
Wajah Ghina terlihat pucat, dan suhu tubuhnya panas. Edward buru-buru turun ke lantai bawah, mencari Ria.
“Ria, tolong siapkan baskom isi dengan air hangat, dan saya minta handuk kecil....terus ada termometer gak?” perintah Edward yang panjang, ketika melihat Ria baru saja mau naik anak tangga ke atas.
“Tuan, boleh saya antar ini ke atas ,” pinta Ria yang ke dua tangannya sedang membawa nampan yang berisi dua cangkir teh hangat dan kue dari toko Gina’s yang sempat di bawa pulang oleh Rika semalam.
“Sini, biar saya saja yang bawa. Kamu ambil yang tadi saya pinta,” ujar Edward, ambil alih nampan dari tangan Ria.
“Baik, Tuan,” jawab Ria, bergegas kembali ke dapur.
Setelah bertemu dengan Ria, Edward kembali ke kamar Ghina. “Sayang, minum teh hangat dulu ya.......atau mau minum air putih. Biar aku ambil ke bawah,” ujar Edward yang duduk di tepi ranjang,
dengan mengelus lengan Ghina yang terasa hangat.
Kedua netra Ghina yang terasa berat dan terasa panas karena suhu tubuhnya menghangat, memaksa untuk dibukanya, “Aku minta air putih,” jawab Ghina dengan suara lemahnya.
“Tunggu sebentar, aku turun ke bawah dulu,” ucap Edward, pria itu bergegas ke bawah, mencari posisi dapur ada di mana. Karena pria itu baru pertama kali menginjak rumah yang ditempati Ghina.
Akhirnya pria itu menemukan dapur.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan,” tanya Ria, yang baru saja menyiapkan barang yang di minta Edward.
“Tidak ada......hanya ambil minum untuk istri saya, kamu bawa barang itu....ke kamar nyonya, sekarang,” pinta Edward, langsung meraih gelas dan di isinya air hangat dari dispenser.
Kok Tuan kayaknya beda deh, selama dulu kerja di mansion, gak pernah ambil minum buat Kiren.
Sekarang tiba-tiba mau ke dapur buat ambil air putih buat non Ghina.....batin Ria.
Ria mengerutkan keningnya masih terlihat heran dengan sikap Tuan besarnya, sambil membawa barang yang di minta tuannya ke lantai atas, ke kamar Ghina.
“Aneh.....!” gumam Ria sendiri.
Ria yang baru saja naik ke beberapa anak tangga, ternyata Tuannya mendahului dirinya, “jangan lama-lama Ria, jalannya......saya perlu barang yang kamu bawa secepatnya,” ujar Edward yang sudah mendahuluinya.
“Baik Tuan,” Ria bergegas naik anak tangganya dan menyusul Tuannya ke kamar Ghina.
“Sayang, ini minumnya......aku bantu duduk sebentar ya, biar bisa minum,” pinta Edward meletaknya gelasnya dulu di atas nakas, sedikit menyibak selimut yang menutupi tubuh Ghina sampai leher, kemudian menaruh kedua lengan wanita itu ke leher Edward...agar bisa mengangkat sedikit tubuh Ghina, untuk duduk menyandar ke headboard ranjang.
__ADS_1
Kemudian Edward memberikan gelas yang sudah di isinya dengan air hangat. Lalu membantu Ghina untuk minum.
“Tuan, ini termometernya,” ujar Ria sambil memberikan termometernya. Edward langsung meraihnya dan segera mengecek suhu tubuh Ghina.
“39,1c badan kamu panas, kita ke rumah sakit ya...,” ujar Edward lembut, sambil menyentuh kening, bawah dagu Ghina.
Ghina hanya menggelengkan kepalanya, tanda tidak menyetujui permintaan Edward.
“Non......ganti baju dulu ya. Ini Non masih pakai baju kemarin,” pinta Ria, di taruhnya baskom yang sudah terisi air hangat ke atas nakas.
“Om bisa keluar sebentar....,” pinta Ghina dengan nada lemasnya.
“Ria tolong ganti baju Nyonya, saya tunggu di balkon,” jawab Edward, pria itu tidak mau keluar kamar, lebih baik dia menunggu di balkon kamar wanita itu.
