
Edward terlihat gagah dan semakin tampan dengan setelan jas warna hitamnya di padu dengan kemeja putihnya. Pria itu menatap dirinya di cermin, sambil merapikan jasnya. Hati pria itu terasa berdebar-debar menanti waktunya untuk ijab kabul kembali, dengan wanita yang dia cintainya.
“Mobil sudah siap Tuan,” ujar Ferdi.
“OK, kita ke bawah.....”
Edward dan Ferdi jalan beriringan menuju lobby hotel, Opa Thalib dan beberapa petinggi hotel menunggu sang pengantin pria di lobby. Papa Zakaria sudah duluan ke rumah sakit.
“Bismillah, semoga di lancarkan,” gumam Edward sendiri, menghilangkan rasa groginya.
Mobil mewah yang ditumpangi Edward meninggalkan hotel, menuju rumah sakit tempat Ghina di rawat.
Sedangkan di rumah sakit, sang pengantin wanita sudah terlihat cantik menggunakan dress lace berwarna putih, itu pun butuh perjuangan saat mengganti baju. Para perawat dengan hati-hati menggantikan Ghina baju, agar cedera otot punggung tidak semakin parah, serta tangan yang ada infusnya.
Dengan make up natural andalan Ghina, terlihat semakin cantik sang pengantin wanita walau di kepalanya ada perban. Hati sang pengantin wanita mulai berdebar-debar menanti kedatangan pengantin prianya. Kini wanita cantik itu duduk di atas ranjangnya.
Tidak ada yang menduga tentang masa depan, begitu juga dengan wanita yang sedang duduk di atas ranjang, menatapi dekorasi bunga mawar putih yang memenuhi ruang rawatnya. Sekarang wanita itu akan menikah lagi dengan pria yang sama, yang pernah menikahinya empat tahun lalu.
“Pengantin pria sudah datang,” ucap Ferdi pemberitahuan dari luar kamar, agar yang di dalam kamar bersiap-siap.
Papa Zakaria dan Mama Sarah serta Oma Ratna menyambut kedatangan Edward beserta Opa Thalib dan tentu saja penghulunya. Dan beberapa petinggi hotel yang di undang Opa Thalib. Serta dokter yang merawat Ghina turut hadir juga.
Ketika masuk ruang rawat, yang pertama Edward cari adalah Ghina, pria itu tersenyum hangat melihat Ghina yang sangat cantik dengan dress piilihannya. Ghina membalasnya dengan senyum hangatnya juga, melihat sosok suaminya yang begitu tampan.
Tatapan mata Edward hampir sama ketika pria itu menikahi Ghina empat tahun lalu, tatapan kagum terpesona dengan sang pengantin wanita. Sekarang terpancar lagi di kedua netra pria itu, ingin rasanya segera menarik wanita itu agar lebih dekat dengan dirinya.
“Pengantin wanitanya tetap duduk di ranjang atau bisa duduk di samping pengantin laki-laki?” Tanya pak penghulu sebelum acara akad di mulai.
“Honey, mau duduk di sini?” tanya Edward, sambil menunjukkan bangku dan meja yang sudah di siapkan untuk acara akad nikah.
“Mau Om Edward,” jawab Ghina, sambil merentangkan kedua tangannya ke arah Edward.
“Istriku cantik sekali.....,” bisik Edward, ketika ingin mengangkat tubuh Ghina, wanita itu kemudian merangkul leher Edward, sedangkan Mama Sarah membawa tiang infusannya, selagi Ghina di gendong Edward menuju bangku yang telah di siapkan.
Ghina hanya bisa tersenyum tipis ketika mendengar kata pujian dari Edward.
“Bisa kita mulai acara akad nikahnya?” Tanya pak penghulu.
__ADS_1
“Silahkan di mulai,” jawab Papa Zakaria.
Edward dan Ghina sekarang sudah duduk di hadapan pak penghulu dan papa Zakaria.
Pak penghulu memulai acara akad nikahnya dengan doa pembukaan, serta sepatah dua kata sebagai pengantar sebelum ijab kabul.
Pak penghulu mulai mengarahkan Papa Zakaria dan Edward untuk saling berjabat tangan.
