Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Menemukan Ghina


__ADS_3

“Kok tumben chef masak seperti ini?” heran Edward. Tidak mungkin istrinya Kiren yang memasak, karena dia tahu betul, Kiren tidak bisa masak, hanya bisa menyajikannya saja.


“Di coba dulu Tuan, jika rasanya tidak berkenan, saya akan kembalikan ke pihak dapur.” Pak Jaka sebenarnya agak ragu juga menawarkan sarapan yang berbeda, biasanya chef selalu menyajikan hidangan western, atau masakan mewah. Apalagi semenjak Kiren tinggal di mansion selalu meminta di masakin ala jepang, western, pokoknya ala kebarat-baratan.


Edward memilih untuk mencobanya, apalagi semalam dia hanya makan tiga suap, Pak Jaka segera melayani pria itu.


Suapan pertama, ketika nasinya bercampur ikan nila, cah kangkung dan sambal terasi masuk ke mulutnya bersatu padu.


Enak.....


Edward kembali menyuapnya lagi, dorongan ingin kembali makan muncul.


“Boleh......lain kali chef.....masak seperti ini.....enak rasanya,” puji Edward.


Pak Jaka tersenyum mendengar pujian yang terlontar dari mulut Edward. Istri pertama Tuan yang memasak ini bukan chef!


Baru kali ini Edward semangat untuk sarapan pagi.


“Pak Jaka, bawakan lagi ikan dan sayurnya, plus tempe mendoannya,” pinta Edward, merasa nikmat sarapan paginya.


Pak Jaka tancap gas menuju dapur mengambil lauk pauk lagi. Luar biasa memang kalau istri masak dengan sepenuh hati, apalagi yang makan suami sendiri.


“Ini Tuan, lauknya,” Pak Jaka menyajikan lauk pauknya.


Edward kembali melanjutkan makannya.”Nanti tolong bilang ke Chef, nanti siang buatkan saya tempe mendoan lagi, ini enak sekali.......sekalian sambalnya......ini luar biasa bikin saya nafsu makan,” ujar Edward. Sepertinya Edward masih belum tersadar, dia pernah makan menu  seperti itu di rumah Ghina.


“Baik Tuan, nanti saya sampaikan.”


Kira-kira Non Ghina mau masak lagi gak ya, takutnya malah gak masak.......bisa berabeh ini!...bantin Pak Jaka


Setelah Tuan besarnya menyelesaikan sarapan paginya, Pak Jaka merapikan perabotan bekas makannya.


“Selamat Pagi, Tuan Besar....!” sapa Denis yang berdiri tegap di depan pintu kamar.

__ADS_1


“Ya Denis, masuk....ada perkembangan baru keberadaan Ghina?” tanya Edward, rencana setelah sarapan, dia akan melanjutkan mencari Ghina.


“Maaf sebelumnya Tuan, saya tadi memeriksa CCTV. Sepertinya Non Ghina semalam tidak keluar dari mansion,” lapor Denis dengan nada sedikit cemas, takut Tuan Besarnya marah.


“Bukannya semalam kamu lapor ke saya, Ghina tidak ada di mansion dan kalian sudah mencari ke seluruh mansion. Lantas Ghina ada di mana?” bentak Edward.


“Semalam sepulang kita habis mencari Ghina, saya berada di kamar ini, dan Ghina juga tidak ada! Tidur di mana dia semalam! Berarti Ghina memang tidak ada di mansion, kamu jangan berbohong sama saya kalau semalam Ghina masih ada di mansion!” tukas Edward.


Kiren yang bermaksud mencari keberadaan suaminya, tak sengaja mendengar suara suaminya di kamar tamu. Dan mendengar pembicaraan suaminya.


“Sayang, jadi semalam aku telepon kamu....tidak di angkat karena sibuk mencari Ghina! Lalu pulang ke mansion, tidak tidur di kamar kita, malah tidur di kamar ini!” tegur Kiren merasa sakit hati.


“Honey, jangan berpikir apa...apa...dulu. Ghina tanggung jawab saya sebagai saudara. Papa sering menanyakan keadaan Ghina, saya tidak mau papa curiga, jika Ghina menghilang lagi,” Edward mencoba meyakinkan istrinya, jika antara dirinya dan Ghina tidak ada apa-apa.


Denis yang merasa ada di antara pasangan suami istri, berjalan mundur, lebih baik meninggalkan mereka berdua.


“Kak Edward selalu bilang tanggung jawab sebagai saudara. Ingat Kak, aku ini istrimu.....yang juga tanggung jawabmu. Bukan Ghina,” air mata Kiren mulai keluar.


