
Membuka hatinya kembali untuk pria dewasa yang pernah dia sukai saat usianya lima belas tahun. Memaafkan akan kesalahan di masa lalu yang pernah di goreskan oleh pria dewasa itu, walau sebenarnya bukan hal yang mudah buat wanita itu untuk menerimanya kembali. Bukankah seseorang yang buruk bisa berubah menjadi lebih baik, dengan menunjukkan keseriusan untuk berubah dengan penuh ketulusan hati.
Sedangkan sang pria dalam satu tahun dalam keadaan kesakitan antara hidup dan matinya, tapi tidak berhenti di situ saja cobaan hidupnya. Selama tiga tahun pria itu berjuang menekan rasa rindunya sendiri, untuk tidak mencari istri yang pergi meninggalkan dirinya, istri yang telah menganggapnya telah bercerai. Jika pria itu menuruti egonya, bisa saja dari tiga tahun yang lalu berjuang untuk mencari istrinya. Tapi pria itu menekan egonya sendiri, mengikuti permintaan Opa Thalib.
Dan kini pria itu mengerti mengapa kala itu dilarang untuk tidak mencari keberadaan Ghina. Memberikan waktu untuk wanita itu untuk mengejar cita-citanya, dan berkembang menjadi wanita dewasa. Tapi ada rasa penyesalannya andaikan pria itu saat tiga tahun ke belakang bisa mendampinginya, selalu ada di sisinya saat mengejar cita-citanya. Andaikan dari awal perjodohan pria itu menerima Ghina dengan baik sebagai istri, mungkin pernikahan mereka sudah bahagia dengan anak-anak mereka berdua.
Di dalam ruang rawat inap, dokter sedang memberikan salep di punggung Ghina, berhubung wanita itu tidak bisa tengkurap. Akhirnya Ghina melingkarkan kedua tangannya di pinggang Edward, kepalanya bersandar di perut kotak-kotak Edward.
Jantung pria itu berdebar-debar tidak menentu ketika kepala wanita itu bersandar di perutnya. Sesekali tangan besar pria itu mengelus lembut rambut Ghina.
“Sudah saya oleskan salep ya Bu, untuk terapinya, nanti akan ada perawat yang datang membawakan alatnya. Sekarang saya suntikan obat nyerinya dulu,” ujar Dokter.
“Iya Dokter,” Ghina menarik wajahnya dari sandarannya. Lalu mengulurkan lengan yang ada infusnya. Kemudian dokter menyuntikkan obat nyerinya melalui infusnya.
“Sudah selesai ya Bu, nanti kalau ada keluhan lagi. Langsung tekan tombolnya, nanti saya segera datang,” ujar Dokter.
“Terima kasih Dokter,” sahut Edward.
“Sama-sama Pak,” pamit dokter.
“Honey, masih mau duduk dulu atau mau berbaring?” tanya Edward.
“Om, perutku terasa lapar.......tadi siang belum sempat makan,” ujar Ghina.
“Sebentar lagi Ria sama Ferdi datang, aku udah pesankan untuk membawa makanan. Honey, masih bisa tahan lapar gak? Atau aku ke bawah cari makanan?”
“Boleh carikan di bawah saja, perutku sudah lapar sekali.”
“Gak pa-pa di tinggal sendiri di kamar?” Edward tidak yakin meninggalkan Ghina sendirian di kamar.
“Gak pa-pa Om di tinggal sendiri.”
TOK........TOK..........TOK
“Masuk.....,” sahut Edward.
“Assalamualaikum,” sapa Ferdi dan Ria berbarengan.
__ADS_1
“Walaikumsalam,” balas Edward dan Ghina.
“Syukurlah kalian berdua sudah datang, Ferdi bawa yang saya pesan tadi?” tanya Edward.
“Beli Tuan, ini makanannya,” jawab Ferdi sambil menyodorkan bungkusan makanan. Edward langsung meraihnya dan membuka kotak makanan tersebut.
“Honey, ayuk buka mulutnya....,” pinta Edward dengan menyodorkan sendok makan.
“Om, aku malu kalau makannya di suapin.”
“Katanya tadi babyku yang cantik lapar, yuk biarkan suamimu yang mengurusimu,” ujar lembut Edward.
Dengan wajah merah merona wanita itu membuka mulutnya, dan menerima suapan demi suapan dari pria tampan itu.
Ria dan Ferdi merapikan barang-barang keperluan tuan dan nyonya nya ke dalam lemari yang tersedia di dalam kamar
“Nyonya......kok bisa masuk rumah sakit?"tanya Ria, sambil menghampiri ranjang Ghina.
