Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Bahagia itu sederhana


__ADS_3

Andaikan waktu bisa mundur, moment yang ingin di ulang oleh Edward, adalah saat pertama kali bertemu dengan si gadis cantik Ghina. Lebih baik dirinya menyatakan rasa sukanya dengan Ghina walau usia gadis itu masih belia, dan menunggu sampai gadis itu dewasa.


Edward menatap teduh wajah istrinya yang sudah tertidur pulas dalam dekapannya, setelah berulang kali pria itu mencium bibir Ghina.


“Aku sangat mencintaimu, istriku,” gumam Edward, kemudian pria itu turut memejamkan matanya.


🌹🌹


Esok Hari..........


Pagi hari ini terlihat sangat cerah, secerah awan biru yang berada di langit. Pasangan suami istri sudah terbangun dari tidurnya. Edward terlihat sibuk mengurus Ghina, pagi ini jadwal Edward mengantar Ghina untuk kontrol ke rumah sakit, untuk ganti perban dan terapi otot punggung.


Ghina sudah terlihat rapi dengan busana casualnya, kemeja dan celana jeans. Wajahnya hanya ber make up tipis, tapi sudah terlihat glowing. Melihat penampilan Ghina yang terkesan sexy, membuat Edward merasa ketar ketir.


“Honey.......,” Edward meraih dagu Ghina.


“Ada apa Om?”


“Gak usah ke rumah sakit deh, di rumah aja.”


“Loh.....kok begitu Om. Aku masih harus kontrol ke dokter loh Om, gak ingat pesan dokter.”


Edward menarik pinggang Ghina,”Honey terlalu cantik dan sexy, aku gak rela orang lain melihat istriku ini.”


“Jangan lebay Om Edward.....dari kemarin kemana aja. Kok baru sadar kalau aku tuh cantik dan sexy...,” Ghina mengedipkan salah satu matanya.


Edward langsung membungkam bibir Ghina, dan tidak memberi celah istrinya untuk melepas pagutannya. Pagi yang membara di kamar Ghina, pria itu kembali membawakan gelombang hasrat ke istrinya, dengan posisi masih berdiri, mereka berdua saling berpagutan. Tangan Edward mulai meraba kancing baju Ghina, namun tangan besar itu sudah di pegang dan di tahan oleh Ghina, agar tidak bertindak lebih jauh. Walau itu hak suami untuk menyentuh seluruh tubuh istrinya.


Wanita itu melepaskan pagutan.”Om Edward, jadwal dokter pagi ini jam sembilan, Nanti kita telat.”


Tatapan Edward yang sudah bergairah, langsung padam.....setelah di siram dengan perkataan Ghina.


CUP


Ghina mengecup pipi pria tampan itu, tahu jika suaminya berulang kali menahan hasratnya yang sudah memuncak.


“Ya sudah kita turun, sarapan dulu....baru ke rumah sakit,” Edward tidak jadi layu, setelah mendapatkan kecupan di pipinya, jarang-jarang wanita itu mau duluan bersikap mesra dengan suaminya.

__ADS_1


🌹🌹


“Mama, Papa, Opa, Oma,” sapa Ghina kaget kedua orang tuanya dan kedua orang tua Edward sudah berada di rumahnya. Ghina dan Edward langsung mencium punggung kedua orang tuanya dan kedua mertuanya, bergantian.


“Kita semua sengaja datang ke sini buat sarapan bareng sama pengantin baru, sebelum kami kembali ke Jakarta pagi ini,” ujar Opa Thalib.


“Oma udah bawa beberapa menu dari hotel, sekarang lagi di rapiin sama Ria dan Ferdi.”


“Makasih Oma jadi merepotkan, sampai dibawaiin makanan.”


“Gak pa-pa nak, gak repot. Yang masakkan karyawan hotel, bukan Oma. Oma cuma nyuruh saja” jawab Oma, sambil terkekeh kecil.


“Iya juga Oma,” balas Ghina sambil tertawa kecil.


“Edward....Ghina kapan kalian berdua kembali menetap di Jakarta?” Tanya Opa Thalib.


Ghina langsung melirik Edward yang duduk di samping wanita itu “secepatnya pah, kemungkinan setelah Ghina sembuh dan sepulang kami dari honeymoon, ya honey.”


Wanita itu terlihat bingung.


“Perusahaan di Jakarta tidak bisa di tinggalkan terlalu lama, Ghina sudah waktunya membantu Opa dan mendampingi suami kamu di kantor pusat,” ucap Opa Thalib.


“Honey, perusahaan grup Thalib di Jakarta, 35% sahamnya adalah atas nama kamu.....jadi honey, termasuk pemilik perusahaan. Dan wajib bantu aku di perusahaan di Jakarta,” penjelasan Edward.


