Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Pertengkaran Hebat


__ADS_3

“Kamu tidak akan pernah saya anggap sebagai istri saya. Ingat istri saya hanyalah Kiren....Nyonya Edward, dan saya hanya bertanggung jawab ke kamu sebagai saudara....tidak lebih!” jawab Edward. Perkataan Edward bagi Ghina seperti menghunuskan hatinya seketika itu juga.


“So........kenapa Om repot harus bertanya saya pergi ke mana. Kan hanya dianggap sebagai saudara, bukan istri yang harus di cari ketika pergi!” jawab Ghina penuh penekanan.


“Dan jangan pernah mengatakan Om suami saya, kita hanya saudara!” Ghina kembali menekan perkataan dari Edward.


“KAMU MAUNYA APA GHINA!” pekik Edward tidak terima setiap ucapannya di putar balik oleh Ghina.


Kedua netra Ghina tiba-tiba terpejam ketika Edward berkata kencang di depan wajahnya.


“Om tanya saya mau apa!” dada Ghina mulai terasa ingin meledak.


“SAYA INGIN CERAI!” teriak Ghina pas di depan muka Edward.


Rahang Edward mengeras seketika, wajahnya semakin tegas garangnya, tatapannya semakin menajam menatap mata Ghina.


“Apa kamu bilang.....minta cerai!” salah satu tangan Edward mulai memegang dagu Ghina sekuat tenaganya.


Wajah Ghina sudah mulai memerah menahan rasa sakit di dagunya, yang di pegang Edward.


“YA MARI KITA BERPISAH!” tegas Ghina.


“Sepertinya kamu memang perlu di beri pelajaran!” dengan napas yang memburu kedua tangan Ghina di raupnya sekaligus dengan salah satu tangan besarnya.


Dengan terburu-buru, Edward membuka pintu kamar Ghina. Sekuat tenaganya Edward mengerek Ghina keluar dari kamar tamu.


“OM LEPASIN GHINA!” Ghina memberontak saat Edward menggerek tubuhnya.


“LEPASIN GHINA OM!” teriak Ghina, Edward menghiraukan teriakannya.


“PAK JAKA!” panggil Edward.


“Ya Tuan Besar,” jawab Pak Jaka mendekat dan  terlihat cemas melihat Ghina digerek Edward.


“Ikut saya, bawa kunci gudang!” titah Edward yang masih melangkah menuju keluar mansion dari pintu belakang, ke arah paviliun.


“OM LEPASIN GHINA.....OM!” teriak Ghina masih memberontak ingin menghentikan langkah Edward.


Teriakan Ghina membuat Edward semakin mempercepat langkah kakinya, hingga Ghina hampir terpeleset.

__ADS_1


Pak Jaka ingin menolong Ghina dari cengkraman Tuan Besarnya, tapi tidak ada daya untuk menolongnya.


“Nak Edward........ini ada apa?” Bu Sari tak sengaja melihat Edward dengan Ghina. Kiren yang sedang mengajak jalan-jalan ibunya berkeliling mansion Edward tanpa sengaja bertemu Edward dekat kolam renang arah ke paviliun.


Ditegur mertuanya, Edward menghentikan langkahnya. Buat Ghina ini waktu untuk dia mengatur napasnya, setelah digerek Edward.


“Ini siapa nak Edward?” tanya lagi Bu Sari sambil menunjuk ke Ghina, heran melihat menantunya memegang tangan gadis yang terlihat masih muda dan cantik.


Wajah Kiren agak khawatir, jika Edward akan bilang ke Ibunya jika wanita yang di pegang tangannya adalah istri yang di nikahi sebelum dirinya. Lirikkan matanya bermain dengan tatapan mata Edward.


“Dia  pelayan di rumah ini, sedang berbuat ulah. Jadi saya akan memberinya pelajaran," jawab Edward dengan menghunuskan tatapannya ke Ghina.


HAH........pelayan.....gue di bilang pelayan di sini.......oh benar benar be-jat kau Edward......batinnya memaki.


“Nak Andre, pelayanmu kok cantik sekali. Sebaiknya jangan hanya di kasih hukuman, lebih baik kamu pecat saja. Suruh perempuan ini pergi dari sini,” saran Bu Sari.


Hati Kiren sedikit lega, suaminya bilang kalau Ghina hanya seorang pelayan.


“Kiren, sebaiknya kamu perhatikan pelayan yang bekerja di sini. Jangan pilih pelayan yang cantik seperti gadis ini, siapa tahu dia hanya berpura-pura menjadi pelayan di mansion ini. Tahu tahunya dia menggoda suami kamu,” tegur Bu Sari.


