Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Bukalah matamu


__ADS_3

Jakarta


Jam 19.30 wib


Jet pribadi milik Opa Thalib sudah mendarat dengan selamat. Hati Ghina semakin berdebar-debar, ketika pesawat yang di tumpangi sudah mendarat di Bandar Halim Perdana Kusuma.


Dengan langkah cepatnya Ghina bergegas keluar dari pesawat, tampak dari jauh sudah ada sosok Papa Zakaria yang di temani salah satu ajudan Opa Thalib.


“Papa,” sapa Ghina sembari memberi salam takzim.


“Alhamdulillah kamu sampai dengan selamat,” ucap papa Zakaria.


Ajudan Opa Thalib langsung mengambil alih tentengan tas yang di pegang Ghina, untuk di bawanya.


“Pah, ada apa sebenarnya?” tanya Ghina sambil menyejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki papanya.


“Kita ke mobil dulu, nanti papa akan ceritakan,” jawab Papa Zakaria.


Ghina dan Papa Zakaria bergegas masuk mobil yang telah di sediakan Opa Thalib untuk menjemput Ghina. Selepas mereka masuk, sopir melajukan mobilnya dan meninggalkan bandara.


“Nak, Papa terpaksa menyuruh kamu ke Jakarta karena Opa Thalib,” Papa Zakaria mulai membuka pembicaraan di dalam mobil.


“Ada apa dengan Opa, Pah?” tanya Ghina, dengan tatapan yang menyelidik.


“Opa Thalib tertimpa musibah.”


“Innanillahi......, musibah apa Pah....semoga bukan musibah yang berat.”


Papa Zakaria menatap wajah putrinya...”Edward, sedang kritis di rumah sakit...!”


DEG........DEG........DEG


Ghina bergeming, seketika bibirnya terkatup, tertutup rapat. Akhirnya gadis itu tahu apa penyebab dirinya harus datang ke Jakarta secepat mungkin.


“Opa Thalib, minta kamu menjenguk Edward, walau hanya sebentar. Itu pun jika kamu mau menemuinya. Papa dan mama tadi sore sudah ke sana, dan memang betul Edward sedang kritis,” jelas Papa Zakaria.


Sesaat Ghina mengalihkan pandangan dari papanya ke jendela, melihat jalanan.


Mendengar kata Edward sedang kritis, seketika itu juga dirinya shock. Tidak mampu untuk bertanya kenapa bisa terjadi, hanya diam yang gadis itu lakukan.


“Papa tahu kamu ingin bercerai dengan Edward, dan itu sudah Opa Thalib urus. Sekarang kamu diminta datang oleh Opa Thalib, hanya untuk menjenguknya saja tidak meminta lebih, Ghina. Kami tetap mendukung keputusan kamu,” Papa Zakaria meraih tangan Ghina, dan menepuk lembut punggung tangannya.


“Baiklah Ghina akan menjenguknya,” jawab Ghina pelan.

__ADS_1


“Terima kasih nak,” balas Papa Zakaria.


Ghina kembali menatap ke jendela mobil, seakan pemandangan di luar menjadi penghiburnya sesaat.


Empat puluh lima menit kemudian, mobil yang membawa Ghina dan Papa Zakaria sudah tiba di lobby rumah sakit A.


Ghina masih mencoba menetralkan detak jantungnya, semakin tiba di rumah sakit, semakin berdebar-debar detak jantungnya.


“Ayo Nak kita masuk, jangan diam aja,” tegur Papa Zakaria, yang melihat anaknya masih berdiri di luar lobby rumah sakit.


“Hufft.........” Ghina menghela napas panjangnya, dan melanjutkan langkah kakinya. Tatapan gadis itu datar, tanpa ekspresi, yang biasanya tersenyum ramah, kali ini senyum ramahnya menghilang entah ke mana.


🌹🌹


Ruang ICU


Opa Thalib, Oma Ratna dan Mama Sarah terlihat sedang duduk di bangku tunggu depan ruang ICU.


“Opa, Oma, Mama........” sapa Ghina sambil salam takzim ke mereka semua.


“Ghina.....” Oma Ratna langsung memeluk Ghina dan kembali mengurai air mata. Ghina hanya bisa mengelus lembut punggung Oma Ratna  yang terlihat rapuh.


“Ghina, tolong maafkan Edward.......hiks...hiks,” ucap Oma Ratna masih memeluk Ghina.


“Iya Oma, Ghina sudah memaafkan Om Edward,” jawab Ghina pelan, lalu mengurai pelukan Oma Ratna.


“Iya Opa,” jawab Ghina.


