
Kata orang awal menikah itu masih wangi-wanginya, masih mesra-mesranya. Tapi hal itu tidak berlaku buat Ghina dan Edward, awal pernikahan mereka sungguhlah menyakitkan buat Ghina, menerima segala perlakuan kasar dari Edward. Sedangkan Edward selalu menipu perasaannya, dengan berlaku kasar dengan istri pertama kala itu.
Tidak ada kata manis atau pujian untuk sang istri, adanya hanya ucapan kasar serta perlakuan kasar yang dilakukan Edward kepada Ghina.
Empat tahun berlalu, kesadaran akan isi hati semakin yakin dan matang jika dia lah yang selama ini sudah terpaut dalam hati masing-masing.
Belajar dari masa lalu, dan memperbaiki di masa sekarang. Karena tidak ingin terulang kembali.
Sebagai suami siaga buat istri cantiknya, Edward begitu sabar menemani istrinya terapi di rumah sakit. Dan hal itu membuat hati Ghina merasa nyaman di samping suaminya.
“Dokter, bagaimana keadaan punggung istri saya?” tanya Edward.
“Sudah lebih baik, tapi saya sarannya setiap hari melakukan pemanasan sebelum melakukan aktivitas. Dan jangan lupa cream ototnya selalu dibaluri.”
“Ini harus melakukan terapi lagi, atau bagaimana Dokter?” kembali bertanya Edward.
“Kalau masih terasa tidak enak, bisa terapi kembali. Tapi Pak Edward bisa berikan pijitan ringan untuk punggung istrinya. Nanti akan saya ajarkan,” jawab Dokter.
“Boleh Dokter ajarkan saya memijatnya,” pinta Edward.
“Mumpung istri bapak masih terapi, sekalian saya kasih contohnya.”
“Makasih Dokter.”
Dengan seksama Edward memperhatikan cara pijat yang di peragakan oleh Dokter. Paling tidak hal ini bisa membantu Ghina jika wanita itu mengeluhkan rasa sakit di bagian punggungnya.
Sekitar dua puluh menit sesi memperagakan dan mempraktekkan sudah selesai.
“Terima kasih Dokter,” ujar Ghina setelah selesai terapi.
“Sama-sama Bu, semoga tidak ada keluhan lagi, dan semakin sehat.”
“Amin.”
🌹🌹
“Honey, setelah ini temani aku ke hotel sebentar ya. Ada beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani. Tadi Ferdi kasih kabar.”
__ADS_1
“Iya hubby, sekalian aku mau ngecek kerjaan staff.”
“Sepertinya honey harus mulai mencari pengganti kamu di hotel, mungkin honey bisa kasih rekomendasi biar aku bisa membantu memilihnya.”
“Hubby, sebenarnya aku berat meninggalkan pekerjaanku di hotel. Tapi mau bagaimana lagi aku harus menurut sama hubby.”
“Aku tidak melarang kamu untuk bekerja honey, tapi dalam waktu dekat kita harus kembali ke Jakarta. Mansion kita ada di sana, dan perusahaan di Jakarta lebih membutuhkan kita berdua, lagi pula kita juga akan sering-sering ke Jogja.”
“Benarkah hubby tidak melarangku bekerja?”
“Tentu tidak melarang, lagi pula kamu bekerja di perusahaan kita, tapi yang lebih utama kamu tetap mengutamakan aku dan anak-anak kita kelak,” jawab lembut Edward, salah satu tangannya mengusap lembut perut rata Ghina.
“Anak...” ucap Ghina.
“Iya honey, aku ingin kita tidak menunda memiliki anak ya....Umurku sudah cukup banyak. Aku rindu memiliki anak darimu honey,” goda Edward.
“Maukan mengandung anak dariku?”
“Sudah jadi istri, masa aku harus menolak mengandung anak dari Om...sih. ya mau dong,” jawab Ghina, wanita itu mengecup pipi suaminya.
“Buat diriku hamil....suamiku,” balas goda Ghina.
“Iissh.....nanti malam aja, kita kan mau mampir hotel,” tolak Ghina, melihat tatapan suaminya mulai messum.
