
Bandara Halim Perdana Kusuma
Tanpa menunggu waktu lama, sesampainya rombongan Opa Thalib, petugas bandara sudah mengarahkan mereka menuju ke jet pribadi Opa Thalib yang telah siap terbang menuju Kota Yogyakarta.
Para kru pesawat menyambut Opa Thalib selaku pemilik jet pribadi. Ini merupakan pengalaman pertama Ghina naik pesawat, apalagi bukan pesawat komersial tapi pesawat pribadi, milik mertuanya.
Tapi tidak membuat dirinya terlihat norak, tetap bersikap seperti biasanya. Walau sesekali matanya membelalak melihat kemewahan di dalam pesawat pribadi.
Pra kru kabin dan pramugari begitu ramah melayani mereka semua seperti tidak ada rasa letihnya, padahal sudah jam sepuluh malam. Sedangkan Ghina matanya sudah mulai terasa berat, ingin rasanya memejamkan matanya.
Ghina memandang ke arah jendela pesawat, hanya pemandangan gelap gulita yang ada.....pesawat mulai boarding....terasa getaran saat pesawat mulai naik ke atas awan. Sungguh pengalaman yang mendebarkan buat gadis itu, tapi teratasi dengan baik.
Selamat Tinggal Kota Jakarta......
Sangking matanya sudah tak sanggup untuk melek, terpaksa dituruti kemauan matanya, yaitu tidur.
Selama penerbangan, Ghina berusaha tidur. Tapi entah kenapa ditelinganya berasa ada yang memanggilnya namanya, suara yang sangat di kenalnya, suara pria yang sedang teriak memanggil namanya.
Sekejap Ghina mengerjapkan kelopak matanya, kemudian melirik ke kanan dan ke kiri, tidak ada yang memanggilnya, semua orang lagi sibuk dengan dirinya maaing-masing.
“Wiiis.... tidur lagi....entah siapa yang memanggilnya...” gumam Ghina sendiri, lanjut memejamkan matanya.
Di mansion Edward
Setelah selesai membersihkan dirinya kemudian menyantap makan malam yang di siapkan Pak Jaka, Edward mengunci pintu kamarnya, agar tidak ada yang mengganggu waktu istirahatnya termasuk gangguan dari istri keduanya Kiren.
Pria itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang, salah satu tangannya membuka galeri foto di ponselnya, satu persatu pria itu melihat album fotonya. Ya foto pria itu dengan Ghina.
Foto prawedding dadakan di hotel miliknya dan foto pernikahannya dengan Ghina. Ada rasa sakit di hati pria itu mengingat kembali tindakan kasarnya, yang tak sepatutnya pria itu lakukan oleh gadis itu.
“Ghina........tiga hari lagi saya akan jemput kamu,” gumam Edward.
Edward memandang tempat kosong di sebelahnya “kamu, akan tidur di sampingku, akan kupeluk dirimu setiap malam.....istriku,” dielusnya ranjang sebelah pria itu, seakan akan Ghina ada di sampingnya.
Puas melihat galeri fotonya, pria itu memejamkan matanya. Sudah hampir satu jam pria itu hanya bisa membolak balikkan badannya. Entah kenapa pikirannya tidak tenang, wajah Ghina selalu tergiang-ngiang. Rasa gelisah yang tak jelas hadir malam itu.
“Ghina ada apa denganmu, kenapa rasanya tidak nyaman di hati saya?” gumam Edward, sambil mengusap kasar wajahnya. Pria itu kembali berusaha untuk tidur.
Jam 23.20........
Bandara Adisutjipta - Yogyakarta
__ADS_1
Selama satu jam terakhir dalam penerbangan, Ghina bisa tertidur pulas walau suara-suara di telinganya terkadang masih terdengar, namun dihiraukannya.
Welcome to Yogyakarta, my new life.......i’m coming.......
Dengan mata yang masih sedikit lengket, Ghina melangkahkan kakinya untuk keluar dari pesawat yang sudah mendarat di Bandara Internasional Adisutjipta.
Oma Ratna dan Mama Sarah mengamit kedua tangan Ghina, bagaikan sedang menuntut gadis kecil. Ya gadis kecil buat mama Sarah.
Sesampainya di bandara Adisutjipta, lagi-lagi petugas bandara siap siaga menerima kedatangan rombongan Opa Thalib, sungguh terlihat di istimewakan karena status kedudukan Opa Thalib, tapi tidak membuat Ghina sombong saat berada di samping Opa Thalib.
