
Ghina........,” panggil mama Sarah.
“Ya mam.....”
“Coba kamu kalau panggil suami jangan Om lagi, Edward kan suami kamu, bukan Om,” tegur sopan Mama Sarah.
Edward menatap wajah Ghina. “Om Edward mau di panggil apa?” tanya Ghina.
“Apa saja asal jangan di panggil Om lagi, betul kata mama Sarah. Aku suami kamu bukan OM! Honey.......bisa panggil aku mas, kakak, sayang atau hubby.”
“Tapi kalau boleh pilih, aku pengen di panggil hubby sama istriku ini.” Colek hidung mancung istrinya.
“Mmmm.........hubby......boleh juga.....ya udah Om, aku panggil hubby,” ujar Ghina.
“Makasih, Honey,” baru di rubah nama panggilan saja, Edward sudah senang rupanya.
“Ya sudah Papa sama semuanya harus pamit, pesawat sudah menunggu. Ingat kalian berdua di tunggu di Jakarta. Cepat sembuh ya Ghina,” ujar Opa Thalib.
“Iya Pah, kami segera menyusul ke Jakarta.” Jawab Edward.
Selepas mereka sarapan bersama, kedua orang tua Edward dan kedua orang tua Ghina pamit untuk kembali ke Jakarta, sedangkan Ghina dan Edward langsung berangkat ke rumah sakit.
“Hubby......” perdana Ghina panggil Om Edward dengan panggilan berbeda.
Edward mengulum senyumnya,” ya....honey.”
“Setelah kita sampai di rumah sakit, hubby mau gak mengecek sesuatu,” pinta Ghina.
“Ngecek apa, honey?”
“Tapi hubby jangan tersinggung ya, hanya untuk jaga-jaga saja,” jawab lembut Ghina.
“Ya sudah honey pengen aku mengecek apa?”
“Mbak Kiren kan pernah berhubungan badan dengan pria lain lalu ke hubby juga, bisa gak hubby tes HIV dan penyakit kela-min. Jangan tersinggung yang hubby, ini buat kesehatan kita berdua kok.”
Permintaan yang sangat mengejutkan, tapi sebenarnya lumrah. Apalagi sekarang hal tersebut di wajibkan untuk pasangan yang akan menikah, mengecek kesehatan masing-masing.
“Oke....buat istriku ini, akan aku lakukan....,” tidak ada rasa tersinggung atas permintaan istrinya, walau dirinya merasa sehat, tapi untuk mengecek dan memastikannya tidak ada salahnya.
Mobil yang membawa mereka berdua sudah tiba di rumah sakit. Edward mendampingi istrinya terlebih dahulu untuk mengganti perban yang ada di kepalanya serta terapi untuk cedera otot punggungnya.
“Jahitannya sudah mulai kering ya bu, tapi untuk sementara tetap di perban dulu. Dan untuk terapi ototnya sekitar dua atau tiga kali, sudah mulai membaik otot punggungnya,” ujar Dokter.
“Baik Dokter, terima kasih,” jawab Ghina.
__ADS_1
“Pak Edward jadi mau periksa darah?” tanya Dokter.
“Jadi Dokter.”
Dokter langsung mengambil suntikan untuk mengambil sampel darah Edward. Dan menusukkannya di lengan pria itu.
“Untung hasilnya, di tunggu ya Pak Edward. Selanjutnya bisa langsung ke dokter bagian kela-min.”
“Baik Dokter....”
“Honey, mau ikut ke dokter kelamin,” goda Edward.
“NO........jangan suruh aku ikutan ke sana, tapi dokternya laki-laki kan, By?”
“Kalau dokternya perempuan, kenapa?” sengaja ingin melihat reaksi istrinya.
“Gak boleh.....ganti sama dokter laki-laki, memangnya di sini gak ada!” jawab ketus Ghina. Senangnya hati Edward ketika kata tidak boleh terucap oleh istrinya.
“Boleh dong honey....,” pura-pura bujuk Edward.
“Kalau begitu hubby, jangan cium cium aku lagi,” mode ngambek di mulai, wanita itu langsung keluar dari ruang praktek dokternya.
“Honey......jangan begitu, aku hanya bercanda aja. Dokternya laki-laki kok bukan perempuan,” Edward mengejar istrinya yang sudah jalan duluan, gak rela rasanya tidak boleh cium istrinya, yang sudah menjadi candu buat pria itu.