“Ibu jangan sesekali ikut campur urusan mengenai pelayan di mansion saya. Mereka adalah karyawan saya, jadi hak saya yang mengatur mereka,” balas Edward tidak suka di atur.


“Bu....sudah jangan di lanjut lagi, Kiren nanti jadi gak enak sama Kak Edward, masa gara-gara pelayan nanti kami berdua jadi ribut. Lagi pula Kak Edward tidak mungkin selingkuh, dia benar benar mencintaiku bu.”


Bu Sari terheran menantunya menegurnya langsung “Kalau begitu maafkan Ibu nak Edward, ibu berkata seperti itu karena ingin rumah tangga kalian adem tentrem tanpa ada istilah pelaakor. Apalagi nak Edward dan Kiren baru 2 hari usia pernikahannya.”


Tanpa permisi dan mengabaikan perkataan ibu mertua serta meninggalkan, Edward lanjut membawa Ghina ke arah paviliun. Di samping paviliun terdapat bangunan kecil seperti gudang penyimpanan barang.


Kiren menarik lengan Ibu nya untuk masuk ke dalam mansion segera, agar tidak terlalu curiga apa yang akan dilakukan Edward terhadap Ghina.


“Cepat buka pintunya Pak Jaka!” titah Edward, ketika mereka sudah di depan gudang.


Dengan terburu buru dan tangan yang gemetar Pak Jaka memasukkan kunci gudang ke dalam kenop pintu.


BUGH.......BRAK!!!


Tubuh Ghina terhempas ke dalam ruang gelap, tanpa satu pun jendela yang berada di bangunan tersebut. Hanya lampu bercahaya kuning ukuran 5 watt sebagai penerang ruangan tersebut.


Entah apa yang mengenai punggung Ghina hingga menimbulkan bunyi kencang.

__ADS_1


“Apa maksud dengan semua ini! Apakah Om Edward ingin menyiksaku! Apakah tidak cukup saya mengorbankan diriku sebagai istri tumbalmu!” ucap lirih Ghina, saat Edward masih berdiri di depan pintu gudang.


“Tadi Om bilang saya hanyalah saudara, sekarang di depan orang lain......saya dibilang pelayan. Sungguh laki-laki be-jat!!!” geram Ghina.


“Kamu sementara di sini, untuk merenungi kesalahan kamu!” jawab Edward.


“KESALAHAN APA! APA YANG SALAH SAMA SAYA......JELASKAN OM!!!” teriak Ghina sekuat tenaganya.


Edward mengikis jarak dengan Ghina “kesalahan kamu banyak....telah pergi tanpa izin dan sekarang kamu minta cerai!” kembali Edward mencengkeram dagu Ghina.


“Apa salah saya minta bercerai! Om sudah menikahi mbak Kiren, sesuai kesepakatan awal. Sekarang giliran saya yang meminta!”


“Tidak semudah itu kamu minta bercerai!” di lepasnya cengkraman tangannya dengan kasar.


“KUNCI PINTUNYA PAK JAKA, DAN JANGAN COBA-COBA MEMBUKANYA TANPA SEIZIN SAYA! BIAR GHINA TAHU SIAPA YANG DIHADAPINYA!” suara Edward meninggi ketika di luar gudang.


Tega gak tega Pak Jaka menutup pintu gudang, tanpa melihat ke arah Ghina.


“OM KELUARIN GHINA DARI SINI, SAYA BUKAN TAWANANMU........DASAR BRENG-SEK!” Ghina mengedor gedor pintu gudang dengan sisa tenaganya.


Namun itu tidak berlangsung lama, tubuh Ghina jatuh tersungkur ke lantai yang terasa dingin, punggungnya sekarang semakin terasa sakit. Tanpa disadarinya baju yang di kenakan sudah keluar noda merah dari bagian punggungnya, seperti tubuhnya tadi terbentur dan tergores benda tajam.


“Saya punya dosa apa Mah, sampai bertemu laki laki seperti Om Edward. Pah... mam tolong jemput Ghina,” gumamnya.


Tak ada daya Ghina di dalam ruangan, di baringkannya tubuhnya di lantai yang terasa dingin.


“Aakh.....,” ringis kesakitan keluar dari bibir Ghina.


Edward sungguh tega mengurung Ghina seorang diri dalam gudang yang lembab, cahaya yang kurang. Bagaikan tikus yang terperangkap, tidak bisa maju tidak bisa mundur. Sayup sayup mata Ghina mulai tertutup dalam rintihan kesakitannya.


.


.


bersambung ...


Kakak Reader yang cantik dan ganteng jangan lupa tinggalin jejaknya ya. Biar novelnya tidak tenggelam, dan kembali ke permukaan.


Love U sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2