
"Nak......duduk sini sayang,” pinta mama Sarah, menunjuk sofa di samping mama Sarah dan oma Ratna duduk.
Ghina mendudukkan bokongnya di sofa tersebut.
Mama Sarah sebelum membuka pembicaraan sesaat melirik ke arah Oma Ratna, lalu kepala Oma mengangguk.
“Ghina, mama mau tanya hal yang mungkin sedikit sensitif buat kamu?”
“Tanya apa Mam?” sedikit berdebar jantung gadis itu.
“Ghina, kamu sama Edward sudah pernah melakukan hubungan suami istri belum, hubungan intim, maksud mama?”
Ghina meremas ujung kaosnya, dan menatap Mama Sarah lalu ke Oma Ratna, pertanyaan yang begitu sensitif buat gadis itu.
“Belum pernah,” Ghina menundukkan kepalanya. Gadis itu hanya pernah dicium bibirnya oleh pria itu, bisa di hitung sebanyak dua kali seingat gadis itu. Tapi gadis itu tidak pernah tahu jika pria itu pernah mencuri bibirnya mengecupnya dengan lama serta begitu bergairah.
Oma Ratna menutup mulutnya dengan salah satunya tangannya, sangking kagetnya.
“Jadi kamu, masih perawan?” tanya Oma Ratna untuk menyakinkan dirinya sendiri.
“Iya Oma, Ghina sama Om Edward belum pernah melakukannya. Memangnya kenapa Oma, Mam?” tanya balik Ghina.
“Hanya untuk memastikan keadaan kamu....Nak, bukankan kalian berdua akan bercerai. Jadi kalau kamu tiba-tiba hamil, akan sulit untuk mengurus perceraian. Karena akan ada anak di antara kalian berdua, dan harus berpikir ulang masalah perceraian kalian berdua” ujar Oma Ratna.
Janda tapi perawan.......batin Mama Sarah dan Oma Ratna ingin menangis rasanya.
Gadis usia 17 tahun yang akan menginjak usia 18 tahun, tapi akan berstatus janda di usia mudanya. Sungguh takdir begitu kejam pada dirinya.
“Nak........boleh Oma bertanya lagi?” tanya Oma Ratna.
“Boleh Oma,” Ghina menganggukkan kepalanya.
“Ghina ada rasa suka tidak sama Edward?” Tanya Oma penuh ke hati-hatian.
Ghina menatap wajah Oma Ratna yang berstatus ibu mertuanya dengan seksama. “Bolehkah Ghina, tidak menjawabnya pertanyaan ini Oma,” jawab Ghina dengan senyum tipisnya.
Masalah suka atau tidak suka cukup waktu itu Ghina mengungkapkannya ke Ria, tidak perlu mengumbar rasa yang pernah menghampirinya ke banyak orang. Cukup pemberhentiannya di Ria. Mengungkitnya kembali, sama saja gadis itu akan selalu teringat dengan pria itu. Biarlah rasa itu di simpan sendiri, dan biarlah rasa itu sendiri terkikis dengan berjalannya waktu.
“Baiklah, Oma tidak akan bertanya lagi......maafkan Oma ya nak.”
“Nggak pa-pa Oma.”
“Sepertinya sebentar lagi waktunya makan siang, sebaiknya kita turun ke bawah yuk. Tadi pagi Oma sempat pesan ke pihak hotel untuk mengantarkan makan siang kita di sini. Pasti makanannya sudah datang,” ajak Oma Ratna, sekalian menghilangkan rasa canggung yang mulai menghampiri, gara gara pertanyaan menyangkut isi hati.
__ADS_1
“Yuk Nak, kita ke bawah,” ajak Mama Sarah.
“YA mam, Oma....”
🌹🌹
Mansion Edward
Pagi di mansion Edward, terlihat Edward menyantap sarapan paginya seorang diri di ruang makan.
Sepertinya Kiren masih terlelap dalam tidurnya atau sengaja menghindari Edward. Tapi justru dengan tidak ada Kiren, Edward menyantap sarapannya dengan nyaman.
Pak Jaka dan Ferdi sudah menyiapkan kebutuhannya pagi ini, jadi tidak terlalu sulit untuk Edward.
Sambil menyantap sarapan paginya, Edward kembali menelepon Ria. Pria itu berharap Ria bisa di hubungi, sungguh dari semalam pria itu tidak bisa memejamkan matanya, pikirannya gelisah tak menentu, karena tidak bisa menghubungi Ria, sedangkan nomor handphone Ghina, pria itu tidak punya.
