
Bandung
Terlihat balita usia tiga tahun sedang berlari lincah mengelilingi pekarangan rumah lumayan besar.
Tampak sepasang suami istri sedang duduk di depan pekarangan, sambil mengawasi bocah kecil itu yang sedang bermain.
“Ayah sudah dapat kabar tentang Edward?” tanya Bu Sari.
“Ayah dengar Edward sudah sadar dari komanya, dan baru-baru ini sudah kembali ke Indonesia,” jawab Pak Bowo.
“Ayah harus segera menemui Edward, pria itu harus bertanggung jawab dengan anak yang di lahirkan Kiren. Sudah waktunya Edward tahu jika dia sudah mempunyai anak laki-laki. Paling tidak cucu kita adalah pewaris tunggal kekayaan Edward. Sudah cukup papanya Edward membuat bisnis ayah bangkrut. Sudah waktunya kita merebut kekayaan kita kembali,” ucap sinis Bu Sari dengan senyuman smirk menatap bocah laki-laki itu.
“Ayah akan cari informasi lewat teman ayah, memastikan Edward ada di mana,” jawab Pak Bowo.
“Teman ayah yang di Jakarta jadi bisa bantu Kiren, agar bisa bebas bersyarat. Keluar dari penjara?” tanya Bu Sari.
“Pak Suryo lagi mempelajari kasus ulang anak kita, tapi dia bilang kita harus menyiapkan uang besar. Untuk menyogok orang dalamnya,” jawab Pak Bowo, dengan melasnya. Kalau sudah mendengar kata uang, langsung lemas.
“Sebaiknya ayah lekas cari pinjaman, lagi pula secepatnya kita akan mendapat uang lebih banyak dari cucu kita nanti. Ibu rasanya tidak sabar melihat reaksi keluarga Edward, melihat anak yang di lahirkan Kiren.......keturunan keluarga sultan Thalib,” ujar Bu Sari berbangga hati.
“Ibu berharap Edward sudah berpisah dengan istri pertamanya. Dan setelah Kiren keluar dari penjara, mereka bisa rujuk kembali karena ada seorang anak di antara mereka berdua. Dan yang pasti hidup masa tua kita akan lebih nyaman,” senyum sumbrigah Bu Sari membayangkan impiannya terjadi, apalagi dengan hadirnya bocah laki-laki itu, Bu Sari berharap bisa menguasai Edward.
Begitu pun juga Pak Bowo selama empat tahun jungkir balik karena kebangkrutan bisnisnya, yang sudah beralih ke perusahaan Thalib grup, karena tidak mampu membayar hutang lagi dengan rekan bisnisnya.
“Ayah akan memperjuangkan untuk merebut apa yang telah mereka hancurkan,” ucap Pak Bowo dengan mengepalkan kedua tangannya.
🌹🌹
Yogyakarta
Edward tampak bergeming mendengar ucapan Ghina. Mereka berdua saling bersitatap di atas ranjang. Ghina yang masih duduk bersandar di headboard ranjang, sedangkan Edward duduk di tepi ranjang, di samping Ghina.
“Kalau kamu takut karena aku berubah. Aku sebenarnya juga takut denganmu Ghina, aku takut jika sebenarnya hatimu sudah ada pria lain, dan tidak ada namaku di hatimu,” ucap lirih Edward, pria itu menundukkan pandangannya dari tatapan Ghina.
“Dengan wajah cantikmu, kecerdasanmu. Aku yakin banyak pria yang menghampirimu selama empat tahun ini, dan di antara mereka semua pasti ada salah satu yang menyelusup di hatimu. Itu yang ku rasa saat aku melihatmu untuk pertama kalinya kemarin pagi,” sambung Edward, kembali mengangkat wajahnya.
Ghina hanya diam, belum menjawab.
__ADS_1
“Mungkin memang benar ini terlalu cepat buatmu menerimanya tapi buatku hal ini lama kutunggu Ghina, empat tahun aku menunggunya. Menahan rasanya sendiri, wajarkah aku mengeluarkan perasaan aku yang aku simpan di sini untuk istriku seorang,” ungkap Edward dengan memegang dadanya sendiri.
“Kalau kamu takut denganku. Aku juga takut......aku takut kehilanganmu. Aku takut jika memang di hatimu tidak pernah ada namaku!” suara Edward mulai terdengar serak menahan rasa sedihnya, pria itu tiba-tiba beranjak dari duduknya, kemudian keluar dari kamarnya.
