Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Henti Jantung


__ADS_3

Opa Thalib menghela napas panjang setelah menerima kabar kurang baik tentang putranya dari Ferdi.


Sementara itu Opa Thalib melirik istrinya, berpikir bagaimana cara menyampaikan kabar buruk tersebut, takut akan istrinya jatuh pingsan. Karena istrinya sangat menyayangi putranya.


Sedangkan Opa Thalib tidak bertanya banyak tentang kecelakaan yang menimpa Edward, karena ada istri yang berada di sampingnya. Tapi di dalam benak hati Opa Thalib, tetap berharap jika itu hanya kecelakaan kecil, akan tetapi hatinya cukup berdebar juga menerima kabar tersebut.


“Pah, dari tadi lihat wajah mama aja, apa apa? Tadi telepon dari siapa?” tanya Oma Ratna yang memperhatikan raut wajah suaminya agak berbeda saat menerima telepon.


Opa Thalib meraih tangan Oma Ratna dan menggenggamnya. “Telepon dari Ferdi,” jawab Opa Thalib.


“Mah, papa mau menyampaikan sesuatu. Tapi papa mohon......mama tenang ya,” ucap Opa Thalib sambil mengusap punggung tangan Oma Ratna.


Sejujurnya jantung Oma Ratna sudah berdegup kencang, seperti orang sedang berlari.


“Ada apa Pah?” raut wajah Oma Ratna mulai cemas.


“Ini.......tentang Edward----“


“Ada apa dengan Edward, Pah,” sela Oma Ratna terlihat tidak sabar.


“Sabar ma.......” diam sejenak. ”Edward mengalami kecelakaan, sekarang di bawa ke rumah sakitnya,” ucap Opa Thalib, pelan-pelan.


Tubuh Oma Ratna langsung lemas, benar dugaan yang dirasa sedari tadi.


“Mama.......mama,” ucap Opa Thalib, sambil menggoyangkan tubuh istrinya yang sudah terkulai dalam duduknya.


“Mama, minum dulu ya biar tidak lemas badannya,” Opa Thalib menyodorkan gelas.


Oma Ratna meraih gelas yang disodorkan Opa Thalib dan meneguknya, sambil mengatur debaran jantungnya.


“Kalau mama sudah agak tenang, kita ke rumah sakit untuk menjenguk Edward. Bagaimana, mama mau?”


“Iya Pah,” Oma Ratna menganggukkan kepalanya, akan tetapi kedua matanya sudah berembun.


Opa Thalib langsung meraih tubuh Oma Ratna, mendekapnya untuk sama-sama menenangi diri. Mereka sama-sama belum tahu kondisi putranya, hanya mampu berdoa.


🌹🌹


Wajah tampan Edward terlihat pucat sekali, itu yang terlihat di mata Ferdi di dalam mobil ambulans.


Para medis dan para dokter sudah siap siaga menunggu kedatangan Edward, di lobby rumah sakit A.


Dengan sigapnya, para medis menurunkan brankar dari mobil ambulans menuju ruang IGD


“Tensi sangat rendah 80/70, denyut nadi lemah, pasien sudah tidak sadarkan diri hampir satu jam lebih,” ujar salah satu perawat yang memeriksa awal.


“Siapkan ruang operasi sekarang juga,” titah Dokter Bedah yang siaga di ruang IGD.

__ADS_1


Dokter penyakit dalam, Dokter jantung, Dokter bedah sedang breifing sebentar di ruang IGD, sedangkan Edward sudah di pindahkan ke ruang operasi oleh para medis.


Ferdi sudah memberi kabar kepada orang tua Tuannya, sekarang pria itu masih sendiri menunggu di luar ruang IGD.


“Pak Edward akan di operasi, sekarang beliau sudah di pindahkan ke ruang operasi,” lapor Dokter Umum ketika keluar dari ruang IGD.


“Berikan yang terbaik buat Pak Edward,” jawab Ferdi.


“Pasti, kita akan berusaha yang terbaik buat Pak Edward. Pak Ferdi bisa menunggu di ruang VIP,” ujar Dokter Umum.


“Saya sedang menunggu orang tua Pak Edward,” balas Ferdi.


“Baik Pak Ferdi, kalau begitu saya harus ke ruang operasi dulu,”


“Silahkan Dokter.”


Ferdi kembali duduk di depan ruang lobby rumah sakit, menunggu kedatangan orang tua Edward.


Mobil mewah berwarna hitam sudah berhenti di luar lobby rumah sakit milik Edward. Opa Thalib dan Oma Ratna bergegas keluar dari mobil.


Ferdi yang melihat kedatangan orang tua Tuannya beranjak dari duduknya, dan menghampiri Opa Thalib dan Oma Ratna.


“Di mana Edward sekarang, Ferdi?” tanya Oma Ratna yang terlihat tidak sabaran.


