Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Suasana pengantin baru


__ADS_3

"Duh ibu senang banget punya menantu lebih kaya dari kita. Ibu bisa pamer sama tetangga dan teman arisan ibu. Apalagi menantu ibu pemilik hotel bintang 5 ini,” ucap Bu Sari bahagia.


“Harus dong Bu, bangga sama menantu Ibu,” balas Kiren, wajahnya tersenyum bahagia.


Ayah Kiren adalah pemilik beberapa perkebunan yang berada di daerah Lembang Bandung. Dan masih terbilang orang berada untuk ukuran di daerah sana, walau tidak sekaya keluarga Thalib dan Edward.


“Suami kamu kemana nak, kok gak ikut makan siang bareng kita?” tanya Bu Sari.


“Kak Edward ke ruang kerjanya, katanya ada urusan yang mendesak. Maklum Bu.....perusahaan Kak Edward itu banyak.”


“Duh seneng ibu dengarnya, semoga kita kecipratan rezeki dari mantu kita ya, Yah."


“Mudah-mudahan,” balas Pak Bowo.


“Nanti kalian ada acara bulan madu gak?”


“Harus dong Bu, masa gak ada bulan madu. Kita rencana mau bulan madu ke Paris.”


“Masya allah......ke Paris, Ibu di ajak dong. Ibu belum pernah ke sana."


“Nanti Kiren tanya Kak Edward dulu ya Bu.”


🌹🌹


Ruang Kerja Hotel


Edward melepas semua pakaian pengantinnya, dan segera mengganti dengan baju yang di bawa asisten pribadinya.


Ferdi bergegas merapikan baju yang telah di lempar Edward.


“Kenapa Ghina belum di jemput juga sama Denis, Ferdi!” agak tinggi Edward berucap.


“Kata Ria, non Ghina masih ada urusan di luar Tuan. Dan tidak mau di jemput.”


“Kenapa kalian menurutinya, yang bos di sini saya atau Ghina!” geram Edward.


Ferdi hanya tertunduk diam.


Edward kembali menghubungi Ghina dengan nomor baru, berkali kali tetap tidak di angkat oleh Ghina.


“Sialan.....kamu maunya apa Ghina!” geram Edward.


PRANK


Edward menendang meja kerjanya dengan salah satu kakinya, sampai gelas yang berada di atas meja, jatuh ke lantai.


Ferdi yang melihatnya sedikit tersentak, lalu buru buru memanggil office boy untuk membersihkan pecahan gelas.


“HAH.......!” Edward menghela napas panjang. Dan menghempaskan dirinya di kursi kebesarannya.


Seharusnya hari ini hati Edward gembira, tujuannya telah terlaksana. Namun kenyataannya berbeda, sepanjang resepsi pernikahan wajahnya hanya tersenyum ala kadarnya pada para tamu undangan, dan tidak sekali pun dia merangkul pinggang Kiren atau menggenggam erat tangan Kiren wanita yang di cintainya.


🌹🌹


Kiren sudah berganti pakaian, dia memakai mini dress warna salmon senada dengan high heelsnya.


Dengan langkah anggunnya dan sedikit mengangkat kepalanya, dia menuju ruang kerja suaminya.


Dia berjalan dengan bangganya, karena statusnya sudah berubah, dan semua karyawan hotel yang berpapasan bertemu menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepada istri CEO mereka. Tambah berkali lipat rasa bahagia di dada Kiren.


“Sayang.......,” sapa Kiren.

__ADS_1


“Kok melamun sayang,” Kiren langsung duduk di atas kedua paha Edward.


“Ooh.....bukan melamun hanya sedang kecapekan aja,” jawab Edward, sambil merangkul pinggang Kiren.


Kiren memberanikan diri mengecup bibir suaminya, lalu mengulumnya. Edward pun membalas ciuman istrinya.


“Aku bahagia sayang, akhirnya kita menikah. Setelah beberapa tahun kita pacaran,” ucap Kiren setelah melepas pangutannya.


“Saya juga bahagia, honey,” balas Edward.


“Sayang.......kita istirahat di kamar yuk. Tadi kamu bilangnya capek.” Kiren memainkan kancing kemeja Edward.


“Honey aja yang duluan istirahat di kamar, nanti saya menyusul. Saya masih ada yang harus di urus di sini,"tolak Edward secara halus.


“Sayang.....kita kan pengantin baru, harusnya kita bermesraan di kamar. Ini malah lanjut kerja sih,” keluh Kiren, suaranya sedikit di manjain.