“Tuh gara-gara Om Edward berantem sama Mas Rafael, jadi ikutan kena,” jawab Ghina.
“Iya Om.......,” jawab Ghina sambil menerima suapan dari Edward.
“Jadi yang terluka kepala?” tanya Ria.
“Sama bagian punggung mbak Ria, jadi cedara otot.”
“Duh......semoga cepat sembuh ya nyonya.”
“Amin, mbak Ria.”
“Ferdi nanti tolong di rescedule jadwal saya, untuk beberapa hari ke depan,” titah Edward.
“Baik Tuan.”
“OM, pekerjaan Om lebih penting,” tegur Ghina.
“Lebih penting kamu, dari pada pekerjaan. Jika mementingkan pekerjaan, aku akan kehilangan kamu. Yang bisa di culik oleh pria lain, kayak kejadian tadi siang, baru tinggal sebentar lang---“
__ADS_1
CUP
“Maaf ya...... .jangan cerewet lagi....” balas Ghina setelah mengecup pipi pria tampan itu. Edward terkesiap mendapat kecupan dadakan dari Ghina di salah satu pipinya. Hati pria itu berbunga-bunga mendapatkan kecupan singkat itu.
Ria sama Ferdi hanya bisa mesem-mesem aja melihatnya, sepertinya nyonya mereka sudah mulai merespon Tuan besarnya.
“Heemm, Ferdi....Ria, kalian berdua bisa pulang. Nanti kalau ada keperluan lagi, saya kabari kalian berdua,” usir Edward secara halus. Rasanya Edward ingin berduaan dengan Ghina, tanpa ada yang mengganggu, agar pria itu semakin dekat dengan Ghina walau keadaannya di rumah sakit.
“Tapi Tuan, saya yang biasa mengurus nyonya sakit,” ujar Ria.
“Jangan khawatir Ria, saya yang akan mengurus istri saya sendiri. Tidak mungkin saya menelantarkan dan tidak bertanggung jawab dengan istriku ini.”
Ria melirik sesaat ke arah Ghina, dan wanita itu menganggukkan kepalanya. “Baik Tuan, nanti hubungi saya jika ada yang di butuhkan,” sambil tersenyum tipis ke arah Ghina.
Semoga Tuan dan Nyonya bisa memiliki hubungan yang lebih baik. Selamat non Ghina akhirnya non mau membuka hati buat pria yang pernah non cintai, dan semoga impian non ya dulu terwujud.....menikah cukup sekali untuk seumur hidup dan saling mencintai........batin Ria.
Akhirnya Ria dan Ferdi meninggalkan Ghina dan Edward. Setelah selesai menyuapi Ghina, pria itu bergegas makan juga, seperti biasa makan, duduk di tepi ranjang Ghina.
“Honey mau rebahan?” tanya Edward, setelah menyelesaikan makannya.
“Baru selesai makan, masa langsung rebahan Om. Turunin dulu nasinya.”
Edward sengaja duduk di hadapan Ghina.”Makasih ya...tadi sudah cium pipi aku, apakah itu tandanya honey mau terima aku kembali?”
“Jika Om Edward sungguh sungguh berubah menjadi lebih baik, tidak seperti dulu. Dan aku bukan di anggap sebagai tempat pelampiasan, atau istri cadangan karena kekecewaan atas pernikahan Om Edward dengan mbak Kiren. Aku akan membuka hati untukmu,” ungkap Ghina.
Edward menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Ghina.”Aku tidak pernah beranggapan kamu sebagai istri cadangan, atau hanya sekedar pelampiasan nafsu semata. Kamu adalah istriku satu-satunya dan wanita satu-satunya yang kucintai tidak ada yang lain,” ujar Edward sambil mengecup punggung tangan Ghina.
“Maukan membuka lembaran baru bersama-sama?” tanya Edward dengan tatapan hangat yang penuh damba dan cinta.
Ghina menatap sesaat tatapan hangat pria itu, mencari kebohongan dari sirat mata pria itu. Akan tetapi wanita itu tidak menemukan kebohongan itu dari sirat mata pria itu.
“Jangan kejam lagi sama aku, jangan emosian lagi sama aku.....cintai dan sayangi aku sepenuh hatimu......Om Edward.......suamiku,” ujar Ghina.
“Istriku......,” rasa kebahagiaan itu berselimut di hati pria itu atas jawaban dari Ghina.
bersambung
__ADS_1