“Duduk dulu nak, pasti kamu lelah di perjalanan,” ucap Mama Sarah, sambil memberikan sebotol air mineral.


“Makasih Mam,” Ghina menerima botol tersebut, dan meminumnya.


Ghina menatap pintu ruang ICU dan sepertinya kaca yang biasa bisa melihat pasien dari luar, sudah ditutup dengan kain gorden.


“Ghina, boleh Opa minta tolong?” tanya Opa Thalib.


“Minta tolong apa Opa?”


“Ghina bisa masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat Edward sebentar,” pinta Opa Thalib dengan nada yang hati-hati sekali. Dengan permintaan ini, Opa Thalib berharap ada keajaiban pada diri Edward, walau hanya sekedar harapan kecil.


Ghina diam sejenak, memikirkan sesaat. Mungkin alangkah baiknya dia menemuinya sebentar, menyingkirkan rasa sakit hatinya sesaat.


“Baik Opa, Ghina akan masuk ke dalam sebentar,” jawab Ghina.

__ADS_1


“Terima kasih banyak nak, sekarang kita menemui dokter jaga dulu, untuk bisa masuk ke ruang ICU,” balas Opa Thalib.


“Ya Opa,” gadis itu langsung beranjak dari duduknya dan mengikuti Opa Thalib.


Sesuai dengan prosedur rumah sakit, gadis itu masuk ke ruang steril, kemudian menggunakan baju khusus. Kain gorden yang berada di ruang ICU dibuka oleh sang perawat, agar keluarga pasien bisa ikut melihat dari luar.


“Ghina.......” ucap Ferdi yang baru kembali dari kantin, membelikan beberapa makanan dan minuman. Buru buru Ferdi mendokumentasikan kehadiran Ghina yang saat ini berada di ruang ICU.


🌹🌹


DEG.........DEG.......


Debaran jantung Ghina semakin cepat, langkah kaki Ghina menjadi lambat seketika, saat dirinya sudah masuk ke dalam ruang ICU.....sendiri.


Kedua netranya mulai berembun, melihat pria yang telah menyakitinya sekarang berbaring lemah. Antara kuat dan tidak kuat, Ghina melanjutkan langkahnya.


Ya Allah kuatkanlah saya untuk melihat Om Edward.


Tidak bisa membohongi hatinya sendiri, begitu sesak di dada melihat kondisi tubuh Edward yang sudah memakai berbagai alat medis.


Suara monitor jantung membuat suasana ruang ICU semakin mencekam buat Ghina sendiri.


“Om Edward, saya datang,” ucap lirihnya. Ghina melihat dada kiri Edward terdapat perban besar. Refleks gadis itu menyentuh  perban yang ada di dada kiri Edward tanpa tekanan.


“Inikah yang membuat Om Edward seperti ini?” tanya Ghina sendiri.


“Kenapa Om langsung kritis? Ke mana Om Edward yang kejam? Ke mana Om Edward yang sering menyakitiku, yang melukaiku!!”


“Sakitkan  Om Edward rasanya!! Sungguh sakit sekali rasanya Om, hingga ingin sekali saya menghilangkan nyawa di depan Om Edward sendiri, ingatkan!!”


“Betapa sangat menyakitkan Om Edward ketika saya di kurung di dalam gudang, dengan luka sobek di punggung. Apalagi ketika Om Edward menamparku, sungguh sangat menyakitkan Om!!"


“Sekarang kenapa Om Edward jadi lemah begini, ayo bangunlah dari tidurmu....saya ada di sini. Ayo sakitilah saya lagi, biar hati Om Edward semakin senang dan puas!!” mata Ghina mulai berkaca-kaca.


“Saya ada di sini Om Edward, istri yang tidak dianggap, saudaramu, pelayan......yang sering Om ucapkan. Bangunlah.......bukankah Om Edward ingin menjemputku di mansion utama. Sekarang saya sudah di sini, bukalah matamu Om....”


“Bukalah matamu Om Edward, bukan begini caranya kita berpisah......bukan begini, bangunlah dulu......lihatlah diriku sejenaknya,” Ghina yang sedari tadi menahan kedua kakinya yang sudah mulai lemas, akhirnya jatuh tersungkur di lantai samping ranjang Edward.


“Bukalah matamu Om Edward.......lihatlah diriku sejenak,” ucap lirih Ghina, gadis itu menyentuh telapak tangan besar Edward.


Tanpa sepenglihatan Ghina, ujung ekor mata Edward tampak keluar buliran air mata, seakan telinga pria itu mendengar apa yang di ucapkan Ghina, segala makian yang terlontarkan dari mulut gadis itu.


.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2