“Kamu seharusnya pengertian dengan suami, banyak perusahaan yang harus di kontrol,” tegas Edward yang memang tidak suka dan di atur oleh siapa pun termasuk Kiren yang sekarang menjadi istrinya.


Dan Kiren sebenarnya paham sekali, Edward agak keras sifatnya, dia sendiri pun sebenarnya tidak bisa menaklukkan Edward sepenuhnya. Masih untung dia bisa menaklukkan Edward untuk menikah dengannya.


“Baiklah kalau begitu aku duluan ke kamar, sayang jangan lama lama kerjanya ya,” jawab manis Kiren.


“Ya...m” ujar Edward dingin.


Akhirnya Kiren meninggalkan suaminya seorang diri di ruang kerjanya.


🌹🌹


Ghina dan Rika menghabiskan waktunya bersama-sama hari ini, setelah mereka makan siang lanjut nonton di XII. Ghina terlihat melepaskan bebannya saat ini, melupakan tentang pernikahannya dengan Edward.


Jam 6 sore......


“Gimana gue gak teriak, dari awal tuh film bikin gue jantungan, bikin kaget.”


“Hi...hi...hi.....namanya juga film horor,” ujar Rika terkekeh.


“Rika, sebelum kita pulang....makan malam di sini aja ya sekalian,” ajak Ghina.


“Boleh.....nanggung juga sudah mau malam, mau makan apa?”


“Makan shushi yuk.....kayaknya restoran jepang lagi ada promo tuh,”


“Yukkllah cus ke sana....”


Pokoknya hari ini Ghina ingin memberikan reward buat dirinya sendiri, atas usahanya selama ini.


Sambil menunggu pesanan shushi nya, Ghina kembali mengaktifkan ponselnya yang sepat di matikan saat nonton.


Ting.....Ting....Ting...Ting.....bunyi pesan masuk saling bersahutan.


✉0812×××××××


Kamu ada di mana Ghina!


✉0812×××××××


Kenapa pergi dari mansion, tanpa pamit terlebih dahulu dengan saya!


✉0812×××××××


Ghina, kenapa tidak balas pesan saya!

__ADS_1


✉0812×××××××


Kamu sudah mulai berani melawan saya ya sekarang!


✉0812×××××××


Jangan buat saya emosi Ghina, jawab pesan saya.....sekarang juga!


Edward yang melihat pesan WA nya sudah di baca Ghina, dia langsung menghubunginya.


Derrt........Derrt......Derrt


0812×××××××× calling


“Astaga ini orang masih saja telepon, bukankah dia sedang sibuk dengan acara pernikahannya bersama mbak Kiren,” gumam Ghina sendiri.


“Kenapa Ghin, kok ngomong sendiri,” tegur Rika.


“Ini....Om Edward kirim pesannya banyak banget,” sambil menunjukkan ponselnya.


“Ooooh...!” bibir Rika membulat.


Ghina kembali mengabaikan panggilan dari Edward.


🌹🌹


“CK.......!” berdecak kesal Edward, panggilannya di acuhkan kembali oleh Ghina.


“Ferdi.....!” panggil Edward.


“Sampaikan ke Kiren, saya tunggu makan malam di restoran!” titah Edward.


“Baik Tuan.”


Kok tumben titip pesan, biasanya bisa menghubunginya langsung, apalagi sekarang sudah resmi jadi istrinya.


Edward baru sadar dari siang belum mengisi perutnya dengan makanan, jadi malam ini dia memilih untuk mengajak Kiren makan malam di restoran hotel.


Edward sudah berada di berada di dalam restoran, tak berapa lama kemudian Kiren datang dengan ke dua orang tuanya.


Cup.......Kiren melabuhkan kecupan di pipi Edward. Edward hanya bisa tersenyum tipis.


“Sayang......sudah lama nunggunya ya?” tanya Kiren.


“Tidak, saya juga baru sampai.”


“Ayah, ibu silahkan duduk,” ujar sopan Edward.


“Terima kasih Nak Edward mengajak kami makan malam,” ujar Bu Sari.


“Sama sama Bu,” agak heran siapa yang mengajak kedua mertuanya bergabung untuk makan malam, tapi biarlah.


“Maaf ya sayang, aku ajak Ayah dan Ibu gabung sama kita,” bisik Kiren.


“Iya gak pa-pa ”


“Sampai kapan rencana kalian tinggal di Bandung?” tanya Ayah Bowo


“Besok kami akan balik ke Jakarta,” jawab Edward.


“Sayang, katanya kita akan seminggu di Bandung. Kok kamu baru kasih tahu aku sekarang.”

__ADS_1


__ADS_2