“Saya nikahkan engkau dan kawinkan engkau dengan putriku Ghina Farahditya dengan mas kawin uang sebesar satu milyar dan cincin berlian dibayar tunai."
“Saya terima nikah dan kawinnya Ghina Farahditya binti Zakaria dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Dengan sekali tarikan napas Edward mengucapkan ijab kabul.
“Bagaimana SAH?” tanya pak penghulu.
SAH
SAH
Jawab serempak yang berada di dalam ruang rawat.
Hati Edward sudah lega, wajah pria tampan itu terlihat berseri-seri, menatap penuh kehangatan pada wanita yang sekarang benar-benar sah kembali.
Edward meraih tangan kanan Ghina, ”jangan pernah melepas cincin nikah ini untuk kedua kalinya, aku mohon,” ucap Edward, menyematkan cincin nikah Ghina yang sempat di lepaskannya.
Edward melabuhkan kecupan hangat di kening Ghina, kemudian mengecup sebentar bibir istrinya. “I love you, my wife Ghina Farahditya. Ghina hanya mengulum senyum di bibirnya.
“Selamat ya Edward, Ghina jadi pengantin baru, jangan lupa bikinin mama cucu yang banyak,” goda Oma Ratna sambil mengedipkan salah satu matanya.
“AH.......Oma,” jawab malu Ghina.
“Selamat ya Ghina, Edward, kalian berdua sekarang memasuki rumah tangga yang sesungguhnya, jadilah pasangan yang saling jujur dan terbuka, saling mengasihi dan saling mencintai sampai maut memisahkan kalian berdua. Dan menjadi keluarga SAMAWA,” ujar Mama Sarah.
“Makasih mam,” ujar Ghina.
“Terima kasih Kak Sarah,” balas Edward.
Acara akad nikah Edward dan Ghina memang tidak mengundang banyak orang, tapi tetap menyediakan prasmanan untuk yang turut hadir di acara akad nikah tersebut. Acara akad nikah selesai, dilanjut acara makan malam bersama.
Edward kembali mengangkat Ghina ke atas ranjang, kemudian mengambilkan makanan untuk istrinya.
__ADS_1
Kini pria itu sudah duduk di tepi ranjang dengan sepiring nasi di tangannya,” Makan dulu ya......,” pinta Edward.
“Aku makan sendiri aja Om. Biar Om bisa temani tamu buat makan bersama,” pinta Ghina.
“Sudah ada papa yang menemani, istriku. Sekarang biarkan aku suapi kamu makan, karena dokter sudah kasih tahu.....honey harus minum obat setelah ini.”
“Ya sudah....,” pasrah Ghina membuka mulutnya menerima suapan dari suaminya.
“Istriku cantik sekali sih......,” puji Edward, yang masih saja terpesona dengan istrinya.
“Baru sadar ya Om kalau aku tuh cantik dari dulu,” balas Ghina.
“Iya .....aku telat menyadarinya. Tapi sekarang kamu adalah milikku satu-satunya, dan tidak akan bisa pergi lagi dariku,” ucap Edward dengan senyum hangatnya.
“Tergantung, kalau Om jahat lagi,........ya aku pergi lah,” balas Ghina.
“NO....!” Edward mencondongkan dirinya lebih dekat ke Ghina, kemudian langsung mengecup leher istrinya.
“Astaga.......Om malu, banyak orang!” Ghina terkejut menerima kecupan Edward di lehernya.
“Biarkan saja,” jawab asal Edward, pria itu kembali menyuapi istrinya sampai isi piring habis tanpa sisa.
Edward sepertinya senang sekali setelah berhasil menggoda istrinya, yang sekarang tampak cemberut di wajah wanita itu.
“Aku makan dulunya, nanti balik ke sini lagi,” ujar Edward.
“YA.........,” jawab ketus Ghina.
Edward memajukan wajahnya. "Kalau honey marah, bikin aku bergairah, “ bisik Edward, lalu menggigit kecil daun telinga Ghina.
Wajah Ghina kembali merah merona, ketika menerima bisikan lembut dan gigitan kecil dari suaminya. Edward mengedipkan salah satu matanya, dan beranjak dari duduknya.
“Astaga Om Edward.........” gumam Ghina sendiri.
.
next.......sabar ya Om Edward 🤭
__ADS_1