jangan pernah melarang suami tidur dengan istrinya!!” jawab tegas Edward.
“Iiiisshhhhh......kok jadi begini sih,” desis Ghina kesal sambil mengentakkan kedua kakinya ke lantai, kemudian buru-buru wanita itu ke kamar mandi untuk bebersih.
Edward hanya bisa terkekeh kecil melihat mimik wajah cantik istrinya yang terlihat kesal. Sambil menunggu Ghina yang berada di kamar mandi, pria itu mengeluarkan daster rumahan punya Ghina dari dalam kopernya, yang tadi diantar oleh Ria saat siang hari. Ternyata pria itu sudah menyiapkan kebutuhan Ghina.
Ghina yang berada di dalam kamar mandi menggerutu kesal, karena dirinya lupa membawa baju ganti alhasil wanita itu memakai bathdrope untuk keluar dari kamar mandi.
Wanita itu keluar mengendap-endap dari kamar mandi, namun sayangnya Edward sudah berada di depan pintu kamar mandi.”Ini baju gantimu.......pakailah,” Edward memberikan daster serta pakaian ********** yang berwarna hitam.
“OH my god......,” pekik Ghina, melihat Edward memegang pakaian dalamnya, sungguh memalukan.
Buru-buru Ghina mengambil bajunya, dan masuk ke dalam kamar mandi.
“Iihh nih orang, bisa-bisanya bawaiin dan pegang under-wearku.......mukaku mau taruh di mana ini,” gumam Ghina sendiri.
“Honey, cepatan......jangan lama-lama di kamar mandi,” teriak Edward.
“Iya sebentar,” sahut Ghina.
Ceklek.......
Edward tampak mengulum senyum tipis melihat wajah Ghina yang merah merona.
“Aku sudah buatkan coklat hangat buat kamu, di minum ya sebelum tidur. Biar kamu tidur pulas, aku mandi dulu ya” ujar Edward sambil mengelus salah satu lengan tangan Ghina.
“Mmmm......,” gumam Ghina tanpa menatap wajah tampan Edward, karena rasa malunya ketika pria itu sudah melihat pakaian dalamnya.
.
.
Untuk Kakak Readers yang ganteng dan cantik, terima kasih yang sudah beri Vote buat Ghina dan Om Edward, terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🤗🤗😘😘😘.
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1