
Jakarta
Ghina selama empat tahun lebih tidak pernah kakinya ke Jakarta, sekarang wanita itu kembali menginjakkan kakinya di kota kelahirannya.
Mobil keluarga Opa Thalib sudah menjemput mereka berempat di bandara Halim, Edward dan Ghina saling bergandengan tangan semenjak keluar dari pesawat, hingga masuk ke dalam mobil.
“Sayang, istirahatlah. Nanti kalau sudah sampai akan aku bangunkan,” ucap Edward.
“Tadi di pesawat sudah tidur sebentar hubby, masa sekarang harus tidur lagi. Lagi pula aku udah lama tidak lihat kota Jakarta, jadi pengen lihat di sepanjang jalan,” pinta Ghina.
“Ya sudah terserah sayang aja, aku hanya khawatir nanti kamu kelelahan.”
“Gak kok hubby,” Ghina menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, dan matanya menatap pemandangan keluar jendela mobil selama perjalanan menuju mansion utama. Belaian lembut dari tangan Edward di rambut Ghina, membuat dirinya terbuai akan sentuhan Edward.
Welcome Jakarta........batin Ghina
Selama satu jam perjalanan menuju mansion utama, akhirnya sampai di tujuan dengan selamat. Sesaat Ghina tersenyum.melihat tampak luar mansion utama yang tidak banyak berubah. Dan kembali mengingatkan dirinya bertemu dengan suaminya, pertama kali di mansion utama.
“Assalamualaikum,” sapa Edward dan Ghina serempak ketika masuk ke dalam mansion.
“Walaikumsalam,” jawab Celia dan Derby adik Edward yang ternyata berada di mansion utama.
“Apakabarnya pengantin baru?” Derby dan Celia cipika cipiki bergantian dengan Edward dan Ghina.
“Alhamdulillah baik Tante Derby, Tante Celia,” jawab Ghina.
“Hush.........kok panggilnya tante, cukup namanya, Ghina kan sekarang kak ipar kami berdua,” goda Derby.
“Tapi gak enak......gimana panggil Kak Derby sama Kak Celia, karena kan lebih tua dari saya,” pinta Ghina, kepada kedua adik Edward.
“Ya sudah terserah kamu aja, asal jangan panggil kita berdua tante,” pinta Celia.
“Mama sama Papa di mana, Derby?” tanya Edward.
“Ada di kamar kak.”
“Kita ke kamar mama dan papa, sayang.”
“Iya hubby, kak Derby ...kak Celia...kami tinggal dulu ya.”
__ADS_1
“Iya Ghina.....”
🌹🌹
“Assalamualaikum mama, papa,” sapa Edward, ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar orang tuanya. Terlihat Oma Ratna sedang duduk bersandar di head board ranjang.
“Walaikumsalam Edward, Ghina.....akhirnya sampai juga,” jawab Opa Thalib.
Edward dan Ghina mencium punggung tangan Opa Thalib dan Oma Ratna secara bergantian.
“Bagaimana keadaan Oma?” tanya Ghina, wanita itu lansung duduk di tepi ranjang, dekat Oma Ratna berbaring.
“Oma hanya kelelahan saja, dan sedikit naik tensinya. Gara-gara selalu kepikiran kamu sama Edward,” ujar Opa Thalib.
“Kamu baik-baik sajakan sama Edward, tidak di siksa lagi kan?” tanya Oma Ratna dengan mimik seriusnya.
“Baik-baik saja Oma, hubby sudah berubah kok,” jawab Ghina sambil mengulum senyum tipisnya.
“Alhamdulillah, Oma sempat khawatir, ke pikiran mengingat kejadian dulu. Apalagi kalian berdua tidak ada di Jakarta, dan harus menunggu kalian honeymoon baru balik ke Jakarta.”
Edward turut duduk di samping Ghina, lalu memeluk istrinya dari belakang. ”Mama jangan khawatir, saya tidak akan menyakiti Ghina, justru sangat mencintai istriku ini. Sekarang mama harus cepat sembuh dan sehat. Kami berdua akan di sini temanin mama sampai sembuh, betulkan sayang?”
“Iya Oma, saya sama hubby Akan menginap di sini sampai Oma sembuh,” Ghina menyetujui keinginan suaminya.
“Doain ya mah, Edward sama Ghina lagi progam......biar ada si calon dede di sini,” Edward mengelus lembut perut rata istrinya, bibirnya mengukir senyum hangat ke istrinya.
