Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Mencari bukti


__ADS_3

Yogyakarta


 


Di ruang tamu, tepatnya di rumah yang akan ditempati oleh Ghina. Ghina beserta kedua orang tuanya dan kedua orang tua Edward, duduk berkumpul bersama-sama.


“Ghina, malam ini kami semua akan kembali ke Jakarta, sebenarnya papa dan mama tidak tega meninggalkan kamu tinggal seorang diri di sini, di tempat yang baru. Tapi ada ade kamu Rio masih sekolah di Jakarta yang tidak mungkin ditinggal,” ucap Papa Zakaria, orang tua mana yang mampu berpisah dengan anaknya, apalagi anak perempuan satu-satunya.


Mama Sarah mulai berlinang air mata. Ghina jadi ikutan sedih, lihat kedua orang tuanya.


“Zaka, Sarah jangan bikin anakmu sedih, beri dia semangat. Kalau kalian berdua sedih, nanti Ghina akan merasa sedih dan kepikiran setelah kalian tidak ada disini. Lagi pula kita semua sesekali akan menjenguk Ghina di sini,” ucap Opa Thalib.


Mama Sarah menganggukkan kepalanya, segera melap air matanya yang ada di pipi.


“Ghina, ini tolong kamu terima kartu atm ini. Tiap bulan Opa akan kirim uang buat kamu selama tinggal di sini, untuk masalah gaji Ria, itu urusan Opa,” Opa Thalib menyerahkan kartu atm.


Ghina nampak ragu ragu untuk mengambilnya, ditatapnya wajah kedua orang tuanya.


“Opa, Ghina gak enak selalu terima bantuan dari Opa dan Oma,” tolak Ghina.


“Ghina, terimalah pemberian dari Opa. Jangan menolaknya, papa dan mama kamu sudah paham masalah ini. Dan jangan anggap kamu berhutang budi sama Opa dan Oma,” sambung Oma Ratna.


“Pah, benarkah?” tanya Ghina.


“Terimalah nak,” jawab Papa Zakaria sambil menganggukkan kepalanya.


Akhirnya Ghina menerima kartu atm pemberian Opa Thalib. ”Kode pin atmnya tanggal lahir kamu,” ucap Opa Thalib.


“Baik Opa, terima kasih sebelumnya, atas bantuannya.”


“Kalau ada keperluan mendesak, jangan sungkan kasih tahu Opa dan Oma, ya Nak,” ujar Oma Ratna.


“Iya Oma.”


“Nak, jaga diri kamu baik-baik di sini ya, jaga pergaulan kamu saat kuliah nanti, jangan suka telat makan, jaga kesehatan, mama akan hubungi kamu setiap hari.” Sungguh berat hati mama Sarah melepas anaknya, tapi tetap harus dijalani dan dilewati.


“Iya Mam.”


Akhir dari semua pembicaraan Papa Zakaria, Mama Sarah, Opa Thalib dan Oma Ratna berpamitan dengan Ghina dan Ria, karena mereka ber-empat akan kembali ke Jakarta.


Satu persatu memeluk Ghina secara bergantian, Mama Sarah dan Oma Ratna pecah juga menangis saat memeluk Ghina. Gadis itu pun mulai menangis juga, di tinggal oleh orang tua yang di sayanginya demi mengejar cita-citanya.


Lambaian tangan terulur dari tangan Ghina, ketika kedua orang tuanya dan kedua orang tua Edward sudah berada di dalam mobil, dan meninggalkan rumah.


Tangisan gadis itu masih terdengar saat mereka berdua melepas kepergian kedua orang tuanya dan kedua orang tua Edward, Ria dengan lembutnya mengelus punggung Ghina agar tangisan gadis itu reda.


Kini kehidupan baru Ghina dimulai, tanpa ada orang tua di sisinya sekarang, berjauhan dari orang tuanya. Akan menjadi pengalaman baru untuk gadis muda itu.

__ADS_1


🌹🌹


Jakarta


Menjelang sore hari......


Edward memutuskan untuk datang ke kantor, sambil menunggu kabar dari team ajudannya yang mencari keberadaan Ghina.


Dengan langkah gagahnya, penuh kharisma, pria tampan itu di dampingi asisten pribadinya masuk ke dalam lobby perusahaan, terlihat wajahnya begitu datar dan dingin.


Beberapa karyawan yang menyapanya, hanya dibalas dengan senyum tipis tanpa kata.


“Santi, kamu panggil Anis staf marketing, suruh menghadap ke saya sekarang juga,” perintah Edward saat melewati meja sekretarisnya.


