
Malam indah penuh bintang di langit yang gelap, cahaya bulan pun menyelinap di celah-celah jendela kamar Ghina. Udara dingin pun menyelusup ke rongga-rongga jendela.
Kedua insan manusia yang sudah halal sedang saling berpagutan, menyesap rasa manis dari rongga mulut suami istri tersebut. Tidak ada yang lebih indah jika memiliki pasangan yang halal. Takkan ada rasa takut akan dosa, ketika mereka berdua berbagi hasrat yang menggelora. Hasrat dan nafsu yang di miliki setiap jiwa yang bernyawa.
“Aku sangat menginginkanmu, honey,” desis Edward, ketika melepas pagutannya.
Kedua netra Edward sudah membara, penuh hasrat yang begitu mengebu-gebu. Berkabut rasa yang tak menentu, gejolak yang setiap kali datang jika bersentuhan dengan sang istrinya.
Hasrat itu tertangkap oleh kedua netra Ghina, begitu mengharapkan dan mendambakan dirinya. Dirinya yang belum seutuhnya dimiliki oleh sang suami tampannya.
“Izinkan aku memilikimu seutuhnya, hanya untukku seorang,” pinta Edward dengan nada lembutnya dan sedikit menggoda sang istri.
Salah satu tangan Ghina, mengelus lembut rahang Edward yang sudah tumbuh bulu-bulu halus, yang menambah ketampanan pria itu.
“Betulkah Om Edward menginginkan diriku?” tanya Ghina, dengan tatapan mata yang menggoda kemudian sedikit menggigit bibir bawahnya.
Edward yang melihat istrinya agak menggoda, tubuhnya sudah mulai memanas lagi.
“Sangat menginginkanmu, istriku yang cantik. Istriku tercinta,” jawab Edward dengan nada mesranya.
CUP
Ghina mengecup mesra bahu lebar Edward, dan salah satu tangannya menyentuh dada berotot suaminya. Tak lama wanita itu mendongakkan wajahnya.
“Milikilah aku seutuhnya. Aku adalah milikmu seorang, suamiku Edward Thalib.”
Dapat lampu hijau dari istrinya, Edward merangkul erat tubuh Ghina. “Terima kasih istriku,” jawab Edward. Edward kembali mencium Ghina, dengan rakusnya namun lembut. Kedua tangan Ghina mulai merangkul leher sang suami, dan membalas ciuman panas dari Edward
Sedangkan kedua tangan Edward mulai mengangkat dan mengendong tubuh Ghina ala baby koala menuju tempat tidur mereka berdua.
__ADS_1
Edward melepaskan pagutannya “Aku buka dasternya, honey,” pinta Edward sebelum merebahkan istrinya ke atas ranjang.
Antara malu dan tidak malu atas permintaan Edward sang suaminya sendiri. Ghina hanya mengangguk kepalanya. Dengan lembutnya Edward menyingkap daster sang istri.
GLEK
Tarik napas, lalu menelan salivanya dengan kasar itulah Edward saat sekian lama tidak melihat tubuh istrinya. Sekarang melihat jelas tubuh indah istrinya, kini tubuh istrinya di tutupi bra renda warna hitam dan cd warna hitam yang masih melekat.
Ghina langsung menutup buah dadanya yang masih kencang dan lumayan besar dengan kedua tangannya.
“Jangan di tutupi, honey. Itu milikku sekarang,” ujar Edward, tubuh pria itu mulai mengungkung istrinya.
“Ghina, hanya milikku seorang,” ujar pernyataan Edward. Pria itu mulai mengecup kening, turun ke hidung, lalu ke bibir istrinya. Lummatan lembut kembali terulang lagi, penuh gairah, saling menyesap satu sama lain. Tubuh Ghina mulai menggeliat merasakan sentuhan skin to skin dengan tubuh Edward yang tanpa baju, akan tetapi masih memakai boxer yang menutupi si Jon, kini suaminya mulai mainkan lidahnya di daun telinga Ghina, rasa menggelitik dan rasa aneh muncul kembali.
Kemudian bibir Edward turun ke bagian leher Ghina, di lummat dan disesapnya dengan lembut hingga meninggalkan tanda kepemilikannya.
“Om.....By....aakhh...” tak kuasa Ghina menerima perilaku Edward, seperti ada rasa ingin dia keluarkan, dan begitu menyesakkan jika di tahan.
