Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Hati yang hancur


__ADS_3

Wajah Edward sudah semakin parah, bengkak dan penuh luka. Kiren hanya bisa menatap suaminya dari kejauhan, takut untuk mendekatinya, apalagi untuk mengobati luka di tubuh suaminya.


Edward masuk ke ruang utama dengan langkah kaki tergontai “Ferdi, suruh sopir antar Bu Sari dan Ayah Bowo ke Bandung, sekarang juga. Saya tidak mau ada alasan penolakkan lagi!”perintah Edward di hadapan Kiren.


“Kak Edward, kenapa Ibu dan Ayah di suruh pulang?” tanya Kiren. Kiren menatap suaminya yang terlihat beda sikapnya ke dirinya, seperti bukan kekasih yang pernah mencintainya.


“Kenapa kamu juga ingin ikut pulang , silahkan. Kamu tinggal pilih, jika ingin tetap menjadi istri saya, kamu suruh ibu dan ayah pulang ke Bandung," suaranya terdengar kasar.


Kiren diam sesaat “baiklah, saya akan suruh ibu dan ayah untuk bersiap-siap.”


Bu Sari yang mendengar di suruh pulang oleh Edward, ingin komplain kepada menantunya, tapi niat itu di urungkan setelah melihat wajah Edward yang terlihat penuh dengan emosi.


Tanpa menegur mertuanya, Edward masuk ke kamar tamu.


BRAK !!!


Sekuat tenaga Edward menutup pintu kamar tamu.


Ferdi dan Pak Jaya sudah stand by di depan pintu kamar tamu.


PRANG !!


PRANG !!


PRANG !!


Segala pajangan, vas bunga, televisi, benda pecah belah sudah tidak berbentuk lagi di kamar tamu. Menjadi pelampiasan amarah Edward.


“GUE BRENG-SEK.......GUE BODOH.......GHINA....GUE MEMANG BRENG-SEK!!!” teriak Edward memaki maki dirinya sendiri.


“Ghina.......,” ucap lirihnya, setetes dua tetes matanya pun berembun. Rasa kehilangan mulai muncul di relung hati Edward.


“ERGH.....” teriak Edward kembali sambil mengepalkan tangannya dan menonjok cermin di kamar mandi.


PRANG !!


Pecahlah sudah cermin yang berada di kamar mandi, menjadi berkeping-keping. Begitulah yang Ghina rasakan saat tangan besar itu mendarat di kedua pipinya, hatinya hancur berkeping-keping jua.


Tubuh Edward melorot ke lantai kamar mandi, terduduk dengan kedua kakinya ke tekuk. Wajah putihnya yang penuh memar sudah mulai memerah sama seperti warna kedua matanya, tetesan air mata akhirnya lolos keluar tanpa permisi lagi. Untuk pertama kalinya Edward menangisi seseorang.


Ternyata kehadiran Ghina sesaat mampu membuat hati Edward terguncang, dengan kepergiannya.

__ADS_1


“Hiks.....hiks....bukan begini Ghina caranya.......bukan begini, saya tak ingin kamu pergi.......kembalilah,” gumam Edward sedikit terisak.


“Ya Allah, kenapa dada ini terasa sakit.... kenapa!!” dadanya ditekannya, rasa sakit yang muncul di hati pria itu sepertinya semakin menjadi sakitnya.


Untuk pertama kalinya pria itu merasakan sakit yang luar biasa. Dulu ketika dia bertengkar dengan Kiren, tidak ada rasa sakit dihati jika tiba-tiba Kiren pergi dari dirinya.


Lama terduduk di lantai kamar mandi, tatapan Edward terasa kosong, salah satu tangannya yang habis menonjok cermin, sudah berlumuran da-rah.


Satu jam Ferdi dan Pak Jaka menunggu di luar kamar tamu, di rasa sudah tidak ada bunyi barang yang di lempar, mereka berdua memutuskan untuk mengecek keadaan di kamar.


Kamar tamu sudah seperti kapal pecah, sudah tidak ada bentuknya lagi. Ferdi menelisik ke semua ruangan mencari keberadaan tuannya namun tidak ada, lantas Ferdi segera ke kamar mandi, terlihatlah Tuannya sedang terduduk di lantai kamar mandi.


“Tuan.......Tuan....!” panggil Ferdi sambil menggoyangkan bahu Edward.


“Ferdi......dia benar benar pergi, benar-benar meninggalkanku,” lirihnya.


“Pak Jaka tolong bantu saya,” panggil Ferdi dari dalam kamar mandi.


Pak Jaka langsung menghampirinya “ya ampun.....Tuan...!” kaget Pak Jaka.


“Bantu saya memapah ke ranjang Pak Jaka,” titah Ferdi.


