
“Honey......mau makan apa lagi?” Tanya Edward melihat isi piring Ghina sudah habis tanpa ada sisa.
“Sudah cukup, sudah full perutnya...,” tolak Ghina.
“Kalau sudah, kita ke kamar....,” pinta Edward.
“Mbak Ria nanti buatin jeruk hangat ya, anterin ke kamar ya. Om mau juga gak?”
“Boleh...,”
“Bikin dua yang mbak Ria jeruk hangatnya.”
“Oke Nyonya,”
“Ferdi, kamu bisa menginap di sini......di kamar bawah,” ujar Edward.
“Baik Tuan.”
“Ayuuk honey.......,” ajak Edward sambil meraih lengan Ghina.
“Pelan-pelan.... Om jalannya, masih nyeri ini punggungnya.”
“Ini udah pelan-pelan jalannya, istriku.”
Kaki memang tidak sakit, tapi nyeri punggungnya membuat wanita itu tidak bisa bergerak cepat, padahal wanita itu sering menggerakkan tubuhnya ketika latihan menari. Akibat musibah yang tidak bisa dihindarkan.
Naik tangga ke atas pun harus pelan-pelan, untungnya Edward sabar menemaninya.
“Akhirnya......,” Ghina mendaratkan bokongnya di atas sofa empuknya yang berada di dalam kamarnya.
“Honey mau ganti baju gak?” tanya Edward.
“Iya, Om nanti aku ganti baju....,”
“Aku, mandi dulu sebentar....,” ujar Edward sambil meraih bajunya yang sudah tersusun di lemari baju Ghina.
“Ya.........” jawab singkat Ghina. Wanita itu mengambil handphone dari saku kemejanya, sudah dua hari tidak memeriksa pesan yang masuk.
✅Mas Rafael
Ghina, mohon waspadalah dengan Edward. Jangan percaya dengan Edward begitu saja, walau kamu tidak pernah bercerita tentang masa lalu kamu. Tapi saya bisa menebak saat kamu pergi meninggalkan Edward, pasti karena pria itu pernah menyakitimu.
✅Mas Rafael
Saya sangat mencintaimu, saya tidak rela kamu kembali dengan Edward. Sampai kapan pun saya akan menunggumu!!
Ghina yang habis membaca pesan dari Rafael, hanya bisa memijat kedua alisnya. Sedari dulu wanita itu tidak pernah bercerita tentang permasalahan kehidupan rumah tangganya dengan Edward. Dan tak menyangka jika Edward dan Rafael adalah teman, sungguh dunia itu terlihat sempit, hingga bisa mempertemukan kedua orang tersebut. Sekarang Rafael seperti sedang intervensi dirinya terhadap Edward.
“Kamu sedang pusing?” Edward yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat Ghina sedang memijat kedua alisnya.
“Gak Om.”
Tak sengaja Edward melihat layar handphone Ghina yang masih menyala, dan tertangkap nama pengirim pesan WA . Di raihnya handphone dari tangan Ghina, dan di bacalah pesan dari Rafael.
__ADS_1
BRAK
Ghina terkesiap ketika handphone miliknya telah terbentur ke dinding kamar wanita itu.
“OM.....,”
Tatapan mata Edward sudah terlihat tidak bersahabat ketika dirinya di panggil oleh Ghina. Pria itu ingin meluapkan emosinya, setelah membaca pesan dari Rafael untuk istrinya. Tapi sebisa mungkin pria itu menahan amarahnya.
Ghina beranjak dari duduknya pelan-pelan, kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat handphonenya terjatuh, akan tetapi Edward langsung menarik tangan Ghina agar tidak membungkukkan dirinya, Pria itu langsung meraih handphone Ghina yang sudah terlihat hancur, dan meletakkan di atas nakas.
“Besok, aku belikan yang baru.”
“Mmm........,”gumam Ghina, wanita itu kemudian berjalan menuju lemarinya mengambil daster, lalu masuk ke kamar mandi untuk berganti baju.
“Kurang aja Rafael, masih berani rupanya mengirim pesan ke Ghina!!” gumam Edward dengan mengepalkan kedua tangannya.
Edward baru tersadar jika Ghina sudah masuk ke dalam kamar mandi. “Ghina, mau di bantukah?” ujarnya mendekati pintu kamar mandi.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri!” Seru Ghina dari dalam kamar mandi.
“Jangan lama-lama, aku tunggu di depan kamar mandi.”
Ceklek.......