“Iya juga sudah janji sama Ferdi, terpaksa si jon nahan dulu,” tertunduk lemas Edward, mau menenangkan si jon dulu. Pria itu hanya bisa mengecup punggung tangan istrinya berulang kali.
Mau melakukan hal lebih itu tidak mungkin karena di mobil ada sopir bukan hanya mereka berdua saja.
Selama tiga puluh menit, mobil yang membawa Ghina dan Edward sudah sampai di depan lobby hotel. Pasangan suami istri yang ganteng dan cantik sudah di sambut oleh Ferdi.
CUP
Edward mengecup singkat bibir istrinya sebelum berpisah ruangan, “nanti kalau honey sudah selesai kerjaannya, langsung menyusul ke ruangan aku ya,” pinta Edward.
“Iya Om, nanti aku ke ruangan. Met bekerja ya By....,”
“Iya Honey.”
__ADS_1
Edward dan Ghina berpisah di lantai satu menuju ruang kerjanya masing-masing.
“Halo Ani,” sapa Ghina, melihat asistennya masuk ke dalam ruang kerja Ghina.
“Halo juga mbak Ghina eeh maaf Bu Bos, sudah lama gak datang,” ucap Ani.
“Panggil seperti biasa aja, tidak perlu pakai Bu Bos segala,” pinta Ghina.
“Oke siap.”
“Ani, kamu duduk dulu, ada hal yang ingin saya sampaikan," pinta Ghina.
Ani langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Ghina.
“Ada apa Mbak Ghina kayaknya serius sekali?”
“Begini Ani, dalam waktu dekat ini saya akan pindah kembali ke Jakarta dengan suami saya. Dan berarti saya tidak bekerja di hotel ini. Kamu sudah satu tahun menjabat sebagai asisten manager finance, kira-kira kamu bersedia saya rekomendasikan jadi manager finance?”
Kedua mata Ani terbelalak mendengarnya, “Mbak Ghina yakin akan merekomendasikan saya naik jabatan?” Ada rasa tidak percaya diri.
“Kenapa tidak Ani, saya sudah tahu kinerja kamu, dan kamu sudah paham cara kerja saya. Paling tidak kamu bisa meneruskan planning yang sudah saya buat.”
“Sebenarnya saya tidak percaya diri menjabat sebagai manager finance, karena ada staff yang lebih senior di divisi kita mbak Ghina.”
“Dalam bekerja, tidak hanya melihat senior atau junior dalam peningkatan karir, Ani. Tapi ada kompetensi seseorang yang memang hanya mampu untuk jadi staff biasa walau sudah lama bekerja. Tapi ada juga karyawan yang baru bekerja tapi memiliki kompetensi yang lebih dari staff senior. Itu juga salah satu point perusahaan dalam menentukan salah satu karyawan untuk naik jabatan. Jadi kamu jangan tidak percaya diri dulu.”
Ani hanya bisa menganggukkan kepalanya.
“Tapi rekomendasi ini pun juga butuh dukungan kamu juga Ani. Kamu harus buat presentasi kerja dulu, untuk penilaian dan salah satu test naik jabatan. Yang dulu pernah saya alami, jadi bagaimana kamu mau ambil peluang ini?”
“Bismillah..........saya akan coba mengambil kesempatan ini, jika mbak Ghina sangat yakin akan kemampuan saya,” Ani jadi semangat setelah dapat pencerahan dari Ghina.
“Alhamdulillah kalau begitu, sekarang saya minta berkas yang mau di cek. Dan kamu harus sudah mulai bikin bahan untuk presentasi, dan kamu harus yakin.......kamu pasti bisa,” ucap Ghina sambil mengulum senyum manisnya.
“Iya mbak Ghina, terima kasih banyak. Kalau begitu saya ke meja dulu ambil berkas yang harus di cek,” pamit Ani.
Wanita itu menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya, kedua netranya menatap ruang kerjanya. Ruangan yang sudah dua tahun di tempatinya, kini dalam.waktu dekat wanita itu akan meninggalkan ruang kerjanya, untuk mengikuti suaminya. Rasa kehilangan itu mulai menyelinap, tapi harus di lalui.
__ADS_1
Ruang kerja ini pasti akan selalu kurindukan
bersambung