Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Bertemu untuk bertengkar


__ADS_3

"Kembalikan laporannya ke saya, akan saya antar, sekarang kamu ke ruang meeting dulu.....tolong gantikan saya rapat dengan para vendor. Catat point-point pentingnya, jika urusan laporan ini cepat selesai, saya akan menyusul ke ruang meeting,” pinta Ghina.


“Baik mbak Ghina, siap dilaksanakan. Sebelumnya terima kasih mbak, oh ya satu lagi mbak.....hati-hati menghadapi Pak Presdirnya, kayaknya orangnya galak,” peringatan dari Nia.


“Ya Nia, akan saya ingat tentang itu,” jawab Ghina, teringat akan kejadian empat tahun yang lalu.


Dia tidak hanya galak Nia, tapi juga kejam.........


“Sudah sana cepat ke ruang meeting,” pinta Ghina.


“Oke Bu Bos,” jawab Nia, lantas meninggalkan ruang Ghina.


“Apa yang sebenarnya yang kamu inginkan!” gumam Ghina sendiri, dengan memegang berkas di tangannya.


Dengan hentakan sepatu high heelsnya, wanita itu melangkah dengan mantap dan percaya diri untuk mengantarkan berkas laporan keuangan sesuai perintah Presdirnya, menuju kamar pria itu.


Sekarang wanita itu sudah berdiri di depan pintu kamar suite president, tempat menginap Presdir Hotel A.


Wanita itu segera memencet tombol bel.......


Ceklek........


Suara kenop pintu terbuka, terlihatlah pria tampan membukakan pintu kamar.


Sesaat Ghina dan Edward saling bertatapan, dalam waktu satu menit


“Permisi Pak Edward, saya ingin menyerahkan laporan keuangan yang sempat Bapak tolak, saat asisten saya mengantarnya,” tegas Ghina.


“Wajar saya menolaknya, saya tadi bilang kamu yang antar laporan tersebut ke kamar saya,” balik tegas Edward.


“Maaf Pak Edward, kalau saya kurang paham ucapan bapak saat di lobby. Se pendengaran saya, bapak hanya minta laporan dan antar ke kamar, dan tidak menyebutkan nama siapa yang mengantarnya. Berarti siapa pun bisa mengantarnya!” masih lembut bicaranya dan sopan.


“Seharusnya kalau sudah selevel manajer, tanpa di sebutkan......harusnya sudah paham maksud dari perintah Presdir!”


Sabar........sabar........batin Ghina.


“Kalau begitu maafkan saya atas ke tidak pahaman saya atas ucapan Pak Edward, mungkin di mata Pak Edward, saya kurang pantas menjabat level manajer,” jawab Ghina merendah.


“Tapi sungguh tidak pantas seorang Presdir gara-gara orang berniat baik mengantarkan berkas laporan, di ancam akan di pecat sekarang juga!” mulai lantang  suara Ghina, dan sorot matanya mulai menajam.


“Itu hak saya sebagai Presdir untuk memecat karyawan saya, tanpa ada yang bisa membantah!” seru Edward.

__ADS_1


“Pak Edward benar-benar Presdir yang tidak punya hati dan kejam, ternyata!” jawab lantang Ghina.


“AAAKKH.........,” pekik Ghina, tangannya sudah di tarik Edward masuk ke dalam kamar.


BRAK.....


Suara pintu kamar yang di banting Edward dengan kencangnya.


Tubuh Ghina di dorongnya ke dinding, kemudian di himpitnya wanita itu dengan tubuh besarnya. Deru napasnya terdengar jelas di telinga Ghina. Mereka saling bertatap, dengan tatapan tajam masing-masing.


“Kamu tahu tidak Ghina, siapa yang paling kejam antara kita berdua?” tanya Edward dengan dada yang terlihat turun naik, saat tubuhnya menghimpit tubuh Ghina.


“Pak Edwardlah yang paling kejam,” ujar sarkas Ghina, dengan beraninya membalas tatapan tajam pria yang mengurung tubuhnya.


“Kamulah yang paling kejam.......Ghina. Kamu meninggalkan saya!! Saya janji akan menjemputmu....tapi kamu pergi!! Saya terbaring koma, tapi kamu tidak ada di sisiku!! Saya merindukanmu.......tapi lagi lagi saya menahannya sendiri. Kamulah wanita yang paling kejam. Saya sangat merindukanmu!!” ucap Edward, kedua netranya menatap lekat-lekat wajah wanita cantik itu.


Salah satu tangan Edward mulai menyentuh wajah Ghina, akan tetapi langsung ditepis oleh wanita itu.”Jangan lancang tangannya Pak Edward!” tukas Ghina, sambil mencoba keluar dari himpitan dari Edward.


