
Oma Ratna setelah puas mengobrol sambil mencicipi cake yang di bawa Ghina, Oma kembali beristirahat.
Edward mengajak Ghina untuk turut beristirahat di kamarnya, yang telah dibersihkan dan dirapikan oleh para pelayan mansion.
Sudah cukup lama Ghina tidak masuk ke kamar suaminya, kali ini wanita cantik itu kembali masuk ke kamar suaminya. Tidak banyak yang berubah, tapi ada hal baru yang belum pernah di lihatnya. Ada bingkai foto berukuran besar terpajang di atas kepala ranjang Edward. Sepasang pengantin sedang berciuman.
“Apa yang sayang lihat,” tegur Edward sambil memeluk istrinya dari belakang.
“Foto itu hubby, sejak kapan sudah terpajang di kamar hubby.” Tunjuk Ghina.
“Itu moment yang sangat berarti buatku sayang, aku memajangnya setibanya pulang dari Australia. Tapi sebelum ada tragedi aku koma, ada foto kita berdua sudah terpajang di ruang kerja di kantorku. Nanti sayang bisa melihatnya sendiri. Foto ini obat rindu waktu aku belum berhasil menemuimu. Juga masih banyak fotomu di handphoneku.”
“Jadi selama ini hubby simpan foto di handphone?” selama ini Ghina memang tidak pernah menyentuh atau memeriksa handphone suaminya.
“Periksa aja kalau gak percaya,” Edward langsung memberikan handphonenya, agar istrinya bebas memeriksa, tidak ada rahasia yang pria itu tutupi.
Menerima handphone milik suaminya, akhirnya jari lentik Ghina menscrool galeri foto, dan cukup tercengang hampir semua galeri fotonya isinya gambar wanita itu.
“Hubby..........udah kayak seorang fans aja simpan foto aku banyak banget ini.”
“Aku kan fansnya foto model Ghina Farahditya, jadi foto yang ada di butik aku minta semuanya. Buat koleksi pribadi,” Edward tersenyum lebar. Ghina hampir tak percaya semua pemotretan dirinya ada dan tersimpan dalam hanphone suaminya.
“Dasar hubby ini.....ckckck,” sambil menggelengkan kepalanya.
Masih di pelukan suaminya, wanita itu berjalan menelusuri meja dan memperhatikan semua figura foto kecil.
Dulu sempat wanita itu melihat foto berdua Edward dengan Kiren, sekarang sudah tidak ada lagi.
“Sayang ingat foto ini?” tunjuk foto mereka saat pertama kali bertemu ketika Opa Thalib ulang tahun.
“Nah ini hubby, sempat pengen aku tanyakan, dulu waktu menginap dan tidur di kamar hubby lihat foto ini. Kenapa hubby pajang?”
__ADS_1
“Karena ada aku dan kamu, dan itu foto pertama kita bersama, duduk bersebelahan dan terpotret oleh kamera. Inilah gadis yang membuatku jatuh cinta yang paling dalam,” cerita Edward.
“Aah..........hubby bisa aja. Paling bisa aja dibikin lebay.”
“Sayang ini serius kok buat apa aku bohong, kalau tidak ada sesuatu hal aku juga gak akan pajang foto itu. Cukup taruh saja di album, bereskan.”
“Iya juga sih.....,” kepala wanita itu mengangguk pelan.
Ghina mengurai pelukan hangat suaminya, lalu melangkah menuju jendela, di bukanya tirai tersebut, hingga kelihatan pemandangan di luar kamar, terlihatlah gerbang mansion. Memori lama terbuka kembali.
“Aku menunggumu seharian di luar sana. Menanti istriku agar mau menemuiku. Aku melihat dirimu sedang berdiri di balik jendela ini,” ternyata Edward masih mengingatnya.
“Dan aku tak mau menemuimu hubby, lukaku masih basah hingga tak ada rasa ingin menemuimu. Hanya bisa menerima panggilan telepon dari hubby, dan melihat dirimu dari sini,” sambung Ghina.