Tut.......Tut.......Tut
Kembali tidak bisa dihubungi telepon Ria.
Edward buru-buru menghabiskan sarapannya. Pria itu sudah memutuskan kalau pagi ini akan ke mansion utama, untuk melihat kondisi istri pertamanya. Hati pria itu terasa ada yang menganjal, seperti akan terjadi sesuatu.
“Ferdi siapkan mobil, pagi ini saya ingin ke mansion utama, mau menjenguk istri saya,” perintah Edward.
Selesai sarapan, Edward bergegas ke luar menuju mobil yang sudah berada di luar lobby.
“Ferdi, kita mampir ke toko bunga dan toko kue dulu sebelum ke mansion utama,” perintah Edward.
“Baik Tuan,” Ferdi segera mengarahkan ke sopir ke toko bunga terlebih dahulu baru ke toko kue.
Sekitar tiga puluh menit, mobil Edward sudah terparkir di depan toko bunga, pria itu bergegas masuk ke dalam toko lantas langsung memilih bunga tulip warna merah, selama menunggu pelayan menyiapkan buket bunga pesanannya, pria itu selalu melirik jam tangannya, seakan waktu begitu berjalan lambat.
“Silahkan ini buket bunganya Pak, terima kasih atas pembelanjaannya,” ucap pelayan toko bunga.
“Ya...” jawaban singkat pria itu, kemudian bergegas masuk ke dalam mobil.”
Sopir mobil pun segera melanjutkan perjalanannya menuju ke toko kue, sesuai petunjuk Tuan Besarnya.
.
Tak berselang lama mobil Edward sudah sampai di depan toko kue. Dan kembali Edward masuk ke dalam toko dan memilihnya kue untuk istri pertamanya.
Edward mengulum senyum ketika melihat cake red velvet yang terpajang di dalam etalase, pria itu teringat saat gadis kecil itu begitu menikmati makan sepotong cake red velvet saat acara ulang tahun papanya.
__ADS_1
“Pasti istriku suka cake ini ya...” gumam Edward.
“Mbak, saya mau satu cake red velvet nya. Tolong kasih ucapan di atas cakenya,” pinta Edward.
“Mau ditulis apa, Pak?” tanya pelayan toko kue.”
“I Love you, istriku,” jawab Edward.
Si mbak pelayan toko kue, pipinya merah merona mendengar ucapan Edward.
Duh bapak ini udah ganteng, romantis banget sama istrinya......jadi pengen....
“Cepetan ya mbak,” tegur Edward.
“OH iya Pak, tunggu sebentar.” Pelayan toko kue bergegas mengemas cake pilihan Edward.
Kelar sudah urusan beli bunga dan kue untuk Ghina, Edward tersenyum puas melihat barang yang dibelinya untuk Ghina.
Mobil mewah Edward melaju ke mansion utama, hati Edward mulai berdebar-debar, seperti anak muda yang akan ke rumah kekasihnya.
Dalam waktu empat puluh lima menit, mobil Edward sudah sampai di depan gerbang mansion utama.
Ferdi segera turun dari mobil untuk ke pos security.
“Pak Budi, Tuan Edward ingin berkunjung,” ucap Ferdi.
Budi si security yang sudah diberi pesan oleh Opa Thalib, jika kedatangan Edward selama beliau tidak ada, di persilahkan masuk ke dalam mansion utama.
“Baik Pak Ferdi,” jawab Budi, langsung memencet tombol buka gerbang mansion.
Gerbang mansion dibuka , mobil Edward langsung masuk dan berhenti di depan lobby mansion utama.
Sebenarnya Ferdi agak heran, kenapa hari ini mereka mudah masuk ke mansion utama, sedangkan dua hari yang lalu mereka tidak diizinkan masuk. Hanya bisa menunggu di gerbang mansion.
Pak Irwan selaku Kepala Pelayan menyambut kedatangan anak Tuan Besarnya, di luar lobby mansion.
Edward dengan gagahnya, membawa buket bunga dan kotak cake, melangkah masuk ke dalam mansion utama. Pak Irwan dan Ferdi mengikuti langkah kaki Tuannya dari belakang.
.
.
Terima Kasih untuk Kakak Readera yang masih setia membaca novel ini, terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🙏
__ADS_1
Love you sekebon 🌹🌹🌹