“Amin mama doakan, mam jadi gak sabar pengen lihat cucu made Edward dan Ghina,” Oma Ratna mulai tersenyum.
“Papa juga gak sabar, semoga dalam tahun ini mansion papa segera ada cucu dari putra pertama papa, calon penerus Grup Thalib," sahut Opa Thalib.
“Amin.....,” serempak Edward dan Ghina berucap.
Semoga ada segera di ijabah doa Opa Thalib dan Oma Ratna.
Terkadang orang tua sakit bukan karena penyakit yang dideranya, tapi pikiran yang tak tenang, memikirkan keadaan anak-anaknya walau anak mereka sudah dewasa dan memiliki keluarga sendiri, itulah yang di rasakan oleh Oma Ratna.
Setelah melihat langsung keadaan anaknya sendiri, barulah wanita tua itu mulai tenang pikirannya.
Oma Ratna sekarang tidak meragukan lagi sikap Edward terhadap Ghina, putranya sudah mulai bersikap lembut dan baik dengan istrinya serta tatapan penuh cinta tertangkap oleh Oma Ratna. Sekarang Oma Ratna dan Opa Thalib bisa bernapas lega.
__ADS_1
“Oma, Ghina bawa cake kesukaan Oma......Ghina ambilkan dulu ya,” wanita itu segera beranjak dari duduknya.
“Sayang, kamu tinggal telepon pakai interkom. Minta Ria antar cakenya ke kamar. Kamu jangan capek-capek, sayang......ingat itu,” pinta Edward.
“Iya hubby, aku lupa kalau ada interkom,” Ghina segera menghubungi bagian dapur untuk membawakan cake.
Edward dan Opa Thalib sudah mulai membahas masalah perusahaan, sedangkan Ghina sama Oma Ratna lagi bahas artis yang lagi viral beritanya tentang kdrt, yang sangat menghebohkan seantero Indonesia.
“Setiap berumah tangga pasti ada masalah, tidak selamanya rukun. Seperti kamu sama Edward, hanya kalian yang tahu urusan dapur sendiri. Untuk ke depannya jadikan pelajaran buat kamu nak tentang masa lalu kalian berdua, apalagi jika nanti ada anak. Hadapi setiap masalah dengan kepala dingin jangan sampai terbawa emosi, hingga bisa berakibat fatal,” nasehat Oma Ratna, Edward pun mendengar nasehat dari Oma Ratna.
“Iya mah, Edward akan selalu ingat pesan mama,” sahut Edward.
TOK......TOK........TOK
“Permisi Tuan, Nyonya mau antar cake nya,” ujar Ria.
“Masuk mbak Ria,” pinta Ghina, wanita itu segera menghampiri Ria untuk mengambil cake yang di bawa Ria di atas nampannya.
“Nah ini Oma, di cobaiin cakenya,” pinta Ghina sambil menyodorkan piring cake.
“Wah pasti ini cakenya enak sekali,” Oma Ratna tak sabar mencicipinya.
“Hubby sama Opa mau juga gak cakenya?” Tawar Ghina.
“Boleh nak, sepotong aja,” pinta Opa Thalib, Ghina langsung memberikan cakenya, kemudian cake untuk Edward.
Menikmati cake di sore hari sambil berbincang hangat dengan orang tua. Perhatian kecil seperti ini yang dibutuhkan oleh orang tua seusia Opa Thalib dan Oma Ratna, anak-anak mereka meluangkan waktunya di masa tua mereka, walau hanya sekedar ngomongin gosip sambil ngemil.
Orang tua yang sudah sepuh tidak butuh di belikan barang mewah, mereka hanya minta sedikit waktu dan perhatian dari anaknya untuk mereka. Mengingatkan ketika anak mereka masih kecil, anak mereka sangat membutuhkan waktu kedua orang tuanya, untuk menemani berbicara dan main bersama. Vase kehidupan setiap manusia mengalami perubahan, dan itu nyata adanya tanpa rekayasa.
bersambung
Halo Kakak Reader yang cantik dan ganteng, terima kasih atas dukungannya sudah mengikuti kisah Ghina dan Edward. Tanpa dukungan kakak readers tak ada artinya novel ini.
Dan mohon maaf kalau agak slow up ya, waktunya sedang terbagi dengan real life 😊.
__ADS_1
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