Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Kritis


__ADS_3

Yogyakarta


 


Ting


Ting


Ting


Begitu banyak pesan WA masuk ke handphone Ghina, kebetulan siang hari gadis itu menghabiskan waktunya di kamar, setelah gadis itu selesai bebenah rumah bersama Ria.


“Tumben Tante Feby kirim pesan WA banyak banget,” gumam Ghina, sembari mengecek isi pesannya.


✅Tante Feby


Apa kabarnya Ghina, Tante baru sempat kirim beberapa foto wedding kamu sama Pak Edward, nanti album foto dan cd nya menyusul ya. Nanti Tante kirim.


✅Ghina


Alhamdulillah baik kabarnya, Makasih Tante Feby.


Saat pernikahannya masalah dokumentasi, Edward menyerahkannya ke pihak butik Tante Feby yang sudah memiliki fotografer handal.


Ghina satu persatu melihat foto yang dikirim Tante Feby melalui wa, gadis itu tidak ke pikiran untuk menanyakan perihal foto pernikahannya. Pikir gadis itu sudah  bukan hal yang penting lagi, karena sudah berlalu, malah pikiran gadis itu sudah berakhir pernikahan mereka.


Ghina tersenyum tipis, melihat foto dirinya dengan Edward. Cukup lama gadis itu memandang foto mereka berdua, ada rasa yang menggelitik, ada rasa sedihnya.


“Apa kabarnya Om Edward, semoga dalam keadaan sehat......!” gumam Ghina, kedua netranya masih menatap pria tampan itu yang memakai jas pengantin, sedang memeluk dirinya, tersenyum bahagia. Itulah yang terlukis dalam fotonya.


Sebuah kenangan yang terpotret dalam sebuah gambar, yang kini dia pandang melalui handphonenya.


“Duh kok jadi sedih sih lihat foto ini,” gumam Ghina sendiri, tak lama kemudian menutup aplikasi wa di handphonenya, dan menaruh handphonenya di atas meja.


Gadis itu beranjak dari duduknya, kemudian berjalan menuju balkon kamarnya. Cuaca siang ini tidak secerah seperti biasanya, awan hitam menutupi cahaya matahari dan mulai bergerak ke arah rumah gadis itu.


“Sepertinya mau hujan.....,” gumam gadis itu, sambil menatap langit. “Hai awan mendung, apakah hari ini akan turun hujan. Bisakah kau menurunkan hujan yang membuat hatiku bahagia, bukan hujan yang membuatku sedih. Entah kenapa mendungmu membuatku sedih.....,” gumam Ghina sendiri, tangannya mulai menengadah ke udara, dan merasakan setitik air hujan mulai berjatuhan ke bumi.


“Kuharap Om Edward sehat selalu, dan bahagia dengan mbak Kiren,” doa gadis itu ketika titik air yang jatuh mulai deras, membasahi tubuhnya akan tetapi gadis itu menikmatinya.


Dengan hanya melihat sebuah foto, kenangan manis dan pahit akan muncul lagi di dalam pikiran. Kembali merasakan yang dulu pernah dirasakan, hati sesaat bergejolak, tersentuh, sama seperti saat kejadian. Itulah yang dirasakan gadis itu, kembali sesaat merasakannya.

__ADS_1


Biarlah semua kenangan terhapus dalam derasnya hujan, dan terbuang jauh dengan air yang jatuh ke tanah.


🌹🌹


Jakarta


Rumah Sakit


Opa Thalib akhirnya jatuh terduduk, Ferdi dengan setianya mendampingi Opa Thalib selama di ruang dokter. Beberapa dokter juga siaga, jika terjadi sesuatu hal dengan Opa Thalib.


Setelah hampir empat jam Edward di ruang operasi, akhirnya salah satu dokter menemui Opa Thalib selaku keluarga inti Edward.


“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Pak Thalib, pisau yang tertancap di dada kiri Pak Edward ternyata sudah mengenai orang vital yaitu jantung beliau.”


Sebelum melanjutkan ucapannya Dokter yang menangani Edward, melihat kondisi Opa Thalib terlebih dahulu.


“Lanjutkan.....” ucap Opa Thalib.


“Karena itu saat pengangkatan pisau di dadanya, jantungnya sempat berhenti. Kami sudah berusaha untuk mengembalikan denyut jantungnya secepat mungkin. Dan kondisi Pak Edward sekarang kritis, karena kondisi jantung sudah melemah akibat penusukan tersebut. Kami tidak bisa memberikan harapan palsu kepada keluarga, karena berdasarkan kemampuan organ jantungnya........harapannya hanya tiga puluh persen untuk kembali sadar."


