Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Pelayan


__ADS_3

“Tuan Besar, urusan Non Ghina sudah selesai, ini ada beberapa obat yang masih harus di minum, dan dibawa pulang.” Ferdi sengaja menyela pembicaraan mereka berdua. Yang terlihat mulai menegang.


“Kita pulang sekarang!” Edward meraih tangan Ghina untuk di genggamnya, namun sayangnya Ghina menepisnya dengan kasar “tidak usah pegang tangan, emangnya saya bocah kecil yang harus di gandeng. Sudah kayak mau nyebrang aja!” ketus Ghina.


Ghina menjauhi Edward, lalu mengambil buket bunga tulip yang masih berada di atas nakas.


Di raihnya lengan Ria yang tak jauh keberadaannya dari dirinya.


Ria mengulum senyum, dan menangkup tangan Ghina agar tetap berpegangan di salah satu lengan tangannya.


Hati kecil Edward tersentuh saat melihat Ghina membawa buket bunga tulip dari dirinya, paling tidak ada barang yang dia belikan, mau di terima Ghina, namun sayang dia tidak akan memberitahu jika itu pemberian darinya.


Mobil mewah Edward sudah terparkir di lobby rumah sakit, sopir dan Ferdi ada di bagian belakang, Edward dan Ghina duduk di bagian tengah, sedangkan Ria ada di bagian belakang.


Tampak hening suasana di dalam mobil, selama perjalanan menuju mansion Edward.


Sungguh sangat berat hati dan terpaksa, Ghina mengikuti kehendak Edward. Bersabar, inilah yang menjadi pilihan terakhir Ghina, sampai Opa alias Papa Edward menjemput dirinya, dan melepaskan dirinya dari pernikahan yang tidak di inginkan Edward dan Ghina.


Netra Edward sesekali mencuri pandangan ke arah Ghina, sedangkan Ghina selalu memandang jendela ke arah jalan, tidak sekali pun memandang ke arah Edward yang berada di sampingnya.


“Itu, bunga dari siapa?” Edward membuka pembicaraan.


“Entahlah, tidak ada nama pengirimnya. Apa Om Edward ingin mengambil bunga ini juga?”


“Tidak, silahkan jika kamu menginginkan bunganya. Kayaknya bunga Tulip jarang ada di Indonesia, pasti yang memberi bunga itu sekaya sultan.”


“Baguslah kalau begitu, saya kira Om Edward akan melakukan hal yang sama dengan bunga pemberian Pak Dokter," balas Ghina terkesan dingin.


“Saya tidak sejahat itu, Ghina.”


“Ck......ngaku gak jahat,” decak Ghina.


Jarak tempuh waktu 45 menit dari rumah sakit ke mansion Edward, mobil mewah Edward sudah memasuki lobby mansion Edward.


Pak Jaka dan beberapa maid sudah menunggu kedatangan Tuan besarnya. “Selamat datang kembali Tuan Besar, Non Ghina,” sapa Pak Jaka kepala pelayan.


“Selamat pagi, Pak Jaka,” balas Ghina.


“Pak Jaka, Ria antar Ghina ke kamarnya.”


“Baik Tuan.”

__ADS_1


Edward dan Ferdi masuk lebih dulu ke dalam mansion.


“Non Ghina, maaf saya belum sempat membesuk di rumah sakit.”


“Gak pa-pa Pak Jaka, terima kasih sudah mengantar saya ke rumah sakit waktu itu.”


“Mari Non Ghina, kita masuk ke dalam......non masih harus istirahat,” ujar Ria.


“Bosen mbak Ria, udah tiga hari istirahat di rumah sakit. Tapi boleh deh, ke kamar dulu sebentar."


🌹🌹


“Sayang, kamu sudah pulang......aku kangen,” Kiren langsung memeluk tubuh suaminya, dan mencium bibir suaminya.


Ghina dan Ria yang baru saja masuk ke dalam mansion, jengah melihat adegan mesra mereka berdua. Dan sempat langkah mereka terhenti.


“Ayo Non, kok berhenti jalannya!” suara Ria sengaja di keraskan, agar Tuan besarnya mendengar.


Edward refleks melepas pangutanya, dan menoleh ke arah belakang. Terlihat wajah Ghina sedang menatapnya.


“Om...... kalau mau mesra sama Istrinya di kamar dong, gak enak sama yang lain. Ya....walau tahu ini mansion Om sendiri.”


