Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Opa dan Oma tahu!


__ADS_3

PRANK


“Sialan......!” di lemparnya cangkir yang berada di dekatnya ke arah Edward berdiri, reflek Edward menangkisnya hingga cangkir tersebut jatuh ke lantai.


Sontak Ferdi dan Ria kaget melihat kejadian ini.


“Non.......tenang.....Non, nanti sesak napas lagi." Ria berusaha menenangi  Ghina.


Edward yang sudah terlihat emosi, mau mendekati Ghina, namun di hadang oleh tubuh Ferdi.”Sabar Tuan, ini rumah sakit...Non Ghina sedang sakit.”


“BIARKAN SAYA MATI KARENA SESAK NAPAS, BIAR PUAS LAKI LAKI JAHA-NAM INI!” pekik Ghina, tangannya langsung membuka selang oksigen.


“Non......jangan Non, pasang lagi selangnya,” buru buru Ria memasuki selang oksigen ke hidung Ghina, namun di tolaknya.


“GHINA....!” suara Edward meninggi, di singkirnya Ria yang berada di dekat Ghina. Diraihnya kedua tangan Ghina sekuat tenaga dengan salah satu tangannya, lalu memasang kembali selang oksigen ke hidung Ghina.


“Jangan bodoh Ghina,” tegur Edward.


“Om Edward lah yang bodoh!” jawab Ghina pelan, seraya mengatur napasnya yang terasa sesak kembali.


Edward menatap lekat wajah cantik gadis itu. Sudah tak sanggup lagi Ghina berkata, kedua tangannya juga masih di kempit oleh kedua tangan Edward. Dia hanya bisa memejamkan kedua matanya, tak kuasa menatap wajah tampan Edward.


Ada sekiranya 30 menit Edward berlutut di hadapan Ghina dan masih memegang erat tangannya, agar dia tidak kembali melepas selang oksigen.


“Sayang.......,” sapa Kiren yang baru saja tiba di kamar rawat Ghina.


Mendengar suara Kiren, Ghina membuka kedua matanya, Edward juga melepaskan tangan Ghina dan bangkit dari berlututnya.


“Benar dugaanku ternyata Kak Edward ada di sini, kenapa gak bilang kalau mau ke rumah sakit jenguk Ghina. Aku kan bisa menemanimu ke sini, sayang,” ujar Kiren langsung memeluk suaminya dan mengecup bibir Edward di depan Ghina.


Oh syukurlah pasangan bucinnya sudah datang, tolong bawa pergi suaminya.


“Kenapa kamu bisa tahu saya di sini?”


“Dari Ferdi, lain kali kalau mau pergi......bangunkan aku dulu ya sayang. Jadi aku tak panik saat kamu sudah tidak ada di sampingku.”


Ueeeekkk.....rasanya pengen muntah.


“Hai Ghina, gimana keadaannya sudah lebih baik,” sapa Kiren penuh perhatian.


“Mmmm,” malas jawabnya.


“Honey.......sebaiknya kita keluar, temani saya makan siang,” pinta Edward.


“Oke suamiku, mau makan di mana?” Kiren bergelayut manja di lengan Edward.


“Di restoran dekat sini aja.”


“Oke suamiku sayang.”


“Ferdi pesankan makan siang buat Ria, kamu sendiri dan tanyakan Ghina mau makan apa. Untuk sementara kamu dan Ria jaga Ghina di sini dulu,” titahnya dengan menatap Ghina, dan kembali Ghina memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Cepatlah pergi dari sini, kalau perlu jangan kembali lagi.


Selepas Edward dan Kiren keluar dari kamar, Ferdi pamit untuk membelikan makan siang. Sedangkan Ghina menikmati makan siangnya duluan, setelah perawat rumah sakit mengantarkan makan siang khusus pasien rawat inap.


“Mbak Ria......berhasil menghubungi mbak Tia?” tanya Ghina di sela sela menyantap makannya.


“Sudah berhasil, sebentar lagi akan sampai ke sini.”


“Syukurlah kalau begitu.”


TOK......TOK......TOK


“Assalamualaikum,” sapa wanita berhijab.


“Walaikumsalam.....wah panjang umur Tia, baru aja kita omongin....eh udah nongol di depan pintu!” ujar Ria.


“Alhamdulillah kalau begitu, nih saya udah bawa pesanannya,” Tia menyerahkan koper kecil milik Ghina.


“Non Ghina, bagaimana keadaanya?” tanya Tia.


“Tahap pemulihan mbak Tia, doakan saya cepat sembuh ya.”