Ghina hanya bisa menghela napas panjang, mau berargument sudah tidak sanggup. Tapi yang jelas wanita itu juga pusing melihat perubahan Edward, yang terlihat lembut dan perhatian. Wanita itu takut perubahan yang di lakukan Edward hanyalah semu, berubah karena menginginkan sesuatu, setelah mendapatkannya, berubahlah kembali dengan sifat arongant nya.
Ghina masih bersandar di headboard ranjang, Ria mengambil baju rumah di lemari Ghina.
“Non Ghina, mau ganti baju di kamar mandi atau di sini?” Tanya Ria, sambil melirik ke arah balkon, ternyata mata tuannya masih memandang ke dalam kamar.
“Saya gak kuat berdiri mbak Ria, tolong bilangi Om Edward suruh menghadap keluar jangan ke dalam kamar,” pinta Ghina.
“Maaf Tuan, Nyonya minta Tuan jangan melihat ke dalam kamar, soalnya mau ganti baju. Kalau bisa Tuan menghadap ke jalan saja. Tolong ya Tuan,” pinta Ria penuh rasa hati-hati, takut Tuannya tersinggung.
“Ya......,” jawab singkat Edward, lalu memutar balik badannya, tidak menghadap ke dalam kamar lagi.
Di dalam kamar Ghina, masih duduk di atas ranjang, mulai membuka kemejanya, tinggallah bra berwarna hitam yang menutupi buah dadanya yang terlihat kencang dan mon-tok. Lanjut membuka resleting rok sepannya hingga terlihat bagian intim hanya tertutup kain segitiga berwarna hitam, dan terpampang paha mulus wanita itu. Tubuh putih yang sexy wanita itu terlihat jelas.
GLEK
Edward menelan salivanya dengan kasar, entah kenapa jiwa prianya meminta untuk memutar balik badannya sebentar, akhirnya kedua netra pria itu melihat tubuh putih mulus nan sexy berada di atas ranjang, seakan sedang menantang jiwa dan hasrat pria itu untuk mengumulinya. Edward langsung memutar badannya, sebelum ketahuan Ghina dan Ria.
“Sabar jon.......belum waktunya kamu berkunjung ke rumah kamu yang sesungguhnya,” gumam Edward, sambil menyentuh si junior yang mulai menegang.
“Bisa-bisanya kamu jon, baru lihat aja.....udah tegang begini,” gumamnya lagi. Pria itu menghela napas kasar ke udara, untuk coba merilekskan si junior agar tertidur kembali.
Ghina sudah mengganti pakaiannya dengan daster batiknya, kemudian kembali berbaring.
__ADS_1
“Sayang, sudah belum ganti bajunya?” Tanya Edward dari balkon.
“Sudah Tuan,” sahut Ria.
“Non Ghina, sejak kapan Tuan panggil non....sayang?” kepo Ria.
“Baru tadi pagi, kalau gak salah, memangnya kenapa mbak Ria,” jawab Ghina pelan.
“Agak geli dengarnya non, dan jadi ingat waktu Tuan sama Kiren,” jawab Ria.
“Saya aja yang di panggil juga geli,” balas Ghina.
“Apa yang geli, sayang........” sambung Edward, duduk di tepi ranjang. Lalu mengambil bungkus obat.
“Anu tuan tadi ada ulet bulu di lantai, Nyonya melihatnya geli,” balas Ria.
“Oooh.” Edward mengambil obat parasetamol dan memberikannya satu tablet beserta gelas “minumlah obat ini, biar panas kamu turun segera,” pinta Edward. Ghina meraih obat dan gelas, kemudian meminum obatnya.
“Ria, kalau Ferdi sudah datang, tolong rapikan belanjaannya. Sekalian kamu bikin bubur buat Nyonya dan makan siang saya,” pinta Edward.
“Baik Tuan, kalau begitu saya permisi ke bawah. Non kalau ada perlu sesuatu telepon saya ja ya,” ujar Ria.
“YA, mbak ria,” jawab Ghina.
“Gak usah, ada saya di sini yang menjaga kamu,” sambung Edward dengan nada tegasnya.
Ria dan Ghina hanya bisa saling melirik. Kemudian Ria meninggalkan Edward dan Ghina di kamar.
Ternyata masih galak juga.......batin Ria.
.
.
next........🤔🤔
__ADS_1