Ghina yang ditinggal begitu saja, hanya bisa melihat pria itu keluar dari kamarnya.
🌹🌹
“Ferdi, kita kembali ke hotel,” titah Edward dengan wajah datarnya.
“Baik Tuan."
“Ria titip istri saya, kalau ada sesuatu yang terjadi dengan istri saya, kabari secepatnya. Ini nomor telepon saya,” ujar Edward sambil memberikan kartu namanya.
“Tuan, tidak jadi menemani Nyonya?” tanya Ria curiga, karena wajah Tuannya juga berubah saat turun tangga.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Ria, pria itu keluar menyusul Ferdi yang sudah berada di depan rumah Ghina.
“Aneh, kok wajah Tuan berubah lagi, apa jangan-jangan Tuan sama non Ghina bertengkar lagi,” gumam Ria sambil memandang ke arah lantai atas.
Wanita yang selama ini dirindukannya, takut akan dirinya. Andaikan waktu bisa mundur, ingin pria itu kembali saat waktu menikahi Ghina, dia akan mengejar dan mencintai, menyayangi Ghina dengan sepenuh hati, menikahi karena mencintai bukan menikahi karena ingin menikah dengan wanita lain.
“Aku takut dengan sikap baik Om Edward yang tiba-tiba muncul, aku takut dengan perhatian Om Edward. Aku takut ketika Om Edward panggil aku sayang atau baby, semuanya datang tiba-tiba,”
Edward meraup kasar wajahnya, sedang Ferdi merasakan hawa mobil terasa dingin bukan karena AC dan mencekam.
Semua yang aku lakukan karena aku mencintaimu istriku Ghina.
Kedua netra pria itu mulai berembun.
Sedangkan di kamar, Ghina terlihat termenung.
“Kalau kamu takut denganku. Aku juga takut......aku takut kehilanganmu. Aku takut jika memang di hatimu tidak pernah ada namaku!”
Namamu masih tersimpan di hatiku dengan baik Om, tapi aku takut membukanya.....aku takut akan terpatahkan lagi Om Edward......maafkan aku.
Edward yang berada di dalam mobil sedangkan Ghina yang berada di dalam kamarnya, mereka berdua sama -sama merasakan sakit di hatinya, sedih itu datang tiba-tiba dalam waktu bersamaan. Buliran bening kembali terjatuh di mata mereka berdua.
__ADS_1
Masih sakit rasa di hatiku Om Edward !!!.........batin Ghina.
Hatiku sakit Ghina rasanya!!!.......batin Edward.
🌹🌹
Bandung
Pak Bowo tersenyum merekah di wajahnya, setelah dapat informasi jika Edward beserta ke dua orang tuanya ada di Yogyakarta, menginap di hotel milik Edward.
Pak Bowo segera memesan tiket pesawat untuk ke Yogyakarta penerbangan pagi hari.
“Edward tunggu kedatangan kami, akan ada kejutan untuk kamu!” gumam Pak Bowo dengan senyum devilnya.
“Bu.......cepat siapkan keperluan kita yang akan di bawa. Besok pagi-pagi sekali kita berangkat ke Yogyakarta,” pinta Pak Bowo.
“Ke Yogyakarta, memangnya ada apa Yah?” tanya Bu Sari.
“Kita temui Edward dan kedua orang tuanya di sana. Mereka ada di Yogyakarta, semakin cepat kita menemuinya, semakin cepat kita dapat uang banyak,” ujar Pak Bowo.
“Pintar Ayah sudah dapat informasinya, ibu juga akan menyiapkan cucu kita yang sangat bernilai ini.......keturunan sultan,” ucap Bu Sari.
“Akhirnya kita bakal bisa merebut menantu kaya kita kembali, dan ini adalah kehancuran untuk gadis itu. Yang telah menginjak-injak harga diri kita di rumah sakit. Dasar wanita murahan berani merebut suami Kiren,” ujar Bu Sari dengan suara lantangnya.
Sepertinya Pak Bowo dan Bu Sari masih beranggapan Edward suami Kiren, padahal sudah jelas ada surat resmi perceraian yang terkirim ke alamat rumah mereka. Atau jangan-jangan mereka belum menerimanya.
.
.
next.......anak Edward???
__ADS_1