
“Segera di tindak!” titah Edward pada salah satu dokter yang sudah menunggu kedatangannya, setelah ada pemberitahuan dari Pak Jaka.
Sekarang Ghina sudah berada di rumah sakit yang ke pemilikannya hampir 70% punya Edward seorang.
Salah satu karyawan rumah sakit sudah mengarahkan Edward untuk menunggu di ruang khusus, selama Ghina mendapatkan perawatan pertama di UGD.
Ria tidak mengikuti langkah Edward, tapi berhenti di depan ruang IGD. Duduk dan menunggu nona mudanya yang sedang di tindak.
Di dalam ruang UGD, Ghina terpaksa harus di pindahkan ke ruang operasi, setelah Dokter UGD mengecek luka yang berada di punggung lumayan panjang dan sedikit dalam. Dan tak mungkin mengambil tindakan di ruang UGD.
Ria yang melihat brankar Ghina keluar dari ruang UGD, agak cemas “Suster, maaf nona saya mau di pindahkan ke mana? Sudah selesai di tindakkah?” tanya Ria pada suster yang ikut mengiringi brankar Ghina.
“Pasien akan di pindahkan ke ruang operasi untuk tindakkan operasi kecil, jadi ibu bisa ikut menunggu di depan ruang OK,” jawab suster.
“Baik suster,” Ria ikut menggiring brankar Ghina menuju ruang OK.
Malang sekali nasibmu Non Ghina.......melas batin Ria .
🌹🌹
“Permisi Pak Edward, wanita yang bapak bawa..... sekarang sudah masuk ruang operasi. Sebagai tanda administrasi mohon di isi untuk persetujuan mengambil tindakan operasi,” ujar Dokter UGD yang menemui Edward di ruang khusus pemilik rumah sakit.
“Kenapa harus di operasi?” tanya Edward.
“Luka di punggung pasien lumayan agak panjang dan sedikit dalam, jadi butuh penanganan khusus. Dan pasien sepertinya sudah banyak kehilangan darah, akibat tidak segera di tindak, saat sudah ada luka tersebut.” Dokter UGD menjelaskannya.
Tanpa bertanya lagi, Edward segera menanda tangani surat persetujuan operasi.
“Segera lakukan operasi.” diserahkannya surat tersebut.
“Baik Pak Edward, saya permisi,” pamitnya.
Tidak di sangka hanya ingin memberikan pelajaran buat Ghina, malah berujung fatal.....membuat Ghina terluka. Edward baru teringat saat menghempaskan Ghina ke dalam gudang, sempat terdengar bunyi benturan tapi di abaikan, malah ujungnya hanya adu mulut antara dia dan Ghina.
“BRENG-SEK!!” kepalan tangan Edward menghujam dinding ruangannya, melampiaskan rasa penyesalannya.
Tak lama kemudian Edward menuju ruang operasi, untuk menunggu Ghina.
Ria melihat kedatangan Edward dari kejauhan saat dia duduk di bangku tunggu yang berada di depan ruang OK.
__ADS_1
“Sudah lama Ghina di ruang operasi?” tanya Edward.
“Baru 20 menit yang lalu, non Ghina masuk ke ruang OK....Tuan.”
“Tuan Besar.....maaf kalau saya kurang sopan. Biar saya yang menunggu dan menjaga non Ghina di sini, sebaiknya Tuan pulang dulu.....baju Tuan ada noda darah non Ghina,” ucap Ria pelan takut Tuannya tersinggung.
Netra Edward ke arah baju yang di pakainya, baru sadar sudah ada noda da-rah.
“Kamu bilang ke sopir, untuk kembali ke mansion dan minta Pak Jaka menyiapkan baju saya beberapa steel dan hanphone saya juga sekalian di bawa,” pinta Edward. Sepertinya ide Ria untuk meminta Edward pulang tidak terkabulkan.
“Baik Tuan, saya permisi ke parkiran untuk menyampaikan pesan Tuan,” pamit Ria.
“Mmm...,” gumam Edward sambil mendaratkan bokongnya ke bangku tunggu.
Sepeninggal Ria ke parkiran mobil, Edward menatap pintu ruang OK yang lampunya masih hijau, tanda operasi masih berjalan.
Jam 11 malam, lampu ruang OK sudah mulai mati. Salah satu dokter yang memakai baju warna hijau tampak keluar dari pintu ruang OK, dan menghampiri Edward yang sedang duduk.
“Selamat malam Pak Edward, pasien sudah selesai di operasi, kondisinya stabil, sekarang kami pindahkan ke ruang observasi dulu untuk memantaunya.” Penjelasan Dokter Bedah.
