Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Takkan berhenti menantang.....


__ADS_3

Berhubung punggung Ghina tidak bisa menyandar ke headboard ranjang karena lukanya. Dokter Irfan sekarang memposisikan dirinya sebagai sandaran dari samping untuk Ghina.


“Maaf Pak Edward, saya tidak tahu jika Ghina ada riwayat asma. Seharusnya saat mau memberikan suntikkan obat penghilang nyeri, saya tanyakan dulu. Karena obat nyeri salah satu pemicu kambuhnya asma,” Dokter Irfan menjelaskannya (pengalaman author sendiri), tanpa di sadari Dokter Irfan merapikan anak rambut Ghina ke belakang telinga.


Hal ini terlihat oleh Edward “lain kali Dokter harus lebih teliti lagi, jangan sampai ada korban. Hal itu bisa mencoreng nama baik rumah sakit ini,” tegur Edward.


“Baik Pak Edward, mohon maaf atas kurang telitinya saya.”


“Maaf Pak Edward sepertinya tangan bapak terluka, saya periksa dulu,” pinta perawat yang ikut masuk dengan Dokter Irfan.


Edward menyodorkan tangannya, dengan cekatan perawat tersebut membersihkan luka tersebut


Edward masih berdiri di tepi ranjang Ghina, memandangi Dokter Irfan dan Ghina. Ghina hanya bisa memejamkan matanya tak mau menatap mata Edward.


“Kalau begitu Dokter bisa kembali bekerja, biar saya yang menjaga Ghina,” tegur Edward, merasa gerah melihat Ghina menyandarkan dirinya ke Dokter Irfan.


Merasa ditegur oleh sang pemilik rumah sakit, Dokter Irfan undur diri. Sekarang Edward yang menggantikan posisi Dokter Irfan.


Kali ini Ghina tidak bisa bicara, buat bernapas saja terasa susah apalagi bicara.....napas seperti tidak sampai.


Penuh rasa hati-hati Edward merangkul pinggang Ghina agar tidak terkena luka di punggungnya, dan mengarahkan kepala Ghina agar bersandar di dadanya. Mereka berdua sama sama duduk di atas ranjang.


Ria yang berada di antara mereka berdua, jadi semakin tanda tanya dengan sikap Tuan Besarnya terhadap Ghina.


Bersandarnya Ghina di tubuh Edward, membuat Edward terbuai untuk memejamkan matanya, apalagi semalam dia tidak bisa tidur ketika harus meninggalkan Ghina di rumah sakit.


Lama lama Edward pun tertidur dalam duduknya. Ghina yang mulai merasa tidak nyaman, sedikit bergerak memberi jarak antara dirinya dan Edward yang masih bersandar di headboard ranjang.


Cih bisa bisanya dia tertidur...


“Non Ghina ada yang bisa mbak bantu?” tawar Ria yang melihat gerak gerik Ghina sedikit gelisah.


“Tolong ambilkan bangku itu,” tunjuknya ke arah bangku.


Ria buru buru mengangkat bangkut tersebut dan menaruhnya di samping ranjang.


“Tolong mbak Ria, saya mau duduk di bangku itu,” pinta Ghina.


Pelan pelan Ria membantu Ghina untuk duduk dibangku tersebut dengan sangat hati hati.


Ghina tidak bisa duduk jauh dari sekitar ranjang, karena keterbatasan panjang selang oksigen.


“Non, ini di minum air hangat. Biar agak legaan dadanya.” Ria menyodorkan cangkir.

__ADS_1


“Makasih mbak Ria,” di terimanya cangkir tersebut. Di minumnya pelan pelan air hangat tersebut, tak sengaja dia melihat Edward yang masih tertidur.


Andaikan Om Edward bersikap baik, hatiku pasti akan bertambah jatuh hati padamu.


Tak bisa di pungkiri hati kecilnya masih terpesona dengan sosok Edward, namun segera dikubur rasa sukanya itu.


Ghina mengatur napasnya pelan pelan, agar oksigen yang masuk bisa langsung masuk ke dadanya.


Sementara dirinya agak kesulitan, tidak bisa duduk menyandar, terpaksa dagunya disanggah oleh tangannya yang tertumpu di atas ranjang.


Satu jam berlalu, Edward semakin pulas dalam tidurnya. Sedangkan Ghina sudah mulai terasa enak dadanya dan tidak terlalu sesak.


“Mbak Ria...,” panggil Ghina.


“Iya Non....”


“Mbak Ria, bawa ponsel gak?”


