
Edward mulai mengerem rasa cemburunya, dan kembali melangkah kakinya untuk menghampiri mereka berdua.
“Tuan, jangan terlalu emosian, kendalikan amarahmu.....jika ingin mengejar Nyonya Ghina,” ucap Ferdi yang sudah berada di samping Tuannya.
“Mmmm.........” gumam Edward, tapi tatapan matanya berapi-api, melihat Ghina dengan pria yang akan keluar dari pintu lobby. Edward mempercepat langkah kakinya.
“Ghina......” panggil Edward, meninggi suaranya.
Ghina langsung menoleh ke arah belakang, begitu pun pria yang ada di samping wanita itu.
“Edward.......,” sapa pria yang berada di samping Ghina, terkejut.
“Rafael......,” jawab Edward, ikutan terkejut,setelah melihat jelas wajah pria yang tadi memakaikan sepatu ke kaki Ghina.
“Apa kabarnya.......Bro....sudah lama tidak ketemu,” ujar Rafael, mereka saling berjabat tangan dan berpelukan.
Ghina hanya bisa bengong melihat Rafael dan Edward.
Jadi mereka berdua saling mengenal.
“Kabarnya baik, seperti yang kamu lihat sekarang, Rafa....,” jawab Edward, menahan rasa hati yang bergejolak, setelah tahu pria yang memakaikan Ghina sepatu adalah temannya sendiri.
“Semenjak hadir di acara pernikahanmu dengan Kiren, sudah lama kita gak ketemu.....sudah empat tahun ya. Gimana kabar Kiren sekarang, kalian sudah punya anak berapa. Oh iya.....tadi sempat panggil Ghina ya,...... kenalkan ini calon istriku Ghina.......doaiin ya biar nyusul kayak kamu dan Kiren,” ucap Rafael sambil memberanikan diri merangkul pinggang Ghina, untuk pertama kalinya.
Ghina yang disebut calon istri oleh Rafael, terkesiap lalu menatap wajah Edward yang ada di hadapannya.
Calon istri.............Ghina istri saya....!”
Kedua netra Edward semakin menajam menatap Ghina, tatapan matanya bagaikan serigala yang sedang melihat mangsanya.
“Belum ada sebulan menikah dengan Kiren, sudah saya ceraikan. Sekarang Kiren ada di hotel prodeo untuk menjalankan hukumannya selama sepuluh tahun.”
“Lok kok bisa bercerai dengan Kiren, bukannya kamu sangat mencintai Kiren. Terus kenapa bisa di penjara?”
“Kiren bikin ulah saat empat tahun yang lalu.”
Rafaeln hanya bisa menganggukkan kepalanya, seolah paham.
Ghina tampak mulai terlihat tidak nyaman dengan pembicaraan antara Rafael dan Edward.
__ADS_1
“Mas Rafael, sebaiknya kita tunda acara kita sore ini. Sebaiknya Mas Rafa sama Pak Edward ngobrol santai di restoran, lagi pula kayanya sudah lama tidak bertemu kan. Dan gak enak kalau ngobrolnya sambil berdiri.” ucap Ghina lembut sambil menatap wajah Rafael.
Kamu panggil Rafael’mas......sedangkan saya suami kamu.....di panggil Om....malah sekarang dipanggil Pak!!!
Hati Edward kembali berkecamuk, mendengar suara Ghina melembut dengan temannya.
“Kamu berapa hari di Yogya, mungkin kita bisa janji temu. Karena saya sudah duluan janji dengan Ghina, mau jalan?” tanya Rafael.
“Tergantung sama masalah, kalau masalahnya cepat selesai, mungkin segera balik ke Jakarta. Tapi kalau belum selesai juga masalah, yaaa mungkin akan lama stay di sini,” jawab Edward masih menatap Ghina, sayangnya wanita itu memalingkan wajahnya.
“Wah pasti masalahnya berat juga ya. Masalah kerjaan?”
“Bukan tentang pekerjaan, tapi masalah pribadi. Saya lagi mencari istri saya yang menghilang,” jawab Edward.
“Ohh.....kamu sudah nikah lagi toh,” ujar Rafael.
“Tidak.....saya tidak nikah lagi, yang menghilang istri saya yang saya nikahi sebelum Kiren.”
“Maksud kamu, jadi waktu itu Kiren istri kedua kamu. Dan kamu punya dua istri......wah hebat bro,” ujar Rafael terkejut.
“Bukannya hebat Bro, tapi saya menyesal sampai istri pertama saya pergi meninggalkan saya.”