Pria itu kembali merengkuh tubuh istrinya dari belakang, “sejak kamu benar-benar pergi dariku, barulah kusadari hatiku sendiri, sangat kehilangan dirimu,” Edward mengecup lembut leher istrinya.
“Kadang seseorang akan terasa berharga ketika orang itu sudah pergi menjauh, betulkan?”
“Betul sayang, dan itu aku alami sendiri. Kepergian istriku ini membuat aku gila dan hancur. Kali ini jangan pernah pergi lagi ya, sayang,” Edward langsung membalik tubuh istrinya.
“Dan aku kelak akan bercerita kepada anak dan cucuku kalau mommynya wanita yang kuat, pintar, mandiri dan wanita yang sangat cantik......istriku Ghina Farahditya.
Pria itu mulai memajukan wajahnya dan sedikit menunduk, dilabuhkannya bibirnya ke bibir istrinya dengan lembut, Ghina pun menyambut benda kenyal yang sudah menempel dengan lembutnya. Saling berpagutan penuh gairah dan hasrat, hingga mereka berdua sudah berada di atas ranjang tanpa sehelai kain di tubuh mereka berdua. Suara de-sahan dan lenguhan panjang memenuhi kamar Edward. Mereka sedang berbagi peluh, menikmati indahnya surga dunia bagi pasangan halal.
“Semoga anak daddy dan mommy segera hadir,” ujar Edward, sambil mengecup perut Ghina berulang kali.
“Amin......,” sahut Ghina.
🌹🌹
Sudah hampir sebulan Ghina dan Edward tinggal di mansion utama, kini saatnya Edward membawa istrinya ke mansionnya sendiri.
__ADS_1
Sebenarnya Ghina pengen protes tidak mau tinggal di mansion Edward, apalagi banyak kisah sedih di mansion Edward terutama ada wanita lain yang pernah menepati mansion Edward yaitu Kiren . Tapi wanita itu tidak enak untuk mengatakannya. Dan kini wanita itu mengikuti langkah suaminya.
Hampir satu jam perjalanan menuju mansion Edward, dan mobil mewah milik Edward sudah berhenti di mansion yang sangat mewah, dan yang jelas Ghina belum pernah melihatnya. Gerbang mansion itu terbuka sendiri, barulah mobil yang membawa Edward dan Ghina masuk.
“Hubby ini mansion siapa? Bukannya kata hubby kita pulang ke mansion hubby, atau kita mau mampir?” tanya Ghina.
Edward tersenyum,”Kita turun dulu ya sayang,” pinta Edward.
Di luar lobby sudah ada Pak Jaka, Ria, Tia dan beberapa pelayan yang pernah Ghina kenal.
“Selamat datang Nyonya Ghina, Tuan Edward,” sambut Pak Jaka.
“Pak Jaka, mbak Tia....” terkejut Ghina melihat mereka semua ada di luar mansion.
“Selamat datang di mansion kita, sayang,” Edward memberikan kejutan untuk istrinya.
“Benarkah kita tinggal di sini hubby, bukan di mansion yang waktu itu?” Ghina masih terkejut.
“Iya sayang, aku tahu pasti kamu tidak mau tinggal di mansion aku. Jadi sudah lama aku jual. Dan mansion ini sudah dua tahun yang lalu aku bangun, khusus untuk menyambut istri dan anak anakku. Yaitu untuk istri cantikku ini,” Edward mengecup pipi istrinya.
“Terima kasih hubby, sungguh sangat pengertian, jika aku memang tidak mau tinggal di mansion yang dulu. Tapi aku gak enak bilangnya ke hubby."
Sekarang Edward lebih peka dengan perasaan Ghina, walau tanpa harus di ucapkan tapi bisa di rasakan. Selama sebulan lebih ini Edward semakin mencintai istrinya, wanita yang tak banyak menuntut, tapi menjadi pemicu bagi Edward agar lebih baik lagi. Selama sebulan ini juga Ghina sudah mulai bekerja di perusahaan grup Thalib sebagai wakil CEO, mendampingi suaminya di perusahaan. Ghina wanita yang sempurna buat Edward, tidak hanya berperan sebagai istri tapi sekaligus partner kerjanya.
bersambung
__ADS_1