Buah dada Ghina terlihat membusung dan menantang Edward. “ini sangat indah, honey,” ujar Edward ketika melihat jelas buah dada istrinya.
“Om.......malu....” ujar Ghina, kembali menutup buah dadanya dengan salah satu tangannya, akan tetapi langsung di halau oleh tangan Edward.
“Aku menginginkannya,” Bibir Edward langsung mengecup pucuk buah dada istrinya, kemudian memasukinya ke dalam rongga mulut pria itu. Menghisapnya dengan lembut dan memainkan lidahnya dengan pucuk buah dada istrinya yang berwarna pink kecoklatan.
“By......aahhkk....” dessahan merdu dari bibir Ghina, untuk pertama kalinya buah dadanya di hisap dan dimainkan oleh seorang pria, tak terlukiskan rasa dan sensasinya. Yang bisa dia rasakan ada rasa sakit, geli tapi ada rasa nikmat, semuanya bercampur. Tubuh wanita itu bergelinjang menahan semua rasanya, kemudian memejamkan matanya sesaat ketika Edward masih melahap buah dadanya dengan rakus, bagaikan bayi yang sedang menyusu. Berulang kali dan bergantian melahap buah dada wanita itu.
“Om.......gak kuat Om.....aakhh,” dessahan Ghina, merasa ada yang keluar di bagian intinya, ketika Edward masih menghisap pucuk buah dadanya.
Edward melepas hisapannya si pucuk dan tersenyum hangat dengan istrinya yang terlihat lemas, karena sedari tadi tubuh istri menggelinjang tak menentu.
__ADS_1
“Kita belum ke intinya, honey,” ujar Edward sambil merapikan anak rambut Ghina.
“Tapi aku gak kuat hubby, geli......rasanya pengen pipis,” jawab polos Ghina.
“Itu bukan pipis honey, tapi itu tandanya kamu menikmatinya,” bisik Edward. “Si Jon sudah waktunya masuk ke dalam rumahnya, Honey,” bisik Edward kembali. Tubuh Ghina kembali meremang, sentuhan lembut kembali menjalar ditubuh wanita itu, remasan di buah dadanya kembali di rasakan.
“Aakkhh........,” dessahan indah keluar lagi, ketika Edward kembali menghisap salah satu pucuk buah dadanya, dan salah satu buah dadanya dimainkan oleh tangan Edward.
“Hubby........” tubuh Ghina mulai melengkung tak tertahankan.
Wajah Edward mulai turun kebagian perut Ghina, dan mengecup lembut. Kemudian salah satu tangan besar Edward menurunkan CD berwarna hitam yang masih menutupi bagian inti tubuh istrinya.
“Hubby........” wanita itu malu ketika CDnya sudah diturunkan oleh Edward.
“Mmmm.......”gumam Edward, dengan senyum nakalnya. Pria itu membuka lebar kedua paha wanita dan menenggelamkan kepalanya di antara kedua paha putih mulus istrinya.
“BY.........” Ghina terkesiap melihat Edward sudah ada di bagian intinya, dirinya tiba-tiba kelojotan. Kedua tangan wanita itu meremas seprai, merasakan hal yang aneh di bagian intinya. Tubuhnya seperti ingin melayang.
Edward memanjakan tubuh istrinya, memberikan kenikmatan dan kesenangan untuk istrinya terlebih dahulu. Dengan lidahnya Edward menyentuh tubuh inti istrinya, sambil mengelus kedua paha mulus istrinya.
“Om........aku mau pipis......Om,” ujar Ghina, tubuhnya mulai menegang, dan melengkung. Seperti ada rasa yang ingin di keluarkan.
Lidah Edward semakin menggeliat di tubuh inti istrinya.
“Hubby......Om Edward........aaakkkh....” lenguhan panjang terdengar dari bibir istrinya, ketika puncak kenikmatan itu datang. Pria itu langsung menjilat yang keluar dari inti istrinya, tanpa rasa jijik.
Kemudian pria itu langsung memeluk tubuh istrinya yang polos, “lemas ya......honey?” tanya Edward dengan mengecup pipi istrinya. “Iya Om.......lemas,” jawab pelan Ghina.
"Ini baru sesi pertama, Honey.....," Edward menebarkan senyum manisnya.
__ADS_1
bersambung.....