“Gak bawa Non, semalam karena buru buru bawa Non ke rumah sakit. Mbak enggak ke pikiran bawa ponsel.”


“Di kiraiin bawa, mana perlu lagi. Mbak Ria bisa gak pinjam ponsel siapa kek, kalau mbak Ria ingat nomor ponsel mbak Tia tolong hubungi sekarang. Minta bawakan barang Ghina terutama handphone,” pinta Ghina.


“Mbak hapal nomor handphone Tia, nanti mbak coba pinjam ponsel perawat di sini. Siapa tahu ada yang baik hati mau meminjamkan," ujar Ria penuh harap.


“Mbak keluar dulu kalau begitu ya.”


“Oke..”


Ghina kembali menatap Edward, berharap pembicaraannya dengan Ria tidak terdengar oleh telinga Edward.


Masih menatap Edward, tiba tiba Edward mengerjap kelopak matanya, dan tak sengaja mereka berdua berada pandang. Seketika itu juga Ghina memalingkan wajahnya.


“Ehmm.....” gumam Edward, bangkit dari duduknya, badannya merasa segar setelah tertidur pulas. Ghina menghiraukannya suara deheman Edward.


“Sudah enakkan napasnya?” tanya Edward.


“Mmmm....” jawabnya.


“Masih susah bicaranya?”


“Mmmm...”


“HAH.......” Edward menghela napas panjang, karena menerima jawaban dari Ghina hanya deheman.

__ADS_1


TOK......TOK......TOK


“Permisi Tuan Besar,” sapa Ferdi.


“Ya ada apa Ferdi.”


“Saya bawakan pesanan baju ganti buat Tuan.”


“Rapikan di lemari.”


Baju...buat apa baju ganti di bawa ke sini. Yang sakit dia atau saya. Atau jangan jangan dia mau menginap di sini. Wah kacau rencana kalau begini.


“Permisi..," ucap Ria yang baru masuk ke kamar.


“Ria tolong rapikan baju Ghina yang saya bawa di dalam paper bag ke lemari. Dan kalau sudah selesai kamu bisa pulang dulu, biar saya yang menemani Ghina di sini,” titah Edward.


“Jangan.....jangan pulang mbak Ria, biar di sini saja. Kalau mbak Ria butuh sesuatu minta tolong aja sama Pak Ferdi,” Ghina menolak jika sampai Edward menemaninya, dan jadi berdua saja. Gak ke bayang apa rasanya.


Wajah Ria sedikit kebingungan, walau tadi dia berhasil menghubungi Tia, dan berpesan untuk membawa beberapa baju ganti buat dirinya serta titipan Ghina.


“Anu......Tuan......saya tidak usah pulang, biar saya yang temani Non Ghina di sini sampai nanti Non Ghina di izinkan pulang,” jawab Ria.


Edward mematung dan menatap wajah Ghina dan wajah Ria bergantian, dirinya seperti dapat penolakan dari dirinya.


Edward melangkahkan kakinya, untuk mendekati tempat Ghina duduk.


“Kamu jangan terlalu berpikir jauh jika saya ingin berduaan dengan kamu, ini hanya bentuk tanggung jawab saya telah membuat kamu terluka. Anggap saja ini sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja karena saya dan kamu korbannya. Dan saya menembusnya dengan tanggung jawab memberikan pengobatan sampai kamu sembuh.”


Ghina kembali mengatur napasnya agar bisa kembali bicara. ”Baiklah kalau Om Edward bilang ini hanyalah sebuah kecelakaan yang tidak sengaja, maka saya sebagai korban akan melaporkan hal ini ke pihak berwajib. Dan itu adalah hak sang korban, yang telah di kurung hingga terluka.”


Oh sungguh geram rasa hati Edward, dalam keadaan terluka.....Ghina masih saja menantangnya.


“Kamu tidak bisa melapor se-----!”


“Jika Om tidak mau dilaporkan, maka turutilah kesepakatan awal kita,” sela Ghina dengan senyum devilnya.


“Mudahkan,” lanjut kata Ghina.


“Baiklah silahkan kamu laporkan saya ke pihak berwajib, tapi jangan salahkan saya jika papamu hari ini dipecat!” balas Edward dengan senyum smirknya.


PRANK


“Sialan...!” di lemparnya cangkir yang berada di dekatnya ke arah Edward berdiri, reflek Edward menangkisnya hingga cangkir tersebut jatuh ke lantai.

__ADS_1


Sontak Ferdi dan Ria kaget melihat kejadian itu.


__ADS_2