
Selama perjalanan pulang ke mansion, di mobil Edward terlihat termenung pikirannya masih di rumah sakit, sampai Kiren mengajak bicara pun di abaikan.
“Denis, sekarang juga sama beberapa orang berangkat ke rumah sakit. Perketat penjagaan di sana, khususnya di ruang tempat Ghina di rawat!” titah Edward yang baru saja turun dari mobilnya.
“Baik Tuan.”
Sepintas Kiren mendengarkan perintah Edward pada ajudannya.
“Sayang, haruskah Ghina di jaga ketat?” tanya Kiren saat mereka masuk ke mansion menuju kamar Edward yang sekarang Kiren tempati juga.
“Bukan urusan kamu!” jawab Edward.
Sesampainya di kamar, Edward langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sedangkan Kiren mulai mengganti bajunya dengan baju dinas malamnya.
Selesai dari kamar mandi, Edward sudah memakai baju rumahnya. Kiren ternyata sudah menunggu di depan kamar mandi, dan langsung memeluk Edward.
“Sebaiknya malam ini kita istirahat, honey.” Edward melepas pelukan Kiren, lalu menuju ranjangnya dan merebahkan dirinya.
“Aku pijitin ya sayang, biar lelahmu hilang,” ucap Kiren ikut berbaring di samping suaminya.
“Tidak perlu,” jawab Edward, dan mulai memejamkan matanya. Dapat penolakan dari suaminya, Kiren tetap saja memeluk suaminya yang tidur terlentang.
🌹🌹
Keesokan hari...
Jam 6 pagi, Edward sudah terlihat rapi dengan style pakaian kerjanya. Kiren masih terlelap dalam tidurnya. Tanpa membangunkan istrinya, Edward meninggalkan kamar mereka.
“Pagi Tuan, mau minum kopi atau teh?” tawar Pak Jaka.
“Bikinkan saya kopi, dan antarkan ke kamar Ghina sekalian sarapan buat saya.”
“Baik Tuan, akan saya siapkan."
Edward membuka pintu kamar ditempati Ghina, matanya seperti mencari sesuatu. Di bukanya lemari pakaian, tapi tidak ada isinya. Sepertinya Ghina tidak menyimpan barangnya di lemari.
Ditelusuri seluruh sisi kamar tamu, tertangkaplah koper kecil yang berada dekat ranjang. Dibukanya koper tersebut, di pilihnya beberapa pakaian Ghina serta pakaian dalamnya.
Dasar bocah.....pakaiannya biasa sekali!
“Ferdi....bilang ke Santi untuk beli beberapa pakaian wanita ukuran M, pilih model untuk usia 17tahun, sekalian BRA ukuran 36 sama CD nya ukuran M, pilih warna hitam dan cream. Dan antar pagi ini ke rumah sakit,” titah Edward melalui sambungan telepon.
“Baik Tuan,” jawab Ferdi.
Tumben nyuruh beli pakaian wanita, tapi kenapa bisa tahu ukurannya, ini buat siapa ya.......batin Ferdi.
__ADS_1
Edward kembali memasukkan pakaian Ghina ke dalam kopernya.
TOK......TOK......TOK
“Permisi Tuan.” Pak Jaka masuk ke kamar dengan troly makanannya. Dengan cekatan Pak Jaka menyiapkan sarapan pagi Tuannya di meja sofa.
“Silahkan Tuan, sarapannya sudah siap.”
“Terima kasih, Pak Jaka nanti siang kamu antar baju saya beberapa steel dan antar ke rumah sakit.”
“Baik Tuan, tapi kalau nanti Nyonya Kiren melarang bagaimana Tuan?”
“Pakai akal Pak Jaka, kamu bisa suruh bagian laundry yang biasa mengurus baju saya untuk mengemasnya.”
“Oh iya baik Tuan, segera saya koordinasikan dengan bagian laundry.”
“Ya sudah sana segera kerjakan,” sambil melambaikan tangan agar Pak Jaka segera keluar dari kamar.
Selepas Pak Jaka keluar, Edward menikmati sarapannya sambil menatap ranjang, mengingat kembali ketika Ghina pingsan di bathub.
“Huffft......!”
🌹🌹
Rumah Sakit....
“Dokter, bagaimana keadaan Ghina?” tanya Edward saat masuk ke kamar rawat terlihat Dokter sedang memeriksanya.
“Tadi sempat terbangun sebentar, tapi tertidur kembali. Nadinya agak sedikit lemah, nanti saya coba kasih induksi vitamin dan cairan khusus,” ucap Dokter Irfan.