“Baik Pak Ferdi.” Pak Jaka dan Ferdi memapah tubuh Edward yang sudah tidak karuan, penuh dengan luka.


Ada rasa kasihan di hati Ferdi dan Pak Jaka, tapi setelah mengingat perlakuan Tuan mereka terhadap Ghina, menurutnya wajar jika Edward seperti ini, malah kurang rasanya.


🌹🌹


Mansion Utama


Mobil mewah Opa Thalib sudah berhenti di lobby mansion utama. Papa Zaka dan Mama Sarah sudah menanti anaknya di depan lobby mansion utama.


“Ghina.....anakku...” di peluknya Ghina yang baru saja keluar dari mobil oleh mama Sarah.


“Mama......”


“Ya Allah......nak. Maafkan papa nak...” Papa Zaka turut memeluk putrinya.


“Zaka, Sarah......bawa Ghina masuk ke dalam, Ghina belum terlalu sehat,” ucap Opa Thalib.


Mama Sarah dan Papa Zaka, menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Sekilas Ghina melihat foto praweddingnya dalam ukuran besar saat bibirnya di cium Edward terpajang di dinding ruang utama, begitu juga foto nikahnya di pelaminan dengan diapit oleh masing-masing orang tua. Terpajang di dinding ruang utama mansion juga, sungguh posenya terlihat bahagia terutama senyum Edward yang terlihat tampan.


Ngilu itu perasaan waktu Ghina melihat foto dirinya.


Mereka semua membawa Ghina ke ruang keluarga terlebih dahulu. Ghina yang merasa lelah, menyandarkan diri dengan posisi miring.


Papa Zaka dan Mama Sarah tadi pagi pagi sudah di minta datang ke mansion utama. Opa Thalib sudah menceritakan perilaku Edward terhadap Ghina, kecuali masalah Edward mencium Ghina secara sembunyi, itu tidak Opa Thalib ceritakan.


Sengaja Papa Zaka dan Mama Sarah tidak diperkenankan ikut menjemput Ghina, karena ini adalah janji dia kepada Ghina.


“Lalu kenapa sekarang kepala Ghina di perban, Om Thalib?” tanya Papa Zakaria.


“Ibunya Kiren mendorong Ghina sampai terjatuh, dan keningnya kena ujung meja kaca,” jawab Opa Thalib.


“Andaikan Om Thalib tidak melarang saya ikut menjemput Ghina, akan saya hajar balik orang itu,” kesal Papa Zakaria.


“Kita bisa membalasnya dengan hal lain, kamu jangan khawatir,” jawab Opa Thalib.


Mereka berlima terlihat diam sejenak, menatap wajah Ghina.


“Zaka, Sarah di sini saya selaku orang tua Edward, memohon maaf telah membuat anak kalian terluka. Dan mohon izinkan kami selaku orang tua Edward menembus rasa bersalah ini,” ungkap Opa Thalib, dengan hati yang paling dalam.


“Ghina, tolong maafkan Opa dan Oma yang telah memaksa kamu menikah dengan anak kami Edward. Opa benar-benar menyesal telah memaksa kamu menikah dengan Edward."


“Apa yang harus Ghina maafkan Opa? jika semuanya saat itu telah memaksa untuk menerima menikah dengan Om Edward, termasuk Om Edward yang memaksa Ghina menerima perjodohan.”


“Nasi sudah jadi bubur Opa, Papa. Apakah dengan meminta maaf akan merubah bubur menjadi nasi, tidakkan!!...semuanya sudah Ghina lalui....saat Ghina menolak perjodohan.....Opa dan Papa tetap bersikeras termasuk Om Edward agar Ghina menerimanya.”


“Seharusnya dari awal Opa dan Oma menyetujui dan merestui saat Om Edward dengan mbak Kiren ingin menikah, bukan menjodohkan dengan Ghina, dengan alasan apa pun. Tapi sekarang semua sudah terjadi. Haruskah dengan menerima permohonan maaf dari Opa, Oma, Papa, Mama, semuanya akan kembali dari awal. Tidakkan!”


“Ghina tidak butuh permohonan maaf dari Opa, Oma, Papa dan Mama. Cukup ini buat pelajaran berharga buat semuanya, termasuk Ghina sendiri dan jangan terulang lagi di keluarga besar kita. Sedangkan penyesalan!! Tidak...... Ghina tidak menyesal, biarkan kisah ini jadi bagian hidup Ghina yang kelak bisa di ceritakan ke anak dan cucu Ghina."


.


.


bersambung


Terima Kasih buat Kakak Readers yang cantik dan ganteng, telah mendukung karyaku......akhirnya ngerasaiin juga novelnya masuk rangking vote 200 besar. Tanpa dukungan dari Kakak Readers semua, apalah arti novel ini. Peluk online buat kakak reader semuanya 🤗🤗🤗


Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1



__ADS_2