“Jika Kak Edward bertanggung jawab dengan Ghina, sebaiknya pulangkan Ghina ke rumah orang tuanya secara baik-baik. Akulah tanggung jawabmu yang sesungguhnya, aku membutuhkanmu, perhatianmu, kasih sayangmu Kak,” berderai sudah air mata Kiren.


Tersadar jika Edward kurang perhatian dengan istri pilihannya. Kiren membalas pelukan suaminya, yang sudah beberapa hari dia rindukan.


“Cepatlah Kak Edward menceraikan Ghina, aku tidak mau hubungan kita menjadi renggang seperti ini,” ucap Kiren dalam dekapan Edward.


Edward mengurai pelukannya, hatinya kembali bimbang. “Beri.....saya waktu,” hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Edward.


Sepertinya Kiren harus ikut campur agar suaminya cepat menceraikan Ghina, kehadirannya membuat suaminya sedikit berubah terhadap dirinya. Aku harus cari cara agar Kak Edward cepat menceraikannya.......tapi apa ya?


🌹🌹


Kiren yang menggoda suaminya di kamar tamu. Sepertinya gagal total, Edward menolak ajakan Kiren untuk berhubungan intim dengan berbagai alasan. Wajah Kiren kembali ke tekuk dan masam, setelah Edward menyuruhnya keluar  dari kamar tamu.


Sepertinya otak Kak Edward sudah terkontaminasi dengan Ghina  bisa bisa nya gue di tolak lagi. Ini tidak bisa di biarkan!

__ADS_1


“Kiren, kamu sebagai nyonya mansion ini harus mengecek ulang pelayan wanita di sini. Yang sekiranya jadi bibit pelakor, sebaiknya di pecat. Lagi pula menurut ibu, kamu berhak memecat mereka!” ucap Bu Sari sambil menyantap sarapan pagi.


“Bu, Kiren tuh belum dapat kuasa dari Kak Edward untuk mengurus karyawan yang ada di mansion ini. Jadi Kiren belum  bisa melakukan seperti yang ibu inginkan.”


“Kamu harus cari cara, bagaimana juga pelayan yang bernama Ghina, keluar dari mansion ini segera. Ibu tuh merasa ada sesuatu di pelayan itu. Memangnya kamu tidak khawatir, suami kamu di goda sama pelayan itu!” kompor meleduk mulut Bu Sari, panasin anaknya sendiri.


Ini yang gue khawatirkan, takutnya pernikahan Kak Edward dan Ghina terbongkar. Dan ketahuan oleh Ibu dan Ayah, bisa kacau ini.....jika mereka tahu aku hanya istri kedua.


“Ya Bu, nanti Kiren pikirkan caranya.”


🌹🌹


Ghina duduk terpaku di depan paviliun, setelah selesai masak dan menyeka badannya. Sekarang dia berada di sana, sengaja menikmati sinar matahari pagi. Ria sedang sibuk dengan pekerjaan, dan tidak mengizinkan untuk membantunya.


Denis yang jadwalnya berkeliling mansion, tanpa sengaja melihat Ghina duduk di depan paviliun. Dengan langkah cepatnya dia mencari Tuan Besar untuk memberitahu keberadaan Ghina.


TOK.......TOK.......TOK


Denis mengetuk pintu kamar tamu dengan menggebu-gebunya.


“Masuk......” sahut Edward.


“Lapor Tuan, non Ghina sekarang ada di depan paviliun.”


Raut wajah Edward seketika berubah mendengar kabar keberadaan Ghina, lalu segera pria itu keluar dari kamar tamu.


Hanya menggunakan celana ¾ hingga kaki putihnya terlihat jelas, kaos ukuran besar yang menutupi tubuh aslinya. Rambut panjang berwarna coklat sedikit bergelombang bagian bawah tergerai indah, pipinya merah merona karena kena sinar matahari pagi, serta bibir sensualnya berwarna pink alami. Inilah pemandangan yang saat ini Edward lihat, setelah Denis memberitahunya di kamar tamu, pria itu bergegas ke paviliun.


Gadis yang semalam dia cari berjam-jam, yang di dalam hatinya selalu memohon gadis itu untuk kembali ke mansionnya.


Edward sengaja memperlambat langkahnya, ingin berlama-lama menatap Ghina dari kejauhan.


.

__ADS_1


.


Kasih yang adem dulu buat lanjut ke part berikutnya 😁😁😁.....eng....ing.....eng.......


__ADS_2