“Jadi maksud Opa dan Om, saya salah satu pemilik perusahaan besar tersebut,” rasa terkejut masih menyelinap di hatinya.


“Iya istriku, itu sudah terjadi saat kamu minta pisah denganku sebelum aku koma, beberapa sahamku dan saham papa di pindahkan atas namamu. Itu salah satu bukti aku mencintaimu sejak dulu. Hartaku adalah milik istriku juga.”


Bagaimana bisa suaminya memberikan kejutan besar yang tidak di duga tanpa sepengetahuan wanita itu, dan itu sudah terjadi di empat tahun yang lalu. Sesungguhnya wanita itu tidak butuh harta yang banyak, cukup suaminya berubah menjadi lebih baik ke dirinya, itu sudah lebih dari cukup. Walau kenyataan hidup butuh uang, semuanya pakai uang.


Kedua netra Ghina mulai berbinar-binar, kemudian wanita itu langsung memeluk Edward, “aku tidak butuh harta banyak Om. Aku hanya butuh Om Edward yang berubah menjadi pribadi yang lebih baik, yang mencintai dan menyayangiku setulus hati dan menjagaku sepanjang hayat hidupku, dan tidak pernah menyakitiku lagi.”


Edward mengurai pelukannya, kemudian menangkup wajah Ghina dengan kedua tangannya,”Aku lebih.....lebih mencintaimu, dan hartaku tidak bisa menggantikan rasa sakitmu yang dulu. Harta bisa dicari jika habis. Tapi kehilanganmu tidak bisa di gantikan oleh harta  sebanyak apapun,” tulus Edward mengatakan, pria itu memajukan wajahnya.


“Ayo ........ayo kalau mau adegan di kamar aja, di sini banyak orang,” celetuk mama Sarah.


“Hi...hi...hi......,” Edward dan Ghina tertawa kecil sambil menutup mulutnya masing-masing, menahan rasa geli....teringat mereka berdua kepergok ciuman di ruang rawat.

__ADS_1


“Ghina, papa kamu juga sudah pindah kantor,” ucap Opa Thalib.


“Pindah kantor?”


“Sekarang Bang Zaka, sudah pegang salah satu hotel milik aku, honey, sejak dua tahun yang lalu. Dan rumah orang tua kamu dekat dengan mansion kita di Jakarta,” ujar Edward, sambil menggenggam tangan istrinya, dan menautkan jari jemarinya.


“Ya Allah, papa kok selama ini gak kasih tahu ke Ghina?” Tanya Ghina.


“Bagaimana papa mau kasih tahu kamu, setiap hari kamu sibuk kerja, bisnis.....dan sudah tiga tahun tidak pernah ke Jakarta. Adik kamu aja Rio di terima di universitas negeri yang ada di Depok, kamu juga gak tahu......pastinya,” jawab Papa Zakaria.


“Iya juga sih, sibuk sendiri....maaf ya Pah, Mam.”


“Iya gak pa-pa....lagi pula saat itu mama dan papa juga bahagia melihat kamu menikmati perjalanan hidup kamu. Jadi memang sengaja mama dan papa tidak memberitahukan kamu, tidak mau mengganggu kamu,” sambung Mama Sarah.


“Berarti Papa sekarang jadi direktur ya, kalau begitu bolehlah traktir Ghina,” pinta Ghina dengan suara manjanya.


“Kamu gak salah minta traktir sama papa, harusnya papa yang minta traktir, wong kamu istri pemilik perusahaan dan hotelnya,” jawab Papa Zakaria.


“HA......HA.........HA...!” semua yang berada di ruang keluarga, tertawa terbahak-bahak. Mendengar anak sama papa saling minta traktiran.


Ghina hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Honey, kamu kok lucu siih, benar kata papa.....Justru kamu yang traktir papa, karena kamu kan pemilik hotelnya juga,” Edward mencubit gemes pipi istrinya, sambil tertawa kecil.


“Sakit Om.......pipinya,” sambil menguyer bekas cubitan suaminya.


Bahagia itu sederhana, berbincang santai di pagi hari bersama keluarga terdekat, saling memberikan rasa nyaman. Dan tertawa bersama, tidak butuh kemewahan yang super wah, cukup hadir di antara keluarga tersayang, karena moment bersama keluarga jarang di temui karena kesibukan masing-masing.


Saat ini Edward merasakan kebahagiaan Itu sendiri, duduk bersama istri tercinta, berbincang santai dengan kedua orang tuanya beserta kedua mertuanya, dan menikmati sarapan pagi yang di siapkan oleh istrinya.


CUP


Edward mencuri kecupan di pipi istrinya saat di meja makan.


“Terima kasih, sudah menyiapkan aku sarapan, honey.”


“Sama-sama, Om juga sudah siapkan  aku sarapan,” senyum tipis mengular di bibir Ghina.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2