“Kamu tidak akan bisa pergi lagi dari saya.......Ghina,” Edward langsung merangkul pinggang Ghina erat-erat, setelah sempat merasakan pergerakan tubuh Ghina.


“Lepasin Pak.......lepasin......Om Edward!” pekik Ghina mulai meronta-ronta dalam pelukan Edward.


“Pak Edward benar-benar egois, ternyata masih belum berubah!” pekik Ghina. Merasa Edward tidak melepaskan pelukannya, terpaksa Ghina.......


BRAK.......!!, tanpa sengaja Ghina membanting pintu kamar.


“Damn......” umpat Edward, sambil melihat lengan kemejanya sudah ada darah bekas gigitan kuat dari Ghina.


Ghina yang sudah keluar dari kamar Edward, berlari kecil menuju ruangannya.


“Untung selamat.....” gumam Ghina sendiri, dengan memegang dadanya yang terasa berdebar-debar.


“Mbak Ghina, sudah di tunggu tamunya mbak,” ucap Vivi salah satu staf finance, ketika Ghina baru mau masuk ke ruangannya.


“Oh iya......makasih Vivi,” jawab Ghina, kemudian masuk ke ruangannya sebentar untuk merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, serta meneguk air minum untuk meredakan debaran jantungnya. Lanjut keluar menuju ruang meeting.


Sedangkan di kamar Edward, terlihat Ferdi sedang mengobati gigitan Ghina di lengan Tuannya.


“Wiih ganas juga gigitan non Ghina,” ujar Ferdi, sambil mengolesi obat.


“Non...non....bukan non tapi nyonya...!” ketus Edward.

__ADS_1


“Oooh....maaf tuan kebiasaan panggilnya Non,” jawab Ferdi.


“Ferdi, agenda perjalanan sana dibatalkan dulu sementara. Saya akan stay di sini, dan bekerja di sini. Istri saya ada di sini, tidak mungkin saya tinggalkan.”


“Maksud Tuan, kita pindah ke Yogyakarta?” tanya Ferdi.


“Ya......kita pindah ke sini, dan berkantor di sini. Kamu pahamkan!” ucap Edward, tidak ingin di bantah.


“Iya Tuan........ paham.”


“Nanti kamu koordinasi dengan Pak Jaka untuk mengirim pakaian saya dan pakaian kamu.”


“Baik Tuan......”


“Saya akan mengejar istriku.......Ghina Farahditya,” gumam Edward sambil tersenyum tipis, walau lengannya dapat gigitan, paling tidak pria itu sudah berhasil memeluk Ghina.


“Semoga berhasil Tuan Besar, kejar Nyonya Ghina,” sahut Ferdi.


“Harus berhasil,” ucap yakin Edward.


🌹🌹


Jam 13.00 wib


Berdasarkan agenda yang sudah di infokan sebelumnya, jika akan ada rapat semua manajer dengan presdir hotel. Semua sudah berkumpul di ruang meeting begitu pun juga Edward selaku presdir yang di dampingi Ferdi. Tapi ada satu manajer yang belum hadir di ruang meeting, yaitu manajer keuangan.......Ghina.


“Pak Yoga, siapa lagi yang belum hadir di ruangan rapat ini,” tegur Edward kepada direktur hotelnya, dengan wajah dinginnya.


“Maaf Pak Presdir, mbak Ghina belum selesai rapat dengan beberapa Vendor, jadi agak telat mengikuti rapat di sini. Jadi sebaiknya kita bisa mulai saja Pak, tanpa menunggu mbak Ghina,” jawab Yoga.


BRAK !!!


Tangan Edward menggebrak meja, membuat para manajer yang lain tersentak, kaget.


“Kalau kerja itu harus profesional jangan sering telat saat akan rapat, hal kecil ini saja di sepelekan. Bagaimana kalau ada hal yang lebih genting,” tegur Edward dengan suara lantangnya di ruang meeting.


“Siapa yang tidak profesional, saya hanya telat lima menit. Karena menyelesaikan pekerjaan yang genting demi kelangsungan kegiatan hotel ini, bukan untuk kepentingan pribadi saya, Pak Presdir yang terhormat,” sahut Ghina dengan suara lantangnya.


Wanita itu sangat yakin, jika teguran yang dia dengar saat mau masuk ruang rapat untuk dirinya. Karena hanya dia yang telat hadir.


Edward beranjak dari duduknya, dan menatap Ghina yang masih berdiri di depan pintu dengan tajam. Begitu pun Ghina membalas tatapan Edward penuh api yang membara.

__ADS_1


 


 


__ADS_2