Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Malam Pertama


__ADS_3

“Sampai kapan rencana kalian tinggal di Bandung?” tanya Ayah Bowo.


“Besok kami akan balik ke Jakarta," jawab Edward.


“Sayang, katanya kita akan seminggu di Bandung. Kok kamu baru kasih tahu aku sekarang.”


“Ini mendadak ada pekerjaan yang harus di cek,” alasan Edward, padahal hatinya ingin bertemu Ghina segera.


“Tapi aku masih kangen sama ayah dan ibu ......sayang,” rengek Kiren.


“Sudah Kiren, kamu sebagai istri harus ikutin kata suami,” sahut Bu Sari.


Di sela-sela perbincangan, para pelayan menyajikan menu makanan di meja makan.


Dengan sigapnya Kiren menyiapkan makan untuk suaminya.


“Terima kasih honey...,” ujar Edward menerima piring yang sudah terisi nasi beserta beberapa lauk.


“Sama sama sayang,” balas Kiren dengan senyum manisnya.


Ibu Sari dan Ayah Bowo ikut senang melihat anak dan menantunya terlihat mesra.


“Nak Edward kalau di izinkan......Ibu dan Ayah ingin berkunjung ke rumah kalian. Sekalian kami liburan di Jakarta. Bagaimana nak Edward?” Bu Sari terlihat sangat berharap bisa berkunjung ke mansion Edward, yang akan menjadi mansion anaknya juga.


Sesaat Edward menghentikan makannya.


“Sayang.....please boleh ya Ibu dan Ayah ikut ke Jakarta dan tinggal di mansion....,” bujuk Kiren kepada suaminya.


“Baiklah, Ibu dan Ayah bisa ikut kami besok pagi,” jawab Edward.


“Makasih sayang......kamu memang suami yang terbaik,” Kiren kembali mengecup pipi Edward.


Bu Sari juga tampak senang, keinginannya terkabulkan.


🌹🌹


“Ghina, loe yakin mau menginap di rumah gue. Nggak bakal di cariin sama suami loe?”


“Yakin.....gue mau nginap di rumah loe. Atau jangan jangan loe gak bolehin gue nginap di rumah loe ya,” selidik Ghina.


“Bukan begitu Ghina, gue takut aja loe nanti di cariin sama laki loe.”


“Dia gak bakal cariin gue Rika, dia pasti lagi endehoy ama istri tercintanya lah.”


“Ha...ha....ha....gue pengen ketawa, loe kan istrinya juga malah istri pertamanya lagi. Ya udah, sekarang kita ke lobby....sopir gue udah jemput!” seru Rika.


“Thanks ya malam.ini gue boleh menginap di rumah loe."


"Ya.....bestie."


Malam ini Ghina tidak kembali ke mansion Edward, dia memilih untuk menginap di rumah Rika dan tak seorang pun tahu.


🌹🌹

__ADS_1


Makan malam selesai, Edward dan Kiren kembali ke kamar mereka, begitu juga dengan kedua orang tua.


“Sayang.” Kiren bergelayut manja di lengan Edward.


“Aku ganti baju dulu ya...,” dengan sedikit genit gaya Kiren.


“Mmm...," gumam Edward, di sandarkan dirinya di headbord ranjang sambil mengecek ponsel


Ting


✅ Ria


Maaf Tuan Besar, Non Ghina belum pulang ke mansion. Saya belum bisa menghubunginya kembali, kayaknya ponselnya mati.


Edward melihat jam di tangannya sudah menunjukkan jam 9 malam, dan Ghina belum juga balik ke mansion. Rahang Edward seketika mengeras, merasa dirinya tidak di hargai oleh Ghina.


“Sayang..." panggil Kiren.


Edward melihat Kiren sudah berganti pakaian, tubuhnya terlihat menerawang karena memakai baju lingerie berwarna hitam. Dengan langkah kaki yang di bikin sexy, Kiren menghampiri Edward lalu duduk di atas kedua paha Edward.


Laki laki mana yang tidak akan tergoda, jika ada wanita cantik dengan tubuh sexy yang terlihat menggoda. Bagaikan kucing di kasih ikan asin


Seketika Edward menegang menerima rangsangan dari istrinya. Tanpa rasa malu, Kiren membuka resleting celana Edward dan memasukkan tangannya untuk menyentuh senjata Edward.


Merasa senjatanya di rangsang Kiren, Edward meraih tengkuk Kiren lalu melahap bibirnya dengan brutal. Dengan senang hati Kiren menerimanya.


Edward membuka kemeja dan celana panjang, kembali mengungkung tubuh Kiren. Dengan mata yang penuh gairah, dia mencumbui tubuh Kiren.


Mulai dia menyesap leher Kiren.


Edward berhenti sesaat seakan dia mencium aroma tubuh Ghina saat ingin mencumbuinya pada malam pertama waktu itu.