“Bukankah, efek obat bius itu akan hilang setelah 2 jam. Kenapa ini efeknya bisa lama, dari semalam belum sadar hingga pagi ini,” cecar Edward.
“Efek bius juga tergantung dengan imun kondisi pasien. Non Ghina pas saat kondisinya tidak fit dan terlambat dalam penanganannya. Jadi lukanya sudah terinfeksi, hingga dalam tubuhnya juga sedang bertahan atas virus yang masuk,” jawab Dokter Irfan menegaskan.
Jadi siapa yang harus di salahkan di sini, yang jelas pastilah Edward, semua karena tindakan gegabah Edward yang membuat Ghina terluka dan terkurung selama 9 jam tanpa mengetahui luka yang di dapati Ghina. Sungguh ngebatin sekali Ria mendengar ucapan Dokter Irfan.
Diremasnya selimut yang dikenakan Ghina oleh tangan Edward, melihat wanita yang dipaksa nikah dengannya, masih memejamkan matanya.
“Saya tidak mau tahu, Dokter usahakan siang ini Ghina sudah sadar dari efek obat biusnya. Jika tidak sadar juga, Dokter akan saya kirim tugas ke pedalaman!” ancam Edward.
“Saya hanya bisa berusaha Pak Edward, semua kembali lagi ini kuasa Allah,” jawab Dokter Irfan tenang.
“Errghh.......!” Edward menjambak rambutnya sendiri. Sekarang dia sedang memikirkan, bagaimana cara menghadapi Bang Zaka papa nya Ghina, jika sampai terjadi sesuatu yang kurang mengenakkan terhadap Ghina.
BRAK!!!
Pintu kamar rawat inap di bantingnya sekuat tenaga oleh Edward ketika keluar.
__ADS_1
“Astaga.....eman...eman nih dada.” Ria mengelus dadanya melihat tingkah Tuan besarnya.
“Mbak, nanti tolong di perhatikan Ghina nya. Kalau sekiranya ada tanda tanda Ghina siuman, langsung pencet tombolnya,” pinta Dokter Irfan, biar saya segera memeriksanya.
“Baik Dokter.”
“Kalau begitu saya tinggal dulu, mau periksa ke pasien lain.”
Ria menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
Sekitar jam 10 pagi
Ghina mulai ada tanda tanda mengerjap kedua matanya. Ria yang melihat reaksi mata Ghina, segera memencet tombol yang tak jauh dari ranjang Ghina, sesuai pesan Dokter Irfan tadi.
Pandangan pertama yang tertangkap oleh mata Ghina yaitu kehadiran Ria yang duduk di samping ranjangnya.
“Mbak...” panggil Ghina.
“Non Ghina.....iya ini mbak.”
“Saya ada di mana mbak?”
“Non Ghina sekarang ada di rumah sakit. Sebentar Dokter akan datang.”
“Saya kok bisa di sini mbak?”
“Non Ghina kemarin pingsan dan ada luka di punggung.” Jelas Ria.
Dokter Irfan dan salah satu perawat tiba di kamar rawat Ghina.
“Ghina sudah sadar, biar saya cek dulu,” ujar Dokter Irfan, mulai mengecek ke dua bola mata Ghina, mulai memakai alat stetoskopnya untuk bagian dadanya.
“Kita coba posisi duduk ya Ghina, karena sudah lama berbaring,” pinta Dokter Irfan.
Ghina hanya menganggukkan kepalanya, dengan hati-hati Dokter ganteng tersebut membantu tubuh Ghina agar bisa di posisi duduk.
“Mbaknya bisa suapin bubur ayam yang tadi sudah di antar petugas, biar nanti bisa saya kasih suntikan anti nyerinya.”
“Ooh bisa Pak Dokter,” buru buru Ria mengambil semangkok bubur yang berada di nakas.
“Saya suapin ya non, biar cepat sembuh.”
“Iya mbak Ria,” Ghina menerima suapan dari Ria.
“Maaf Dokter, saya sakit apa ya?” tanya Ghina untuk memastikan keadaannya sendiri.
“Ada luka di bagian punggung Ghina, dan semalam kami sudah melakukan operasi kecil untuk menjahit luka tersebut. Ada 7 jahitan, kamu juga terlihat lemah seperti tidak menerima asupan makanan,” jawab Dokter Irfan sambil tersenyum tipis kepada pasien cantiknya.
__ADS_1
“Dan syukurnya kamu sudah siuman, ini sedikit membuat saya tenang karena kamu termasuk pasien yang lama siumannya. Jadi untuk saat ini kamu harus berhati hati dulu dengan jahitan di punggung, jangan sampai kena gesekan, atau tertindih. Biar jahitannya cepat mengering dan cepat sembuh.”