“Insha allah di doakan biar cepat sembuh, oh iya ini ponsel Non Ghina sengaja tidak saya masukkan ke dalam koper,” diserahkannya ponsel yang berada di tas Tia.


“Makasih banyak ya Mbak Tia.”


Tanpa menunggu lama, Ghina mencari nomor handphone Oma Ratna, mama mertuanya. Dan segera menghubunginya.


“Assalamualaikum Oma,” sapanya.


“Oma maaf, bukannya tidak mau berkunjung ke sana......sebenarnya Ghina ingin menagih janji Oma dan Opa. Selepas 2 minggu setelah menikah dengan Om Edward, Opa akan menjemput Ghina. Tolong jemput Ghina segera Oma.”


Sesaat Oma terdiam dengan perkataan Ghina. Janjinya dengan sang suami mulai di tagih.


“Ghina...apa Edward sudah menikahi Kiren?” tanya Oma Ratna.


Sesuai kesepakatan antara mereka bertiga, jika nyatanya Edward menikahi Kiren setelah menikah dengan Ghina, maka Ghina minta di jemput oleh Oma Opa alias mertuanya.


“Ya Oma, Om Edward telah menikah selang 1 hari setelah menikah dengan Ghina.”


Mata Oma berembun seketika, tidak menyangka anaknya benar benar nekat menikahi kekasih hatinya.


“Oma...,” panggil Ghina merasa tidak ada suara Oma Ratna.


“Iya nak, Oma dengarkan.”


“Ghina tunggu Opa dan Oma jemput, kalau bisa sebelum 2 minggu. Kalau perlu besok jemput sekarang.”


“Ghina, Oma bicarakan dengan Opa dulu, tolong bersabar dulu. Oma pasti akan menjemput kamu.”


“Dan satu lagi Oma, Ghina minta di bantu agar cepat bercerai dengan Om Edward.”

__ADS_1


Seketika kepala Oma Ratna berasa berputar, menantunya minta bercerai dengan anaknya.


“Oma......Oma.....Oma.....!” panggil Ghina namun tidak ada balasannya.


Oma Ratna sudah tergeletak di lantai kamarnya.


Tidak ada jawaban dari Oma Ratna, Ghina mematikan sambungan teleponnya.


Perasaan Ghina sedikit lega setelah menghubungi Oma Ratna, paling tidak sudah pasti dia akan keluar dari mansion Edward di jemput Oma dan Opa sebagai tanda berakhir rumah tangganya dengan Edward.


“Non, mau berbaring di ranjang. Biar enak istirahatnya?” tawar Ria.


“Boleh Mbak Ria, tolong bantuin ya,” pinta Ghina. Ria dan Tia membantu Ghina naik keranjangnya.


“Non....saya pamit pulang ya. Tadi saya hanya izin sebentar sama Pak Jaka,” pamit Tia.


“Iya mbak Tia, makasih banyak ya saya jadi ngerepotin mbak Tia.”


“Gak pa-pa kok non, semoga cepat sembuh ya.”


“Amin, makasih mbak Tia.”


🌹🌹


Oma Ratna mulai mengerjapkan kedua netranya, nampak Dokter dan Opa Thalib menunggu Oma siuman.


“Pah......” panggil Oma Ratna.


“Iya mah, minum dulu ya,” ucap Opa seraya membantu istrinya merebahkan dirinya di headboard ranjang.


“Nyonya tekanan darahnya sedikit naik, tapi masih aman. Kalau bisa jangan terlalu banyak pikiran dulu, dan tetap rutin minum obat darah tingginya,” ucap Dokter.


“Terima kasih banyak Dok,” jawab Opa Thalib.


“Baik kalau begitu saya balik ke rumah sakit Pak Thalib, Bu Ratna,” pamit Dokter.


“Ya....silahkan Dokter.”


“Mama sudah lebih baikkah?”


“Pah, tadi Ghina telepone mama. Kita harus menjemputnya segera ”


Opa Thalib terdiam “Mama tanya, Papa tahu kalau Edward me—?”


“Iya papa sudah tahu kalau Edward telah menikah dengan Kiren, setelah dia menikahi Ghina.”


“Kenapa papa menyembunyikannya dari mama?”


“Papa khawatir dengan kesehatan mama.”


“Tapi tetap saja mama akan tahu dari orang lain," ujar kesal Oma Ratna.

__ADS_1


“Ghina minta segera di jemput dan minta bercerai dengan Edward,” ketus Oma Ratna.


“HAH....” Opa Thalib menghela napas panjang.


__ADS_2