Senyum ramah dan kalimat terima kasih selalu terlontarkan dari bibir Ghina.
Beberapa mobil sudah menunggu di luar bandara.
“Malam ini kita menginap di hotel, besok baru ke tempat baru kamu nak,” ucap Opa Thalib.
“Iya, Opa,” jawab Ghina sambil menganggukkan kepalanya.
Mobil yang menjemput rombongan Opa Thalib, langsung meluncur ke hotel milik Opa Thalib yang berada di Yogyakarta.
Ghina tersenyum tipis, untuk pertama kalinya menginjak kakinya di Yogyakarta bukan untuk berdarmawisata, tapi melanjutkan pendidikan dalam kurun waktu yang lama.
Ya......sekarang gadis itu sudah berdiri di tempat berbeda, sangat jauh dari pria yang sedang memanggil namanya dalam tidurnya.
Pas tengah malam, rombongan Opa Thalib sudah tiba di hotel di jalan Malioboro. Staf hotel sudah langsung menyambut mereka, tanpa menunggu lama. Mereka sudah di antar ke masing-masing kamar yang sudah di siapkan sebelumnya.
“AH......akhirnya bisa merebahkan dirinya di atas ranjang....!” gumam Ghina sambil menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Tanpa berganti pakaian, cuci muka, cuci tangan, cuci kaki, ternyata gadis itu mulai terlelap. Hari yang lelah buat gadis ini, lelah hati dan lelah tubuhnya.
Di lain tempat.....
“Ghin-----Ghina......tolong jangan pergi......jangan tinggalin saya...,” Edward meracau dalam tidurnya, keningnya mulai basah karena keringatnya, napasnya mulai tersengal-sengal seperti sedang berlari.
Gadis yang di panggil namanya oleh pria itu, sedang terlelap dalam tidurnya, tanpa terusik sedikit pun. Seakan alam tahu jika gadis itu butuh ketenangan dalam tidurnya.
Pagi hari......Yogyakarta
Terus melangkah melupakanmu
Lelah hati perhatikan sikapmu
__ADS_1
Jalan pikiranmu buatku ragu
Tak mungkin ini tetap bertahan
Perlahan mimpi terasa mengganggu
Kucoba untuk terus menjauh
Perlahan hatiku terbelenggu
Kucoba untuk lanjutkan hidup
🎤🎤🎤senandung merdu pagi hari, Ghina di dalam kamar hotel.
Mengawali hari pertama di tempat berbeda, mengulas senyum di wajahnya. Meninggalkan semua kenangan buruk bersama calon mantan suaminya.
Ting.......Tong....
Bel kamarnya berbunyi.......
“Ya sebentar..........,” sahut Ghina dari dalam kamarnya.
“Ehh mama.....,” sapa Ghina saat membuka pintu kamarnya.
“Sudah rapi belum Ghin, kita mau sarapan pagi di bawah,” ujar Mama Sarah.
“Udah rapi mah, Ghina juga udah lapar. Langsung ke resto aja mah,” ajak Ghina sambil merangkul lengan mama Sarah.
“Ya udah.......kita juga sudah di tunggu di bawah.”
Langkah kaki Ghina terasa ringan kali ini, seperti tidak ada beban. Kedua netranya sungguh mengagumi segala interior dan pernak pernik bernuansa Jawa Tengah. Di tambah alunan musik Jawa Tengah yang terdengar, menambah suasana pagi menjadi lebih baik.
Suasana restoran yang berada di lantai bawah, tampak ramai....karena memang jamnya breaksfeast yang di sediakan pihak hotel bagi tamu yang menginap di hotel.
Opa Thalib, Oma Ratna dan Papa Zakaria ternyata sudah duluan berada di restoran, dan sedang menyantap sarapan paginya.
“Ayo Ghina, Sarah........langsung ambil aja sarapannya, banyak pilihannya,” tunjuk Oma Ratna ke arah meja buffet dan gubug-gubug yang tersedia.
Netra Ghina kalau lihat makanan langsung berbinar-binar, ingin rasanya mencicipi semua makanan yang ada.
Sebelum disuruh Oma Ratna, Ghina sudah mulai melihat-lihat ke arah gubug makanan, air liurnya udah mulai ngeces. Oh Ghina, kenapa baru melihat makanan yang banyak pilihannya saja, sudah buat hatimu senang.
__ADS_1