“Terima kasih Dokter, kalau begitu antar saya ke ruang observasi. Saya akan menemaninya.”
Suasana ruang observasi terasa dingin, layaknya ruang operasi yang suhu ruangannya begitu dingin.
Ghina terlihat terlelap dalam tidurnya, bajunya sudah tergantikan.....dia hanya menggunakan baju khusus untuk operasi.
Dokter dan suster sengaja mengganjal pinggul Ghina dengan beberapa bantal agar tidak pindah posisi menjadi terlentang. Karena jahitannya masih basah, dan takut jahitannya terbuka karena gesekan punggung ke ranjang.
Edward melihat perban yang menempel di bagian punggung Ghina.
“Pasien dapat 7 jahitan di punggungnya, Pak Edward. Untuk sementara posisi tidurnya kita miringkan, agar jahitannya tidak terbuka. Sementara ini pasien masih dalam pengaruh obat bius, jadi belum 100% sadar,” ucap Dokter Bedah.
Tatapan Edward terlihat dingin menatap kondisi Ghina saat ini.
“Kalau begitu saya permisi dulu Pak Edward, nanti akan ada Dokter jaga yang akan mengecek kembali.”
“Baik Dokter.”
Edward mengambil kursi yang berada di ruangan tersebut dan mendekatkan kursi tersebut dekat ranjang Ghina, dia duduk di kursi tersebut.
__ADS_1
Dan dia kembali menatap wajah putih Ghina, tak terasa tangannya bergerak mengelus salah satu pipi Ghina lalu lanjut ke bibir Ghina yang masih terlihat pucat.
Ibu jarinya mengelus bibir bawah Ghina, begitu lama menyentuhnya. Hatinya tergoda untuk kembali merasakan sentuhan bibirnya dengan bibir Ghina. Edward kembali melabuhkan bibirnya ke bibir Ghina, dilummatnya dalam dalam, di sesapnya bibirnya tanpa ada rasa khawatir jika sewaktu waktu Ghina tersadar. Salahkah jika dia mengecup bibirnya sendiri? Ada rasa hangat ketika mengecup bibir istri pertamanya.
Sudah satu jam Edward menunggu Ghina sadar akan dari pengaruh obat biusnya, namun tampaknya Ghina enggan membuka matanya.
“Permisi Pak Edward, di luar ada yang mencari Bapak, katanya istri Pak Edward,” ujar perawat.
Kening Edward mengerut dan kembali menatap Ghina.
“Pasiennya bisa di tinggal Pak, ada saya yang akan menjaga di sini,” ujar perawat lagi.
“Tolong jaga saudara saya, jika sudah sadar pindahkan ke ruang rawat inap khusus keluarga!”
“Baik Pak Edward,” ada rasa berat meninggalkan ruang obsevarsi, apalagi Ghina belum siuman. Tapi dia harus menemui Kiren yang katanya datang.
“Sayang......kamu tidak apa-apakan, tidak ada yang terlukakan?” cecar Kiren yang panik melihat baju Edward bagian depannya berlumurkan darah.
Pak Jaka, Ria dan Kiren sudah berada di luar ruang observasi, baru saja tiba.
“Saya baik baik saja, hanya Ghina yang terluka,” jawab Edward.
“Aku kaget sayang, waktu Pak Jaka mau mengambil bajumu. Katanya sayang ada di rumah sakit, makanya aku buru buru ikut Pak Jaka. Syukurlah kalau Kak Edward tidak ada yang terluka.”
“Maaf ya sayang, aku tak mengizinkan Pak Jaka membawa bajumu. Sebaiknya Kak Edward istirahat di mansion, lagi pula ada Ria yang akan menemani di sini,” rayu Kiren.
“Iya Tuan, betul kata Nyonya Kiren. Saya yang akan menjaga non Ghina di sini.” Ria meyakinkan Edward untuk segera meninggalkan rumah sakit secepatnya.
Edward terlihat ragu-ragu untuk meninggalkan rumah sakit. “Ayuk sayang, kita pulang ini sudah larut malam. Dan gak enak sama ayah dan ibu kalau Kak Edward tidak ada di mansion,” bujuk Kiren.
“Ria, kamu temani Ghina di sini. Kalau ada sesuatu tolong hubungi saya secepatnya,” titah Edward.
“Baik Tuan.”
Edward tanpa menjawab pertanyaan Kiren, segera meninggalkan rumah sakit di ikuti Kiren dan Pak Jaka.
Selama perjalanan pulang ke mansion, di mobil Edward terlihat termenung pikirannya masih di rumah sakit, sampai Kiren mengajak bicara pun di abaikannya.
bersambung.......
__ADS_1