Tanpa malu di lihat orang banyak, Edward langsung mengecup pipi istrinya, biar wanita itu tidak lama-lama mendiamkan dirinya. Mana bisa pria itu jika tidak mencium istrinya yang cantik dan tampak menggoda.
Lengan kekar Edward ditepuknya oleh Ghina,” Hubby, ini banyak orang....kenapa pakai cium segala. Aku kan malu dilihatin banyak orang!” tegur Ghina.
“Biarin aja, yang aku cium istri sendiri. Bukan istri orang....jadi sah-sah aja,” Edward langsung menggenggam tangan Ghina, dan mengajaknya ke ruang praktek dokter bagian kelamin. Sesuai permintaan Ghina, jika wanita itu tidak mau ikut masuk ke dalam, malu rasanya jika harus melihat si Jon. Akhirnya Ghina memilih duduk di bangku tunggu depan ruang praktek.
Lima belas menit kemudian, Edward keluar dari ruang prakter dokter.
“Bagaimana hasilnya By....?”
“Hasilnya si Jon baik-baik aja, si Jon udah siap tempur,” bisik Edward di telinga Ghina.
“Iiiishh.........” desis Ghina dengar bisikan Edward.
“Si Jon sehat, honey.......bersih tidak ada penyakit kelamin. Aku selama ini menjaga diri dari wanita mana pun, kecuali ya sekali dengan Kiren. Dan sekarang si Jon hanya punya kamu seorang...,” Edward tersenyum lebar saat menatap wajah Ghina.
“Alhamdulillah kalau si Jon sehat, tinggal hasil tes darahnya,” ucap Ghina.
“Kita tunggu di coffe shop, yang ada di bawah aja yuk, honey,” ajak Edward.
“Boleh, By.” Edward menautkan jari jemarinya ke jari Ghina, jalan berdampingan menuju coffe shop yang ada di dalan rumah sakit.
__ADS_1
Edward begitu posesif menjaga istrinya, selama memesan minuman beserta cemilannya, pria itu merangkul pinggang Ghina dengan mesranya.
“Hubby, mau minum apa?”
“American latte, Honey jangan minum kopi ya......ingat punya maag.”
“Iya By, hubby mau kue apa?”
“Sandwich aja, honey,” sesekali Edward mengecup pucuk rambut istrinya. Buat para pengunjung coffe shop iri melihat Edward pria yang sangat tampan merangkul dan mengecup wanita cantik yang berada di depannya dengan mesranya. Oh jiwa para jomblo meronta ronta.
Tak jauh dari meraka berdiri saat memesan minuman dan makanan di depan kasir, ada sorot mata yang tidak menyukai kemesraan mereka, rasa cemburu membelenggu hati orang yang melihatnya.
“Kita duduk di sana aja, honey,” tunjuk Edward pada meja yang kosong di pojokkan.
“Iya, By.....”
Edward membawa nampan yang sudah berisi dua gelas minuman dan dua roti sandwich.
“Aku kangen sama cake buatan kamu honey,” ujar Edward sambil menyesap american lattenya.
“Memangnya hubby pernah cobaiin cake buatanku?” Ghina mencoba mengingat-ingat.
“Pernah...... waktu honey bikin kue di mansion papa, terus aku juga pernah cobaiin cake kamu waktu aku ke rumah kamu kok. Terus yang waktu kamu tidak pulang ke mansionku waktu itu,” Ternyata ingatan pria itu masih tajam.
“Kiraiin hubby gak pernah cobaiin cake buatanku, secara dulu hubby kan kelihatan tidak suka dengan aku dulu,” ujar santai Ghina, ikutan menyesap macha lattenya.
“Aku masih belum sadar, honey.....waktu itu.”
“Berarti dulu hubby gak waras dong alias gila,” celetuk Ghina sambil terkekeh.
Wanita itu tidak sadar jika di sudut bibirnya masih ada cream yang menempel, membuat Edward tergoda untuk menjilatnya.
Edward mencondongkan dirinya ke depan wanita itu, lalu mengecup dan menjilat bibir Ghina hingga cream yang ada di bibir Ghina langsung hilang dan bersih.
“Manis.........,” ujar Edward ketika pria itu menarik wajahnya.
Tak jauh dari Edward dan Ghina duduk, kepalan tangan orang itu itu semakin kuat, tatapan tajamnya tak lepas dari keberadaan Edward dan Ghina.
“Breng-sek kamu.......Edward!! Kamu telah merebut wanitaku!!!”
bersambung
__ADS_1