Pintu kamar telah terbuka, baru saja mau menunggu Ghina, ternyata wanita itu sudah keluar dari kamar mandi.
Edward meraih pinggang Ghina, dan mendekapnya langsung, pria itu ingin meredam emosi, rasa cemburunya yang masih bergelayut di relung hatinya.
“Apakah aku salah jika marah, cemburu melihat seorang istri menerima pesan dari pria lain, dan mengatakan cinta pada istriku?”
“Ini yang kedua kalinya Om melemparkan handphoneku, pertama saat dulu di rumah sakit. Apakah Om saat itu cemburu dengan Dokter Irfan?” selidik Ghina, yang melihat suaminya masih suka emosian.
“Ya aku memang sudah cemburu, apalagi saat Dokter Irfan bilang suka denganmu.” Tangan Edward merapikan anak rambut di kening Ghina, dan menyelipkan rambut wanita itu ke belakang telinga.
“Cemburu itu artinya sangat mencintai,” bisik Edward di daun telinga wanita itu, deru napas hangatnya terasa di dekat pipi Ghina, kecupan hangat terasa di daun telinganya, dan salah satu tangan Edward sudah mengelus lembut leher jenjang istrinya.
“Tapi aku tidak suka jika Om Edward suka membanting atau menghancurkan barang, kurangilah hal seperti itu. Walau Om memiliki uang banyak untuk membelinya kembali, tapi itu tetap saja pemborosan. Ingatlah itu Om!!”
“Iya akan aku ingat.”
TOK......TOK.......TOK
“Masuk.......” sahut Ghina. Edward langsung mengurai pelukaannya, kemudian menghampiri pintu kamar.
“Permisi Tuan, mau antar pesenan nyonya,” ujar Ria yang sudah membawa nampan berisikan dua gelas jeruk hangat, dan sepiring pisang goreng.
“Taruh di meja, Ria,” pinta Edward.
“Baik Tuan,” Ria bergegas masuk dan menaruh nampannya di atas meja dekat sofa.
“Wah mbak Ria bikin pisang goreng?” Ghina mendudukkan bokongnya ke sofa.
“Iya nyonya, di kulkas masih ada pisang tanduk. mbak goreng aja.”
__ADS_1
“Makasih ya mbak Ria.”
“Sama-sama Nyonya, selamat menikmati,” undur Ria dari kamar Ghina.
Edward turut duduk di samping istrinya, kemudian ikutan menyesap jeruk hangat yang tadi bawa Ria.
“Honey, bisa kenal dengan Rafael di mana?”
“Mas Rafael yang waktu itu mendekatiku saat aku dan Rika lagi makan di cafe,” jawab Ghina sambil mengunyah pisang goreng yang masih hangat.
“Oooh......”
“Semenjak itu kamu dekat dengan Rafael?”
“Tidak, selama satu tahun aku tidak pernah bertemu semenjak pertama kali kenal di cafe. Kemudian tidak sengaja ketemu lagi di kampus, saat ada acara seminar.”
“Kamu pernah bercerita tentang kita berdua?” Edward sudah seperti menginterogasi saja.
“Tidak pernah, aku tidak pernah bicarakan masalah pernikahanku,” Ghina menundukkan kepalanya sejenak.
“Apa Om sedang menuduhku, kalau aku suka mengumbar-umbar tentang masalah pernikahan kita dulu?”
“Tidak aku tidak menuduh, hanya bertanya dan ingin tahu. Tentang masa lalu kamu dengan Rafael. Dan seperti apa kedekatan kamu dengan Rafael.”
“Aku hanya berteman baik dengan mas Rafael, tidak ada hubungan yang spesial. Dan memang Mas Rafael selalu menyatakan cintanya, tapi aku tidak pernah menanggapinya.”
“Syukurlah kalau begitu, pikirku kamu pernah menjadi kekasihnya,” sedikit ada rasa lega di hati Edward.
“Om ke pengen ya aku jadi kekasih mas Rafael,” selidik Ghina dengan menatap ke arah pria itu.
Pria itu menggeserkan badannya, dan meraih dagu Ghina.”Sampai kapan pun, kamu hanya milikku!!” seru Edward, pria itu langsung melu-mat bibir Ghina dengan lembut tapi sedikit rakus.
.
.
bersambung
Slow up ya kakak Readers, di sambil bantu anak belajar buat ujian di sekolah. Semangat buat emak-emak yang lagi dampingi anaknya lagi ujian ya.
Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1