“Ya.....semoga kamu cepat bertemu dengan istri kamu yang menghilang.”
Dalam posisi berdiri lama menggunakan sepatu high heels, di tambah matanya mulai berkunang-kunang dan kepalanya mulai terasa pusing. Ghina baru ingat kalau telah melewati makan siangnya. Sedangkan tadi pagi saat sarapan hanya makan nasi goreng lima sendok makan. Dan sekarang sudah jam lima sore, belum di isi perutnya.
Rafael merasa kalau lengannya di pegang erat sama Ghina.”Ghina, kamu gak pa-pa......kok mukanya tiba-tiba pucat begini,” ucap Rafael ketika melihat Ghina.
“Gak pa-pa kok.......Cuma perut agak lapar........lupa makan siang,” Ghina mulai mengerjap-ngerjapkan matanya yang semakin jadi kunang-kunangnya, dan tiba-tiba gelap gulita.
“GHINA......” pekik Edward, untungnya cepat menangkap tubuh Ghina , ketika mulai merosot.
“Edward, biar saya saja yang mengangkatnya,” ujar Rafael, mau mengambil alih Ghina yang sudah di dekap Edward, dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Dari jauh Ferdi berlarian keluar lobby hotel bersama beberapa staf hotel, setelah melihat Ghina pingsan.
“Ghina, istri saya yang menghilang.....Rafael,” jawab Edward tegas, Tubuh Ghina langsung di gendong Edward ala bride stlye.
Rafael terkejut atas pernyataan Edward, tapi tidak langsung mempercayai ucapan Edward. Mungkin besok pria itu akan menanyakan lagi, apalagi ini menyangkut wanita yang di cintainya.
__ADS_1
Ghina istri Edward........gak mungkin.....batin Rafael.
“Ferdi panggilkan dokter, dan siapkan makanan untuk istri saya, antar ke kamar saya,” perintah Edward.
“Baik Tuan....”
Staff hotel yang dekat dengan posisi mereka, ikutan terkejut atas pernyataan Presdir mereka, kalau Ghina adalah istri Presdir.
“Mbak Ghina, istri presdir.......kapan nikahnya. Bukannya Mbak Ghina, pacarnya Pak Rafael,” celetuk salah satu staf hotel.
“Mereka menikah empat tahun yang lalu..........sudah kalian jangan bergosip. Sekarang kalian ke bagian restoran untuk menyiapkan makanan buat Nyonya dan antar ke kamar,” titah Ferdi, lalu meninggalkan Rafael yang masih berdiri, penuh dengan tanda tanya.
Dari luar lobby sampai masuk ke dalam lobby hotel, semua mata memandang ketika Edward mengendong Ghina, para karyawan mulai kasak kusuk. Melihat presdir mereka mengangkat Ghina seorang diri, beberapa staf hotel ada yang turut mendampingi Edward sampai kamar yang di tempati Edward.
Penuh rasa hati-hati, Edward membaringkan Ghina di atas ranjangnya.
“Pak Presdir, ini ada minyak angin....untuk mengolesi ke hidung mbak Ghina,” ujar salah satu staf, sambil memberikan botol minyak angin ke pria itu.
“Terima kasih, kalian segera siapkan yang saya minta. Makanan dan buatkan teh manis hangat untuk istri saya,” perintah Edward.
“Baik Pak Presdir.....,” jawab mereka berdua, lalu meninggalkan kamar.
Edward melepaskan kedua sepatu high heels yang di pakai Ghina, kemudian membuka blezer yang di pakai Ghina dengan gerakan yang hati-hati, dan tinggal menyisakan kemeja dalam yang sangat tipis beserta rok sepannya. Penuh perasaan Edward membaluri minyak angin ke hidung, kening lalu tengkuk lehernya.
“Ghina........istriku......bangun sayang...,” bisik Edward di telinga Ghina.
Salah satu tangan Edward mulai mengelus pipi Ghina yang terlihat mulus.....lalu mengecupnya dalam-dalam.
“Kamu banyak berubah Ghina, membuatku semakin tergila-gila,” kembali Edward berbisik di telinga Ghina, lalu mengecup daun telinga wanita itu.
“Hari ini saya bahagia bertemu denganmu lagi.......istriku,” bisik Edward, tak kuasa pria itu mengecup kembali telinga Ghina, dan sedikit memainkan lidahnya ke dalam lubang telinga Ghina.
Ting Tong
Terpaksa pria itu menghentikan aksinya, kemudian beranjak dari ranjang, untuk membukakan pintu kamarnya.
.
.
__ADS_1
Next..........