“Nak Edward, kamu masih belum pecat pelayan ini. Dan sudah berani pelayan ini panggil nak Edward OM. Jangan di diamkan saja, harusnya Nak Edward tegur!” tegur Bu Sari.


Pandangan Ghina tak putus melihat orang yang ada di hadapannya.


“Betul Tuan Besar, kenapa tidak pecat saya sekarang. Jadi saya bisa pergi dari sini Tuan Besar!” balas Ghina, seakan mendukung perkataan Bu Sari.


Tersentil hati Edward, dirinya di panggil Tuan Besar oleh Ghina.


“Ini apa ini.......kok pelayan bawa bunga semahal ini. Ini kamu di suruh bawaiin bunga dari nak Edward buat istrinya kan?” tanpa permisi Bu Sari merampas buket bunga tulip dari tangan Ghina.


“Bu......jangan semena mena mengambil barang saya. Ini punya saya!” Ghina meraih bunganya kembali, tapi tak bisa. Buket cantik itu sudah berada di tangan Kiren.


“Makasih ya sayang, bunganya cantik," wajah Kiren semakin ceria.


Ghina yang melihat buket bunga tulip miliknya berpindah tangan ke Kiren, hanya bisa pasrah. Mungkin bunga tulip itu sedari awal memang bukan untuk dirinya. Bunga tulip itu hanya mampir dan dimiliki sesaat, sebelum kembali ke pemilik aslinya.


“Ria, bawa cepat Ghina masuk ke kamarnya!” titah Edward.


 Tidak ada satupun pembelaan yang keluar dari mulut Edward atas penghinaan ibu mertuanya terhadap gadis itu. Justru Edward meninggalkan mereka begitu saja di ruang utama.

__ADS_1


 “Awas kalau kamu berani berani menggoda menantuku, saya tidak kasih ampun jika ketahuan!” ancam Bu Sari atas tuduhan yang tidak ada dasarnya.


Ghina mengabaikan ancaman Bu Sari, dia bersikap cuek dan melanjutkan langkah kakinya bersama Ria.


“Mbak, saya tidak akan tidur di kamar ini!” ucap Ghina ketika mereka sudah berada di depan pintu kamar tamu.


“Terus Non mau tidur di mana, Tuan tahunya Non Ghina kamarnya di sini.”


“Mbak Ria tadi tidak dengar, ibu mertuanya bilang apa tentang saya. Kalau saya hanya pelayan di sini, dan Om Edward juga tidak ada pembelaan buat saya.”


“Lalu non Ghina mau istirahat di mana?”


“Saya ikut mbak Ria dan pelayan di sini, tinggal di paviliun belakang.”


“Yakin Non Ghina, mau tinggal di sana!”


“Yakin....seyakin...yakinnya,” Ghina mengulum senyumnya.


🌹🌹


Edward melihat bunga pemberian untuk Ghina sudah berada ditangan Kiren.


“Honey, kapan ibu akan kembali ke Bandung?"


“Sayang, ibu dan ayah masih ingin berlama di sini. Kata Ayah mumpung lagi di Jakarta, dia mengunjungi teman temannya, sekalian cari rekan bisnis baru.” Kiren ikut duduk di samping suaminya, sambil mengelus bunga tulip punya Ghina.


“Sayang ini sudah seminggu, kapan Sayang menceraikan Ghina. Atau sebaiknya pulangkan dulu ke rumah orang tuanya. Kalau lama- lama begini, Ibu dan ayahku bisa tahu!” cecar Kiren.


“Bisa kita tidak membahas masalah ini, atau sebaiknya minta ibu dan ayahmu kembali ke Bandung secepatnya. Atau menginap di hotel aja!”


“Kok sayang ngomongnya begitu, mereka orang tuaku loh. Kalau kamu benar benar cinta sama aku, berarti Kak Edward bisa menerima orang tuaku.”


“Please honey, saya sedang pusing. Jangan ungkit ungkit dulu, tolong kasih saya waktu untuk berpikir!”


“Waktu.....waktu.....waktu saja yang di minta!” tukas Kiren.


“Eergh......” Edward menjambak rambut belakangnya, selalu saja Kiren menuntut dirinya agar segera menceraikan Ghina. Malas untuk bertengkar, dia memutuskan untuk ke ruang kerjanya, meninggalkan Kiren di kamar.


🌹🌹


bersambung

__ADS_1


__ADS_2