“Sudah masuk ke ruang operasi, Nyonya,” jawab Ferdi.


“Ferdi, apa yang sebenar yang terjadi dengan Edward?” tanya Opa Thalib, saat mereka sudah duduk di ruang tunggu, di depan ruang operasi.


“Dada kiri Edward di tusuk Kiren,” awal pembukaan dari Ferdi.


“APA.........WANITA JA-LANG ITU INGIN MEMBUNUH ANAK SAYA YA!!” Oma Ratna sudah meninggi suaranya suaranya, sambil mengelus dadanya sendirinya.


“Awalnya karena ini Tuan Besar,” Ferdi memplay video yang sempat di rekamnya diam-diam dengan ponselnya.


Opa Thalib dan Oma Ratna menyaksikannya dengan seksama video tersebut.


“Bagus, Edward sudah menalak Kiren,” ujar Opa Thalib.


“Luar biasa Kiren kelakuannya, nyalinya besar juga. Mama pokoknya tidak mau tahu, papa harus melayangkan perkara ini secepat mungkin. Hukum wanita itu seberat-beratnya, apalagi sudah berani menyandera orang, dan melukai anak kita!” pinta Oma Ratna.


“Ya, papa dan Ferdi akan menuntaskan perkara ini.”


“Sekarang Kiren ada di mana dan sudah lapor polisi?” tanya Opa Thalib.


“Sudah di tangkap oleh pihak ke polisian, sekarang polisi sudah proses penyelidikan di tempat kejadian, dan interogasi saksi.”


“Kalu begitu kita kawal sama-sama perkara ini, sampai Kiren mendapatkan hukuman yang setimpal,” ucap Opa Thalib.

__ADS_1


Setelah Ferdi menceritakan kejadian detail, Opa Thalib dan Oma Ratna semakin geram dengan kelakuan Kiren, yang sekarang sudah menjadi mantan istri Edward.


Dua jam sudah berlalu, lampu ruang operasi masih berwarna hijau belum ada tanda-tanda operasi akan selesai.


Beberapa perawat terlihat sibuk keluar masuk ruang operasi, sepertinya ada hal yang menegangkan di ruang operasi. Salah satu petugas ruang OK tampak keluar dengan wajah pucat pasi.


“Maaf suster, pasien yang sedang di operasi di dalam, kapan selesainya?” tanya Oma Ratna kepada perawat yang baru saja keluar dari ruang OK.


“Maksud Ibu, pasiennya pemilik rumah sakit ini bukan?” tanya sang perawat, dan menghentikan langkah kakinya


“Iya suster....!” jawab Oma Ratna.


Perawat itu diam sejenak, dan menatap wajah Ibu yang ada di hadapannya.


“Sebenarnya bukan wewenang saya untuk memberitahu Ibu, saya hanya perawat yang membantu dokter di dalam ruang operai. Ibu banyak berdoa saja, dokter sedang berusaha keras di ruang operasi sekarang. Kami keluar untuk bergantian istirahat sejenak. Tadi Pak Edward sempat----,” diam sejenak perawat itu.


“Sempat apa suster?” tanya Oma Ratna.


“Pak Edward, sempat jantungnya berhenti......,” lanjut sang perawat.


DEG


Opa Thalib langsung memegang tubuh Oma Ratna, yang mulai tampak goyang.


“Anak kita, Pah!” ucap lirih Oma Ratna, akhirnya tubuhnya tumbang seketika.


“Siapkan kamar!” perintah Ferdi pada sang perawat tersebut.


Beberapa perawat segera memberi pertolongan kepada Oma Ratna dan memindahkannya ke kamar rawat agar segera di periksa dokter.


Opa Thalib juga sedang berusaha menguatkan dirinya, agar tidak ikutan tumbang.


Hati Ferdi juga ketar-ketir dengan keadaan Tuannya, berharap tidak terjadi hal yang buruk, akan tetapi saat mendengar kata jantung berhenti, pikiran Ferdi ikutan pergi ke mana-mana. Searogannya Edward, tetap pria itu atasan yang baik buat Ferdi. Apalagi selama ini Edward-lah yang banyak membantu kesulitan keluarga Ferdi di kampung.


.


.


Terima Kasih buat Kakak Readers yang ganteng dan cantik yang masih mendukung karya ini.


Kalau ilhamnya muncul lagi, bakal crazy up lagi.....tungguin ya..


Love you sekebon 🌹🌹🌹


 


Boleh ngak malam ini aku menangis bahagia, pengen peluk online Kakak Reader semuanya 🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘, gak percaya di WA Editor NT barusan karya ini masuk TOP 10 Cinta Manis, masya allah luar biasa kaget. Semuanya berkat dukungan Kakak Rearders semuanya, makasih banyak....Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹🌹.

__ADS_1



__ADS_2