“Ya Allah,” Opa Thalib menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kedua netra Ferdi mulai berkaca-kaca, sedangkan salah satu tangannya mengelus bahu Opa Thalib.


Opa Thalib mungkin tidak terisak-isak, tapi berita tersebut membuat kedua netra pria tua itu memerah.


“Ferdi, kabari ke adik-adiknya Edward, untuk berkumpul di rumah sakit,” pinta Opa Thalib dengan suara yang terdengar serak.


“Baik Tuan Besar.”


Opa Thalib berusaha berlapang dada menerima kenyataan yang menimpa putra semata wayangnya.


Tapi Opa Thalib tidak langsung diam begitu saja, pria tua itu segera menghubungi dokter yang terkenal dan bagus di Australia untuk datang ke Indonesia, melihat kondisi putranya dan mencari penanganan yang terbaik. Opa Thalib akan berusaha dahulu untuk menyelamatkan anaknya.


“Dokter Setyo, besok sore atau malam akan ada team dokter dari Australia yang akan melihat kondisi anak saya. Saya harap team dokter di sini bisa kerja sama dengan mereka,” ujar Opa Thalib.


“Siap Pak Thalib, kami akan menerimanya dengan baik,” jawab Dokter Setyo.


“Sekarang saya bisa lihat kondisi Edward?” tanya Opa Thalib.


“Bisa Pak Thalib, sekarang Pak Edward sudah di pindahkan ke ruang ICU. Mari saya antar,” ujar Dokter Setyo.


Dengan langkah kaki yang terasa lemas Opa Thalib mengikuti langkah Dokter Setyo menuju ruang ICU, sebelum masuk ke ruang ICU.....Opa Thalib dan Ferdi terlebih dahulu masuk ruang steril, kemudian memakai baju khusus.

__ADS_1


DEG


Ini bukan pemandangan yang indah, tubuh Opa Thalib langsung di pegang Ferdi yang mulai terhuyung. Sebenarnya Ferdi juga tidak kuasa melihat Tuannya, baru beberapa jam yang lalu Tuannya masih bugar, sekarang sudah terbaring seperti tidak ada nyawa di raganya.


Semua alat medis penunjang agar Edward tetap bertahan hidup, menempel hampir di seluruh tubuh Edward. Selang oksigen, selang untuk makanan, dadanya sudah ada kabel yang menempel untuk tetap terpantau detak jantungnya, salah satu tangan di infus.


“Hiks...... hiks.....,” tak kuasa akhirnya Opa Thalib melihat putranya dalam pembaringan, jatuh tersungkur di lantai. Begitu pun Ferdi sudah terdengar isak tangisnya.


Apa yang bisa papa perbuat nak, agar kau kembali hidup, selamat dari maut ini. Jangan tinggalkan papa dan mama dulu nak!!


Opa Thalib menyentuh tangan Edward, mengelusnya dengan kasih sayang. Memori Opa Thalib teringat kembali saat putranya yang tampan pertama kali lahir di dunia ini, di sambut penuh dengan suka cita. Mendengar suara tangisan putranya begitu kencang, membuat Opa Thalib saat itu menangis terharu bahagia. Namun kini Opa Thalib menangis bukan karena bahagia, melainkan menangis sedih akan kelanjutan nasib putranya, antara hidup dan mati.


Mari kita berjuang sama-sama nak, bertahanlah untuk orang yang kamu cintai.....bukankah kau mencintai Ghina. Papa melihat videomu mencium Ghina, pasti kau mencintainya kan??


Derai air mata membasahi pipi Opa Thalib......


Hati orang tua mana yang tidak akan menangis melihat anaknya sedang berjuang untuk kembali hidup. Begitu pun Ferdi, sekuat-kuatnya seorang pria pasti akan bersedih melihat orang yang sudah dikenal lama, hampir dua puluh empat jam mendampingi Tuannya, sekarang keadaannya sedang kritis.


Dokter Setyo dan perawat segera memapah Opa Thalib dan membawa ke kamar untuk menenangkan diri. Ferdi turut ikut.


.


.


🌹🌹


Menulis part ini sungguh ikutan berderai air mata 😭


Buat Kakak Readers ku yang cantik dan ganteng, saya mau peluk online semuanya 🤗🤗🤗. Terima kasih atas supportnya selama ini, berkat Kakak Readers semua karyaku masuk rangking 200 novel populer dan TOP 10 Cinta manis, ikutan nangkring sama karya author yang sudah pemes karyanya. Masya Allah, hadiah yang luar biasa dari Kakak Readers semua. Saya doakan semua Kakak Reader sehat selalu dan banyak rezekinya. Amin.


Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹



 



 


 

__ADS_1


__ADS_2