“Baik, Pak Presdir.” Santi segera menghubungi Anis melalui line teleponnya.


Edward masuk ke dalam ruangan, dan mendaratkan bokongnya kursi kebesarannya.


“Tuan, sekiranya ada yang bisa saya bantu,” tawar Ferdi, yang turut masuk ke dalam ruangannya.


“Kembalilah kamu ke ruangan, selesaikan pekerjaan kamu yang belum kelar,” jawab Edward.


“Baik Tuan, saya permisi.”


Bersamaan Ferdi ingin keluar, Anis baru saja mau mengetuk pintu ruang presdir.


“Ya suruh masuk, Ferdi kamu di sini dulu sebentar, jangan pergi dulu!” pinta Edward.


“Baik Tuan, silahkan masuk Anis,”


Anis wajahnya mulai terlihat pucat, setelah menerima panggilan telepon dari Santi untuk menghadap Presdir.


“Duduk, Anis......!” pinta Edward dengan wajah dinginnya.


Anis segera duduk di hadapan Edward. “Maaf Pak Presdir, saya di panggil ada apa ya?”


“Apa yang kamu ketahui tentang Kiren?” tanya Edward.


“Maksud Pak Presdir, apa ya saya tidak mengerti.”


“Sepertinya kamu tahu banyak hal tentang pribadi Kiren, sekarang saya ingin kamu jelaskan semuanya, yang tidak saya ketahui!”


GLEK


Anis menelan salivanya dengan kasar.


“Apa perlu saya menunjukkan CCTV yang berada di depan meja sekretaris, agar kamu paham.”

__ADS_1


GLEK


Ternyata gue ke-gap juga sama Big Bos sendiri.


“Mmm.......begini Pak.....Kiren sebelum menikah dengan Bapak, dia operasi selaput dara. Saya yang menyarankan ke Kiren, karena dia dulu sering melakukan itu........sama pacarnya kata Kiren sendiri. Makanya saya sarankan untuk melakukan operasi selaput dara biar seperti perawan kembali,” penjelasan Anis.


“Kamu bisa kasih buktinya!”


“Saya bisa antar Bapak ke rumah sakitnya, kebetulan saya kenal dengan dokternya.”


“Ferdi, besok kamu pergi dengan Anis, cari bukti operasi tersebut. Jangan sampai hanya ucapan saja tapi tidak ada buktinya. Jika ternyata hanya gosip saja, maka kamu......Anis akan saya kasih surat peringatan!” ancam Edward.


“Saya berani bersumpah Pak, saya saksinya sendiri. Nanti akan saya tunjukkan buktinya,” jawab Anis terlihat cemas.


“Selain itu ada lagi?” tanya Edward.


“Ada Pak, beberapa hari yang lalu.....Kiren beli obat khusus dari saya, buat Bapak......agar tam----“


“Jangan di lanjut...” sela Edward, paham akan obat yang di maksud Anis.


Jari jemari Edward mengetuk-getuk mejanya.


“Kamu, masih ada sampel obat yang kamu jual? Lalu ada bukti transaksinya?”


“Ada bukti transferan dari Kiren, Pak,......sedangkan untuk obatnya juga masih ada karena suami saya mengkonsumsinya.”


“Besok kamu kasih sampel obat itu, serta bukti transaksinya kasih ke Ferdi.”


“Dan Ferdi sampel obat itu kasih ke lab rumah sakit A, suruh mereka cocokkan dengan campuran kopi saya kemarin.”


“Baik Tuan.”


“Anis, saya harap kamu jujur atas ucapan kamu. Jika semua terbukti kebenarannya, saya akan mengapresiasi kamu dengan satu bulan gaji. Dan satu hal lagi mengenai ini tidak perlu diketahui Kiren. Sepertinya kamu juga kurang bisa menjaga rahasia, sampai rahasia teman sendiri di bongkar.”


“Saya bertanggung jawab dengan ucapan saya. Akan saya buktikan segera,” ucap Anis meyakinkan Edward. Dan sedikit tidak enak salah satu sifatnya yang mulutnya ember di ungkap oleh Edward.


“Saya tunggu, silahkan kembali bekerja.”


“Baik Pak Presdir.”


Wah ada apa nih Kiren sama Pak Presdir, sepertinya akan terjadi sesuatu nih......batin Anis.


 .


.


🌹🌹

__ADS_1


Akhirnya hari ini up sampai 4 bab.......sampai teler 🤭🤭


__ADS_2