Ghina......


“Sayang......kok berhenti!l,” rengek Kiren.


“Maaf Honey.....,” Edward kembali mencium bibir Kiren, lingerie Kiren sudah tidak melekat di tubuh Kiren, begitu juga dengan bra dan CD......sekarang Kiren terlihat polos.


Mata Edward terbakar gairah, setelah melakukan fore*play......kini Edward ingin merasakan senjatanya masuk ke nikmat duniawi.


“Pelan pelan ya sayang...,” pinta Kiren.


“Saya akan pelan-pelan masuknya,” jawab Edward mulai mengarahkan senjatanya ke lembah Kiren.


“Akhh......!” ringis Kiren kesakitan, ini adalah pengalaman pertamanya bersama Edward. Begitu pun buat Edward yang belum pernah berhubungan intim dengan siapa pun.


“Tahan sayang.....ini agak susah masuknya!” sambil mendorong senjatanya lebih dalam lagi.


Kiren menatap wajah suaminya penuh kehangatan, saat dirinya di hujam kenikmatan dari Edward.


“Aaaah......sayang,” de-sah Kiren setelah mendapatkan pelepasan pertamanya.


Sedangkan Edward masih menggoyangkan pinggulnya untuk mendapatkan pelepasannya. Edward tidak kembali mencumbui Kiren, dia hanya fokus pada senjatanya yang masih berada di lembah Kiren.

__ADS_1


Sesaat mata Edward terpejam ketika senjatanya mengeluarkan lahar putih di dalam lembah Kiren. Tubuhnya menegang, napasnya naik turun saat merasakan pelepasannya.


“Kamu......hebat sayang.....perkasa sekali,” puji Kiren terhadap suaminya yang sudah tergeletak di sampingnya. Dengan tubuh yang masih polos, Kiren memeluk Edward. Dia bahagia akhirnya malam pertamanya lancar.


“Semoga aku cepat hamil ya sayang, aku gak sabar mengandung anak dari kamu,” ungkap Kiren.


“Ya....semoga honey cepat hamil.”


Kiren mulai tertidur dalam dekapan Edward, sedangkan Edward matanya masih terbuka, pikirannya entah kemana.


Susah payah  Edward memejamkan mata namun tetap tak bisa terpejamkan. Akhirnya dia bangkit dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah habis menggauli istrinya. Seketika ia melihat ke arah sprai putih ranjang tidurnya, tidak menemukan noda darah, yang identik suka ada jika wanita tersebut masih perawan, namun dia tepis.....karena merasa kenikmatan Kiren sungguh sempit saat senjatanya masuk.


20 menit Edward berada di kamar mandi, selepasnya dia memakai baju santainya dan mengambil handphone dari nakasnya.


“Denis, Ghina sudah pulang ke mansion?” tanya Edward lewat sambungan teleponnya.


“Non Ghina sepertinya tidak pulang Tuan, ini sudah lewat tengah malam...saya masih menunggu di pos Tuan.”


“Sialan......berani Ghina kabur lagi! Kalian semua bodoh tidak bisa menjaga bocah kecil!” pekik Edward.


“Malam ini juga kamu dan team, cari Ghina sampai ketemu. Besok dia harus sudah berada di mansion. Kalau sampai tidak balik, kalian semua saya pecat!” titah Edward dengan emosi.


“Baik Tuan, akan segera di laksanakan.” jawab Denis, mulai cemas dengan ancaman bosnya.


BRAK !!!


Kembali hancur handphone yang baru di belinya, akibat di lempar Edward.


🌹🌹


Pagi menjelang.........


Rumah Rika.....


Ghina bersama Rika terlihat repot di dapur, sibuk bikin sarapan pagi.


“Ghina, padahal loe enggak usah repot repot masak buat sarapan. Sudah ada bibi yang masak.”


“Gak pa-pa sesekali gue bikin sarapan buat papa sama mama loe.” Ghina sibuk merajang sayuran beserta bumbu pelengkapnya.


“Ghin, sekalian dong bikinin cake. Udah lama gue gak ngerasain cake buatan loe,” pinta Rika.


“Boleh, habis sarapan ya. Nanti gue bikinin cake, yang penting bahannya ada.”


“Tenang nanti kalau ada yang kurang, bibi yang belanja ke minimarket.”


“Oke....!” Ghina melanjutkan masaknya di bantu Rika dan si bibi.


.


.


Terima Kasih buat Kakak Reader ya sudah mengikuti cerita ini, jangan lupa tinggalin jejaknya ya like, vote, rate, ❤ dan komentarnya. Biar karya ini muncul di beranda lagi. Tanpa Kakak Reader yang cantik dan ganteng, apalah arti karya recehan ini. Mohon dukungannya.

__ADS_1


Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2